Ketua umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Bicara Prospek Pasar Modal
Domestik


Pasar modal domestik ikut limbung terimbas krisis finansial global. Agar
tak terpuruk lebih dalam, pasar modal Indonesia butuh investasi jangka
panjang. Mengapa? Berikut petikan wawancara wartawan Jawa Pos Eri Irawan
dengan Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) AIRLANGGA HARTARTO:

---

Apa prioritas program AEI?

Kami terus mendorong penerapan good corporate governance. Itu syarat
mutlak untuk menciptakan dunia bisnis yang lebih baik lagi. Kita juga
sudah berhasil mendorong penerapan pajak yang lebih rendah.

Sejauh mana AEI mampu berperan dalam mendorong pasar modal kita?

Sudah cukup bagus, tapi harus terus didorong. Misalnya, dalam pembuatan
regulasi, AEI sudah dilibatkan sejak awal. Posisi tawar asosiasi di mata
otoritas bursa terus membaik. Kita juga mampu mendorong kebijakan
perpajakan yang lebih ramah bagi pasar modal.

Bagaimana Anda memandang posisi pasar modal dalam pengembangan
perekonomian?

Sangat strategis, semua negara yang perekonomiannya maju, pasti ditopang
oleh pasar modal yang kuat. Saya ingin menegaskan, tak ada dikotomi
antara pasar modal dan sektor riil. Pasar modal itu sektor riil. Lihat
saja, semua emiten itu kan champion-nya di masing-masing sektor.
Misalnya, di sektor pertambangan, champion-champion-nya listing di
bursa. Itu semua riil, ada pegawainya, ada lahannya, dan sebagainya.

Bursa memerah sangat dalam, padahal kondisi fundamental emiten masih
sangat kokoh. Apa sebenarnya sentimen positif yang bisa kembali
menggerakkan saham-saham emiten? Lewat aksi korporasi, mungkin?

Sentimen positif tidak akan bisa diberikan oleh emiten-emiten, terutama
lewat aksi korporasi yang biasanya bisa memulihkan bursa. Mau aksi
korporasi bagaimana? Kalau ekspansi kan butuh pendanaan. Padahal,
lembaga keuangan dan investasi sekarang semua kesulitan. Mau pakai duit
apa untuk aksi korporasi?

Kondisi bursa yang seperti ini menunjukkan bahwa investor kita masih
sangat berparadigma jangka pendek?

Bisa dikatakan demikian. Karena itu, kita butuh investasi jangka
panjang. Itu hanya bisa didapatkan dari dana pensiun-dana pensiun.
Regulasi harus mendorong tumbuhnya dana pensiun. Kalau investor lokal
kita banyak didominasi oleh dana pensiun, tentu akan jauh lebih baik.
Sebab, horizon investasi dari mereka kan sangat jangka panjang, tidak
akan melihat volatilitas jangka pendek.

Otoritas bursa menerbitkan sejumlah regulasi di tengah kondisi pasar
yang bearish. Ada harapan itu bisa menyuntikkan sentimen positif ke
pasar.

Sebenarnya bagus, tapi ada beberapa yang terlambat. Misalnya, pelarangan
short selling. Pasar sudah telanjur bearish, itu seharusnya dilakukan
ketika pasar masih bullish.

Tapi, khusus yang relaksasi IPO (initial public offering, Red) cukup
bagus. Itu membuat perusahaan-perusahaan yang mau go public punya waktu
lebih untuk melihat momentum pasar, menyesuaikan dengan risiko-risiko
yang ada.

Dari sudut pandang emiten, apa yang sebenarnya menyebabkan banyak
perusahaan di Indonesia masih belum mau go public?

Salah satunya, dan ini harus diakui, adalah bursa masih kurang menarik
bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan. Jadi, bukan masalah budaya
tidak mau transparan. Yang penting bagi pengusaha adalah mencatat
kinerja bagus, tidak mungkin mereka mau perusahaannya dikelola ala
kadarnya. Bahwa perusahaan keluarga tidak mau transparan, itu keliru.

AEI ikut mendorong UMKM masuk ke bursa?

Secara prinsip, iya. Tapi, kita harus realistis. Masalahnya, di bursa
itu kan perdagangan di secondary market. Otomatis, yang diincar adalah
saham-saham blue chip. Artinya, kalau UMKM masuk saja, tapi tidak
likuid, ya percuma saja.

Sebagai pengusaha, saat ini sektor finansial sedang limbung, apa sumber
pendanaan yang bisa diandalkan?

Cukup sulit karena semua lembaga keuangan sedang kesulitan. Modal
ventura juga kurang berkembang. Namun, sebenarnya solusi pendanaan ada
pada instrumen syariah.

Karena produk jasa keuangan syariah tak terkait dengan subprime
mortgage?

Benar, memang instrumen syariah ini tidak ada hubungannya dengan
subprime mortgage. Karena itu, syariah tentu menjadi solusi. Tapi,
instrumen ini kurang berkembang karena kita masih ribut soal pajak
ganda. Padahal, Malaysia sudah berbenah sejak 1970-an, kita baru giat
sekarang. Kuncinya untuk pengembangan instrumen syariah ini hanya satu,
regulasinya diperbaiki. (fan)

 
-- 
Office Representation in Surabaya? Visit
http://www.datacom.co.id/profile/office.htm or 
mailto:[EMAIL PROTECTED] for enquiry that suits your needs.


------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke