Senin, 14 Pebruari, ini akan menjadi hari kedua pasca listing GIAA (Garuda
Airlines) yang mengecewakan pada Jumat, 11 Pebruari kemarin, dengan seketika
anjlok -17,33%. Bagaimana hari-hari ke depan, setidaknya hari ini? Adakah
'swing' sesaat akan membantu? Jawabnya, khususnya bagi para investor jangan
lupa memperhatikan apa yang terjadi pada bursa regional sekitar Anda.

Sejumlah alasan kunci telah di-posting kemarin mengapa investor asing dan
investor yang cermat tidak akan mengakumulasi saham penerbangan bahkan
dengan harga diskon yang memadai (
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/101776). Selain, perkembangan
indeks 'aviation' S&P500 yang justru menyusutkan portofolio investor selama
20 tahun terakhir dibandingkan dengan kenaikan indeks utama S&P 500 di AS,
belum lama ini dari bursa yang bertetangga dengan Indonesia dan masuk dalam
kateogri 'emerging market' telah me-listing satu 'airline'-nya juga. Perlu
diperhatikan bahwa emiten penerbangan global tidak sebanyak emiten-emiten
sub-group industry lain sehingga 'listing' satu emiten penerbangan akan
menjadi sorotan terhadap prospek saham-saham penerbangan lainnya.

Cebu Air Inc. belum lama 'listed' di PSE (bursa Filipina) pada 25 Oktober
2010 lalu. Jika Anda masuk para investor itu yang begitu bergembira dengan
kenaikan Cebu Air pada hari ke-2 listing-nya yang sampai 8% maka dengan
berlalunya waktu dan sekarang memasuki bulan ke-4, Anda bisa menyaksikan ke
belakang 'chart' yang begitu mencekam karena sampai hari ini Cebu Air sudah
merosot -30% (http://www.bloomberg.com/apps/quote?ticker=CEB:PM). Jangan
lupa Cebu Air, 'listing' sebelum 'emerging market' mengalami kontraksi pada
awal tahun 2011, dan fakta itu saja sendiri tidak mampu menyelamatkan saham
penerbangan tersebut. Dan, 'historical chart' menunjukkan bahwa pada listing
dan hari ke-2, saham Cebu Air masih bisa naik, bandingkan dengan GIAA yang
sudah harus merosot sejak detik awal 'listing'.

Cebu Air merupakan perusahaan penerbangan terbesar kedua di Filipina dan
dalam IPO-nya Oktober lalu meraup P23,33 miliar atau Rp4,7 triliun sekaligus
tercatat sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah Filipina sejak 'listing' SM
Investment Corp pada 2005 lalu.

'+'

Kirim email ke