Nampak jelas bahwa semua ayat dan hadist yang di forward Huttaqi dibawah ini memperjelas kedudukan Indonesia sebagai satu system yang dusta, tidak menepati janji dan khianat terhadap perjanjian Helsinki. Dusta, khianat dan tidak menepati janji sebagai ciri-ciri kaum munafiqun nampak jelas diperlihathan kaum dhalim dan hipokrit itu pada hasil UU-PA yang menyimpang dari Perjanjian Helsinki dan malah lebih buruk dari otonomi yang pernah mereka nyatakan sebelumnya.
 
Dusta, khianat dan tidak menepati janji sebagai ciri-ciri kaum munafiqun itu sudah merupakan watak umumnya orang Jawa yang mereka klaim sebagai orang Indonesia untuk mengelabui bangsa-bangsa Lain di seluruh kepulauan Melanesia ini. Kepada orang Jawa yang masih meyakini Al Qur-an sebagai pedoman hidup dalam bernegara dan bermasyarakat semoga tidak salah paham kepada saya. Saya tidak hendak mengklaim semua orang Jawa itu munafiq sebagaimana juga tidak mengklaim semua orang Acheh itu tidak munafiq. Dalam kontek ini saya berbicara antara dua komunitas yang terdiri dari Penindas dan yang Tertindas. Jelasnya seluruh makhluk yang bersekongkol dan bersatupadu dalam komunitas Indonesia dan seluruh orang Acheh yang sadar dalam komunitas Acheh - Sumatra, sebagai suatu bangsa yang sudah wujud ratusan tahun sebelum Indonesia pura-pura diploklamirkan oleh Sukarno, makhluk pertama pelaku dusta, khianat dan tidak menepati janji terhadap bangsa Acheh - Sumatra.
 
Ironisnya saudara Huttaqi yang mampu melihat ayat-ayat dan hadist-hadist tersebut, tapi tidak mampu berkaca bahwa dirinya termasuk dalam perangkap komunitas yang dusta, khianat dan tidak menepati janji itu. Mau lari kemana anda Huttaqi cs???  Anda mirip sekali dengan makhluk yang berhimpun dalam MUI diseluruh Indonesia, berfatwa bahwa Ahmadiah itu bukan Islam sebagaimana di samapaikan Haji Nadri Saaduddin di milis "minang" yang berjudul kafir teriak kafir. Perlu anda pahami bahwa kafir tidaknya seseorang tidak hanya dilihat dari pernyataan dimulutnya saja. Boleh jadi dimulutnya memang selalu terucap "Lailaha illallah, Muhammadur Rasulullah" tapi dalam realita kehidupan sehari-harinya orang tersebut bersatupadu dalam kelompok almunafiqun sebagaimana Huttaqi yang bukan saja bersatupadu tapi juga selalu siap membela Komunitas hipokrit itu kapan saja dan dimana saja untuk menjaga agar Indonesia itu tidak pecah sebagaimana pernah saya kritik dimasa lampau. Dia itu asik dalam pengajian rituallnya, sementara kaum dhu'afa merintih di hampir sekelilingnya, terabaikan.
 
Perlu juga saya perjelaskan bahwa saya tidak juga mendukung tulisan Nadri tersebut secara keseluruhan. Saya tidak membela Ahmadiah namun MUI tidak lebih baik dari Ahmadiah. Itu tulisan masih perlu dikritik, tinggal lagi saya belum punya kesempatan. Disamping itu saya juga belum mengetahui persis apakah Nadri sendiri termasuk orang-orang yang bersatupadu dalam komunitas yang hipokrit itu atau termasuk orang yang berdiri diluar system yang dhalim itu.
 
Pembaca sekalian, pastikan bahwa semua orang yang mengaku diri Islam mengaku juga bahwa Al Qur-an itu sebagai pedoman hidup untuk manusia agar tidak sesat hidupnya sebagaimana perlunya kompas bagi kapal di lautan agar tidak sesat ketempat yang lain. Namun pastikan juga bahwa mereka umumnya terbatas hanya dimulut saja.  Rumusan "Lailaha illallah, Muhammadur Rasulullah" itu mengandung pengertian yang amat dalam. Kalimah Syahadah itu tidak cukup hanya dibibir saja tanpa masuk kehati serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bernegara dan bermasyarakat. Tidak ada ruang untuk berpisah dengannya. Bagaimana mungkin kita selalu mengucapkan kata itu dibibir sementara dalam kehidupan kita bersatupadu dalam komunitas orang-orang yang anti kepada ayat-ayat Allah sendiri sebagaimana orang-orang yang bersekongkol dalam system Hindunesia yang dhalim itu. Ketika TNI menganianya dan membunuh rakyat jelata mereka juga tertanggung dosanya  Mereka itu menggunakan hukum Allah untuk mempermainkannya sebagaimana kita saksikan aplikasi hipokrit mereka terhadap Syariat Islam di bumi Acheh - Sumatra. Banyak orang Acheh sendiri yang terkecoh dengan syariat pura-pura mereka itu.
 
Perlu kita ingat bahwa kalau kita belum memahami definisi Ulama menurut kacamata Al Qur-an, kita juga belum memahami yang mana sesungguhnya Agama Islam yang sebenarnya. Kalau kita melihat masih banyak orang yang mengira bahwa makhluk yang menduduki kursi MUI itu sebagai ulama, itu pertanda masih banyak orang yang sesat dalam hidupnya. Tapi perlu juga diingat bahwa sebahagian manusia mengetahui bahwa mereka itu Basyar bukan ulama, namun mereka juga terperangkap kedalam komunitas basyar yang sama.
 
Agar kita tidak menyesal di alam Akhirat nanti kita perlu menelusuri mana golongan yang satu itu dari 23 firkah yang sesat kecuali satu. Kita tidak cukup dengan hanya meyakini bahwa Al Quran itu Pedoman Hidup tapi juga harus memahami bagaimana caranya menggunakan Al Qur-an itu dan siapa pendampingnya sehingga kita benar-benar mengikuti Al Qur-an sesuai arahan Allah dan RasulNya, bukan arahan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hingga kita sudah terlanjur mejakini kitap lain yang menyimpang dengan Al Qur-an itu sendiri sebagai pedoman hidup yang dibangga-banggakannya.
 
Pelu kita ketahui bahwa ciri-ciri golongan Islam yang benar itu pantang bersatupadu dalam system Thaghut yang Dhalim dan Munafiq seperti Indonesia. Namun itu masih belum cukup sebelum kita mengetahui siapa Pemimpin yang diperintahkan Allah untuk kita ikuti. Jelasnya kita "haq" hukumnya mengenal imam zaman baik secara langsung maupun tidak langsung.  Secara tidak langsung dapat kita misalkan orang Acheh yang mengenal Imam itu melalui Tgk Hasan tiro atau orang Jawa yang mengenal Imam Jaman itu melaui "Imam" Karto Suwiryo. Akibatnya mereka pantang bersatupadu dalam system thaghutnya Sukarno kala itu.
 
Kalau anda masih confuse, mungkin contoh berikut dapat memperjelas masalah itu atau sebaliknya tambah bengong: Kita haq menta'ati Allah namun kita juga haq menta'ati kedua  orang tua kita, kecuali kalau dia menyimpang dari perintah Allah dan Rasulnya sendiri. Dengan demikian jelaslah kita menta'ati orang tua kita yang menta'ati Allah dan Rasulnya.  Demikianlah kita menta'ati pemimpin yang mengenal Imam zaman bukan pemimpin yang tidak mengenal Iman Zaman. 
 
Pastinya kita kelak akan bersama orang yang kita yakini dan ikuti di dunia ini. Andaikata kita ikuti pemimpin yang dhalim, kita juga akan bersama orang dhalim itu dalam neraka walau kita tidak tinggal Shalat, bayar Zakat dan menjadi pak Haji sekalipun (na'uzubillahi min zalik). Sebaliknya kalau di dunia kita mengikuti pemimpin yang mendapat redha Allah, kita pasti tidak masuk neraka kelak.  Kelak manusia akan menuju kepada Allah secara berkolompok-kelompok mengikuti pemimpin masing-masing.
 
Dikatakan Rasulullah bahwa orang-orang yang tidak mengenal Imamnya akan sesat sebagaimana domba yang tidak mengenal pengembalanya di kawasan padang pengembalaan. Ketika domba itu berjumpa dengan komunitas pengembala yang benar, dia mengatakan kamu bukan domba gembalaan saya. Demikian juga ketika mereka menemui pengembala yang lain. Akhirnya dia dimakan serigala.
 
Imam itu adalah penafsir Al Qur-an yang ditunjukkan Allah dan Rasulnya agar dapat memahami ayat-ayat mutasyabihat, dimana Al Qur-an itu ada ayat yang dapat dipahami secara tersurat (ayat muhkamat atau Kat'i) seperti ayat yang dipelintirkan oleh orang-orang yang bersatupadu dalam system Hindunesia hipokrit disebabkan tertimpa kepala mereka: "....Waman lam yahkum bima anzalallah fa ulaika humul kafirun ( Q.S, Al Maidah 44) dan ada juga ayat yang tidak dapat kita pahami kecuali melalui Imam yang di tunjukkan Allah dan Rasulnya seperti: " Ya ayyuhal lazi na amanu la taqulu raa'ina wa qulun zurna was ma'u, walil kafirina 'azabun alim". yang artinya " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan ra'ina (ketika berjumpa dengan rasulullah) tapi katakanlah unzdhurna, dan bagi orang-orang kafir azab yang opedih. Kalau kita buka kamus, kata ra'ina dan kata unzdhurna sama artinya. Lalu kenapa Allah melarang kata yang satu namun tidak kata yang lainnya sementara artinya sama. Ayat-ayat seperti inilah yang membutuhkan penafsir yang tepat yaitu Imam - Imam yang ditunjukkan Allah dan Rasulnya agar kita tidak tersalah paham yang membuat kita tersesat kendatipun mengaku Al Qur-an sebagai pedoman Hidup. 
 
Kedudukan Imam itu disisi Al Qur-an sama seperti kedudukan para doktor disisi kitap/buku pengobatan. Adakah doktor itu tidak diperlukan kalua buku pengobatan sudah kita miliki???  . nampaknya orang yang mengaku Islam sekarang ini seperti orang-orang yang mencari sendiri obat penyakitnya tanpa mau mencari doktor ahlinya agar tepat sasaran.  Justru itu hadist yang benar adalah: " Kutinggalkan kepada kalian dua perkara, yaitu Al Qur-an dan Keluargaku. Kalau kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya sampai menemuiku di pancutan kautsar" (Hadist Tsaqalain). Rasulullah juga mengatakan: "Keluargaku umpama bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya akan selamat dan siapa yang tidak menaikinya akan sesat dan lumpuh" (Hadist Safina). Lalu pelajari juga hadist Gadhirkhum tentang persoalan yang menyangkut Imamah.
 
Billahi fisabililhaq
Muhammad Al Qubra
[EMAIL PROTECTED]
Sandnes, Norwegia


Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
DUSTA, TIDAK MENEPATI JANJI dan KHIANAT
Qolbun Salim di Al-Azhar Jakarta
oleh:
huttaqi
Di al Quran ada 32 ayat yang menceritakan tentang KADZIB, dusta dan kedustaannya, tersebar di 21 surat. QS Ali Imran, An Nisa’, Al An’aam, Al a’raf, Huud, Yusuf, An Nahl, Al Kahfi, Al Hajj, An Nuur, Al Furqan, Al Ankabuut, Shad, Az Zumar, As Syuura, Al Ahqaaf, Al Mujadilah, Al Mumtahanah, Ash Shaff, Al Jin, dan An Naba’. Beberapa di antaranya adalah :
Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim. (Ali Imran:94)
Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).
(QS An-Nisaa’50)
Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: "Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?" Orang-orang musyrik itu menjawab: "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS Al A’raf :37)
Masalah JANJI disebutkan 70x di dalam al Quran :
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu. (QS Al Maidah:1)
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS Ali Imran : 9)
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Ali Imran :76)
Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (QS Ali Imran : 77)
Sementara kata KHIANAT disebutkan 2x di dalam ayat al Quran yaitu di QS Al Mukmin :19 dan An Nisaa’ : 105
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, (QS An Nisaa’ :105)
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al Mukmin :19)
Nabi Muhammad saw bersabda :
“Tsalaatsun man kunna fiihi fa huwa munaafiqun wa in shaama wa shallaa wa za’ama annahu muslimun:idzaa haddatsa kadzaba wa idzaa wa’ada akhlafa wa idza’tumina khaana”
Artinya : “Tiga perkara, barangsiapa ada pada tiga perkara itu, maka dia itu orang munafiq, walaupun ia berpuasa, mengerjakan sholat dan mendakwakan bahwa ia muslim. Yaitu : apabila berbicara, ia berdusta, apabila berjanji, ia menyalahi janji dan apabila dipercayai, ia berkhianat”
(HR Bukhari-Muslim-dari Abu Hurairah)
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Laisal khulfu an ja’idar rajulur rajula wa fii niyyatihi an yafia”
Artinya: “Tidaklah menyalahi janji, bahwa seseorang berjanji dengan seseorang  dan pada niatnya akan menepatinya”

__._,_.___

Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan.
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED]





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke