Jawa Pos
Minggu, 17 Des 2006,


Pemerintah Ultimatum Irwandi 

Jika Tetap Ngotot Pakai Atribut GAM 
JAKARTA - Pemerintah kemarin mengultimatum pasangan Irwandi Yusuf-Muhammad 
Nazar (cagub dan cawagub jalur independen yang perolehan suaranya masih 
memimpin dalam pilkada Aceh) agar benar-benar menanggalkan atribut GAM (Gerakan 
Aceh Merdeka). Jika Irwandi-Nazar tak patuh, pemerintah pusat tidak akan 
mendukung pemerintahan mereka. 

Ultimatum itu disampaikan Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Djalil saat 
menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk Kekalahan Parpol dalam Pilkada 
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di Mario's Café kawasan Menteng kemarin. 

Sofyan adalah salah seorang menteri yang berperan di balik penandatanganan MoU 
antara Indonesia dan GAM di Helsinki pada Agustus 2005. 

"Bila terpilih menjadi gubernur Aceh, Pak Irwandi harus menghilangkan nama 
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam parpol lokal yang akan dibentuk. Tidak 
menggunakan simbol GAM dalam parpol tersebut dan tidak lagi menyebut dirinya 
mewakili GAM," tegas Sofyan kemarin. 

Jika tidak menuruti pemerintah, berarti calon independen tersebut telah 
melanggar isi kesepakatan MoU. Meski hanya simbol nonmiliter, tambah dia, hal 
tersebut merupakan pelanggaran sesuai apa yang dikatakan anggota Aceh 
Monitoring Mission Pieter Feith. "Sikap menentang itu hanya akan merugikan Pak 
Irwandi saat menjadi gubernur nanti," tegas Sofyan.

Meski demikian, Sofyan mengimbau semua pihak untuk positive thinking (berbaik 
sangka) terhadap kepemimpinan Irwandi. "Pemerintah akan selalu mendukung 
kepemimpinan Irwandi-Nazar bila mereka mau mematuhi kesepakatan damai dengan 
pemerintah RI di Helsinki karena sudah saatnya rakyat Aceh sejahtera," ujarnya. 

Pernyataan Menkominfo didukung oleh anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa 
A.S. Hikam. Menurut anggota komisi I itu, politik berjalan atas dasar trust 
(kepercayaan) dan bukan hanya pada perkataan. Irwandi harus menunjukkan bukti 
bahwa di Aceh dirinya merupakan bagian integral dari pemerintah Indonesia, 
bukan wakil GAM.

"Tidak usahlah pakai nama GAM lagi karena hingga kini masih banyak pihak yang 
mencurigai agenda dia (Irwandi, Red). Pengunaan nama dan simbol GAM justru akan 
menimbulkan public distrust," ujar Hikam. Apalagi, tambah dia, Irwandi belum 
punya kepanjangan tangan di DPRD Aceh. Jika bersikeras, problematika di Aceh 
yang sudah sangat kompleks tidak akan pernah terselesaikan.

Pernyataan lebih keras disampaikan Burhanuddin Napitupulu, ketua Koordinator 
Wilayah I DPD Partai Golkar NAD. "Stop gunakan atribut ataupun simbol GAM jika 
tetap ingin mendapat dukungan sebagai gubernur Aceh," tegas Burhanuddin.

Pengamat politik UI (Universitas Indonesia) Bachtiar Aly pun mengingatkan 
pasangan Irwandi-Nazar agar meninggalkan semua hal yang berbau GAM karena dua 
alasan. "Pasangan Irwandi-Nazar besar kemungkinan akan menang. Namun, dua tokoh 
ini tidak punya wakil riil di DPRD Aceh. Padahal, beban yang akan dipikul 
mereka sangat berat, yakni melakukan perubahan di Aceh pascakonflik bersenjata 
dan musibah tsunami," ujar guru besar FISIP UI itu.

Kedua, menutut dia, dengan berkeras memakai atribut GAM, DPRD Aceh akan 
menentang kepemimpinan Irwandi. "Bisa saja ketika (Irwandi) mengajukan RAPBD, 
DPRD setuju dan mengatakan perbaikilah wilayah ini atau itu. Namun, ketika 
program berjalan, tiba-tiba mereka melaporkan Irwandi ke KPK karena tuduhan 
korupsi," kata Bachtiar serius.

Dia menambahkan, Pilkada Aceh adalah suatu long march menuju demokrasi yang 
harus dijaga. "Aceh layak dijadikan laboratorium demokrasi karena calon 
independent bisa menang. Ini tentunya bisa menunjukkan kepada masyarakat RI dan 
dunia internasional bahwa cara-cara lama Jakarta untuk memaksakan kehendak 
sudah ditinggalkan," katanya usai acara diskusi kemarin. 


Aceh Tak Lagi Butuh Mediator

Pemerintah Indonesia dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tidak lagi membutuhkan 
mediasi dari pihak mana pun untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah yang 
timbul pascapilkada di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). "Bila nanti ternyata ada 
masalah yang bersifat prinsipil, GAM dan Pemerintah RI bisa duduk bersama untuk 
mencari penyelesaian," kata Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Feith 
usai berpamitan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden 
di Jakarta kemarin. 

Masa tugas AMM memang sudah berakhir di NAD. Selanjutnya, akan masuk ke 
provinsi Serambi Makkah itu sebuah lembaga bernama Interpeace yang dipimpin 
Martti Ahtisaari, mantan presiden Finlandia yang berperan dalam MoU antara 
Indonesia dan GAM. 

Feith menegaskan, keberadaan Interpeace di NAD tidak untuk menggantikan peran 
AMM. Interpeace tidak dibentuk untuk memantau pelaksanaan MoU Helsinki, namun 
akan fokus pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat pascatsunami. 

"Interpeace adalah LSM kecil. Jangan dibandingkan dengan AMM, karena misinya 
berbeda," ujar Feith. 

Setelah memimpin tugas AMM selama 16 bulan di Aceh, Feith menilai seluruh tahap 
proses damai Aceh yang dipantau AMM berlangsung sangat baik. Mulai penarikan 
senjata dari kombatan GAM, penarikan pasukan TNI, hingga pelaksanaan pilkada 
yang dilakukan serentak pada 11 Desember lalu.

Meski demikian, Feith mengakui masih ada masalah yang belum tuntas dalam proses 
reintegrasi, yakni keterlambatan penyaluran dana reintegasi kepada mantan 
anggota GAM dari panglima wilayah ke anggota di lapangan. 

"Seharusnya itu bisa dilakukan lebih cepat. Pemerintah RI sudah mencairkan dana 
reintegrasi, tapi masih ada masalah dalam pembagiannya. Kami akan monitor lebih 
hati-hati," ujar diplomat senior asal Belanda itu.

Feith mengaku lega karena misi pemantauan dari Uni Eropa dan lima negara ASEAN 
di Aceh telah menutup kantor AMM di Banda Aceh. Menurut Feith, penutupan kantor 
misi pemantauan Uni Eropa merupakan peristiwa langka, karena hanya dapat 
dilakukan bila seluruh tugas telah dilaksanakan dengan baik dan proses 
perdamaian sepenuhnya tercapai. 

"Kami harap dengan hasil pilkada kemarin, kesejahteraan rakyat Aceh akan lebih 
baik. Kami yakin Irwandi Yusuf (calon gubernur Aceh), yang sementara ini 
perolehan suaranya unggul, mampu mewujudkan itu dengan membangun hubungan 
efektif dengan pemerintah pusat," terangnya.

Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, Presiden SBY atas nama 
bangsa Indonesia menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga. Bukan 
hanya atas kerja keras AMM, tapi juga pengorbanannya. 

"AMM bukan hanya bagian dari sejarah perdamaian yang sangat langka itu, tapi 
juga ikut menuliskan sejarah perdamaian di Aceh," ujar Dino mengutip ucapan SBY.

Presiden SBY, seperti disampaikan Dino Patti Djalal, menegaskan, pemerintah 
pusat akan mendukung pemerintahan baru di Aceh. "Presiden berkomitmen terus 
bekerja sama dengan gubernur Aceh, siapa pun nanti yang terpilih," ujarnya.

Tadi malam seluruh anggota misi pemantau perdamaian Aceh asal Uni Eropa telah 
kembali ke markas besar Uni Eropa di Brussel, Belgia. Sebelum bertolak dari 
Indonesia, Uni Eropa menyampaikan medali penghargaan kepada Presiden SBY atas 
keputusan politik Pemerintah RI untuk menyelesaikan konflik bersenjata di Aceh 
secara damai.

Medali European Security and Defence Policy Service juga diberikan pada Wapres 
Jusuf Kalla dan seluruh anggota juru runding Pemerintah RI dalam penyusunan MoU 
Helsinki. Mereka adalah Menko Polkam Widodo Adi Sucipto, Menkum dan HAM Hamid 
Awaluddin, dan Menkominfo Sofyan Djalil.

"Proses damai dan implementasinya tidak akan berhasil tanpa komitmen kuat, 
dukungan politis dan arahan kepala negara. Pemerintah RI telah memfasilitasi 
pelaksanaan tugas-tugas kami di sini dengan baik," terang Feith. (nue/ein/noe)

Kirim email ke