Nah.........   pertanyaannya adalah seberapa besar pengaruh sektor industry  
mempengaruhi peredaran uang di Indonesia....

fbs






________________________________
From: Solihin Makmur Alam <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, February 15, 2011 3:38:12 AM
Subject: [saham] DPR tidak Pakai Hitungan Anak SD untuk mengkritik Kenaikan BI 
Rate

  


Saya setuju banget dengan Pak Susanto Salim.
Emang bener, gak selalu apa yang dibilang di text book pada kenyataannya akan 
sama.
Karena harus di timbang dulu (sebenarnya ada trade-off antara kenaikan suku 
bunga dengan pengurangan jumlah uang beredar di masyarakat terhadap penurunan 
harga-harga barang di masyarakat). Dalam teori monetarist memang dikatakan 
bahwa 
kalau jumlah uang beredar di masyarakat berkurang (M = Money) dan Velocity of 
Money (V) atau kecepatan uang beredar di masyarakat konstan, serta jumlah 
transaksi dalam masyarakat  (T = Number of Transaction) juga konstan, maka 
secara matematis, harga (P = Price Level) akan turun ====> MV = PT. Itu yang 
disebut oleh orang DPR itung-itungan sederhana anak SD. Masalahnya Milton 
Friedman si monetarist ini juga selalu memasukkan asumsi Ceteris Paribus, yakni 
hal-hal lain diluar yang diteliti  atau diuji, tidak berubah atau konstan, 
misalnya consumer behavior dan producer behavior.

Nah, kalau yang dibilang Pak Susanto, dengan tingkat suku bunga naik, maka 
risk-free rate atau safe-harbour rate dari suku bunga bebas risiko juga naik, 
maka tentu pengusaha atau produsen akan meminta risk premium atau imbal hasil 
atau return yang lebih tinggi untuk menutupi biaya bunga pinjaman apabila 
pinjaman dipakai (employed) dalam kegiatan untuk memproduksi barang. Apabila 
ada 
produsen yang tidak menggunakan pinjaman dalam kegiatan produksinya (non 
levered 
firm), mereka juga ingin memiliki risk premium di atas tingkat suku bunga 
risiko, karena intinya kalau bisa enak-enakan nyantai di pelabuhan atau dermaga 
yang indah sambil menikmati sunset tanpa harus dipusingkan dengan urusan bahan 
baku (Material), masalah karyawan (Man), masalah modal kerja (Money), dan 
masalah produksi (Machine), mereka juga kepingin di setiap akhir bulan 
ongkang-ongkang kaki  terima pendapatan bunga yang sifatnya tetap dan bebas 
risiko, karena dijamin oleh LPS atau pemerintah (makanya disebut safe-harbor 
rate). Nah, untuk mengkompensasikan effort mereka mengelola 4 M tadi (Material, 
Man, Money, dan Machine), maka mereka juga meminta return yang lebih tinggi 
dari 
tingkat suku bunga bebas risiko dan itu adalah logis dari kacamata pengusaha 
manapun (producer behavour).

Nah, kalau produsen menaikkan risk premium-nya, maka akan terjadi kenaikan 
harga 
barang di dalam masyarakat yang dalam ekonomi klasik dinamakan cost push 
inflation. Nah inilah inflasi yang siap-siap ditelan oleh Penguasa dan 
masyarakatnya.


--- On Tue, 15/2/11, [email protected] <[email protected]> wrote:


>From: [email protected] <[email protected]>
>Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik  Kenaikan BI Rate
>To: [email protected]
>Date: Tuesday, 15 February, 2011, 9:28 PM
>
>
>  
>Dimana2 disemua peristiwa didunia ini
>
>Penonton selalu lebih jago dan pintar, daripada pemain
>
>Bravo penonton!!!!
>
>
>
________________________________

>From:  [email protected] 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Mon, 14 Feb 2011 23:10:07 +0000
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate
>
>
Its easy jawabannya I really don't give a damn... Huahuahua
>Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

>From:  Susanto Salim <[email protected]> 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Tue, 15 Feb 2011 02:34:19 +0700
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: Re: [saham] Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate
>
>  
>Saya melihat banyak yang komentar negatif tentang logika anak SD DPR ini, tapi 
>saya kira argumennya cukup masuk akal. Bisakah kira2 temen2 yang menertawakan 
>anggota dewan ini memberi sanggahan dengan alasannya, as to why he is so damn 
>wrong? (pake bahasa linggis dikit biar keliatan intelek katanya :))
>
>
>Saya paham secara teori memang katanya kalo BI rate naik, maka inflasi akan 
>berkurang, karena jumlah duit yang beredar berkurang...Ada yang tahu mengapaa 
>kalo bunga naik jumlah duit yang beredar berkurang? (selain karena kumpeni 
>jadi 
>kurang termotivasi untuk pinjam duit)
>
>
>Apakah berkurangnya duit yang beredar ini cukup besar untuk mengkompensasi 
>kenaikan harga yang bakal terjadi karena modal untuk memproduksi barang jadi 
>bertambah sebagai akibat dari bunga pinjaman yang diasumsikan akan naik juga 
>dengan kenaikan BI rate? Ada yang sudah ngitung...or simply maen comot aja 
>dari 
>text book ekonomi dengan teorinya yang menghasilkan krisis demi krisis...
>
>
>2011/2/14 caknoval <[email protected]>
>
>  
>>Wah, hebat bener DPR. Pakai hitungan anak SD berani mengkritik BI yang banyak 
>>doktor ekonominya.
>>
>>Wassalam,
>>
>>Noval
>>
>>http://www.detikfinance.com/read/2011/02/14/163154/1571078/5/pakai-hitungan-anak-sd-dpr-kritik-kenaikan-bi-rate?f9911013
>>
>>
>>Senin, 14/02/2011 16:31 WIB
>>Pakai Hitungan Anak SD, DPR Kritik Kenaikan BI Rate 
>>Suhendra - detikFinance
>>
>>Jakarta - DPR mengkritik langkah BI menaikkan suku bunga acuan, BI Rate 25 
>>basis 
>>poin menjadi 6,75% karena dinilai bisa memicu inflasi. Padahal BI sebelumnya 
>>menaikkan BI Rate untuk merespons inflasi yang melonjak tinggi.
>>
>>Adalah anggota Komisi XI DPR-RI Arif Budimanta yang mengkritik kebijakan itu. 
>>Anggota DPR dari PDIP itu mempertanyakan alasan BI menaikan BI Rate 25 basis 
>>poin menjadi 6,75% pada 4 Februari 2011 lalu. Berdasarkan hitungan sederhana 
>>saja, jika BI rate naik maka implikasinya justru pada kenaikan inflasi lagi.
>>
>>"BI rate naik suku bunga pinjaman otomatis naik, apakah akan melawan pasar? 
>>Biaya produksi naik, di tingkat konsumen akan naik. Ya inflasi naik. Ini 
>>matematika sederhana saja, anak SD, saya nggak tahu kalau BI lebih canggih," 
>>kata Arif dalam raker BI dengan Komisi XI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, 
>>Senin 
>>(14/2/2011)
>>
>>Ia mengatakan selama ini usulan DPR terhadap BI selalu tak diperhatikan 
>>sehingga 
>>terkesan percuma saja. Namun ia mengusulkan agar setiap triwulan dalam rangka 
>>anggaran tahunan Bank Indonesia (ATBI), Arif  meminta suatu laporan korelasi 
>>kebijakan moneter BI dengan pengendalian inflasi.
>>
>>"BI selaku Bank Sentral dikaitkan core inflation," katanya.
>>
>>Ia juga mengkritik soal konsistensi target inflasi tahun 2011 yang menurut 
>>versi 
>>pemerintah sebesar 5,3%. Sementara BI, menggunakan pola target inflasi 2011 
>>dengan pola 5% plus minus 1%.
>>
>>Ditempat yang sama Gubernur BI. Darmin Nasution menyatakan optimisnya 
>>terhadap 
>>inflasi 2011 pada rentang 5% plus minus 1%.
>>
>>"Melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial tersebut, serta 
>>langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi tingginnya harga komoditi pangan, 
>>BI 
>>meyakini inflasi dapat dijaga pada sasarannya yakni 5% plus minus 1% untuk 
>>2011," katanya.
>>
>>BI dalam rapat terakhirnya memang memutuskan kenaikan BI Rate 25 basis poin 
>>menjadi 6,75%. Keputusan ini diambil akibat peningkatan inflasi yang dipicu 
>>oleh 
>>pergerakan harga pangan dunia yang tinggi.
>>
>>(hen/qom) 
>>
>>
> 



Kirim email ke