Saya anggap bapak salah ketik waktu nulis kata 'hewan' :D Terlepas dari benar salahnya, saya paham bahwa omongan si dewan ini memang bertentangan dengan pakem yang berlaku, tapi saya kira dia ada point juga. Masuk akal kan kenaikan bunga membuat cost dari produsen meningkat jadi bukan tidak mungkin produsen malah terpaksa menaikkan harga meski permintaan berkurang (karena orang gak punya duit). Jadi tujuan untuk menurunkan harga malah tidak tercapai. Jadi hasil akhirnya akan merupakan tarik ulur antara permintaan yang berkurang dengan biaya berhutang yang meningkat. (masih bisa ditanyakan lagi kalo permintaan berkurang kan jelek bagi ekonomi, kumpeni terpaksa berhemat mungkin phk karyawan dll)
Point saya soal bunga gak bikin orang lebih hemat bukan dalam rangka mengatakan bahwa kenaikan bunga harus besar, tapi hanya ingin menunjukkan bahwa asumsi kenaikan bunga membuat orang lebih hemat patut dipertanyakan. Kalo kumpeni ato institusi mungkin memang beda perilakunya dari individu. 2011/2/16 Vernichtung <[email protected]> > > > Begin pak Susanto menurut apa yg saya tahu, secara teori kenaikan suku > bunga akan meredam jumlah uang yg beredar di masyarakat melalui bbrp > hal antara lain savings dan investasi/belanja usaha sehingga terjadi > pengetatan prospek pendapatan pada masyarakat. Mungkin hal ini bida > didebat sebagai sesuatu yg tdk efektif, tetapi ini adalah salah satu > alat yg tersedia bagi bank sentral dalam mengatur ekonomi secara > makro. Kalau menurut saya anggota hewan yg sudah bicara itu salah > karena beliau tidak mengerti substansi pengaturan ekonomi makro dan > keterbatasan alat yg dapat dipakai oleh bank sentral untuk > mengaturnya. Menaikkan suku bunga hanya 25bps mungkin terlihat tidak > akan memberikan efek yg signifikan bagi kita2 yg terbiasa mengatur > peredaran uang yg dalam jumlah relatif kecil, namun bagi para pelaku > ekonomi yg mengatur perputaran uang dalam jumlah besar, tentulah cukup > signifikan. bank sentral juga tidak mungkin seenaknya menaikkan suku > bunga acuan secara drastis karena bisa memberikan persepsi yg salah > mengenai situasi ekonomi makro Indonesia, yg hasilnya bisa > membahayakan sektor investasi yg akan merembet ke berbagai sektor > lainnya (efek domino). > > Saya juga tidak bilang bahwa bank sentral benar dalam hal ini karena > inflasi yg terjadi sebenarnya bukan karena meningkatnya > permintaan/demand tetapi karena terjadinya penurunan pada supply > (terutama bahan pangan). Jadi menaikkan suku bunga untuk menurunkan > supply bisa malah menjadi bumerang yang dapat membuat inflasi malah > naik lebih tinggi (karena supply sudah turun sehingga tidak dapat > memenuhi permintaan). Kembali lagi, mungkin langkah ini diambil karena > keterbatasan alat yg dapat dipergunakan oleh bank sentral utk meredam > inflasi. Mungkin ada baiknya mereka bisa lebih obyektif dan kreatif > sehingga bisa mengambil langkah yg dapat lebih efekif dalam meredam > inflasi yg terjadi di Indonesia. >
