*Saham AS Gagal Melindungi Kenaikan*
Semua indeks utama AS melepas begitu saja kenaikan yang cukup solid yang
sebelumnya diperoleh pada sesi Selasa sehingga berakhir datar dan diikuti
dengan penjualan masif menjelang penutupan ('late sell-off').
Komposit Nasdaq dan S&P 500 masin-masing bertahan tipis 0,1%, sementara
komposit NYSE dan Dow keduanya melorot tipis. Volume perdagangan
('turnover') di kedua bursa meroket.
Dilaporkan bahwa kegembiraan mayoritas 'traders' atas perpanjangan
pengurangan pajak ('tax-cut') luntur seiring dengan naiknya 'yield' obligasi
dan penguatan USD menjelang akhir perdagangan. Selain itu, adanya ekspansi
penyidikan 'insider trading' dan gerakan oposisi oleh anggota Senat asal
Partai Demokrat atas 'tax-cut' turut menambah sentimen negatif kemarin.
Oleh karena itu, adanya peningkatan volume perdagangan secara tajam di kedua
bursa utama AS dikombinasikan dengan menguapnya hampir semua kenaikan,
menjadikan aksi pedagangan Selasa seebagai 'stalling action' atau aksi jalan
di tempat. 'Stalling action' dalam fluktuasi pergerakan bursa dikategorikan
sebagai alarm bahaya ('red flag'). Reversal atas 'rally' beberapa hari
terakhir ini terjadi setelah sejumlah indeks utama mendaki mendekati 'highs'
tahun ini namun dengan volume di bawah rata-rata volume beberapa hari
terakhir. Selain itu, saham-saham yang relatif kurang dikenal dan
diperdagangakan dengan volume tipis memimpin reli pada awal sesi Selasa.
Menjelang penutupan,saham-saham third/fourth liner tersebut masih naik
tetapi mayoritas dengan volume yang tipis.
Rabu nanti malam, sejumlah emiten yang akan merilis laporan keuangan, di
antaranya: Diamond Foods, G-III Apparel dan Costco. Laporan data ekonomi
yang akan dirilis, di antaranya: crude oil inventories dan MBA's mortgage
applications.
Untuk pelaku pasar bursa Indonesia, harap ekstra hati-hati meningat dua
faktor kunci global, intervensi Bank Sentral Cina dan krisis Eropa, segera
memainkan kembali peran sentralnya sebagai pemicu sentimen negatif. Berita
tentang Cina akan menyusul dalam posting berikutnya.
US market outlook: 'Market in Correction'
'+'