Bukannya beberapa hari yang lalu JP Morgan memberikan warning kliennya untuk tidak berinvestasi pada Surat Hutang Indonesia ???
JPMorgan borong SUN Rp1,1 triliun JAKARTA: JPMorgan Chase membeli surat utang negara (SUN) sebesar Rp1,1 triliun dalam rentang waktu 6-9 Oktober, karena menilai fundamental ekonomi Indonesia masih baik untuk horizon investasi jangka panjang. Chief Executive Officer Investment Banking JPMorgan Limited untuk kawasan Asia Tenggara Philip Lee mengatakan rencana pemindahan kantor cabang perusahaan dari tempat lama ke tempat yang baru mencerminkan keyakinan perusahaan untuk terus berinvestasi secara jangka panjang yang tidak berubah di Tanah Air. "Kesan yang tercipta dari pemberitaan selama sepekan ini adalah kami secara institusi tidak meminati SUN, tetapi itu adalah pendapat seorang analis dalam risetnya kepada klien, bukan anjuran sebuah institusi," ujarnya kepada pers, akhir pekan lalu. Dia mengatakan kondisi global memang menyebabkan pasar obligasi pemerintah negara berkembang seperti Indonesia anjlok, sehingga harga yang terbentuk di pasar menjadi kacau dan tidak mencerminkan kondisi riil harga di pasar. "Memang pasar obligasi Indonesia relatif tidak likuid dan pasar lokal kurang memiliki kepercayaan diri." Menurut dia, kepemilikan asing terhadap SUN di dalam negeri lebih besar daripada negara berkembang lain di Asia Tenggara. Data kepemilikan asing itu, lanjutnya, saat ini semakin menurun dari 20% menjadi 19%. Philip memaparkan analis tersebut memiliki kebebasan untuk berpendapat berdasarkan data, yang kebetulan didapat dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan RI. Managing Director PT JPMorgan Securities Indonesia Rizal B. Prasetijo mengatakan ajloknya pasar obligasi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di pasar obligasi negara berkembang lain, sehingga wajar apabila ada investor asing yang menarik dananya dari pasar. "Tetapi jumlahnya sangat kecil, sehingga harga yang tercatat di bursa tidak mencerminkan harga di pasar karena sebenarnya kepemilikan asing di SUN masih besar." Ketidakcocokan antara harga pencatatan dan harga sebenarnya dalam perdagangan, lanjutnya, juga mencerminkan tidak akuratnya data di pasar. Rizal menambahkan saat ini investor 'jangkar' yang lebih stabil dalam berinvestasi di surat utang dalam jumlah besar, terutama pada seri SUN bertenor panjang. Dirinya juga merekomendasikan kepada pemilik SUN bertenor panjang untuk tetap menjaga kepemilikan asetnya itu. Secara terpisah, VP Debt Capital Markets PT CIMB-GK Securities Indonesia Gautama Adidharma mengatakan secara riil saat ini asing belum banyak berani melepas SUN karena tidak ada perdagangan besar yang tercatat secara harian. "Tidak banyak investor asing yang ingin melepas dalam jumlah besar dan dengan harga semurah harga pencatatan." Saat ini, lanjutnya, seharusnya investor Indonesia tetap berinvestasi di saat harga relatif murah dan investor asing seharusnya rela melepas SUN dengan harga murah dan jumlah kecil agar mencairkan likuiditas pasar. Sebelumnya, T. Guntur Pasaribu, Direktur Perdagangan Fixed Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan Bursa Efek Indonesia mengatakan pemodal tidak perlu mengkhawatirkan surat utang Indonesia karena likuiditasnya masih tinggi, dengan transaksi rata-rata mencapai Rp4 triliun per hari. (21/Rahayuningsih) Bisnis Indonesia