Rekan2 agromania yth, Petani kita dari tahun ke tahun memang hidup serba memprihatinkan. Tidak ada yang perduli, walaupun disana-sini "katanya" ada asosiasi,koperasi dan macam2 lagi organisasi yang "katanya" untuk kesejahteraaan petani.Buktinya yang miskin bertambah miskin.Rasa nya tidak ada keadilan.Cuma banyak omong saja.Bagaimana kalau rekan2 agromania bersa tu,langsung terjung kelapangan,investasi sampai pemasarannya kita atur sendiri.Yang penting semua senang,sejahtera dan yang terutama "ADIL". Prinsipnya dari kita oleh kita untuk kita. Mungkin moderator bisa jadi "koodinator" ? Sistem yang sederhana saja, supaya petanipun bisa diajak bicara. Trims
Mugiono Mugiono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Moderator dan rekan agromania Yth, Pada akhir-akhir ini bangsa kita telah disibukan dengan adanya bencana dimana-mana dan masalah pangan yang seakan menjadi topik yang tiada henti. Sawah ladang dihantam bencana, tidak panen, ada yang panen harganya jatuh. Harga gabah bahkan ada yang mencapai hanya Rp 1.600,00/kg kering panen. Kedelai hingga kini harganya terus merambat naik. Ironissnya harga beras dipasar internasional mencapai $708.00 (kompas hal. depan berita hari ini). Harga beras dipasar-pasar kota kabupaten diJawa juga telah turun. Petani disebagian tempat tidak berani menjual gabahnya, akan tetapi bagi mereka dihimpit oleh kebutuhan mendesak tiada pilihan lain kecuali menjual hasil panennya walaupun harganya rendah. Yang menyedihkan beberapa depo logistik (bulog) belum bertindak alias masih menunggu bola( kalau tidak mau dikatakan masih main mata dengan tengkulak). Keadaan yang demikian selalu terjadi dan akan terjadi terus. Tidakkah kita sebagai bangsa akan selalu egois, tidak berani bersatu atau tidak bisa bersatu dan membiarkan bangsa ini menjadi obyek pasar bangsa-bangsa lain dengan pujian : "Wah pasar Indonesia menjajikan atau potensial" Tidakkah kita perlu mulai menggalang kelompok-kelompok kecil dan dilink-kan untuk menjadi besar dan syukur bisa ddijadikan jaringan. Tidakkah kita ingat bahwa nenekmoyang kita mewariskan budaya musyawarah yang sekarang mulai didtinggalkan dengan rasa egoitis dan memilih banyak voting yang serasa menjadi sangat liberal dan menjadikan sebagaian dari kita menjadi anarkis. Rekan Agromania yang tercinta, kata-kata tersebut diatas memang merupakan sebuah emosional saya sebagai bangsa, sebagai rakyat yang terkadang bingung dengan keadaan kita, keadaan Negara ini. Saya yang tidak kurang 10 tahun terakhir ikut blusukan(keluar-masuk) didesa-desa dikalangan petani atau masyarakat yang termaginalkan terkadang merasa heran ternyata banyak sebagian dari bangsa ini yang masih hanya memikirkan dirinya sendiri, termasuk para pemimpin dan kader partay yang katanya ingin memperjuangkan negara. Isu-isu semacam jatuhnya harga beras(gabah), melonjaknya harga kedelai masih ditangani secara seporadis dan masih menjadi komoditas politik belaka. Makin banyak isu dimasyarakat seakan menjadikan partay mempunyai ajang empuk untuk membuat aksi. Sangat reaktif dan tidak kreatif. Rekan Agromania, bila kita membuat kelompok-kelompok dengan sadar dan dengan yakin kita juga membangun sebuah budaya beragrobisniss yang membumi, kita akan menjadi bangsa yang Kertoraharjo hidup dinegeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Sekarang kita lagi hidup kekurangan dinegeri yang subur loh jinawi, kurang bermartabat, sering dipermainkan oleh negeri-negeri kecil yang tidak punya sumber daya apapun. Kita ibarat gajah yang dimainkan oleh semut. Gajah yang bingun karena semut yang telah merubung kepalanya. Harga beras internasional yang tinggi seharusnya membuat para pengambil keputusan kita langsung mengambil sikap yang strategis untuk mencari keuntungan ekonomis bagi bangsanya, bagi negaranya, bagi rakyatnya. Tapi apa yang terjadi dilapangan merka masih lirik-lirikan dengan para tengkulak untuk menjatuhkan rakyatnya(petani) supaya tetap mau menjual gabahnya, jagungnya dengan harga yang murah. Dimasa minyak/energi semakin mahal harganya, terjadi diversifikasi energi. Baik dengan bioethanol ataupun biosolar. Peluang besar didepan mata kita. Didepan bangsa kita. Tapi kenapa prktek-praktek penjajahan justru masih diterapkan. Petani suruh nanam komoditass tertentu yang hasilnya harus dijual kepada mereka. DIberitahu(ditakuti) hasil komoditas itu hnya bisa dibuat .... tidak bisa dimakan. Contohnya Singkong. Bibitnya diberi, tapi tidak gratis. Pupuk diberi tapi juga tidak gratis. Sama dengan IMF atau BANK DUNIA yang katanya membantu tapi tetap mengembalikan dengan bunga. Sekarang petani mau nanam jagung, padi, kedelai dan sekarang singkong harus tergantung dengan pabrik(perusahaan). Dalam satu periode tertentu tanaman itu disertai dengan jenis petisida tertentu, bila sudah ganti maka akan disertai jenis petisida yang baru pula. Apakah kita tidak merasa pertanian kita telah dijajah. Pasar kita sudah hancur, jenis komoditi(varietas) kita sudah didekte, tanah kita sudah mati, lingkungan sudah rusak(terkontaminasi), sebentar lagi umur (harapan hidup)kita menjadi makin pendek, dan generasi kita akan menjadi semakin bodoh. Budaya kita katanya Adiluhung. Kita selalu mendapat pujian itu. Kita merasa bangga sekali. Tapi sadarkah kita bagaimana mempertahankan budaya yang adiluhung itu. Sadarkah kita bagaimana membangun budaya yang adiluhung itu. Mudah-mudahan dengan kita bisa membangun kelompok-kelompok kecil yang dengan sadar dilandasi kepentingan bangsa yang mendasar sesuai citra, karsa bangsa yang membumi kita bisa mulai di-perhitungkan. Saya dari kota kecil dibagian barat dari Jawa Timur sebelah utara sangat berharap melalui agromania kita bisa membangun jaringan bangsa yang ikut memecahkan permasalahan pangansehingga tidak banyak rakyat kelaparan atau tidak kuat lagi membeli sembako dinegeri yang subur ini. Mari kita bangun Pangan kita dengan ongkos produksi yang murah, kwalitas baik, kwantitas melimpah dan menjadi pemasok pangan dunia. Amin. Amin. Amin. mugi. --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. [Non-text portions of this message have been removed]