http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 23 September 2006.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


ORANG YANG IKUT-IKUTAN MEMUKUL GAM DENGAN MEMAKAI SAPU LIDI MERK XENOFOBI.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


SEDIKIT MENGUPAS ORANG YANG IKUT-IKUTAN MEMUKUL GAM DENGAN MEMAKAI SAPU LIDI 
MERK XENOFOBI YANG DIBUAT DI DENMARK.

“Yang berlaku di luar negeri ialah: pemimpin GAM menempatkan Ahmad Sudirman 
sebagai "anjing Boldok", yang memasok umpan "anjing Boldok" ini ialah bpk. 
Muzakkir Hamid (keponakan bpk Zaini Abdullah). "Anjing Boldok" milik bpk. 
Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah ini diberi tugas menggonggong dan 
menyalak, bahkan jika perlu menggit semua orang atau bayang-bayang yang 
melintas di depannya untuk melindungi Tuan-nya yang tengah nadak dengan 
sindrom Xenofobi. Ada petugas volunteer (bpk Husaini Daud dan bpk. Razali 
Abdullah), yang setia mengelus-ngelus bulunya agar tak berkutu dan 
memandikannya, agar suara gonggongan "anjing Boldok" tetap bergema dan 
merdu.” (Ria Ananda, [EMAIL PROTECTED] , Date: 22 september 2006 12:47:34)

Nah, sebulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Agustus 2006 saudara Ria 
Ananda dengan memakai kedok “pemerhati tentang konflik” yang tinggal 
disekitar Silkeborg, Arhus, Denmark telah melambungkan hasil pemikirannya 
tentang GAM yang isinya penuh pikiran yang bersifat subjektif, sehingga 
tidak melahirkan hasil pemikiran yang objektif yang dibungkus dengan 
bungkusan yang diberi label “GAM Political Negaholic”. Dimana dapat dibaca 
dalam tulisan “Mereka yang menganalisa politik GAM dari ranting-nya dengan 
memakai ilmu negaholic” ( http://www.dataphone.se/~ahmad/060821.htm ).

Begitu juga kemaren, Jumat, tanggal 22 September 2006, saudara saudara Ria 
Ananda yang kali ini memakai kedok ”pemerhati di kawasan konfik” dan tinggal 
masih disekitar daerah Silkeborg, Arhus, Denmark mencoba ikut-ikutan 
memanaskan suhu udara Denmark yang sudah masuk musim gugur dengan melalui 
cara memecutkan sapu lidi yang bermerk “xenofobi” dengan dibalut memakai 
tali “GAM Xenofobi” hasil olahan pikirannya yang masih belum sampai 
ketingkat apa yang dinamakan “pemerhati” keatas tubuh GAM yang masih tetap 
kuat.

Mengapa Ahmad Sudirman menyatakan bahwa saudara Ria Ananda dalam 
pemikirannya masih belum sampai ketingkat ”pemerhati”?

Karena isi hasil kumpulan pemikiran saudara Ria Ananda masih penuh dengan 
kumpulan asap hasil hembusan subjektifitasnya saja, bukan berisikan 
butiran-butiran pkiran yang objektif. Misalnya satu contoh ringan saja, 
saudara Ria Ananda menulis bahwa ”pemimpin GAM menempatkan Ahmad Sudirman 
sebagai "anjing Boldok", yang memasok umpan "anjing Boldok" ini ialah bpk. 
Muzakkir Hamid (keponakan bpk Zaini Abdullah).”.

Kalau diteliti sedikit lebih kedalam dari apa yang ditulis oleh saudara Ria 
Ananda tersebut diatas, maka akan ditemukan dengan mudah bahwa saudara Ria 
Ananda memang tidak mengerti dan tidak mengetahui sejauh mana hubungan 
antara pihak pimpinan GAM baik dilihat secara organisatoris ataupun dilihat 
dari sudut pribadi dengan pihak Ahmad Sudirman dalam hal perjuangan GAM.

Nah, kalau Ahmad Sudirman menyatakan sebagai seorang pendukung dan penyokong 
perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, maka itu 
artinya dilihat secara politis dan hukum bahwa status Ahmad Sudirman 
dihubungkan dengan GAM adalah tidak sama dengan status politik dan hukum 
"anjing Boldok" seperti yang dinyatakan oleh saudara Ria Ananda.

Jadi dengan saudara Ria Ananda menyimpulkan bawa Ahmad Sudirman dihubungkan 
dengan GAM yaitu ”pemimpin GAM menempatkan Ahmad Sudirman sebagai "anjing 
Boldok", yang memasok umpan "anjing Boldok" ini ialah bpk. Muzakkir Hamid” 
menunjukkan saudara Ria Ananda tidak mengerti dan tidak memahami sejauh mana 
hubungan secara politis dan hukum antara GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan 
Muhammad di Tiro dengan pihak Ahmad Sudirman.

Karena itu saran Ahmad Sudirman kepada saudara Ria Ananda kalau saudara 
ingin benar menyatakan diri sendiri sebagai ”pemerhati di kawasan konfik”, 
maka saudara harus mengerti dan memahami fenomena yang ada di kawasan 
konflik itu sendiri dan para pelakunya, bukan hanya menyuruk saja disekitar 
Silkeborg, Arhus, Denmark.

Selanjutnya, saudara Ria Ananda menyatakan bahwa ”Xenofobi berarti sindrom 
kekhawatiran atau ketakutan seseorang atau suatu kelompok (organisasi) 
terhadap tidak pastian (tidak menentunya) masa depan, hilangnya tanah air 
dan status kewarganegaraan. Sindrom Xenofobi ini tengah melanda pimpinnan 
GAM (Malik Mahmud & Zaini Abdullah) beserta pengikutnya yang masih saja 
ngeluyur di luar negeri (Swedia, North Jyland Denmark, Stavanger Norwegia, 
USA, Canada, Malaysia, New zaeland, Australia, Belanda dan German).”

Nah, dengan saudara Ria Ananda menampilkan pecut yang bermerk “GAM Xenofobi” 
dengan tali tafsirannya untuk dipakai memecut pimpinan GAM menunjukkan bahwa 
saudara Ria Ananda memang tidak mengerti dan tidak memahami tentang misi dan 
visi perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dimana 
visi perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang 
dirangkumkan dalam sikap dan langkah perjuangan untuk penentuan nasib 
sendiri, ternyata ditafsirkan oleh saudara Ria Ananda sebagai bentuk  
“xenofobi” yang diambil dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata, xenos dan 
fobi, yang diartikan rasa takut pada orang asing. Nah, kalau pengertian 
xenofobi dikenakan kepada orang-orang di Denmark tempat saudara Ria Ananda 
hidup dan tinggal sekarang, maka akan lahirlah istilah permusuhan kepada 
orang asing, misalnya anti orang asing yang tinggal di Denmark, seperti 
saudara Ria Ananda. Dimana tetangga saudara Ria Ananda yang orang Denmark 
merasa benci dan marah kepada saudara Ria Ananda karena saudara Ria adalah 
orang asing yang tinggal menyuruk disekitar daerah Silkeborg, Arhus, 
Denmark.

Jadi, dengan berdasarkan apa yang diterangkan diatas tentang  xenofobi, maka 
sudah bisa diambil garis lurus bahwa apa yang ditafsirkan oleh saudara Ria 
Ananda tentang xenofobi itu yang dikenakan kepada pimpinan GAM yang memiliki 
“kekhawatiran atau ketakutan terhadap tidak pastian (tidak menentunya) masa 
depan, hilangnya tanah air dan status kewarganegaraan” adalah penafsiran 
yang tidak memiliki fakta dan bukti pengetahuan yang kuat.

Tetapi kalau istilah xenofobi GAM ditafsirkan dengan sikap dan tindakan 
pimpinan GAM yang kuat dan menentang terhadap sikap tindakan pihak 
pemerintah RI yang telah menganeksasi Acheh kedalam wilayah RI dengan cara 
ilegal, maka sikap dan tindakan pimpinan GAM yang menentang orang atau pihak 
asing di Acheh adalah cocok dan benar serta sesuai dengan pengertian 
xenofobi yang berasal dari dua kata bahasa Yunani itu. Atau dengan kata lain 
rakyat asli Denmark menentang keras kepada orang asing yang tinggal di 
Denmark, misalnya seperti saudara Ria Ananda hal itu disebabkan oleh rasa 
takut terhadap orang asing yang datang dan tinggal di Denmark. Sikap 
xenofobi inilah yang salah satunya merupakan faktor yang melahirkan rasisme 
di Denmark.

Jadi, dalam hal xenofobi inipun saudara Ria Ananda harus banyak lagi 
belajar, terutama dalam hal pengertian istilah xenofobi dan penafsirannya, 
agar supaya tidak sekedar menafsirkan kekiri dan kekanan saja tanpa adanya 
isi kekuatan penunjang pengetahuan yang kuat.

Selanjutnya, saudara Ria Ananda menyinggung ”Kendati MoU Helsinki 
membolehkan mereka pulang ke Aceh –kembali kepada pangkuan Ibu Pertiwi 
Indonesia (NKRI) – mereka tetap takut pulang untuk hidup kembali seperti 
semua, karena tidak memiliki kualitas intelektual dan pengalaman dalam 
gelanggang politik dan perniagaan di Indonesia. Dalam bidang politik, bpk. 
Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berani pulang untuk tampil 
bertanding dalam Pilkada Aceh desember 2006 tahun ini, kendati obsesi 
menjadi pemimpin Aceh tetap bergelora dan belum ada anggota GAM luar negeri 
(warganegara asing) yang nyata-nyata melepaskan status kewarganegaraan 
asingnya.”

Nah, dari apa yang dilambungkan oleh saudara Ria Ananda diatas itu 
menunjukkan bahwa pertama, saudara Ria Ananda tidak mengerti dan tidak 
memahami tentang MoU Helsinki dan yang kedua, saudara Ria Ananda tidak 
mengerti dan tidak memahami apa yang menjadi isi dari UU No.11 tahun 2006 
tentang Pemerintahah Acheh buatan Pansus DPR RI.

Karena saudara Ria Ananda tidak mengerti dan tidak memahami tentang MoU 
Helsinki yang dihubungkan dengan isi UU No.11 tahun 2006 maka dianggap bahwa 
pasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005 adalah pihak GAM sudah 
melebur dan bubar sehingga harus tampil dalam istilah ”pilkada” model UU 
No.11 tahun 2006 buatan Pansus DPR RI, sehingga ketika pimpinan tinggi GAM 
tidak maju dalam ”pilkada” dianggap sebagai sikap dan tindakan ”tidak berani 
pulang untuk tampil bertanding dalam Pilkada Aceh desember 2006 tahun ini”. 
Padahal kalau saudara Ria Ananda mengerti dan memahami bahwa sebenarnya 
payung hukum UU No.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Acheh buatan Pansus 
DPR RI adalah sebagian besar pasal-pasalnya bertentangan dengan MoU 
Helsinki. Karena itu sampai detik sekarang, sebelum UU No.11 tahun 2006 
direvisi, maka pihak pimpinan Tinggi GAM tetap menolak UU No.11 tahun 2006 
tersebut. Jadi, kalau saudara Ria Ananda menyatakan bahwa pimpinan tinggi 
GAM ”tidak berani pulang untuk tampil bertanding dalam Pilkada Aceh desember 
2006 tahun ini” benar-benar menunjukkan bahwa saudara Ria Ananda sudah 
terobsesi dengan isi UU No.11 tahun 2006 buatan Pansus DPR RI tersebut. Atau 
dengan kata lain saudara Ria Ananda memang tidak mengerti dan tidak memahami 
MoU Helsinki dihubungkan dengan UU NO.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan 
Acheh buatan Pansus DPR RI.

Kemudian, saudara Ria Ananda menyatakan juga bahwa ”Yusuf+SBY tengah 
menghambur uang kepada anggota GAM, terutama kepada bekas panglima. Lihat 
saja, kator KPA seluruh Aceh ternyata disewa oleh Pemda masing-masing. Bpk 
T. Kamaruzzaman (resmi dalam kabinet Kuntor) dan bpk. Muzakkir Manaf, bpk. 
Zakarya Saman, bpk. Bazaruddin, bpk. Adi Laweuëng,  dll lagi, kendati tidak 
resmi masuk dalam kabinet Kuntoro, tapi mereka diperkerjakan sebagai ”ACEH 
KONTRAK (AKON)” yang tunduk dibawah ketiak Kontoro sampai tahun 2009.”

Nah, disini kelihatan bahwa saudara Ria Ananda yang menyebut dirinya sebagai 
”Pemerhati di kawasan konfik” ternyata memang tidak memahami isi perjanjian 
damai yang dituangkan dalam MoU Helsinki. Dimana bukan Jusuf Kalla dan 
Susilo Bambang Yudhoyono yang menghamburkan uang kepada anggota GAM, 
melainkan antara pihak GAM dan pemerintah RI ada kesepakatan hukum yang 
tertulis dalam MoU Helsinki bahwa akan diberikan hak-hak ekonomi bagi 
orang-orang yang telah diberikan amnesti atau dibebaskan dari Lembaga 
Permasyarakatan atau tempat penahanan lainnya. Juga akan diberikan kemudahan 
ekonomi bagi anggota TNA (Tentara Negara Acheh) yang sekarang telah berobah 
status menjadi KPA. Begitu juga akan diberikan dana yang memadai untuk 
kompensasi bagi semua anggota TNA (sekarang KPA), tahanan politik dan rakyat 
sipil yang terkena dampak konflik Acheh melalui Pemerintah Acheh.

Jadi dengan adanya kesepakatan hukum dan politik serta ekonomi antara pihak 
GAM dan pemerintah RI tersebut diatas yang dituangkan dalam MoU Helsinki, 
maka isi kesepakatan tersebut bukan merupakan suatu usaha ”Yusuf+SBY tengah 
menghambur uang kepada anggota GAM, terutama kepada bekas panglima” seperti 
yang dikemukakan oleh saudara Ria Ananda.

Karena itu saran Ahmad Sudirman kepada saudara Ria Ananda kalau saudara mau 
memakai label sebagai ”Pemerhati di kawasan konfik” Acheh, maka saudara Ria 
Ananda harus mengerti dan memahami MoU Helsinki terlebih dahulu, sebelum 
menggoreskan atau mengetikkan hasil pikiran saudara diatas keyboard.

Seterusnya, perjuangan GAM tidak sama dengan apa yang diperjuangkan oleh 
Dalay Lama di Tibet dengan China-nya. Dari kedua pergerakan masing-masing 
memiliki jalur sejarah, politik dan hukum yang berbeda. Jadi, tidak tepat 
kalau saudara Ria Ananda menyuruh kepada pimpinan tinggi GAM untuk meniru 
dan berguru kepada Dalay Lama dalam hal perjuangan GAM.

Oleh sebab itu saran Ahmad Sudirman kepada saudara Ria Ananda dalam hal 
perjuangan GAM adalah saudara Ria perlu menggali, mengerti dan memahami visi 
dan misi perjuangan GAM yang dipimpinan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro 
sebelum saudara Ria Ananda menampilkan pikiran tentang perjuangan GAM.

Selanjutnya, karena hasil kesepakatan yang dituangkan MoU Helsinki masih 
dalam proses pelaksanaan dilapangan dan masih banyak yang belum dijalankan 
oleh pihak pemerintah RI, maka sudah barang tentu dari pihak GAM tidak 
begitu saja mempercayai apa yang ada dan sedang dijalankan oleh pihak 
pemerintah RI di Acheh.

Jadi, kalau masih ada dari pihak GAM yang belum masuk Acheh itu bukan 
berarti bahwa mereka takut pulang ke Acheh, melainkan masih melihat dan 
memperhatikan sejauh mana kebenaran dan ketulusan dari pihak pemerintah RI 
dalam menjalankan apa yang telah disepakati dalam MoU Helsinki itu. Begitu 
juga soal mengapa pimpinan GAM tidak berganti kewarganegaraan mereka, hal 
ini disebabkan karena MoU Helsinki itu bukan merupakan tujuan, melainkan 
hanya sebagai alat dalam rangka unsaha mencapai dan melaksanakan visi dan 
misi perjuangan GAM. Soal MoU Helsinki tidak ada sangkut pautnya dengan 
masalah pergantian kewarganegaraan bagi pimpinan GAM. Selama isi MoU 
Helsinki masih banyak yang ditentang dan dihilangkan oleh pihak pemerintah 
RI dan DPR RI, maka selama itu makin kelihatan pihak pemerintah RI tidak 
tulus dan jujur dalam menjalankan isi MoU Helsinki yang telah disepakati 
oleh pihak GAM da pemerintah RI. Jadi, kalau pihak pimpinan GAM tidak 
melepaskan kewarganegaraan dan pihak GAM lainnya tidak masuk ke Acheh, itu 
semuanya adalah bukan disebabkan oleh adanya ”sindrom xinofobi” seperti yang 
ditulis oleh saudara Ria Ananda. Melainkan karena MoU Helsinki masih belum 
dijalankan dan dilaksanakan secara konsekuen oleh pihak pemerintah RI dan 
DPR RI.

Kemudian, adanya anggapan dari saudara Ria Ananda bahwa ”Bpk. Malik Mahmud 
dan bpk. Zaini Abdullah sangat khawatir dan takut kalau masa depan karier 
politiknya hancur-luluh hanya disebabkan tidak terpilih menjadi Gub+Wa Gub 
Aceh dalam Pilkada. Keduanya ragu-ragu dan tak yakin akan dipilih oleh orang 
Aceh. Keduanya, siang-malam dihantui oleh bayangan ketidak pastian karier 
masa depan politiknya. Diramalkan, masa depan politik bpk. Malik Mahmud & 
bpk. Zaini Abdullah akan tamat (undoing) sampai disini.”

Nah, dari apa yang dianggapkan oleh saudara Ria Ananda diatas membuktikan 
bahwa saudara Ria Ananda masih banyak melibatkan subjektifitasnya dalam 
menampilkan hasil tulisannya itu. Sehingga kelihatan sangat dangkal dan 
sangat tidak memiliki muatan isi yang objektif dalam kupasannya itu. Mengapa 
?

Karena, perjuangan GAM dengan dintandatanganinya MoU Helsinki untuk 
perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak 
bukan dipakai alat oleh pimpinan tinggi GAM untuk mencari keududukan kursi 
Kepala dan Wakil Kepala Pemerintah Acheh, melainkan MoU Helsinki itu adalah 
hanya merupakan alat dalam usaha GAM menjalankan visi dan misi 
perjuangannya. Disamping MoU Helsinki adalah merupakan barometer untuk 
melihat sejauh mana keseriusan dan kesungguhan serta kejujuran pihak 
pemerintah RI dan DPR RI untuk menjalankan dan membangun perdamaian yang 
menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak di Acheh.

Seterusnya soal kebijaksanaan politik dan hukum yang dijalankan oleh pihak 
pimpinan tinggi GAM dalam hal penyokongan politik kepada pihak Hasbi 
Abdullah dan  Humam Hamid adalah sesuai dengan fungsi, tugas dan status 
pimpinan GAM yang mendapat kepercayaan politik dan hukum yang penuh dari 
pimpinan tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan sesuai dengan MoU 
Helsinki. Justru yang ditentang berdasarkan sudut pandang politik dan hukum 
GAM adalah mereka, seperti saudara Irwandi Yusuf, saudara Sofyan Dawood dan 
saudara Munawarliza Zein yang telah mempergunakan KPA dan tempat kedudukan 
KPA untuk dipakai sebagai tindakan politik menentang pimpinan tinggi dan 
pimpinan tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dimana tindakan 
politik dan hukum mereka itu adalah merupakan tindakan politik pembangkangan 
dan perebutan kekuasaan dari pimpinan tinggi GAM dan pimpinan tertinggi GAM 
Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Selanjutnya, saudara Ria Ananda menyatakan bahwa ”di Aceh, bpk. Malik Mahmud 
& bpk. Zaini Abdullah sudah kehilangan kepercayaan dari mayoritas anggota 
GAM, kantor KPA seluruh Aceh sudah diségél (dibekukan) oleh penguasa 
Indonesia, tinggal kantor KPA di Banda Aceh, itupun sudah di coup’s  oleh 
kelompok muda yang inginkan reformasi (anti Malik Mahmud & Zaini Abdullah).”

Nah, dengan adanya tuduhan bahwa pihak pemerintah RI menyegel atau 
membekukan kantor KPA seluruh Acheh menunjukkan bahwa bagaimana sebenarnya 
pihak pemerintah RI telah menjalankan kebijaksanaan politik yang sudah 
disepakati dalam MoU Helsinki dengan cara tidak konsekuen dan tidak jujur 
serta penuh kelicikan.

GAM dan KPA tidak bisa dibubarkan oleh pemerintah RI dan tidak ada dasar 
hukumnya yang bisa dijadikan tempat pegangan hukum untuk membubarkan GAM dan 
KPA. Karena itu adalah suatu tindakan yang melanggar kesepakatan yang 
dituangkan MoU Helsinki apabila pihak pemerintah RI menyegel atau membekukan 
kantor KPA seluruh Acheh. Nah, kalau pihak pemerintah RI memang melakukan 
penyegelan atau pembekuan kantor KPA seluruh Acheh, maka itu merupakan suatu 
deklarasi pengrusakan perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan 
bermartabat di Acheh yang juga sekaligus merobek-robek isi perjanjian MoU 
Helsinki yang akhirnya konflik baru akan timbul kembali di Acheh.

Selanjutnya, GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro masih tetap 
wujud, tidak terhalang oleh adanya MoU Helsinki. Tidak ada kesepakatan yang 
dituangkan dalam MoU Helsinki bahwa pusat GAM di luar negeri ditutup setelah 
MoU Helsinki ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005. Teungku Hasan 
Muhammad di Tiro dengan Stafnya masih terus memimpin GAM di luar Negeri. 
Pimpinan tinggi GAM dan pimpinan tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad di 
Tiro tetap menjalankan visi dan misi perjuangan GAM dan melihat serta 
memperhatikan sejauh mana pihak pemerintah RI konsekuen menjalankan dan 
melaksanakan isi MoU Helsinki di Acheh. Perjuangan GAM masih jauh, MoU 
Helsinki adalah hanya sebagai salah satu alat untuk menjalankan visi dan 
misi perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Jadi, dengan masih adanya GAM dibawah komando pimpinan tertinggi GAM Tengku 
Hasan Muhammad di Tiro dan Stafnya, maka itu bukan berarti bahwa ”sindrom 
Xenofobi yang diderita Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah sukar 
disembuhkan, kecuali masuk Camp Consentration pemulihan mental dan jiwa 
untuk membangun kembali rasa percaya diri”, seperti yang ditulis oleh 
saudara Ria Ananda.

GAM tetap berjalan dan GAM tidak bisa dibubarkan oleh siapapun. Pimpinan 
tinggi GAM masih terus berjalan menjalankan roda kebijaksanaan politik dan 
hukumnya. Pimpinan tinggi GAM terus melakukan usaha politik dan hukumnya 
yang telah disepakati dalam MoU Helsinki. GAM tetap konsekuen dengan apa 
yang telah disepakati dalam MoU Helsinki. Sekarang tinggal melihat dan 
memperhatikan sejauh mana kekonsekuenan dan kejujuran dari pihak pemerintah 
RI dalam menepati kesepakatan yang dituangkan dalam MoU Helsinki.

Seterusnya lagi  saudara Ria Ananda menulis bahwa ”selebihnya, anggota GAM 
luar negeri disérét oleh bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah untuk 
memenangkan pasangan ini. Hebat kan? Sayangnya, rata-rata  tingkat 
pendidikian anggota GAM di luar negeri (khususnya di Malaysia, Swedia, 
Stavanger Norwegia, North Jyland Denmark (Eropah), USA, Canada, New Zealand 
dan Australia hanya tamat SD dan berasal dari kalangan pharia Aceh (keluarga 
kelas bawah dan terbelakang). Anggota GAM yang bodoh-bodoh ini menjadi 
makanan empuk bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. Di luar negeri mereka 
sudah terbiasa dengan pola pikir (menerima uang santunan dari negara).”

Nah, disini kelihatan saudara Ria Ananda menampilkan kesempitan cara 
berpikirnya dalam memandang dan menilai rakyat Acheh yang ada di luar 
negeri. Dimana saudara Ria Ananda tidak mengerti dan tidak memahami bagi 
setiap orang Acheh yang ada di luar negeri dan telah mendapat perlakuan 
hukum yang sama di setiap negara tempat orang Acheh itu hidup dan tinggal, 
maka orang tersebut telah mendapatkan pengalaman baru yang lebih berharga 
dari pengalamannya yang dulu, baik dilihat dari sudut pengalaman hidup dan 
dari sudut pengalaman pendidikannya. Karena itu adanya tingkat pendidikan 
formil yang dimiliki orang Acheh sebelumnya tidak menjadi dasar alasan kuat 
untuk dijadikan sebagai alasan penyebutan orang Acheh tersebut bodoh dan 
menjadi makanan empuk, sebagaimana yang ditulis oleh saudara RIA Ananda, 
melainkan pengalaman baru orang Acheh di negeri luar adalah merupakan  
pengetahuan baru dan sekaligus merupakan peningkatan kemampuan baru yang 
jauh berbeda dengan apa yang dimiliki sebelumnya. Artinya, orang Acheh yang 
tamatan SD setelah berada di luar negeri dan mendapat pengakuan hukum yang 
sama serta mendapat pengalaman baru baik melalui pendidikan keakhlian baru 
atau pendidikan formal lainnya di negera yang ditinggalinya, maka orang 
Acheh tersebut telah menjadi orang baru dengan tingkat pengetahuan yang baru 
dan isi pengalaman yang baru yang sangat berharga bagi perjuangan GAM 
dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Jadi, kalau saudara Ria Ananda menyatakan bahwa ”Anggota GAM yang 
bodoh-bodoh ini menjadi makanan empuk bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini 
Abdullah” adalah pernyataan tersebut tanpa didasari oleh dasar pengetahuan 
yang kuat dan luas. Pernyataan saudara Ria Ananda adala hanya sekedar hasil 
dari pelampiasan dorongan emosinya yang besar tetapi dengan hasil olahan 
pikirannya yang terbatas saja.

Terakhir, saudara Ria Ananda menuliskan bahwa ”untuk menunjang pendapatan, 
mereka kerja overtime malam-malam mencetak baby, semakin banyak anak semakin 
terbantu perekonomiannya, mereka berharap uang masuk dari tunjangan 
anak-anak mereka; daripada kalau pulang ke Aceh harus bertani, mengayun roti 
cané dan mengocok martabak, berdagang ganja dan kuli bangunan. Inilah yang 
menghantui, hingga mereka bertahan di luar negeri, meskipun pemimpin GAM 
(bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah C.s) telah menandatangani MoU 
Helsinki yang membolehkan pulang ke Aceh, namun mereka tetap saja bertahan 
di luar negeri.”

Nah, inilah pandangan dan hasil pikiran saudara Ria Ananda yang menyebutkan 
dirinya sebagai ”pemerhati di kawasan konfik” adalah benar-benar tanpa 
adanya dasar kekuatan pengetahuan yang disertai fakta dan bukti yang kuat. 
Mengapa ?

Karena lahirnya anak dalam keluarga bukan untuk menunjang pendapatan, 
melainkan lahirnya anak karena hasil hidup bersama dalam keluarga. Adapun 
tunjangan anak yang diberikan, misalnya oleh pemerintah Denmark, adalah itu 
merupakan suatu sistem politik tentang keluarga yang telah digariskan oleh 
Parlemen Denmark yang dijalankan leh pemerintah Denmark, yaitu keluarga yang 
mempunyai anak sampai usia 18 tahun akan mendapat tunjangan anak. Jadi, 
tujuan diciptakannya undang-undang tentang tunjangan anak di Denmark adalah 
bukan untuk memberikan semangat kepada keluarga untuk melahirkan banyak 
anak, melainkan untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga yang 
memiliki anak. Adapun kalau ada tuduhan bahwa keluarga orang Acheh 
melahirkan sebanyak-banyaknya anak karena untuk mendapatkan tunjangan anak, 
maka pandangan yang bersipat tuduhan itu masih perlu mendapatkan pembuktian 
fakta dan bukti pengetahuan yang kuat melalui penelitian yang dapat 
dipercaya secara metode ilmu ilmiah. Sedangkan alasan yang disampaikan oleh 
saudara Ria Ananda bahwa ”sebab menderita sindrom Xenofobi yang khawatir dan 
takut kalau-kalau masa depan mereka tidak menentu di Aceh dibawah bendera 
self-government. Penantian yang tak berujung ini sangat menggelisahkan dan 
mempengaruhi jiwa mereka. Mengaku atau tidak mengaku, anda adalah pederita 
sindrom Xenofobi”, maka alasan saudara Ria Ananda ini adalah sangat jauh dan 
bertentangan dengan kebijaksanaan politik tentang keluarga yang ada di 
negara-negara Skandinavia dan sekaligus juga pemakaian istilah xenofobi yang 
dikenakan pada orang Acheh yang ada di luar negeri dengan kekhawatiran dan 
takut masa depan tidak menentu di Acheh adalah hanya sebagai sebuah 
uangkapan subjektifitas saudara Ria Ananda yang disangkanya bisa dijadikan 
sebagai alat pemukul GAM agar supaya GAM menjadi lumpuh.

Saran Ahmad Sudirman kepada saudara Ria Ananda adalah coba belajar lebih 
banyak tentang masalah-masalah yang menyangkut istilah seperti xenofobi dan 
istilah negaholic serta istilah lainnya yang ada hubungannya dengan visi dan 
misi perjuangan GAM dibawah pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan 
Stafnya serta dikaitkan dengan MoU Helsinki, UU No.11 tahun 2006 tentang 
Pemerintahan Acheh dan penganeksasian Acheh kedalam RI, agar supaya saudara 
Ria Ananda tidak melantur kekanan dan kekiri ketika memberikan tanggapan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------

From: Ria Ananda [EMAIL PROTECTED]
Date: 22 september 2006 12:47:34
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [email protected], 
[EMAIL PROTECTED]
Subject: «PPDi» "GAM Xenofobi"

"GAM XENOFOBI"

Xenofobi berarti sindrom kekhawatiran atau ketakutan seseorang atau suatu 
kelompok (organisasi) terhadap tidak pastian (tidak menentunya) masa depan, 
hilangnya tanah air dan status kewarganegaraan. Sindrom Xenofobi ini tengah 
melanda pimpinnan GAM (Malik Mahmud & Zaini Abdullah) beserta pengikutnya 
yang masih saja ngeluyur di luar negeri (Swedia, North Jyland Denmark, 
Stavanger Norwegia, USA, Canada, Malaysia, New zaeland, Australia, Belanda 
dan German). Mereka diterima sebagai pelarian politik di luar negeri, karena 
terlibat dalam gerakan kemerdekaan, yang terpaksa minggat dari Aceh. Setelah 
tinggal bertahun-tahun di luar negeri, sebagian sudah memperoleh status 
warganegara asing, sebagiannya masih memegang pasport Geneve Convention 
1951. Sekarang, mereka tengah dilanda sindrom xenofobi yang khawatir dan 
takut akan kehilangan masa depan dan tanah air disebabkan tidak menentunya 
masa depan politik Aceh fasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005. 
Kendati MoU Helsinki membolehkan mereka pulang ke Aceh –kembali kepada 
pangkuan Ibu Pertiwi Indonesia (NKRI) – mereka  tetap takut pulang untuk 
hidup kembali seperti semua, karena tidak memiliki kualitas intelektual dan 
pengalaman dalam gelanggang politik dan perniagaan di Indonesia. Dalam 
bidang politik, bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berani pulang 
untuk tampil bertanding dalam Pilkada Aceh desember 2006 tahun ini, kendati 
obsesi menjadi pemimpin Aceh tetap bergelora dan belum ada anggota GAM luar 
negeri (warganegara asing) yang nyata-nyata melepaskan status 
kewarganegaraan asingnya. Dalam bidang perniagaan misalnya, pemimpin dan 
bekas panglima-panglima GAM terpaksa menyusu kepada téték Yusuf Kalla dan 
SBY –syukur téték Megawati- selamat tak disedot.  Yusuf+SBY tengah 
menghambur uang kepada anggota GAM, terutama kepada bekas panglima. Lihat 
saja, kator KPA seluruh Aceh ternyata disewa oleh Pemda masing-masing. Bpk 
T. Kamaruzzaman (resmi dalam kabinet Kuntor) dan bpk. Muzakkir Manaf, bpk. 
Zakarya Saman, bpk. Bazaruddin, bpk. Adi Laweuëng,  dll lagi, kendati tidak 
resmi masuk dalam kabinet Kuntoro, tapi mereka diperkerjakan sebagai ”ACEH 
KONTRAK (AKON)” yang tunduk dibawah ketiak Kontoro sampai tahun 2009. Jauh 
berbeda dengan sikap pemimpin Tibet Merdeka (Dalay Lama), setelah berjuang 
menuntut merdeka dari penjajahan Cina. Maka, untuk menamatkan konflik 
vertikal, ditandatangani MoU (kompromi politik) antara pejuang Tibet-Cina 
dimana paket Otonomi khusus (self-government) untuk Tibet tahun 1951. Dalam 
realitasnya, self-government di Tibet hanya tipuan belaka. Setelah sadar, 
Dalay Lama melarikan diri bersama ribuan pengikutnya ke India dan menyebar 
ke beberapa negara Eropah. Entah bagaimana, dalam rangka memperingati 50 
tahun perjuangan Tibet merdeka, Dalay Lama bersama ribuan pengikutnya, 
bertekuk-lutut kepada Cina, setelah ribuan bangsa Tibet mati dan 60% 
infrastruktur hancur, 40% diantaranya rumah peribadatan kaum Budhis akibat 
perang (menerima kembali paket Otonomi khusus (self-government) pada tahun 
2001 atas inisiatif EU dan USA.

Konsekuensinya, Dalay Lama beserta ribuan pengikutnya pulang bersama-sama 
memimpin Tibet tahun 2001, walaupun status Tibet tetap sebagai salah satu 
Provinsi Cina. Dalay Lama konsekwen dengan keputusan politiknya, rela 
melepaskan status kewarganegaraan asing-nya dan memimpin rakyat Tibet. 
Mengapa Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berguru kepada Dalay 
Lama, kalau memang sudah menandatangani MoU Helsinki yang mengakui Aceh 
bagian dari NKRI dan Aceh salah satu provinsi Indonesia? Mengapa Bpk. Malik 
Mahmud tidak berani melepaskan kewarganegaraan Singapura-nya dan Bpk Zaini 
Abdullah takut melepaskan kewarganegaraan Swedia untuk memimpin Aceh?  
Mengapa pengikut fanatik GAM di Swedia, Stavanger Norwegia, North Jyland 
Denmark, Canada, USA, Malaysia, New Zaeland, Finland, Australia, Jerman dan 
Belanda masih saja berkeliaran dan ngeluyur di luar negeri? Mengapa takut 
pulang ke Aceh? Tak ada jawaban, kecuali karena pemimpin GAM dan pengikut 
yang fanatik tengah menderita sindrom Xinofobi.

Bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah sangat khawatir dan takut kalau 
masa depan karier politiknya hancur-luluh hanya disebabkan tidak terpilih 
menjadi Gub+Wa Gub Aceh dalam Pilkada. Keduanya ragu-ragu dan tak yakin akan 
dipilih oleh orang Aceh. Keduanya, siang-malam dihantui oleh bayangan 
ketidak pastian karier masa depan politiknya. Diramalkan, masa depan politik 
bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah akan tamat (undoing) sampai disini. 
Nampak, keduanya adalah sosok pemimpin yang tidak konsisten dengan hasil 
rapat Sigom Donja yang memutuskan bahwa anggoata GAM tidak akan bersanding 
dengan calon dari partai nasional. Di belakang layar, keduanya + Muzakkir 
Manaf ternyata menyokong Hasbi Abdullah (adik kandung Zaini Abdullah) 
bersanding dengan Humam Hamid calon resmi partai nasional Indonesia (PPP). 
PPP adalah juga salah satu partai yang ikut menandatangani kehadiran DOM di 
Aceh. Bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah adalah biang kerok yang 
mencetuskan intern conflict GAM, tidak berwibawa dan tidak bisa 
menyelamatkan masa depan politik GAM. Di Aceh, bpk. Malik Mahmud & bpk. 
Zaini Abdullah sudah kehilangan kepercayaan dari mayoritas anggota GAM, 
kantor KPA seluruh Aceh sudah diségél (dibekukan) oleh penguasa Indonesia, 
tinggal kantor KPA di Banda Aceh, itupun sudah di coup’s  oleh kelompok muda 
yang inginkan reformasi (anti Malik Mahmud & Zaini Abdullah).

Kantor pusat GAM di luar negeri sudah ditutup. Tidak ada lagi diplomasi GAM 
di luar negeri fasca penandatanganan MoU Helsinki. Semua perwakilan 
negara-negara asing dan EU,  sudah tahu persis bahwa GAM sudah menerima 
paket Otonomi khusus dibawah NKRI yang diberi nama lain, yakni: 
“pemerintahan Aceh”. Tlp. resmi 0045 8531 91275 di rumah Tengku Hasan M. Di 
Tiro yang sebelumnya bisa dihubungi oleh siapa saja, wartawan dalam dan luar 
negeri, kini sudah dibebukan oleh bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. 
Tengku Hasan M. Di Tiro berada dalam status ‘dirumahkan’ (dikurung) di 
kawasan Aalby oleh pimpinan GAM di Swedia. Siapapun tak bisa lagi 
menghubungi beliau sekarang, kecuali orang-orang tertentu yang diseleksi. 
Syarif Gåran Usman dan Muzakkir Abdul Hamid siap menyergap tamu tak 
diundang.

Sindrom Xenofobi yang diderita Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah sukar 
disembuhkan, kecuali masuk Camp Consentration pemulihan mental dan jiwa 
untuk membangun kembali rasa percaya diri. Camp Consentration seperti ini 
mudah ditemukan di Swedia dan biayanya gratis. Mengapa dikatakan demikian? 
Sebab, kemana saja pergi, keduanya senang kalau dipanggil "PM" dan "Menlu", 
walaupun dalam realitasnya, keduanya tidak berani lagi menantangani 
surat-menyurat resmi atas nama GAM dengan membubuh jabatan. Sebab itulah 
media massa asing dan Indonesia menulis: “Malik Mahmud, bekas perdana 
Menteri GAM; ... Zaini Abdullah bekas Menteri Luar negeri GAM, ... bekas 
Menteri Keuangan GAM;... Mohd Usman Lampohawé, bekas Menteri Keuangan;... 
Muzakkir Mana, bekas Panglima GAM”. Mereka tidak membantah. Secara moral dan 
politis berarti mereka akui. Inilah diantara ciri-ciri penderita sindrom 
Xenofobi. Berbeda sekali dengan sikap Saddam Husien, Presiden Irak, walaupun 
mendekam dalam tahanan rahasia tentara USA di Irak, tetapi ketika dihadirkan 
di depan Mahkamah revolusi Irak yang disponsori USA, dia berkata: “I 
standing here, I am President of Irak”.

Yang ganjil, pemimpin GAM memerintahkan anggota GAM yang masih berkeluyuran 
di luar negeri mengumpul dana kilat dengan dalih membiayai operasi 
perjuangan di Swedia, padahal untuk membiayai kampanye calon Gub-wakil dari 
partai PPP (Humam Hamid & Hasbi Abdullah) yang kebetulan adik kandung Zaini 
Abdullah.

Yang berlaku di luar negeri ialah: pemimpin GAM menempatkan Ahmad Sudirman 
sebagai "anjing Boldok", yang memasok umpan "anjing Boldok" ini ialah bpk. 
Muzakkir Hamid (keponakan bpk Zaini Abdullah). "Anjing Boldok" milik bpk. 
Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah ini diberi tugas menggonggong dan 
menyalak, bahkan jika perlu menggit semua orang atau bayang-bayang yang 
melintas di depannya untuk melindungi Tuan-nya yang tengah nadak dengan 
sindrom Xenofobi. Ada petugas volunteer (bpk Husaini Daud dan bpk. Razali 
Abdullah), yang setia mengelus-ngelus bulunya agar tak berkutu dan 
memandikannya, agar suara gonggongan "anjing Boldok" tetap bergema dan 
merdu. Karena itu menyuguhi "anjing Boldok" ini dengan minuman air kelapa 
muda yang khusus didatangkan dari Seupéng, Pidie dan Paya Budjôk, langsa. 
Lihat saja, jika ada artikel atau ulasan media massa yang mengeritik dan 
menyerang Tuan-nya, si "andjing Boldok" ini begitu cepat, cerdas tangkas, 
garang dan ganas menggonggong dan menyalaknya sipenulis dan petugas sukarela 
  tadi mmarah, jika ada orang yang mengganggu "anjing Boldok" ini. 
Alhamdulillah bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah bisa menemukan 
"anjing Boldok" lulusan "FIR'AUN UNIVERSITY" di Mesir, untuk menjaga 
saat-saat terkhir nafas karier Tuan-nya.

Selebihnya, anggota GAM luar negeri disérét oleh bpk. Malik Mahmud dan bpk. 
Zaini Abdullah untuk memenangkan pasangan ini. Hebat kan? Sayangnya, 
rata-rata  tingkat pendidikian anggota GAM di luar negeri (khususnya di 
Malaysia, Swedia, Stavanger Norwegia, North Jyland Denmark (Eropah), USA, 
Canada, New Zealand dan Australia hanya tamat SD dan berasal dari kalangan 
pharia Aceh (keluarga kelas bawah dan terbelakang). Anggota GAM yang 
bodoh-bodoh ini menjadi makanan empuk bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini 
Abdullah. Di luar negeri mereka sudah terbiasa dengan pola pikir (menerima 
uang santunan dari negara). Untuk menunjang pendapatan, mereka kerja 
overtime malam-malam mencetak baby, semakin banyak anak semakin terbantu 
perekonomiannya, mereka berharap uang masuk dari tunjangan anak-anak mereka; 
daripada kalau pulang ke Aceh harus bertani, mengayun roti cané dan mengocok 
martabak, berdagang ganja dan kuli bangunan. Inilah yang menghantui, hingga 
mereka bertahan di luar negeri, meskipun pemimpin GAM (bpk. Malik Mahmud dan 
bpk. Zaini Abdullah C.s) telah menandatangani MoU Helsinki yang membolehkan 
pulang ke Aceh, namun mereka tetap saja bertahan di luar negeri. Mengapa? 
Sebab menderita sindrom Xenofobi yang khawatir dan takut kalau-kalau masa 
depan mereka tidak menentu di Aceh dibawah bendera self-government. 
Penantian yang tak berujung ini sangat menggelisahkan dan mempengaruhi jiwa 
mereka. Mengaku atau tidak mengaku, anda adalah pederita sindrom Xenofobi.

Ria Ananda
*Pemerhati di kawasan konfik

[EMAIL PROTECTED]
Silkeborg, Arhus, Denmark
----------



From: abu meulaboh <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: [email protected], [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[email protected], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [IACSF] Re: «PPDi» "GAM Xenofobi"
Date: Tue, 26 Sep 2006 05:50:22 -0700 (PDT)
MIME-Version: 1.0
X-Originating-IP: 216.252.111.230
X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
Received: from n10a.bullet.sc5.yahoo.com ([66.163.187.153]) by 
bay0-mc4-f15.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Tue, 26 
Sep 2006 05:51:42 -0700
Received: from [66.163.187.121] by n10.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 26 
Sep 2006 12:51:12 -0000
Received: from [66.218.69.6] by t2.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 26 Sep 
2006 12:51:12 -0000
Received: from [66.218.66.34] by t6.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 26 Sep 
2006 12:51:12 -0000
Received: (qmail 36545 invoked from network); 26 Sep 2006 12:50:38 -0000
Received: from unknown (66.218.66.216)  by m28.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 
26 Sep 2006 12:50:38 -0000
Received: from unknown (HELO web57214.mail.re3.yahoo.com) (216.252.111.230)  
by mta1.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 26 Sep 2006 12:50:37 -0000
Received: (qmail 50572 invoked by uid 60001); 26 Sep 2006 12:50:23 -0000
Received: from [213.212.1.52] by web57214.mail.re3.yahoo.com via HTTP; Tue, 
26 Sep 2006 05:50:22 PDT
X-Message-Info: LsUYwwHHNt20swrEqBLTrtGWycr4KH5xSDqG+eFUKzs=
Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; 
d=yahoogroups.com;b=IAR/Y4kBeatoYn5ZPIXdrllXDKvCtDOxVWyWcg6s2lUUuVFP/f2r9CQs9bKPqJhRLOY8G72/IXBX/+H329xDEWVgoQzSdNKJMdZjd4NXRK1tjpdQzCyli7uOhMtw/Xw1;
X-Yahoo-Newman-Property: groups-email
X-Yahoo-Newman-Id: 15440234-m2140
X-Apparently-To: [EMAIL PROTECTED]
X-eGroups-Msg-Info: 1:0:0:0
Mailing-List: list [EMAIL PROTECTED]; contact 
[EMAIL PROTECTED]
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
List-Id: <IACSF.yahoogroups.com>
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Return-Path: 
[EMAIL PROTECTED]
X-OriginalArrivalTime: 26 Sep 2006 12:51:43.0351 (UTC) 
FILETIME=[8490E870:01C6E16A]

Amazing. Takot laju dek Ria.............sampai ke akar2nya.

Ria Ananda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   "GAM XENOFOBI"

   Xenofobi berarti sindrom kekhawatiran atau ketakutan seseorang atau suatu 
kelompok (organisasi) terhadap tidak pastian (tidak menentunya) masa depan, 
hilangnya tanah air dan status kewarganegaraan. Sindrom Xenofobi ini tengah 
melanda pimpinnan GAM (Malik Mahmud & Zaini Abdullah) beserta pengikutnya 
yang masih saja ngeluyur di luar negeri (Swedia, North Jyland Denmark, 
Stavanger Norwegia, USA, Canada, Malaysia, New zaeland, Australia, Belanda 
dan German). Mereka diterima sebagai pelarian politik di luar negeri, karena 
terlibat dalam gerakan kemerdekaan, yang terpaksa minggat dari Aceh. Setelah 
tinggal bertahun-tahun di luar negeri, sebagian sudah memperoleh status 
warganegara asing, sebagiannya masih memegang pasport Geneve Convention 
1951. Sekarang, mereka tengah dilanda sindrom xenofobi yang khawatir dan 
takut akan kehilangan masa depan dan tanah air disebabkan tidak menentunya 
masa depan politik Aceh fasca penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005. 
Kendati MoU
  Helsinki membolehkan mereka pulang ke Aceh –kembali kepada pangkuan Ibu 
Pertiwi Indonesia (NKRI) – mereka  tetap takut pulang untuk hidup kembali 
seperti semua, karena tidak memiliki kualitas intelektual dan pengalaman 
dalam gelanggang politik dan perniagaan di Indonesia. Dalam bidang politik, 
bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berani pulang untuk tampil 
bertanding dalam Pilkada Aceh desember 2006 tahun ini, kendati obsesi 
menjadi pemimpin Aceh tetap bergelora dan belum ada anggota GAM luar negeri 
(warganegara asing) yang nyata-nyata melepaskan status kewarganegaraan 
asingnya. Dalam bidang perniagaan misalnya, pemimpin dan bekas 
panglima-panglima GAM terpaksa menyusu kepada téték Yusuf Kalla dan SBY 
–syukur téték Megawati- selamat tak disedot.  Yusuf+SBY tengah menghambur 
uang kepada anggota GAM, terutama kepada bekas panglima. Lihat saja, kator 
KPA seluruh Aceh ternyata disewa oleh Pemda masing-masing. Bpk T. 
Kamaruzzaman (resmi dalam kabinet Kuntor) dan bpk.
  Muzakkir Manaf, bpk. Zakarya Saman, bpk. Bazaruddin, bpk. Adi Laweuëng,  
dll lagi, kendati tidak resmi masuk dalam kabinet Kuntoro, tapi mereka 
diperkerjakan sebagai ”ACEH KONTRAK (AKON)” yang tunduk dibawah ketiak 
Kontoro sampai tahun 2009. Jauh berbeda dengan sikap pemimpin Tibet Merdeka 
(Dalay Lama), setelah berjuang menuntut merdeka dari penjajahan Cina. Maka, 
untuk menamatkan konflik vertikal, ditandatangani MoU (kompromi politik) 
antara pejuang Tibet-Cina dimana paket Otonomi khusus (self-government) 
untuk Tibet tahun 1951. Dalam realitasnya, self-government di Tibet hanya 
tipuan belaka. Setelah sadar, Dalay Lama melarikan diri bersama ribuan 
pengikutnya ke India dan menyebar ke beberapa negara Eropah. Entah 
bagaimana, dalam rangka memperingati 50 tahun perjuangan Tibet merdeka, 
Dalay Lama bersama ribuan pengikutnya, bertekuk-lutut kepada Cina, setelah 
ribuan bangsa Tibet mati dan 60% infrastruktur hancur, 40% diantaranya rumah 
peribadatan kaum Budhis akibat perang
  (menerima kembali paket Otonomi khusus (self-government) pada tahun 2001 
atas inisiatif EU dan USA.

   Konsekuensinya, Dalay Lama beserta ribuan pengikutnya pulang bersama-sama 
memimpin Tibet tahun 2001, walaupun status Tibet tetap sebagai salah satu 
Provinsi Cina. Dalay Lama konsekwen dengan keputusan politiknya, rela 
melepaskan status kewarganegaraan asing-nya dan memimpin rakyat Tibet. 
Mengapa Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah tidak berguru kepada Dalay 
Lama, kalau memang sudah menandatangani MoU Helsinki yang mengakui Aceh 
bagian dari NKRI dan Aceh salah satu provinsi Indonesia? Mengapa Bpk. Malik 
Mahmud tidak berani melepaskan kewarganegaraan Singapura-nya dan Bpk Zaini 
Abdullah takut melepaskan kewarganegaraan Swedia untuk memimpin Aceh?  
Mengapa pengikut fanatik GAM di Swedia, Stavanger Norwegia, North Jyland 
Denmark, Canada, USA, Malaysia, New Zaeland, Finland, Australia, Jerman dan 
Belanda masih saja berkeliaran dan ngeluyur di luar negeri? Mengapa takut 
pulang ke Aceh? Tak ada jawaban, kecuali karena pemimpin GAM dan pengikut 
yang fanatik tengah menderita
  sindrom Xinofobi.

   Bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah sangat khawatir dan takut kalau 
masa depan karier politiknya hancur-luluh hanya disebabkan tidak terpilih 
menjadi Gub+Wa Gub Aceh dalam Pilkada. Keduanya ragu-ragu dan tak yakin akan 
dipilih oleh orang Aceh. Keduanya, siang-malam dihantui oleh bayangan 
ketidak pastian karier masa depan politiknya. Diramalkan, masa depan politik 
bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah akan tamat (undoing) sampai disini. 
Nampak, keduanya adalah sosok pemimpin yang tidak konsisten dengan hasil 
rapat Sigom Donja yang memutuskan bahwa anggoata GAM tidak akan bersanding 
dengan calon dari partai nasional. Di belakang layar, keduanya + Muzakkir 
Manaf ternyata menyokong Hasbi Abdullah (adik kandung Zaini Abdullah) 
bersanding dengan Humam Hamid calon resmi partai nasional Indonesia (PPP). 
PPP adalah juga salah satu partai yang ikut menandatangani kehadiran DOM di 
Aceh. Bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah adalah biang kerok yang 
mencetuskan intern
  conflict GAM, tidak berwibawa dan tidak bisa menyelamatkan masa depan 
politik GAM. Di Aceh, bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah sudah 
kehilangan kepercayaan dari mayoritas anggota GAM, kantor KPA seluruh Aceh 
sudah diségél (dibekukan) oleh penguasa Indonesia, tinggal kantor KPA di 
Banda Aceh, itupun sudah di coup’s  oleh kelompok muda yang inginkan 
reformasi (anti Malik Mahmud & Zaini Abdullah).

   Kantor pusat GAM di luar negeri sudah ditutup. Tidak ada lagi diplomasi 
GAM di luar negeri fasca penandatanganan MoU Helsinki. Semua perwakilan 
negara-negara asing dan EU,  sudah tahu persis bahwa GAM sudah menerima 
paket Otonomi khusus dibawah NKRI yang diberi nama lain, yakni: 
“pemerintahan Aceh”. Tlp. resmi 0045 8531 91275 di rumah Tengku Hasan M. Di 
Tiro yang sebelumnya bisa dihubungi oleh siapa saja, wartawan dalam dan luar 
negeri, kini sudah dibebukan oleh bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah. 
Tengku Hasan M. di Tiro berada dalam status ‘dirumahkan’ (dikurung) di 
kawasan Aalby oleh pimpinan GAM di Swedia. Siapapun tak bisa lagi 
menghubungi beliau sekarang, kecuali orang-orang tertentu yang diseleksi. 
Syarif Gåran Usman dan Muzakkir Abdul Hamid siap menyergap tamu tak 
diundang.

   Sindrom Xenofobi yang diderita Bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah 
sukar disembuhkan, kecuali masuk Camp Consentration pemulihan mental dan 
jiwa untuk membangun kembali rasa percaya diri. Camp Consentration seperti 
ini mudah ditemukan di Swedia dan biayanya gratis. Mengapa dikatakan 
demikian? Sebab, kemana saja pergi, keduanya senang kalau dipanggil "PM" dan 
"Menlu", walaupun dalam realitasnya, keduanya tidak berani lagi menantangani 
surat-menyurat resmi atas nama GAM dengan membubuh jabatan. Sebab itulah 
media massa asing dan Indonesia menulis: “Malik Mahmud, bekas perdana 
Menteri GAM; ... Zaini Abdullah bekas Menteri Luar negeri GAM, ... bekas 
Menteri Keuangan GAM;... Mohd Usman Lampohawé, bekas Menteri Keuangan;... 
Muzakkir Mana, bekas Panglima GAM”. Mereka tidak membantah. Secara moral dan 
politis berarti mereka akui. Inilah diantara ciri-ciri penderita sindrom 
Xenofobi. Berbeda sekali dengan sikap Saddam Husien, Presiden Irak, walaupun 
mendekam dalam tahanan
  rahasia tentara USA di Irak, tetapi ketika dihadirkan di depan Mahkamah 
revolusi Irak yang disponsori USA, dia berkata: “I standing here, I am 
President of Irak”.

   Yang ganjil, pemimpin GAM memerintahkan anggota GAM yang masih 
berkeluyuran di luar negeri mengumpul dana kilat dengan dalih membiayai 
operasi perjuangan di Swedia, padahal untuk membiayai kampanye calon 
Gub-wakil dari partai PPP (Humam Hamid & Hasbi Abdullah) yang kebetulan adik 
kandung Zaini Abdullah.

   Yang berlaku di luar negeri ialah: pemimpin GAM menempatkan Ahmad 
Sudirman sebagai "anjing Boldok", yang memasok umpan "anjing Boldok" ini 
ialah bpk. Muzakkir Hamid (keponakan bpk Zaini Abdullah). "Anjing Boldok" 
milik bpk. Malik Mahmud & bpk. Zaini Abdullah ini diberi tugas menggonggong 
dan menyalak, bahkan jika perlu menggit semua orang atau bayang-bayang yang 
melintas di depannya untuk melindungi Tuan-nya yang tengah nadak dengan 
sindrom Xenofobi. Ada petugas volunteer (bpk Husaini Daud dan bpk. Razali 
Abdullah), yang setia mengelus-ngelus bulunya agar tak berkutu dan 
memandikannya, agar suara gonggongan "anjing Boldok" tetap bergema dan 
merdu. Karena itu menyuguhi "anjing Boldok" ini dengan minuman air kelapa 
muda yang khusus didatangkan dari Seupéng, Pidie dan Paya Budjôk, langsa. 
Lihat saja, jika ada artikel atau ulasan media massa yang mengeritik dan 
menyerang Tuan-nya, si "andjing Boldok" ini begitu cepat, cerdas tangkas, 
garang dan ganas menggonggong dan
  menyalaknya sipenulis dan petugas sukarela  tadi mmarah, jika ada orang 
yang mengganggu "anjing Boldok" ini. Alhamdulillah bpk. Malik Mahmud dan 
bpk. Zaini Abdullah bisa menemukan "anjing Boldok" lulusan "FIR'AUN 
UNIVERSITY" di Mesir, untuk menjaga saat-saat terkhir nafas karier Tuan-nya.

   Selebihnya, anggota GAM luar negeri disérét oleh bpk. Malik Mahmud dan 
bpk. Zaini Abdullah untuk memenangkan pasangan ini. Hebat kan? Sayangnya, 
rata-rata  tingkat pendidikian anggota GAM di luar negeri (khususnya di 
Malaysia, Swedia, Stavanger Norwegia, North Jyland Denmark (Eropah), USA, 
Canada, New Zealand dan Australia hanya tamat SD dan berasal dari kalangan 
pharia Aceh (keluarga kelas bawah dan terbelakang). Anggota GAM yang 
bodoh-bodoh ini menjadi makanan empuk bpk Malik Mahmud & bpk. Zaini 
Abdullah. Di luar negeri mereka sudah terbiasa dengan pola pikir (menerima 
uang santunan dari negara). Untuk menunjang pendapatan, mereka kerja 
overtime malam-malam mencetak baby, semakin banyak anak semakin terbantu 
perekonomiannya, mereka berharap uang masuk dari tunjangan anak-anak mereka; 
daripada kalau pulang ke Aceh harus bertani, mengayun roti cané dan mengocok 
martabak, berdagang ganja dan kuli bangunan. Inilah yang menghantui, hingga 
mereka bertahan di luar negeri,
  meskipun pemimpin GAM (bpk. Malik Mahmud dan bpk. Zaini Abdullah C.s) 
telah menandatangani MoU Helsinki yang membolehkan pulang ke Aceh, namun 
mereka tetap saja bertahan di luar negeri. Mengapa? Sebab menderita sindrom 
Xenofobi yang khawatir dan takut kalau-kalau masa depan mereka tidak menentu 
di Aceh dibawah bendera self-government. Penantian yang tak berujung ini 
sangat menggelisahkan dan mempengaruhi jiwa mereka. Mengaku atau tidak 
mengaku, anda adalah pederita sindrom Xenofobi.

   Ria Ananda
   *Pemerhati di kawasan konfik



---------------------------------
   Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.


---------------------------------
Want to be your own boss? Learn how on  Yahoo! Small Business.




Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? 
Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan 
ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung 
bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan. 
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke