Itu bukan urusan kami bangsa Acheh -Sumatra Cut Hasniati. Itu urusan kalian 
yang masih kental mengaku diri sebagai bangsa Indonesia yang Hipokrit dan 
korup. Tulisan kamu itu memperkuat kedudukan Indonesia di Acheh - Sumatra. 
  Kalau anda tidak berani menyuarakan Acheh - Sumatra lebih baik diam saja. 
Atau memang anda termasuk tipe yang sudah mendarah daging Idiology 
Pancasilanya, hingga membuat media yang anda gunakan ini patut kita curigakan 
sebagai media yang juga hipokrit. Itukah yang namanya media Ilmiah?  Apanya 
yang ilmiah?   Kalau tetap saja memuat tulisan seperti itu, secara tidak 
langsung telah mengundang kami untuk mencurigainya.  
   
   
                    »
    Artikel Senin 8 Januari 2007 | Upload 18:55 WIB | 58
KAPAN KITA TERBEBAS DARI UTANG
Oleh : Cut Hasniati, SH., M.Hum |Direktur Lembaga Bantuan Hukum Anak Perwakilan 
Aceh Singkil dan  Staf Infokom Aceh Singkil
 
                               Pemerintah dapat melakukan tindakan kompromistis 
dengan meminta penghapusan hutang kepada IMF, World Bank dan Negara CGI lainnya.
      
    “Indonesia, negeri ku yang subur dan kaya, dari sejak dulu kala selalu 
dipuja-puja bangsa”. Demikian sebait lagu terkenal yang sering dinyanyikan anak 
sekolahan atau saat hari proklamasi dan hari bersejarah lainnya. Namun 
sepertinya lagu tersebut sudah tidak aktual lagi dan hanya penghias kata-kata 
indah saja bila dibandingkan dengan gambaran Indonesia sekarang. 
   
  Miris memang tapi inilah yang terjadi, potret buram indonesia yang dikuasai 
oleh cengkraman asing, jelas nampak didepan mata kita. Bayangkan hampir seluruh 
perusahaan yang berdiri megah rata-rata mengorek hasil sumber daya alam dan 
jasa di Indonesia dikuasai oleh saham-saham asing. Berbagai langkah dilakukan 
pemerintah untuk menggaet lebih banyak investor asing, yang katanya merupakan 
cara yang ampuh untuk mengolah sumber daya indonesia yang masih terpendam. 
Dengan Investasi diharapkan sumber daya yang terpendam itu dapat menghasilkan 
devisa baru bagi pemerintah seperti pajak baru, terbukanya lowongan kerja baru 
dan manfaat positif lainnya.
   
  Kedatangan Bush 6 jam di indonesia 21 november 2006 yang lalu, diharapkan 
dapat menggenjot iklim keuangan yang lebih baik di Indonesia. Walaupun untuk 6 
jam itu, pemerintah mengabaikan protes rakyat dan rela menguras sekitar 3 
Milyar untuk pengamanan orang nomor satu Negeri Paman Sam itu. Kedatangan Bush 
(terlepas dari pro dan kontra) adalah sesuatu yang dinantikan oleh iklim 
investasi dimana diharapkan akan terjadi penambahan investasi yang berasal dari 
pemodal Amerika dan negara maju lainnya di indonesia. Walaupun setelah 
pertemuan tersebut, ternyata belum ada perubahan berarti di Bursa Efek Jakarta, 
artinya kita belum bisa memastikan apakah investor dari luar akan segera 
mengalir deras  ke indonesia. 
   
  Karena pengalaman selama ini mengajarkan kita, tidak ada investasi yang 
datang gratis dan tanpa regulasi ketat dari penanam modal, yang akhirnya tetap 
menginginkan keuntungan yang besar bagi Pemilik Modal. Yang tinggal untuk kita 
hanya sisa recehan dari pajak (itupun disinyalir masih di sunat oleh pejabat 
tertentu).
   
  Kondisi ekonomi Indonesia yang sangat rentan membuat bangsa ini harus 
melakukan segala cara termasuk mengutang kesana-sini. Bayangkan saja, Menteri 
Keuangan Jusuf Anwar pernah mengatakan kalau utang pemerintah RI hingga Maret 
2005 mencapai Rp. 1282 Triliun atau 52 % dari Produk Domestik Bruto (Kapan 
lagi.com edisi 11/3/2006). Lebih fantastis lagi, Sri Hartati Samhadi dalam 
Kompas edisi 20 mei 2006 menuliskan kalau total utang indonesia saat ini 
mencapai angka 1.318 Triliun.  Dengan jumlah penduduk indonesia 210 juta jiwa 
sekarang ini dan melihat perkembangan hutang yang begitu raksasa, artinya 
apabila dibagi rata setiap penduduk indonesia termasuk (bayi baru lahir) 
terbebani utang sekitar 7 juta per orang!. Padahal sebelumnya utang awal 
pemerintah Indonesia awal kemerdekaan hanya 7 milyar (4 Milyar sisa utang 
pemerintahan belanda, dan 3 milyar utang baru pasca merdeka). Setelah 61 tahun 
merdeka hutang itu kemudian bertambah menjadi 1.318 Triliun, atau bertambah 
1.311
 Triliun selama 61 tahun merdeka.  Sebuah pertambahan yang luar biasa, dan 
anehnya utang itu semakin lama semakin bertambah bukan berkurang. Bukankah 
rasionalnya kita harus lebih mandiri setelah berdiri berpuluh tahun lamanya, 
mengapa kita setiap tahunnya harus selalu menambah hutang? mungkinkah telah 
terjadi suatu masalah dalam sistem dan pengelolaan Negara kita? 
   
  Pertanyaan-pertanyaan diatas pantas diajukan mengingat jumlah hutang tersebut 
yang tidak sedikit. Indonesia  berada di peringkat atas Negara pengutang 
internasional.  APBN terbebani setiap tahunnya untuk membayar pokok dan bunga 
utang yang harus dibayar. 
   
  Kalau mau dilihat contoh langsung berapa jumlah kongkrit bunga utang yang 
dibayar oleh pemerintah dan dibebankan dalam APBN, lihat saja berapa jumlah 
dana yang dikelola BRR hari ini. Dana Rekonstruksi dan Rehabilitasi NAD-Nias 
dianggarkan dalam APBN berasal dana Moratorium Bunga Hutang, dimana selama 4 
tahun kita diijinkan Negara kreditor untuk tidak membayar utang hanya membayar 
pokoknya saja. Negara pemberi hutang memberi dispensasi karena musibah gempa 
dan tsunami yang melanda Aceh, maka Indonesia diberi keringanan untuk tidak 
membayar bunga hutangnya selama 4 tahun, dengan harapan dana yang seharusnya 
dipergunakan untuk bayar bunga dapat digunakan untuk rehabilitasi dan 
rekonstruksi NAD-Nias. Bunga utang mencapai angka 4 triliun 1 tahun, belum lagi 
 jumlah pokok utang yang juga harus dibayarkan dalam tahun yang sama. Bayangkan 
saja betapa terbebaninya APBN kita, bunga saja mencapai 4 Triliun apalagi 
jumlah pokok utang yang harus dibayar.
   
  Berdasarkan realita di atas, selayaknya pemerintah dan seluruh rakyat 
Indonesia mengambil tindakan yang tegas dan jelas utnuk segera melunasi utang 
Indonesia dengan cara apapun, baik dengan cara ekstrim maupun cara-cara yang 
kompromistis, segera harus dilakukan. Ibarat benalu, hutang ini hampir menjerat 
leher indonesia. Apabila tidak cepat diatasi bisa-bisa negara kita terjual 
karenanya. 
   
  Pemerintah dapat melakukan tindakan kompromistis dengan meminta penghapusan 
hutang kepada IMF, World Bank dan Negara CGI lainnya. Pastinya dilakukan dengan 
pendekatan dan penjelasan sebagai negara yang miskin kita membutuhkan bantuan 
penghapusan atau minimal pengurangan utang dari negara kreditor.  Bencana alam 
yang menimpa Indonesia,  juga termasuk "hutang dosa" akibat ulah para koruptor 
yang mentilap uang negara bisa dijadikan alasan kuat oleh pemerintah untuk 
bernegosiasi ke negara kreditor perlunya pengurangan utang luar negeri 
Indonesia.   Selain itu juga cara ekstrim yaitu dengan mengalokasikan 20% APBN 
setiap tahunnya untuk membayar utang. Disamping itu juga menginstruksikan 
kepada seluruh provinsi dan  kabupaten/kota untuk  mengalokasikan minimal 20% 
dana APBD-nya utnuk disumbangkan ke pemerintah pusat  untuk  menambah dana 
pembayaran utang.  
   
  Memang cara ekstrim ini akan membuat ekonomi indonesia tidak mengalami 
peningkatan beberapa tahun, namun tindakan ekstrim ini akan menggenjot ekonomi 
Indonesia kedepan  selamanya. Analisis saya lebih baik kita tidak mengalami 
pertumbuhan ekonomi 5 tahun tapi akan memerdekakan ekonomi negeri ini 
selamanya. Alangkah ringannya beban Indonesia kalau tiada lagi utang dan 
bunganya yang harus mengerogoti APBN kita setiap tahun. Ekonomi negara ini bisa 
ditafsirkan seperti ekonomi dalam rumah tangga, apabila belanja bulanan saja 
harus ngutang, bagaimana mungkin kita melakukan pembelian/pembangunan yang 
lain. 
   
  Sudah saatnya kita berupaya keras untuk tidak meninggalkan warisan utang bagi 
anak cucu penerus bangsa ini. Karena kita sadar benar rakyat kita yang miskin 
tidak akan sanggup mengeluarkan koceknya sebesar 7 juta per orang untuk 
membayar kesalahan pengelolaan keuangan yang kita buat hari ini. 
       


   



 __________________________________________________
Bruker du Yahoo!?
Lei av spam?  Yahoo! Mail har den beste spambeskyttelsen 
http://no.mail.yahoo.com 

Kirim email ke