On Fri, Oct 20, 2006 at 03:11:51PM +0700, Arief Yudhawarman wrote: > Bagaimana kalau itu bukan service, melainkan hanya script sederhana > seperti ini: > > # this will remove any stale iptraf (not close cleanly) > rm -f /var/run/iptraf/*
Istilah "service" itu kan analogy kasar aja (terutama buat yg udah familiar dg Windows). Namanya analogi ya gak bisa pas 100% sih. Sebetulnya initscript itu anda mau buat ngejalanin apa aja bisa. Yg penting menerima parameter "start" dan "stop". Sisanya bebas. Jadi anda mau panggil '/etc/init.d/iptraf restart' atau '/etc/init.d/myscript restart-iptraf' itu terserah anda. Saya tidak suka pake /etc/rc.local kecuali benar2 memang tempatnya di situ (artinya: sederhana, tidak lebih dr 2 baris, dan tidak membutuhkan di-"stop"). Kalo anda mesti 'rm -rf /suatu/dir' yg dijalankan pas masuk suatu runlevel (tapi dijalankan terakhir) ya itu gpp kalo dimasukin /etc/rc.local. Kejelekannya pake /etc/rc.local juga adalah urutannya selalu terakhir, tidak bisa diatur urutannya seperti kalo pake initscript penuh. > Saya tidak tahu apakah di debian bisa se-fleksibel ini seperti di > slackware atau redhat. Model System V style init ini kan sama dengan yg dipake Redhat, SuSE, Debian, Gentoo (walaupun Gentoo ini agak nyentrik sedikit initnya). Slackware menggunakan BSD style init (katanya sih begitu; saya belum pernah nyentuh Slackware). Ronny
signature.asc
Description: Digital signature
