Inilah potret pendidikan kita, secara logika bagaimana mungkin orang miskin 
dengan asupan gizi yang pas pasan sangat di bawah standar kesehatan bisa 
menghasilkan anak cerdas yang superior atau minimal di atas rata2. Kalau ada 
berarti anugerah Allah SWT bagi orang tua dengan kondisi yang miskin bisa 
mempunyai anak yang cerdas, saya yakin di Indonesia dari 1000 anak miskin 
paling maksimal 1 atau 2 anak yang cerdas. 

Ini hanya akal - akalan ITB, sangat tidak mungkin mencari anak miskin yang 
cerdas dalam jumlah banyak. Paling nanti porsinya juga di kasih kepada orang 
tua yang berduit. Lagi lagi lagu lama berputar......yang kaya makin kaya...yang 
miskin makin miskin.

Bagaimana tanggung jawab ITB untuk memberi kesempatan seluas - luasnya kepada 
masyarakat Indonesia. Di mana kesempatan orang tua dengan kategori miskin 
tidak, kaya juga tidak. Misal karyawan kantor yang penghasilannya di antara 1-2 
Juta per bulan? mana mungkin masuk ke ITB dengan biaya masuk dan semeseter yang 
super mahal. 

Salam, 

Eko Supriyanto 

========> ********** <========
BURSA JUAL-BELI AGROMANIA
Jaminan Kepastian & Keamanan Bertransaksi
http://tiny.cc/bursa
========> ********** <========


Quoting Susiatik Susiatik <susi_...@yahoo.com>:

> Dear Moderator,
>  
> Mohon forward email ini bisa dimuat, mengingat banyaknya anggota millis
> Agromania yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, mungkin bisa
> membantu ikatan alumni ITB untuk mencari SDM muda yang potensial dan memenuhi
> syarat untuk dididik di institut teknologi terbaik di Indonesia.
>  
> Untuk tindak lanjut, mohon email langsung ke pengirim awal :
> cardiyan_...@yahoo.com
>  
> Terima kasih
>  
> ----- Forwarded Message ----
> From: khairul rizal <khr_ri...@yahoo. co.id>
> To: migas_indonesia@ yahoogroups. com
> Sent: Tuesday, July 28, 2009 3:45:33 PM
> Subject: [Oil&Gas] Mari Kita Cari 600 Siswa Cerdas Miskin untuk ITB
> 
> Mungkin ada yang tahu..?
> 
> ----- Forwarded Message ----
> From: Cardiyan HIS <cardiyan_his@ yahoo.com>
> To: itb1...@yahoogroups .com
> Cc: it...@yahoogroups. com
> Sent: Tuesday, July 28, 2009 10:47:37 AM
> Subject: ITB73 Mari Kita Cari 600 Siswa Cerdas Miskin untuk ITB
> 
> Mari Kita Cari 600 Siswa Cerdas Miskin untuk ITB 
> Oleh Cardiyan HIS 
>   
> Indonesia ini memang anomali. Ternyata sulit mencari anak cerdas miskin. Dari
> kewajiban ITB sebagai PTN BHP untuk menyediakan 20% untuk calon mahasiswa
> cerdas miskin dari total 3.000 calon mahasiswa baru,  hanya 51 orang saja
> baru berhasil dijaring ITB. Perlu kampanye kreatif dan agresif jemput bola
> sampai ke gang-gang becek dan ke seluruh  pelosok Indonesia . 
>   
> Baru saja saya ditilpun Rektor ITB, Prof. Djoko Santoso. Ia ingin meluruskan
> tentang tulisan saya yang dikutip ratusan blog dan mailist yang pertama kali
> dimuat di mailist IA ITB berjudul;  “Kembalikan Kursi SNMPTN 2009 kepada
> yang Berhak”. 
> Menurut Prof. Djoko Santoso, ITB justru kesulitan untuk mencari 600 siswa
> lulusan SMU yang cerdas miskin. Angka 600 ini adalah bukti kekonsistenan ITB
> sebagai PTN berstatus BHP yang mensyaratkan 20% dari total penerimaan
> mahasiswa baru ITB yang seluruhnya 3.000,  harus untuk calon mahasiswa 
> cerdas miskin. 
> Jumlah mahasiswa cerdas miskin ini baru berhasil dijaring sejumlah 23 orang
> melalui Ujian Saringan Masuk (USM) ITB 2009. Dan 28 orang melalui seleksi
> “Beasiswa ITB untuk Semua” 2009. Menurut Prof. Djoko Santoso, profil
> mereka adalah anak-anak rakyat Indonesia cerdas tetapi orang tuanya miskin.
> Profil orang tua mereka adalah tukang bakso, penjual nasi pinggir jalan,
> pemilik kios warung kecil, pembantu rumah tangga, petani musiman, nelayan,
> tukang gali tanah, tukang bangunan, sopir angkot, anak calo bisnis kelas
> teri,    pensiunan tentara dan polisi pangkat prajurit, anak Satpam, guru
> ngaji, pensiunan guru SD dan lain-lain. 
> Melihat total calon mahasiswa cerdas miskin yang berhasil dijaring ITB hanya
> 51 orang dari 600 orang untuk kursi yang tersedia. Maka saya sarankan agar
> ITB lebih agresif lagi dan lebih kreatif lagi dalam menginformasikan dan
> menggerakkan minat masyarakat untuk  masuk ITB tanpa biaya sepeser pun
> selama dia kuliah di ITB dan seluruh biaya hidup ditanggung ITB sampai lulus.
> 
> Mungkin selama ini masyarakat miskin sudah takut dengar nama ITB sendiri
> sebelum mereka mau mendaftar. Yang mereka tahu, ITB itu yang paling mahal
> biaya formulir pendaftarannya yakni Rp. 850 ribu. Nah kalau ia seorang
> pembantu berarti dia harus menyerahkan seluruh pendapatannya dua bulan gaji
> untuk beli formulir seleksi masuk ITB. Belum untuk urus sana urus sini.
> Pokoknya berat di ongkos. Sedangkan biaya untuk hidup keluarga mana? 
> Pengalaman spesifik perjuangan dengan segala kendalanya dalam menyeleksi USM
> ITB dan “Beasiswa ITB untuk Semua” 2009, ada baiknya ditulis dan
> dijelaskan secara panjang lebar kepada media cetak dan elektronik lokal
> maupun nasional termasuk di mailist IA ITB ini. Setidaknya ini akan menggugah
> para alumni ITB yang jumlahnya puluhan ribu untuk memberikan saran dan
> idenya. Syukur-syukur mau jemput bola, siapa tahu anak pembantunya cerdas,
> siapa tahu anak Satpam di lingkungannya pinter; siapa tahu anak supirnya juga
> otaknya moncer. Syukur-syukur ia sendiri mau menyumbang. 
> Sebab menurut Betti Alisjahbana, yang mengkoordinasikan program “Beasiswa
> ITB untuk Semua” semakin banyak pendukungnya.   Setelah kemarin, 23 Juli
> 2009, pak Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI berkenan membantu penggalangan dana
> melalui goresan pertama di dua lukisan seniman ITB.. Maka pada 24 Juli 2009
> Betti Alisjahbana mendapat konfirmasi donasi “Beasiswa ITB untuk Semua”
> dari Pertamina sejumlah Rp. 1.000.000.000. Selain itu seorang alumni ITB
> (Haminanto Adinugraha) baru saja menyumbangkan Rp. 100.000.000 ke pundi-pundi
> “Beasiswa ITB untuk Semua”. Dengan demikian total komitmen donasi yang
> sudah kami dapat adalah Rp. 4.200.000.000. Dana ini cukup untuk membiayai 42
> mahasiswa sampai lulus dari ITB. Sementara hasil seleksi untuk calon
> mahasiswa cerdas miskin hanya 28 orang. 
>   
> Mari kita cari sampai ke gang-gang becek, ke seluruh pelosok Nusantara, para
> anak cerdas miskin yang diprioritaskan masuk ITB gratis sampai lulus.
> Permintaan ITB dan para donatur hanya satu mereka yang diterima  jadi
> mahasiswa ITB kelak diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sosial
> asalnya.
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 




Kirim email ke