Terus terang saya geli baca pertanyaan emangnya 'minum premuim' [?]
Tentu saja kita tau ini pertanyaan retoris, mungkin sarkastik, yang
jawabannya adalah tidak (kecuali pedangang yang kelainan mungkin).
Jadi tentu pertanyaan sebenarnya adalah mengapa harga2 sudah naik duluan,
dan kalau bbm tidak jadi naik apakah ada kemungkinan harga turun kembali ?

Well, pedagang di pasar tradisional tidak berbeda dengan pedagang di pasar
modern yang namanya pasar modal. Kalau di pasar modal orang tau besok harga
saham A bakal naik 10%, sudah tentu mereka tidak akan jualan hari ini di
harga yang belum naik dan kalau masih punya cash justru bakalan borong
saham A sampai harganya naik mendekati 10% (sampai potensi keuntungan tidak
ada). Nah hal yang sama juga terjadi di pasar tradisional, kalau si
pedagang tau harga2 bakal naik bulan april nanti (saat bbm dan listrik
naik) sudah barang tentu ia, karena sebagai manusia ingin cuan maksimal,
akan menjual sedikit lebih mahal dari harga biasa (tahan barang). Pedagang
yang masih punya modal cash akan menumpuk barang, dan ini juga akan
menaikkan permintaan untuk sementara thus berpengaruh ke harga. (Tentu saja
perilaku di pasar riil tidak bisa persis seperti di pasar modal, tapi saya
kira ide dasar nya bisa dimengerti, yaitu tiap manusia pengen cuan lebih,
kalau bisa jual mahal besok ya ngapain jual murah hari ini).

Apakah harga bisa turun kembali, yang sering belanja di pasar tentu tau
bahwa harga memang berfluktuasi dari waktu ke waktu. Dan orang yang belajar
ekonomi tau tiap taun ada inflasi, jadi harga memang cenderung fluktuatif
dengan kecenderungan trend jangka panjang naik. Pola ini bukan karena ada
pengaturan harga atau kartel (kalo ada kartel kan kita sudah punya kppu).
Meski tidak dapat dipungkiri bahwa kita mungkin gampang terbujuk untuk
percaya bahwa kenaikan akibat ulah spekulan karena begitulah kata reporter
cantik di TV2 itu.

Kata wong ekonomi, si pengusaha itu dari dulu sudah serakah, kalo memang
dia bisa mengendalikan harga kok gak dari dulu-dulu aja naikin harga, dan
lagi dalam sistem ekonomi dimana persaingan diijinkan untuk terjadi, kalau
ada peluang untuk mendapat keuntungan tentu akan ada orang yang mengambil
peluang ini. Misal A adalah pedagang serakah thus dia jual beras rp 20 ribu
sekilo, padahal modal nya hanya 5000. Selama A tidak punya hak monopoli
akan selalu ada B yang, karena ingin memperoleh untung, melihat bahwa ia
bisa menyaingi si A dengan jualan lebih murah dan tetap cuan lumayan. Trus
ada C, D, E, dll yang terus saling bersaing untuk berebut kue cuan yang ada
sampai akhirnya harga mencapai equilibrium antara supply dan demand....
Jadi selama diijinkan terjadinya persaingan yang sehat kita boleh yakin
harga yang terbentuk adalah harga wajar.

Satu hal lagi, berita sering mengkaitkan hal yang tidak berhubungan menjadi
punya hubungan sebab akibat. Misal pemerintah mengumumkan bbm mau naik hari
ini dan besok si wartawan lihat harga cabe naik, tanpa mengecek lebih jauh
akan timbul berita karena bbm diumumkan akan naik harga cabe hari ini sudah
naik duluan. Harga cabe mungkin sudah naik turun dari waktu kewaktu
tergantung pada supply dan demand, jadi kenaikan sehari setelah pengumuman
kenaikan bbm belum tentu disebabkan oleh pengumuman itu.  Umpama kalo si
wartawan menemukan harga minyak goreng turun atau beras turun habis
pengumuman bbm naik (yang bertepatan dengan panen raya misalnya), apakah
dia juga akan bilang harga turun karena pengumuman bbm akan naik ? (tentu
tidak). Kejadian ini sama seperti headline berita di internet seputar
indeks dow atau lainnya, kalo indeks naik disebut karena A si indeks naik,
kalau 5 menit kemudian indeks nyungsep, beritanya jadi ternyata A
menyebabkan indeks nyungsep.

Tidur dulu ...ngantuk nih, semoga tulisan panjang lebar di atas tidak bikin
bosan yang baca.

On Mon, Feb 27, 2012 at 9:31 PM, kangduren <[email protected]> wrote:

> **
>
>
> sudah naik pak, walau belum merata, td di jalan ane denger udah ada daerah
> yg langka premium, kemaren2 denger makanan di depot2 naik dr 10 ribu jd 13
> ribu, begitulah pemerintah kita, klemar klemer......
>
>
> --- In [email protected], "hakitrader" <hakitrader@...> wrote:
> >
> > Meskipun bbm tidak jadi naik harga barang sudah keburu naik kalo begini
> caranya. Memannya pedagang minum premium ?
> > http://www.facebook.com/hakie1
> > ----- Original Message -----
> > From: kangduren
> > To: [email protected]
> > Sent: Sunday, February 26, 2012 11:40 PM
> > Subject: [saham] Bedanya tukang sayur dan tukang saham :D
> >
> >
> >
> > Jelang Harga BBM Naik, Pedagang Mulai Pasang Harga Baru
> >
> http://finance.detik.com/read/2012/02/26/173801/1851900/4/jelang-harga-bbm-naik-pedagang-mulai-pasang-harga-baru?f9911023
> >
> > kalo tukang saham, indeks anjlok, wkwkwkwk......:D
> >
>
>  
>

<<330.gif>>

Kirim email ke