fyi 
kalau isi parlemen orang2 seperti mereka, mantep kali ya ?
 
 
thanks
abdillah
 
-----Original Message-----
Sent: Monday, March 15, 2004 5:49 PM

Subject: [] Kliping Kisah (150304)



 Langka Tapi Nyata 

Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Ke'adilan Sejahtera (PIPPKS) ANZ
(Australia dan New Zealand)

  _____  


Kisah 5: Subuh gate !!

Setelah dibuka pendaftaraan bakal calon Bupati dan wakilnya, ada
perkembangan yang bernuansa baru, yaitu banyaknya kawan baru yang ramah,
menyenangkan, dan akrab, dimana tercipta suatu kondisi yang kondusif untuk
dakwah (naluri da'i bicara). Walaupun sedikit kaget dan kagok dengan
perubahan ini, sebagai realita, tetap dijalani.

Berikutnya, dapat diketahui bahwa kawan baru tersebut merupakan para bakal
calon dan segenap pendampingnya, baik dalam dewan maupun di luarnya. Semakin
dekat waktu penutupan pendaftaran, semakin bertambah jumlah kawan baru.
Sehingga, sulit untuk merekam semua data mereka. Setelah resmi ditutup,
kemudian diseleksi administrasinya, selanjutnya ditetapkan sebagai bakal
calon.

Pada tahap ini, tingkat pendekatan semakin terasa dan variasi dari satu
orang bakal calon semakin bertambah, baik pendamping maupun calon. Hal yang
paling menarik dan mengagetkan adalah (sebagaimana biasa sebagai aktifis
untuk membina dan memelihara ruhiah secara bersama-sama melakukan mabit dan
saat itu dilakukan di masjid) setelah sholat subuh, saat mau pulang, di
pintu keluar telah ada yang menunggu yaitu seorang bakal calon wakil Bupati
dan mengajak pulang.

Terbayang dalam pikiran bahwa balon ini baik juga, ada saat sholat subuh
berjama'ah di masjid. Seberkas titik cerah hadir dalam hati, apalagi setelah
bercerita bahwa diapun pernah dibesarkan dilingkungan pesantren Muhammadiyah
pada waktu kecil sehingga dikatakan bahwa perhatian terhadap pesantren
merupakan suatu hal yang tidak bisa lepas dari dirinya.

Namun, pada saat berpisah dia bertanya dan seakan-akan ingin menegaskan
informasi sebelumnya bahwa "benarkah saya akan berangkat ke Padang?" Karena
ini sudah menjadi rencana sebelumnya dan ada beberapa kawan saya yang tahu,
maka tanpa beban dan prasangka saya jawab "ya". Dengan serta merta dia
mengeluarkan amplop dari kantongnya dan menyelipkan pada kantong saya sambil
berkata, "Ini adalah bantuan untuk ongkos ! Sebatas ongkos dan tidak ada
kaitannya dengan posisi saya sebagai bakal calon. Kalau Pak Suharman melihat
saya cocok untuk posisi itu, silahkan pilih saya dan kalau tidak jangan
pilih. Itu tidak masalah" (sebuah ungkapan yang tampaknya tidak mengikat).
Belum habis kekagetan saya, secara reflek saya tolak, namun dia tetap
memaksa dan setelah itu langsung pergi.

Selanjutnya, dengan pikiran yang tidak terkonsentrasi, saya pulang. Timbul
berbagai pertanyaan sebagai upaya penyelesaian. Malahan, saya sempat
menghubungi ketua DPW dan Dewan Syari'ah, meminta nasehat dan dukungan do'a
untuk kemudahan penyelesaian masalah ini. 'Musibah ba'da mabit dan subuh'.

Akhirnya, dengan kemantapan hati, diputuskan untuk mengembalikan, walaupun
pada saat itu, biaya untuk pulang sangat terbatas dan butuh pinjaman untuk
tambahan. Hal ini menjadi kendala internal yang cukup berat dalam
pengambilan keputusan. Awalnya, saya antarkan sendiri ke rumahnya. Ternyata,
dia belum pulang. Setelah dua kali , saya amanahkan teman saya, yang satu
daerah asal dengan saya, untuk mengembalikan amplop itu. Saya juga
melengkapi pengembalian amplop itu dengan surat nasehat. Intinya, sekarang
saya menjadi orang yang tidak tepat menerima kebaikan. Bukan karena saya
tidak butuh uang, tapi karena saya berada pada posisi yang tidak tepat. Mari
kita bangun kerjasama yang baik, menurut aturan yang Allah gariskan.

Akhirnya, setelah dia membaca surat saya dan menerima kembali amplop
tersebut secara utuh, dia langsung menelepon saya dan mengucapkan terima
kasih atas nasehat, serta salut dan kagum atas sikap saya. Dengan rasa
syukur, dia juga menyatakan tidak kecewa atas penolakan tersebut.
Selanjutnya, hubungan baik tetap berlanjut.

Dikisahkan kembali oleh SHM, Anggota Legislatif Partai Keadilan, DPRD
Kabupaten Di Bengkulu.


  _____  


Kisah 6: Parlemen dan Pasar

Jabatan sebagai Anggota Legislatif merupakan suatu jabatan yang penuh dengan
godaan untuk memperoleh materi dengan jalan singkat, baik dari cara yang
sedikit kasar sampai kepada cara yang sedikit halus, serta tawaran-tawaran
materi dari berbagai jalan oleh berbagai golongan yang mempunyai
kepentingan. Berikut merupakan beberapa pengalaman singkat yang terjadi dari
jabatan tersebut.

Selain amanah di DPRD, saya juga dagang di pasar. Ketika saya akan membuat
kotak untuk tempat barang dagangan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku,
saya minta izin kepada Kadis pasar ketika itu. Setelah saya sampaikan maksud
saya, beliau mengizinkannya. Namun, ketika akan meninggalkan ruangan Kadis,
beliau mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang dengan alasan
sebagai seorang teman. Setelah berulangkali beliau memaksa maka saya
katakan, "Kita tidak berteman pun tidak apa-apa kalau dengan cara begini.
Namun, yang perlu saya tegaskan adalah di pasar saya dibawah aturan-aturan
dinas pasar. Jabatan itu adalah soal lain!." Dan akhirnya beliau
memahaminya.

Ketika menjadi ketua komisi B, saya menemui berbagai permasalahan, di
antaranya proyek kebun rakyat daerah untuk masyarakat, daerah di sekitar
kebun, ternyata diperjualbelikan kepada masyarakat kota dengan harga yang
telah ditentukan. Untuk memastikan hal tersebut, saya menelepon Kadis yang
bersangkutan dan saya menggunakan nama samaran. Kadis tersebut membenarkan,
dan jika saya berminat maka akan diusahakan. 

Beberapa hari kemudian saya mengadakan dengar pendapat dengan Mitra,
termasuk dengan Kadis tersebut. Ketika permasalahan kebun rakyat itu saya
sampaikan, Kadis tersebut gugup dan gelisah. Setelah pertemuan selesai,
Kadis menawarkan 2 paket lahan cuma-cuma. Lalu saya katakan, "Kebun tersebut
adalah milik rakyat dan untuk rakyat di sekitar kebun, sehingga rakyat
merasakan betul manfaat dari proyek perkebunan kita. Saya mengangkat
permasalahan ini bukan karena saya ingin paket itu, tetapi kerja yang ini
adalah salah dan anda meletakkan bom waktu bagi rakyat, yang sewaktu-waktu
dapat menjadi masalah daerah di kemudian hari". Kepala dinas tersebut
memahami maksud saya dan kemudian tidak lagi terdengar kabar bahwa proyek
tersebut diperjualbelikan.

Image bahwa Anggota Legislatif dapat jatah proyek ternyata tidak bisa
dihilangkan. Begitu banyak kalangan pemborong baik teman dekat maupun yang
mendekatkan diri kepada saya atau yang pura-pura akrab. Ujung muaranya
adalah agar saya meminta proyek ke dinas atau Bupati. Dengan kata lain, saya
tidak usah mengerjakannya, tetapi diserahkan kepada mereka dan saya dapat
10% dari proyek tersebut. Lalu saya katakan, "Bagi saya peraturan sudah
jelas. Anggota Legislatif tidak boleh terlibat di dalam proyek yang
menggunakan anggaran dana negara maupun daerah. Saya berpegang pada aturan
itu. Lagi pula jika itupun ada, saya tidak ingin melakukan itu, sebab jika
proyek itu dikerjakan asal-asalan maka itu akan merusak citra saya dan
Partai yang mengamanahkan saya". 

Pemborong itu tidak lagi membicarakan hal tersebut, walaupun kenyataannya
image Anggota Legislatif dapat proyek masih berlaku, karena masih ada
Anggota Legislatif yang melakukannya dan menyerahkan kepada orang lain untuk
mengerjakannya. Tetapi, bagi saya, aturan-aturan inilah yang harus
dijalankan dan bukan dijadikan hiasan.

Demikianlah sekelumit perjalanan singkat di antara banyak perjalanan
ke-legislatif-an saya. Wallahu a'lam.

Dikisahkan kembali oleh ARS, Anggota Legislatif Partai Keadilan DPRD
Kabupaten di Sumatera Selatan.


  _____  


Kisah 7: Sang Ustadz, akhirnya ................

Suap adalah suatu fenomena yang marak dewasa ini. Suap dianggap hal yang
biasa, sehingga jika tidak menerimanya dianggap suatu hal yang aneh. Ini
pengalaman menarik. Suatu saat, di fraksi Madani ada dua orang ustadz dan
kami berbincang-bincang tentang masalah tersebut. Kesimpulannya, kami
bersepakat untuk tidak menerima suap apapun bentuknya. Selang beberapa hari,
ada amplop dari salah satu pimpinan BUMD yang isinya, kalau tidak salah,
berjumlah 150 ribu rupiah, kami pun sepakat untuk tidak menerima dan
dikembalikan kepada si empunya. Alhamdulillah tegar.

Selang beberapa bulan kemudian ada lagi amplop yang datang, tapi jumlahnya
lebih besar yaitu 12 juta rupiah per-orang. Saya berharap fraksi kami
bersepakat untuk tidak menerima amplop suap tesebut. Apa mau dikata,
ternyata kedua ustadz itu yang paling awal menerima amplop itu.

Ada satu hal yang menjadi pelajaran bagi kita adalah ternyata gelar ustadz
atau kiyai dan lain sebagainya tidak menjamin seserang taat kepada Allah
SWT. Pada saat jumlah suap sedikit masih kuat untuk menahan diri dan taat
kepada Allah. Tatkala jumlah uangnya bertambah hingga angka yang disebutkan,
ketinggian ilmu pengetahuan agama tidak menjamin dapat melaksanakan apa-apa
yang telah disyariatkan oleh Islam.

Dikisahkan kembali oleh ADY, Anggota Legislatif Partai Keadilan, DPRD
Kabupaten di Kalimantan Selatan 


  _____  


Kisah 8: 'Kunjungan Kerja'

Ketika pemilihan utusan daerah/ pergantian antarwaktu anggota MPR utusan
daerah dari salah satu provinsi Sumatera, salah satu kandidat calon pengurus
Kadin Daerah menelepon saya beberapa kali untuk bertemu walaupun sebentar.
Karena terus mendesak akhirnya bertemulah saya dengannya.

Dalam pertemuan tersebut ia menyampaikan maksud untuk mencalonkan diri
menjadi anggota MPR utusan daerah. Umurnya mungkin 10 tahun lebih tua dari
saya. Dalam dialog itu, saya tanyakan visi dan misinya. Jawabannya
'ngambang' dan kurang jelas. Setelah beberapa lama mengobrol, kemudian ia
mengeluarkan amplop dan mencoba menyogok saya. Lalu saya tolak usahanya itu,
alhamdulillah, saya nasehati dia. Saya katakan " Bapakkan tahu Partai saya
dan prinsip kami. Akhirnya, ia menyadari dan meminta maaf."

Pada saat pemilihan yang terpilih dari calon Partai B padahal yang lebih
banyak anggotanya dari Partai A. Kader Partai A yang mencalonkan diri justru
kalah. Kemudia ia menyampaikan di media massa bahwa "anggota Partai A itu
pelacur" dan ungkapan ini pun disebarkan lewat SMS ke seluruh Anggota
Legislatif Partai A.

Dari pangalaman kunjungan kerja ini kita dapat menemukan bermacam-macam
perilaku Anggota Legislatif. Mengenai sholat saja kita cukup prihatin karena
hampir 80% Anggota Legislatif di sini tidak sholat lima waktu secara penuh.
Belum lagi acara keluar malam, ke diskotik dan panti pijat. Inilah wajah
wakil rakyat. 
Dan, alhamdulillah untuk acara-acara seperti itu mereka tidak berani
mengajak saya karena mereka tahu sikap kita. Kita berusaha menarik dan
mengajak dengan sikap dan ketauladanan, insya Allah.

Alhamdulillah, kita dikenal sebagai da'i muda di Dewan. Sering dalam
pandangan umum kita ditempatkan di akhir saat penyampaian pendapat akhir
fraksi, selama ini untuk menutupi pendapat akhir fraksi yang kadang
memalukan dewan karena susunan laporan (konsep laporan) dan cara penyampaian
yang kurang menarik. Hal ini memalukan Dewan di hadapan Eksekutif.

Dikisahkan kembali oleh RHH, Anggota Legislatif Partai Keadilan, DPRD di
Sumatera.



Kirim email ke