Jadi menurut Tgk Abdul Wahab, Malik-Zaini itu "mafia pencuri surban wali"?
Gunong halimon <[EMAIL PROTECTED]> skrev: http://www.sirareferendum.org/indexa.php?mod=article&cat=wawancara Teungku Abdul Wahab Kreung Seumideun: Tokoh GAM Tua di Pidie Minggu, 28/01/2007, 11:38pm (GMT+7) Politik Datang Sendiri ke Aceh TANDA tangan komitmen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) damai ke delapan kandidat Gubernur Aceh telah dibubuhkan di atas prasasti hitam, pada 8 Nopember 2006, di pelataran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Prasasti itu merupakan bukti kesiapan calon pemimpin Aceh memainkan politik bersihnya. Di permukaan prasasti seberat 25 kilogram itu, yang telah terpatri paraf kandidat sebagai simbol kesungguhan, tekad, pengorbanan, bahkan keikhlasannya menerima kekalahan. Apalagi kemenangan. Para konstestan berjanji siapa menang dan siap kalah, serta berpolitik secara santun dalam memenangi pertarungan menjadi yang terbaik di Aceh. Memang, kenyataannya ke tujuh kandidat sudah siap menang atau kalah masuk tong secara fair. Dan, merelakan satu di antara mereka menjadi Penguasa Tunggal sebagai pemegang Pemerintahan Aceh ke depan. Masalahnya, siapkah para Simpatisan dan bondon (simpatisan ortodok dan radikal) kampung menerima kekalahan jagoaan mereka? Bagaimana pula peluang rekonsiliasi GAM, khususnya GAM Pidie yang telanjur membangkang Mualim (sebutan untuk Muzakkir Manaf, Ketua KPA)? Menjelang kompetisi partai lokal 2009, akankah segelintir GAM pendukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), melawan Mualim untuk kedua kalinya? Seperti aksi boikot hadir ke KPA Pusat dari GAM Pidie pada saat Mualim mengundang para Panglima Wilayah seluruh Aceh, ke kantor mantan pejuang Aceh, yang beralamat di Lamdingin Banda Aceh itu. Pada saat itu, Panglima Pidie, Tgk Sarjani, tidak datang ke Banda Aceh guna mencabut dukungan kepada partai nasional yang ditunggangi H20. Masihkah GAM Pidie bermesraan dengan PPP? Untuk lebih jelasnya, simaklah wawancara eksclusif tokoh GAM yang paling berpengaruh di jajarannya. Dia adalah Teungku Abdul Wahab Kreung Seumideun, salah satu di antara angkatan 76 yang tak pernah meninggalkan ideologi Aceh yang telah ditatar Indatu sejak dulu kala. Pada Abu Wahab pula lah, Perdana Menteri Malik Mahmud dan menteri-menteri lainnya, banyak bertandang dan minta petunjuk atas langkah politik keliru yang kepalang ditempuh para elit, beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancara Teuku Fahmi dari Tabloid SUWA dengan Teungku Abu Wahab: SUWA (S): Bagaimanakah sikap GAM Pidie dalam menyingkapi kemenangan Irwandi-Nazar? Abu Wahab(AW): Kita wajib bersyukur atas campur tangan Allah, dalam memenangkan Irwandi-Nazar. Seluruh rakyat di sini berdoa bagi kemenangan pasangan ini. Pada pasangan ini pulalah kita gantungkan harapan menyatukan jantung hati rakyat Aceh yang tercabik puluhan tahun lamanya. Karena sikap mafia politik yang merasa dirugikan bila kapal Aceh berlabuh. (S): Mengapa mafia itu berhasil bermain di Pidie ? (AW): Mereka mencuri surban Yang Mulya (Wali Neugara Aceh Hasan Tiro) dan memakainya lalu menari di atas penderitaan rakyat, di atas air mata dan darah segar yang sampai kini masih menempel di dedaunan belantara Aceh. Di atas tulang kerangka tubuh syuhada (pejuang yang mati syahid) yang masih berserakan di penjuru bumi ini. Secara keseluruhan, mereka gagal total. Mereka hanya mampu menghamburkan uang. Salah satu aksi itu dilakukan saat di Losmen Daka. Saya sendiri diberi Rp500 ribu waktu itu. (Soal pemberian dana itu diakui sejumlah ulama yang diundang oleh H2O ke Wisma Daka, malah ada ulama yang hanya mendapatkan 300 ribu rupiah, padahal seharusnya 500 ribu, entah siapa yang memotongnya-red) (S): Bagaimana caranya supaya rakyat Aceh rela memaafkan dosa politik mafia itu? (AW): Tak semudah membalik telapak tangan. Sebab, perjuangan ini telanjur berdarah-darah. Sebenarnya mafia telah bermain lama di dalam konflik Aceh. Yang berani bicara langsung ditembak saja. Bagi mafia, nyawa insan tak berarti. Artinya, sikap beginilah yang telah melahirkan Majelis Pemerintahan (MP) GAM murni yang dipecat oleh pencuri surban Wali. Wali sendiri tak pernah memecat siapapun, saya tahu karakter Wali. (S): Berapa banyak mafia perjuangan yang Abu maksud? (AW): Untuk tingkat pusat hanya lima orang saja. Di Pidie, jumlahnya dapat dihitung jari. Mereka merupakan satu keluarga pembusuk. Orang Pidie tahu tentang hal ini karena ini rahasia umum. Ini seperti penyakit kusta tulang kronis. Kalau kita mau tubuh selamat harus rela diamputasi. Maka selamatlah perjuangan Aceh. Sekarang kita baru tiba di terminal persinggahan, tapi ada yang berusaha mengaburkan pandangan Meuntroe (Menteri) Malik seolah kita sudah sampai ke tujuan. (S): Bukankah konsilidasi dibutuhkan agar GAM tak pecah dalam partai lokal nanti? (AW): GAM tak pernah pecah di seluruh Aceh. Hanya geraknya terhalang-halangi oleh kelompok yang “peu bace-bace droe, padahai euntoek—Bagai kucing berlagak singa”. Tapi, GAM “bersih” tetap setia dan mendukung penuh Teungku Irwandi dan Muhammad Nazar. Contohnya: Yang Mulia Teungku Bahtiar Abdullah. Dia satu-satunya diplomat ulung yang disegani oleh kawan serta ditakuti oleh lawan. Bagi saya, dia figur tokoh internasional Aceh. SW: Akankah “pencuri surban Wali” mengganggu GAM pada partai lokal kelak? AW: Sekarang bukan masanya lagi ganggu-mengganggu. Sekarang masanya segala amalan hitam “pencuri surban Wali” akan dinyatakan oleh Allah SWT. Mereka akan kembali dikalahkan, jika tau mau mengubah tabiatnya. (S): Bisa Abu sebutkan contohnya? (AW): Lihatlah satu-persatu borok mereka mulai tercium dan terungkap kebusukannya. Pada mata insan yang terzalimi, akan diperlihatkan Allah kehancuran “pencuri surban Wali”. Sesungguhnya, Allah Maha Tau. Hanya ada dua pemimpin di dunia: pemimpin baik dan pemimpin buruk. Pemimpin baik penerus risalah perjuangan Rasulullah... sedangkan pemimpin buruk itu pengikut syaitan nirrajim. Para pemimpin baik, memusyawarahkan segala kebijakan. Setelah ada kesepahaman, barulah perintah dijalankan. Sementara pemimpin buruk sebaliknya. (S): Contohnya Abu? (AW): Alkisah, Rasulullah selalu memusyawarahkan setiap perintah Allah yang diwahyukan kepada-Nya. Padahal, perintah Allah tidak pernah salah. Tetapi, bagi Rasulullah, tetap lebih dahulu menyampaikan kepada para sahabat. Setelah mendapat persetujan sahabat itu, barulah Firman Allah swt dilaksanakan. Tidakkah kita memetik hikmah dari suri tauladan kehidupan Rasulullah? Sedangkan bagi pemimimpin buruk, perintah didahulukan. “Kalau tidak berhasil jangan pulang,” begitu kata “pencuri surban Wali” kepada pengikutnya. Karena itu, kita bisa mengambil ihktibar. Mengapa MP tercetus. Padahal, Dawod Paneuk Cs, orang yang sangat berjasa. Tetapi karena bukan dokter, makanya dia kalah saing dengan “pencuri surban Wali”. (S): Paham apa yang dibawa “pencuri surban Wali”? AW: Mereka mengajar sekolah bodoh (cara agar rakyat bodoh) dengan segala kepintarannya. Sedangkan rakyat Aceh seperti kami tidak pernah belajar politik. (S): Jadi, siapakah guru politik rakyat Aceh? (AW): Justru politik itu sendiri yang datang ke Aceh, mengajari kami selama 30 tahun lebih, tentang bagaimana menyikapi, mendalami suatu ikhwal juga mengajari bagaimana cara memanfaatkan keadaan yang menguntungkan perjuangan secara umum. Bahkan, politik pula yang mengenalkan kepada kita siapa dan di mana keberadaan cucu-cucu pahlawan, sekaligus mengenalkan kepada kita siapa dan di mana keberadaan cucu-cucu “panglima tibong”, “panglima tibang”, “pangbayak”, dan “pang-peng” lainnya. (S): Kalau satu turunan, mengapa namanya berubah-ubah? (AW): Lain zaman lain pula nama kuru (kaum, keturunan). Sedangkan garis keturunannya tetap satu. Ada benang merahnya. “lagei-pleik meunan minyeuk, bulaku yah meunan keuh aneuk. Aneuk ramideun han mungken ca’ei, aneuk mei han mungkein singa—seperti “taik kelapa” (fatarana) begitu pula kualitas minyaknya. Bagaimana ayah seperti itu pula anaknya. Anak laba-laba tak mungkin menjadi karantula. Anak kucing tak mungkin jadi singa.” (S): Dari mana asal muasal cuak dan bagaimana mengenali garis keturunannya, sekaligus menghilangkan mereka dari peta politik Aceh? (AW): Kalau kalangan ulama menyebut Teungku Tibong dengan istilah “Pa’i”—dari kata dasar arabnya Fa’i; fa’a; fa’iya, yang berarti budak atau orang upahan. Pada masa konflik kita menyebut cuak (cuwak/si ba kafe—mata-mata kaum kafir.’ Mengenai ciri-ciri mereka, ya tampak dari perangui—perangai mereka selalu mencari keuntungan pribadi. (S): Tetapi bukankah berjuang agar kita tak dirugikan? (AW): Benar. Namun, bukan pribadi pejuang yang harus diuntungkan! Karena pahlawan sudah siap menderita di dunia. Hanya di akhiratlah tempat menikmati hidup yang sebenarnya. (S): Bagaimana pun, tidakkah politik GAM ke depan memerlukan rujukan? (AW): Ya. Rujukan hanya dengan orang kita saja yang sempat meuseureuk—terperosok—secara tidak sengaja ke dalam lembah hitam itu. Jangan ragu perpecahan terhadap sesama GAM. Ini tak mungkin terjadi karena kesamaan visi-misi, juga karena pengalaman perang banyak menyisakan kenangan manis sekaligus pahit. Kenangan itu menjadi helai-helaian urat kecil perajut jantung hati bangsa Aceh. Selalu untuk selamanya. Insyaallah. (S): Berarti GAM tidak pecah? (AW): Tidak! (S): Jadi yang pecah itu siapa? (AW): Ya...itu. “pencuri surban Wali” berjibaku sesama “pencuri surban Wali”. Bagi kita belum membutuhkan orang-orang sesat yang menyesatkan. Apa bisa diharapkan dari “pencuri surban Wali?” Rekonsilidasi pun belum dibutuhkan oleh mereka. (S): Ini, kan, masa damai. Bukankah kita harus damai dengan semua? (AW): Ada sejarah damai, tetapi hanya dengan musuh. Dengan agen penggerak musuh tidak atau belum dibutuhkan rujukan, apa lagi kita harus menyembah-sembah. Sedangkan jumlah mereka sangat sedikit. Malah, kata orang, jumlahnya tidak sampai 0.001% di banding milisi. Apa lagi GAM. Di muka bumi mana punya sejarah berharmonis ria dengan “awak koh tuteu—orang yang memotong jembatan.” Ada dua tugas penting bagi mereka yaitu mempertanggungjawabkan amalannya dengan ratusan ribu korban tak berdosa di seluruh penjuru dunia. Juga harus bertanggung jawab di hadapan Allah swt di akhirat kelak. Jadi, itu lebih penting dan mendesak untuk ia segerakan. Demikianlah luka dihujamkan oknum “paima kaibeut (ketika ditanya maksud paima kaibeut, Abdul Wahab hanya tersenyum)” tepat di pusara maaf tetua GAM Pidie. Sehingga mengeluarkan sebuah pernyataan maaf pun terasa kesat di jakun ribuan GAM Pidie. Allahu a’lam bissawab... Semoga keampunan Allah dilimpahkan bagi mereka. Amien. --------------------------------- Need Mail bonding? Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users. --------------------------------- Stava rätt! Stava lätt! Yahoo! Mails stavkontroll tar hand om tryckfelen och mycket mer! Få den på http://se.mail.yahoo.com
