Iya seh, tapi by the way saham apa yang naik 150.000% sejak 1997 sampai sekarang ? 150.000% = 1500x , kalo beli diharga 100 sampai saat ini 15000 masih masuk akal yah ?
Kalo misal hold Gold dengan leverage dengan ketahanan dana yang cukup gimana ? 2011/11/3 Stanly Tandris <[email protected]> > ** > > > Amien. **** > > ** ** > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On Behalf > Of *Budiono Kurniawan > *Sent:* Thursday, November 03, 2011 11:18 AM > > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur**** > > ** ** > > **** > > thn...depan ada yang new milyader dari trub / kark / bull**** > ------------------------------ > > *From:* Brnie713 <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Thursday, November 3, 2011 11:14 AM > *Subject:* Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur > > Mustinya masih banyak LKH-LKH lainnya yang sukses di pasar modal,cuma > lebih memilih untuk 'bersembunyi'. Btw pak LKH ini pegang saham 2nd > liner seperti MBAI,AMAG emiten yang 5th lalu gak banyak yang tau ha3 > > On 11/3/11, [email protected] <[email protected]> wrote: > > Sy yg ga tau atau memang pak Khong ini low profile ya bang Ian? > > > > Beliau buat buku or seminar or apa gitu ngga ya? > > > > Thanks > > > > > > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > > > > -----Original Message----- > > From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > > Sender: [email protected] > > Date: Thu, 3 Nov 2011 10:34:07 > > To: <[email protected]> > > Reply-To: [email protected] > > Subject: Re: [saham] Lo Kheng Hong, Menjadi Kaya Sambil Tidur > > > > Pak Lo Kheng Hong investor hebat. Patut diteladani apa yang dia lakukan > > dalam hal investasi di bursa dan bagaimana caranya bisa berhasil. Artikel > > di bawah sangat mencerahkan. Salut untuk Pak Lo Kheng Hong. > > > > jabat erat, > > Irwan Ariston Napitupulu > > > > 2011/11/3 Fabianto Wangsamulya <[email protected]> > > > >> > >> > >> Ada artikel bagus yang saya dapat dari teman mengenai salah satu > investor > >> di bursa saham yang kabarnya dijuluki juga Warren Buffett Indonesia. > >> Selamat membaca. > >> > >> > >> < > http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1 > > > >> > >> > >> < > http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1 > > > >> > >> > http://www.investor.co.id/wawancara/lo-kheng-hong-menjadi-kaya-sambil-tidur/23199#Scene_1 > >> Sembari ongkang-ongkang kaki, lenggang kangkung, dan tidur pulas, *Lo > >> Kheng Hong* bisa menjadi miliarder di pasar saham dan mengeduk gain > >> hingga 150.000%. Itukah buah filosofi ‘menjadi kaya sambil tidur’? > >> > >> Asetnya di pasar saham disebut-sebut bernilai triliunan rupiah. Ia > >> mengoleksi sejumlah saham yang mampu mencetak keuntungan investasi > >> (capital > >> gain) hingga ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu persen. Tapi, jangan > >> bayangkan pria berusia 52 tahun ini punya karakter dan penampilan > >> glamour, > >> agresif, dinamis, meledak- ledak, atau beradrenalin tinggi. > >> > >> Lo Kheng Hong adalah pribadi yang bersahaja, sabar, rendah hati, kalem, > >> bahkan terkesan dingin. Boleh jadi, pembawaannya inilah yang menjadikan > >> Kheng Hong sukses sebagai investor di pasar saham. > >> > >> Yang pasti, Kheng Hong tak hanya lihai memilih saham-saham yang mampu > >> menghasilkan gain besar. Ia juga mahir memosisikan diri di lantai bursa, > >> baik saat pasar bearish maupun bullish. Tapi Kheng Hong bukan tipe > >> investor > >> yang sepanjang hari memelototi pergerakan harga saham atau setiap saat > >> mencermati perkembangan isu, rumor, dan berita di lantai bursa, dengan > >> kewaspadaan ekstra tinggi. Ia juga tidak melengkapi diri dengan > handphone > >> canggih, laptop terkini, notebook, iPad, atau perangkat paling mutakhir > >> sejenisnya. > >> > >> Kheng Hong memang lebih memosisikan diri sebagai investor jangka panjang > >> ketimbang investor jangka pendek atau trader. Mungkin, itulah sebabnya, > >> kalangan praktisi pasar saham menjulukinya sebagai ‘Warren Buffett > >> Indonesia’. > >> > >> “Investor di pasar saham kebanyakan ikut-ikutan dan tidak mengerti saham > >> apa yang dibeli. Kebanyakan orang panik karena mereka tidak tahu apa > yang > >> mereka beli. Semakin cepat panik seorang investor, semakin menunjukkan > >> bahwa ia tidak tahu apa-apa,” kata Lo Kheng Hong kepada wartawan > >> *Investor > >> Daily* *Nurfiyasari *dan *Abdul Aziz *serta pewarta foto *Eko S > Hilman*di > >> Jakarta, baru-baru ini. > >> > >> Bagi ayah dua anak ini, lebih menguntungkan menjadi investor jangka > >> panjang dibanding menjadi trader. “Kalau trading, dapatnya receh dan > bisa > >> bikin stres. Kalau pegang saham dalam jangka panjang, dapat uangnya > >> besar,” > >> ujar Kheng Hong. > >> > >> Kematangan, kecerdasan, ketenangan, dan kesabaran telah menjadikan Lo > >> Kheng Hong sebagai pemain saham sejati. Berkat itu pula ia berhasil > lolos > >> dari krisis moneter 1997- 1998, bahkan kemudian menangguk keuntungan > >> hingga > >> 150.000%. ”Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh. Malah sewaktu krisis > >> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu > >> saya tukar ke saham. Akhirnya uang saya meningkat 150.000% sampai saat > >> ini,” tuturnya. > >> > >> Yang unik, aset kekayaan Lo Kheng Hong hampir seluruhnya dalam bentuk > >> saham sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ia sama sekali > tidak > >> tergoda untuk mendiversifikasi investasinya ke instrumen lain, seperti > >> emas, properti, atau kendaraan Bahkan, mantan kepala cabang Bank Ekonomi > >> ini sama sekali tak tertarik untuk mendirikan perusahaan, termasuk > >> perusahaan sekuritas. > >> > >> “Saya hanya punya 15% dana cash untuk jaga-jaga supaya kalau terjadi > >> krisis saya masih punya uang untukmembeli saham. Saya tidak bekerja, > >> tidak > >> punya perusahaan, tidak punya pelanggan seorang pun, tidak punya > karyawan > >> seorang pun, dan tak punya bos. Hanya punya seorang sopir dan dua > >> pembantu,” papar Lo Kheng Hong yang sudah 22 tahun bermain saham. > >> > >> Apa saja tips Lo Kheng Hong hingga ia mampu mengeduk keuntungan besar > >> dari > >> pasar saham? Bagaimana harus bersikap saat pasar mengalami *bullish*, * > >> bearish*, atau *crash*? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria > >> yang mengaku berasal dari keluarga tak mampu dan kelak berniat > >> menyumbangkan kekayaannya kepada fakir miskin tersebut. > >> > >> K*enapa Anda tertarik bermain saham?* > >> Saya tertarik bermain saham karena saham dapat memberikan keuntungan > yang > >> besar dan tidak capek seperti di sektor riil. > >> > >> *Apa enaknya menjadi investor saham?* > >> Pertama, seorang pemain saham dapat menjadi orang yang terkaya di dunia, > >> seperti Warren Buffett. Banyak orang yang tidak tahu dan tidak percaya. > >> Mereka hanya tahu banyak orang yang rugi, orang kaya jadi miskin karena > >> bermain saham, bahkan ada yang bunuh diri karena saham. > >> > >> Kedua, seorang pemain saham punya banyak waktu, bebas, dan tidak > >> dipusingkan oleh urus-mengurus karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Di > >> perusahaan, status investor saham adalah sleeping partner, sehingga > waktu > >> luangnya bisa diisi dengan hal-hal yang disukai. > >> > >> Ketiga, semua keuntungan perusahaan menjadi milik pemegang saham, > padahal > >> yang bekerja keras adalah direksi, komisaris, manajer, dan seluruh > >> karyawan, tetapi mereka hanya menerima gaji dan bonus. Mereka tidak > punya > >> hak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Memiliki > >> perusahaan yang untung besar seperti memiliki mesin pencetak uang. > >> > >> *Sejak kapan Anda bermain saham?* > >> Saya bermain saham sejak 1989, 22 tahun yang lalu. Saya dilahirkan dari > >> keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat > >> tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi > >> pegawai > >> tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan > >> lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus > yang > >> murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai > >> main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari > >> bank dan fokus main saham. > >> > >> *Anda saat ini punya saham apa saja?* > >> Saya punya saham sekitar 30 emiten, antara lain di Multibreeder Adirama > >> Indonesia Tbk (MBAI), dengan kepemilikan 8,29% lebih. Saham saya > >> banyaknya > >> bukan di LQ45. Kepemilikan saya di saham lain di bawah 5%. Saya tipe > >> investor jangka panjang. > >> > >> Kalau trading, dapatnya receh, kalau jangka panjang dapat uangnya besar. > >> Saya pegang saham ini sudah enam tahun. Saya beli tahun 2005 seharga Rp > >> 250 > >> dan harganya sempat menyentuh Rp 31.500. Belum saya jual, padahal > >> gain-nya > >> sudah 12.600%. > >> > >> *Cara Anda memilih saham?* > >> Saya lihat manajemen. Apakah menerapkan good corporate governance (GCG) > >> atau tidak. Saya cari dari kompetitornya, biasanya mereka tahu. Saya > cari > >> tahu agar tidak beli kucing dalam karung, karena ini menyangkut harta > >> saya. > >> Jangan membeli sesuatu yang tidak kita tahu. Lihat manajemen, apakah > >> pengelolanya jujur atau tidak. Jangan sampai pengelolanya suka ambil > uang > >> perusahaan, sehingga saya sebagai sleeping partner dirugikan. > >> > >> Istilahnya, yang menjadi pertimbangan pertama adalah manajemen, kedua > >> manajemen, ketiga manajemen, baru yang lain. Kemudian lihat sektor > >> usahanya, bagus atau tidak. Ada sektor yang kurang menarik, misalnya > >> sepatu, tekstil, dan garmen. Tetapi ada juga yang menarik, seperti > kelapa > >> sawit dan pakan ayam. > >> > >> Orang banyak makan ayam karena ayam merupakan sumber protein termurah > dan > >> dampak negatifnya terhadap kesehatan lebih rendah dibanding yang lain. > >> Perhatikan juga apakah emiten bersangkutan mengalami pertumbuhan atau > >> tidak. > >> > >> *Kriteria pertumbuhan, konkretnya seperti apa?* > >> Ada empat tipe perusahaan. Pertama, perusahaan yang rugi terus, ada yang > >> kadang untung, dan kadang merugi. Kemudian, perusahaan yang untung besar > >> terus, tapi stagnan. Ada juga perusahaan yang *growing *secara berkala, > >> misalnya dari Rp 2 triliun, Rp 5 triliun, dan seterusnya. Ini perusahaan > >> yang baik dan yang saya cari. Lihat kinerjanya lima tahun ke belakang. > >> Lihat masa lalunya. > >> > >> *Bagaimana jika lima tahun pertama tumbuh, tetapi lima tahun berikutnya > >> ternyata turun?* > >> Biasanya kalau lima tahun ke belakang tumbuh, ke depannya akan mengalami > >> hal yang sama. Kalau sudah lima tahun berturut-turut *growing*, tandanya > >> itu *super company. * > >> * > >> Setelah melihat fundamental emiten, apa lagi yang Anda perhatikan?* > >> Harga. Saya lihat dari* price to earning ratio* (PER)-nya. Jangan bilang > >> saham A karena harganya Rp 250 dibilang murah, dan saham B yang harganya > >> Rp > >> 70.000 dibilang mahal. Maksudnya, saham yang harganya Rp 70.000 bisa > >> lebih > >> murah dibanding saham yang harganya Rp 250. Kita lihat kemampuan > >> emitennya > >> dalam membukukan keuntungan. > >> > >> *Berapa PER yang ideal saat membeli suatu saham?* > >> Saya pikir, yang *reasonable *untuk dibeli yaitu yang PER-nya di bawah > >> lima kali, itu sangat menarik dan potensial. Tapi biasanya perusahaan > >> yang > >> sudah baik dan manajemennya bagus, PER-nya sudah di atas 10 kali. > >> * > >> Soal timing, kapan saat yang paling tepat untuk masuk pasar?* > >> Yang paling bagus membeli saham adalah saat sedang krisis seperti di > >> Yunani, Eropa, dan AS. Ada pepatah lama yang tidak perlu dilupakan,* buy > >> on weakness.* Dan, harus* be greedy when others are fearful* dan > >> sebaliknya, *be fearful when others greedy.* > >> > >> *Bukankah itu sulit diterapkan?* > >> Saya banyak baca buku tentang Warren Buffett. Saya belajar dari orang > >> yang > >> sudah terbukti berhasil investasi di pasar saham. Dia sudah > >> membuktikannya, > >> bahkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Nggak mungkin kan > kalau > >> saya belajar dari Bernard Madoff? Ha, ha, ha, ha... > >> > >> Ternyata orang seperti Madoff, mantan bos bursa Nasdaq tapi tidak bisa > >> mengelola uang nasabah. Ini menunjukkan bahwa dia hanya tahu semua > >> peraturan di bursa saham, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menjadi > >> kaya di pasar saham. > >> * > >> Berarti, kuncinya ada di mental?* > >> Mental bisa bagus saat kita tahu apa yang kita beli. Kebanyakan orang > >> panic karena mereka tidak tahu apa yang mereka beli. Ini pelajaran > >> penting. > >> Saya berikan ilustrasi. Waktu itu saya ke Harvard University, saya tanya > >> biaya kuliah di sana berapa? Ternyata bisa sampai US$ 40.000, keluar > dari > >> sana semua jadi orang pintar. Dengan belajar seharga US$ 40.000, kita > >> bisa > >> menjadi orang pintar. > >> > >> Tapi di pasar saham, kita sudah habiskan puluhan miliar rupiah belum > >> tentu > >> jadi pintar, malah bisa tambah bingung, seperti Madoff yang sudah > >> menghabiskan uang masyarakat sebesar US$ 60 miliar, apakah dia menjadi > >> pintar? Bisa saja di penjara dia berpikir, kenapa saham yang dibeli > turun > >> dan yang dijual justru naik. > >> > >> Jadi, intinya pintar saja tidak cukup. Untuk menjadi investor yang kuat, > >> kita harus mengetahui perusahaan satu per satu. Semua orang bisa seperti > >> itu, asalkan mau baca. Bacalah laporan keuangan emiten satu per satu. > >> > >> *Jadi, Anda tipe investor fundamental?* > >> Saya 100% fundamental karena lihat manajemennya atau pertumbuhan > >> perusahaan. Kalau teknikal, hanya grafik, semuanya diabaikan. Saya yakin > >> itu tidak benar. Tapi memang harus selektif. Dari 400-an saham yang ada > >> di > >> bursa domestik, cukup banyak yang fundamentalnya bagus. Terkadang, ada > >> yang > >> terjebak. > >> > >> *Anda tidak memantau pergerakan harga saham setiap saat?* > >> Kenapa kita pusing? Karena kita beli saham yang tidak kita ketahui. Ada > >> yang tidak bisa tidur karena PER sahamnya 100 kali atau 200 kali. Lalu, > >> kenapa kita tidak bisa tidur kalau PER-nya hanya lima kali? > >> * > >> Bukankah investor sering terbawa arus karena faktor nonfundamental?* > >> Saya lihat investor di pasar modal kebanyakan ikut-ikutan. Saat *market > >> *mengalami > >> *booming*, semua masuk. Saat *market* buang-buang saham, mereka > >> ikut-ikutan. Mayoritas hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti apa yang > >> dibeli. Jadi, belajarlah dari orang yang memang sudah berhasil dan ikuti > >> langkahnya. Jangan percaya saat ada iklan yang bilang dapat untung besar > >> saat indeks turun. Kalau bisa seperti itu, hebat sekali. Bahkan, orang > >> sekelas Warren Buffett saja, saat pasar saham AS turun, dia juga > >> mengalami > >> kerugian. > >> > >> *Anda berinvestasi pada instrument selain saham?* > >> Tidak, hanya saham. Hampir semua uang saya ada di pasar modal. Dana > tunai > >> saya hanya 15%, sisanya portofolio saham. Kenapa saya sisakan segitu? > Itu > >> untuk antisipasi kalau pasar modal kita jatuh, sehingga saya masih bisa > >> beli saham lagi. > >> * > >> Dari mana Anda membiayai kebutuhan hidup sehari-hari?* > >> Saya bisa hidup dari dividen yang saya terima. Misalnya harga saham > suatu > >> emiten yang saya beli bulan lalu Rp 610, sekarang harganya Rp 2.375, > >> kemudian saya jual. Awalnya saya berniat menahannya untuk jangka > panjang. > >> Tapi kalau untungnya sudah sampai 300% dalam sebulan, saya lepas. Untuk > >> emiten yang bagus sekali, tetap saya keep untuk jangka panjang. Kalau > >> emitennya kurang meyakinkan dan naiknya signifikan, lebih baik saya > >> lepas. > >> > >> *Saat krisis moneter 1997-1998 dan krisis finansial 2008, Anda mengalami > >> kerugian juga?* > >> Saya sempat mengalaminya juga. Waktu krisis 2008, saya sempat jatuh, > tapi > >> tetap *be greedy when others are fearful*. Malah sewaktu krisis > >> 1997-1998, saya sempat jatuh hingga uang saya tinggal 15%. Tapi uang itu > >> saya tukar ke saham, karena saya tahu pasar modal akan naik lagi. Dan, > >> itu > >> terbukti. Akhirnya uang saya meningkat 150.000%. > >> > >> *Bagaimana Anda menyikapi perkembangan harga saham saat ini, terutama > >> yang terkait dengan krisis utang di Eropa dan krisis finansial di AS?* > >> Saat IHSG terkoreksi, wajar saja kalau nilai portofolio saya ikut turun. > >> Tetapi ketika turun, saya sama sekali tidak ikut-ikutan menjual, bahkan > >> saya membeli dan menambah saham saya, karena saya yakin satu hari > >> saham-saham saya akan naik kembali, bahkan dapat lebih tinggi dari > >> sebelumnya. > >> * > >> Apa filosofi hidup Anda?* > >> Filosofi hidup saya adalah bagaimana saya bisa menjadi kaya sambil > tidur. > >> Karena di perusahaan status saya adalah sleeping partner, saya tidur > >> tetapi > >> saham-saham perusahaan saya bekerja buat saya secara dahsyat. *Getting > >> rich while sleeping.* Saya pakai waktu saya delapan jam untuk tidur, > >> selebihnya saya pakai untuk bersenang-senang dan mengerjakan apa yang > >> saya > >> sukai. > >> > >> --- > >> Fabianto > >> > >> > >> > > > > > > > ------------------------------------ > > Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham. > > SEMUA POSTING DI MILIS INI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM EMAIL DAN BUKAN ADMIN > MILIS. SEMUA POSTING DI MILIS INI BUKAN UNTUK MENGAJAK MEMBELI ATAU MENJUAL > EFEK. SETIAP KEPUTUSAN INVESTASI MENJADI TANGGUNG JAWAB PIHAK PEMILIK > INVESTASI ATAU PEMILIK MODAL. > > [email protected] untuk berhenti dari milis saham > [email protected] untuk bergabung ke milis saham > Yahoo! Groups Links > > > > > **** > > **** > > >
