Ria Ananda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"GAM XENOFOBI"Xenofobi berarti sindrom kekhawatiran atau ketakutan seseorang atau suatu kelompok (organisasi) terhadap tidak pastian (tidak menentunya) masa depan, hilangnya tanah air dan status kewarganegaraan. Sindrom Xenofobi ini tengah melanda pimpinnan GAM (Malik Mahmud & Zaini Abdullah) beserta pengikutnya yang masih saja ngeluyur di luar negeri (Swedia, North Jyland Denmark, Stavanger Norwegia, USA, Canada, Malaysia, New zaeland, Australia, Belanda dan German). Mereka diterima sebagai pelarian politik di luar negeri, karena terlibat dalam gerakan kemerdekaan, yang terpaksa minggat dari Aceh. Setelah tinggal bertahun-tahun di luar negeri, sebagian sudah memperoleh status warganegara asing, sebagiannya masih memegang pasport Geneve Convention 1951. Sekarang, mereka tengah dilanda sindrom xenofobi yang khawatir dan takut akan kehilangan masa depan dan tanah air disebabkan tidak menentunya masa depan politik Aceh fasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005. Kendati MoU Helsinki membolehkan mereka pulang ke Aceh kembali kepada pangkuan Ibu Pertiwi Indonesia (NKRI) mereka tetap takut pulang untuk hidup kembali seperti semua, karena tidak memiliki kualitas intelektual dan pengalaman dalam gelanggang politik dan perniagaan di Indonesia. Dalam bidang politik, bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berani pulang untuk tampil bertanding dalam Pilkada Aceh desember 2006 tahun ini, kendati obsesi menjadi pemimpin Aceh tetap bergelora dan belum ada anggota GAM luar negeri (warganegara asing) yang nyata-nyata melepaskan status kewarganegaraan asingnya. Dalam bidang perniagaan misalnya, pemimpin dan bekas panglima-panglima GAM terpaksa menyusu kepada téték Yusuf Kalla dan SBY syukur téték Megawati- selamat tak disedot. Yusuf+SBY tengah menghambur uang kepada anggota GAM, terutama kepada bekas panglima. Lihat saja, kator KPA seluruh Aceh ternyata disewa oleh Pemda masing-masing. Bpk T. Kamaruzzaman (resmi dalam kabinet Kuntor) dan bpk. Muzakkir Manaf, bpk. Zakarya Saman, bpk. Bazaruddin, bpk. Adi Laweuëng, dll lagi, kendati tidak resmi masuk dalam kabinet Kuntoro, tapi mereka diperkerjakan sebagai ACEH KONTRAK (AKON) yang tunduk dibawah ketiak Kontoro sampai tahun 2009. Jauh berbeda dengan sikap pemimpin Tibet Merdeka (Dalay Lama), setelah berjuang menuntut merdeka dari penjajahan Cina. Maka, untuk menamatkan konflik vertikal, ditandatangani MoU (kompromi politik) antara pejuang Tibet-Cina dimana paket Otonomi khusus (self-government) untuk Tibet tahun 1951. Dalam realitasnya, self-government di Tibet hanya tipuan belaka. Setelah sadar, Dalay Lama melarikan diri bersama ribuan pengikutnya ke India dan menyebar ke beberapa negara Eropah. Entah bagaimana, dalam rangka memperingati 50 tahun perjuangan Tibet merdeka, Dalay Lama bersama ribuan pengikutnya, bertekuk-lutut kepada Cina, setelah ribuan bangsa Tibet mati dan 60% infrastruktur hancur, 40% diantaranya rumah peribadatan kaum Budhis akibat perang (menerima kembali paket Otonomi khusus (self-government) pada tahun 2001 atas inisiatif EU dan USA.Konsekuensinya, Dalay Lama beserta ribuan pengikutnya pulang bersama-sama memimpin Tibet tahun 2001, walaupun status Tibet tetap sebagai salah satu Provinsi Cina. Dalay Lama konsekwen dengan keputusan politiknya, rela melepaskan status kewarganegaraan asing-nya dan memimpin rakyat Tibet. Mengapa Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berguru kepada Dalay Lama, kalau memang sudah menandatangani MoU Helsinki yang mengakui Aceh bagian dari NKRI dan Aceh salah satu provinsi Indonesia? Mengapa Bpk. Malik Mahmud tidak berani melepaskan kewarganegaraan Singapura-nya dan Bpk Zaini Abdullah takut melepaskan kewarganegaraan Swedia untuk memimpin Aceh? Mengapa pengikut fanatik GAM di Swedia, Stavanger Norwegia, North Jyland Denmark, Canada, USA, Malaysia, New Zaeland, Finland, Australia, Jerman dan Belanda masih saja berkeliaran dan ngeluyur di luar negeri? Mengapa takut pulang ke Aceh? Tak ada jawaban, kecuali karena pemimpin GAM dan pengikut yang fanatik tengah menderita sindrom Xinofobi.Bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah sangat khawatir dan takut kalau masa depan karier politiknya hancur-luluh hanya disebabkan tidak terpilih menjadi Gub+Wa Gub Aceh dalam Pilkada. Keduanya ragu-ragu dan tak yakin akan dipilih oleh orang Aceh. Keduanya, siang-malam dihantui oleh bayangan ketidak pastian karier masa depan politiknya. Diramalkan, masa depan politik bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah akan tamat (undoing) sampai disini. Nampak, keduanya adalah sosok pemimpin yang tidak konsisten dengan hasil rapat Sigom Donja yang memutuskan bahwa anggoata GAM tidak akan bersanding dengan calon dari partai nasional. Di belakang layar, keduanya + Muzakkir Manaf ternyata menyokong Hasbi Abdullah (adik kandung Zaini Abdullah) bersanding dengan Humam Hamid calon resmi partai nasional Indonesia (PPP). PPP adalah juga salah satu partai yang ikut menandatangani kehadiran DOM di Aceh. Bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah adalah biang kerok yang mencetuskan intern conflict GAM, tidak berwibawa dan tidak bisa menyelamatkan masa depan politik GAM. Di Aceh, bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah sudah kehilangan kepercayaan dari mayoritas anggota GAM, kantor KPA seluruh Aceh sudah diségél (dibekukan) oleh penguasa Indonesia, tinggal kantor KPA di Banda Aceh, itupun sudah di coups oleh kelompok muda yang inginkan reformasi (anti Malik Mahmud & Zaini Abdullah).Kantor pusat GAM di luar negeri sudah ditutup. Tidak ada lagi diplomasi GAM di luar negeri fasca penandatanganan MoU Helsinki. Semua perwakilan negara-negara asing dan EU, sudah tahu persis bahwa GAM sudah menerima paket Otonomi khusus dibawah NKRI yang diberi nama lain, yakni: pemerintahan Aceh. Tlp. resmi 0045 8531 91275 di rumah Tengku Hasan M. Di Tiro yang sebelumnya bisa dihubungi oleh siapa saja, wartawan dalam dan luar negeri, kini sudah dibebukan oleh bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. Tengku Hasan M. di Tiro berada dalam status dirumahkan (dikurung) di kawasan Aalby oleh pimpinan GAM di Swedia. Siapapun tak bisa lagi menghubungi beliau sekarang, kecuali orang-orang tertentu yang diseleksi. Syarif Gåran Usman dan Muzakkir Abdul Hamid siap menyergap tamu tak diundang.Sindrom Xenofobi yang diderita Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah sukar disembuhkan, kecuali masuk Camp Consentration pemulihan mental dan jiwa untuk membangun kembali rasa percaya diri. Camp Consentration seperti ini mudah ditemukan di Swedia dan biayanya gratis. Mengapa dikatakan demikian? Sebab, kemana saja pergi, keduanya senang kalau dipanggil "PM" dan "Menlu", walaupun dalam realitasnya, keduanya tidak berani lagi menantangani surat-menyurat resmi atas nama GAM dengan membubuh jabatan. Sebab itulah media massa asing dan Indonesia menulis: Malik Mahmud, bekas perdana Menteri GAM; ... Zaini Abdullah bekas Menteri Luar negeri GAM, ... bekas Menteri Keuangan GAM;... Mohd Usman Lampohawé, bekas Menteri Keuangan;... Muzakkir Mana, bekas Panglima GAM. Mereka tidak membantah. Secara moral dan politis berarti mereka akui. Inilah diantara ciri-ciri penderita sindrom Xenofobi. Berbeda sekali dengan sikap Saddam Husien, Presiden Irak, walaupun mendekam dalam tahanan rahasia tentara USA di Irak, tetapi ketika dihadirkan di depan Mahkamah revolusi Irak yang disponsori USA, dia berkata: I standing here, I am President of Irak.Yang ganjil, pemimpin GAM memerintahkan anggota GAM yang masih berkeluyuran di luar negeri mengumpul dana kilat dengan dalih membiayai operasi perjuangan di Swedia, padahal untuk membiayai kampanye calon Gub-wakil dari partai PPP (Humam Hamid & Hasbi Abdullah) yang kebetulan adik kandung Zaini Abdullah.Yang berlaku di luar negeri ialah: pemimpin GAM menempatkan Ahmad Sudirman sebagai "anjing Boldok", yang memasok umpan "anjing Boldok" ini ialah bpk. Muzakkir Hamid (keponakan bpk Zaini Abdullah). "Anjing Boldok" milik bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah ini diberi tugas menggonggong dan menyalak, bahkan jika perlu menggit semua orang atau bayang-bayang yang melintas di depannya untuk melindungi Tuan-nya yang tengah nadak dengan sindrom Xenofobi. Ada petugas volunteer (bpk Husaini Daud dan bpk. Razali Abdullah), yang setia mengelus-ngelus bulunya agar tak berkutu dan memandikannya, agar suara gonggongan "anjing Boldok" tetap bergema dan merdu. Karena itu menyuguhi "anjing Boldok" ini dengan minuman air kelapa muda yang khusus didatangkan dari Seupéng, Pidie dan Paya Budjôk, langsa. Lihat saja, jika ada artikel atau ulasan media massa yang mengeritik dan menyerang Tuan-nya, si "andjing Boldok" ini begitu cepat, cerdas tangkas, garang dan ganas menggonggong dan menyalaknya sipenulis dan petugas sukarela tadi mmarah, jika ada orang yang mengganggu "anjing Boldok" ini. Alhamdulillah bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah bisa menemukan "anjing Boldok" lulusan "FIR'AUN UNIVERSITY" di Mesir, untuk menjaga saat-saat terkhir nafas karier Tuan-nya.Selebihnya, anggota GAM luar negeri disérét oleh bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah untuk memenangkan pasangan ini. Hebat kan? Sayangnya, rata-rata tingkat pendidikian anggota GAM di luar negeri (khususnya di Malaysia, Swedia, Stavanger Norwegia, North Jyland Denmark (Eropah), USA, Canada, New Zealand dan Australia hanya tamat SD dan berasal dari kalangan pharia Aceh (keluarga kelas bawah dan terbelakang). Anggota GAM yang bodoh-bodoh ini menjadi makanan empuk bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. Di luar negeri mereka sudah terbiasa dengan pola pikir (menerima uang santunan dari negara). Untuk menunjang pendapatan, mereka kerja overtime malam-malam mencetak baby, semakin banyak anak semakin terbantu perekonomiannya, mereka berharap uang masuk dari tunjangan anak-anak mereka; daripada kalau pulang ke Aceh harus bertani, mengayun roti cané dan mengocok martabak, berdagang ganja dan kuli bangunan. Inilah yang menghantui, hingga mereka bertahan di luar negeri, meskipun pemimpin GAM (bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah C.s) telah menandatangani MoU Helsinki yang membolehkan pulang ke Aceh, namun mereka tetap saja bertahan di luar negeri. Mengapa? Sebab menderita sindrom Xenofobi yang khawatir dan takut kalau-kalau masa depan mereka tidak menentu di Aceh dibawah bendera self-government. Penantian yang tak berujung ini sangat menggelisahkan dan mempengaruhi jiwa mereka. Mengaku atau tidak mengaku, anda adalah pederita sindrom Xenofobi.Ria Ananda*Pemerhati di kawasan konfik
Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.
Get your email and more, right on the new Yahoo.com __._,_.___
Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Salam perjuangan.
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED]
![]()
SPONSORED LINKS
Asia business Asia Region mortgage company Regions mortgage inc Regions mortgage
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
- [Lantak] Re: �PPDi� "GAM Xenofobi" abu meulaboh
- [Lantak] RE: [IACSF] Re: «PPDi» "GAM Xenofobi&quo... Ahmad Sudirman
- [Lantak] Re: �PPDi� "GAM Xenofobi" abu meulaboh
- [Lantak] Re: «PPDi» "GAM Xenofobi" Ahmad Sudirman
- [Lantak] Re: "GAM Xenofobi" abu meulaboh
Kirim email ke
