Thank for sharing...I Like it...! Salah satu cita-citaku utk berselancar lebih jauh di negri ini mudah2an saatnya nanti jika ada kesempatan dan mereka sdh welcome dgn wisatawan domestic amin...! Sent from my BlackBerry Wireless Handheld Powered by Gee! from StarHub
-----Original Message----- From: i herwia <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 23 Nov 2010 01:31:13 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [pelaut] Re: Bagi cerita "Negeri ini punya siapa?" Negeri ini Punya Siapa? Oleh Endro Catur Nugroho Banyak yang bilang kalau mau lihat orang Indonesia ngumpul di luar negeri – jalan-jalan – lihat saja di Hong Kong atau Singapura. Tapi, coba cari wisatawan domestik di tempat seperti Pulau Weh, Komodo, Loksado, Alor atau Raja Ampat. Bisa dihitung jari. Transportasi yang tak murah, perjalanan yang lama dan tidak mudah sering dijadikan alasan traveller lokal enggan pergi jauh apalagi sampai ke tempat-tempat terpencil di Indonesia Timur. Coba saja, betapa sering pernyataan turis bule seperti ini terdengar ketika berkunjung ke tempat-tempat di atas, “I’ve seen very few Indonesian travelling”? Di Nemberala, Rote, jika tidak bertemu Pace, Lot dan Daniel serta teman-teman nelayan dari Pulau Ndao, saya pasti tidak akan berasa seperti di Indonesia. Selain karena tetangga-tetangga yang berasal dari lima penjuru dunia, saya juga harus berbahasa Inggris setiap saat. Begitu pula ketika berkunjung ke Sanggau, Alor, Komodo, Lembeh, Nabire atau Togean. Setiap kali pergi ke tempat-tempat seperti di atas, saya usahakan melihat buku tamu. Yang saya cari pasti negara asal para pelancong. Bisa ditebak, Indonesia tidak lebih sering muncul dibandingkan negara lain. Kalau sudah begini, wajar nggak sih kalau saudara-saudara kita di Indonesia Timur itu jadi lebih akrab dengan kulit putih dan Bahasa Inggris ketimbang saudaranya yang berkulit coklat? Di sebuah resor di Teluk Kungkungan, Bitung, Sulawesi Utara, saya dan dua orang teman yang menyewa angkot dicegat di depan pintu masuk. Pakaian kami yang lusuh nampaknya bikin kami tidak ‘kompatibel’ dengan setting resor yang wah. “Cuma turis bule yang datang ke sini. Makanan di sini mahal. Bayarnya minimal 40 ribu rupiah. Cuma bisa pakai kartu kredit,” dan seterusnya. Bertiga, kami mengeluarkan kartu kredit gold kami dan, walau dengan mulut monyong, akhirnya kami bisa makan di resort yang tertata sangat profesional. Di sebuah desa tradisional di Sumba Barat Daya, saya ditanya bendera negara asal saya. “Merah putih,” jawab saya dengan terbata-bata, masih bingung kok bisa-bisanya saya ditanya pertanyaan konyol seperti ini. “Kalau benderanya sama tidak usah isi buku tamu. Itu cuma buat turis asing,” ujar bapak ketua adat dengan ketus. Ia kembali sibuk dengan jaring-nya. Saya ditinggal sendiri. Tidak diusir. Tapi juga tidak dilayani. Di sebuah resor pulau di Nabire, speed boat yang saya sewa mendarat di pulau yang bangga dengan usaha konservasinya. “Cuma mereka yang reservasi lewat agen di Bali bisa menginap di sini,” jawab direktur pengelola resor itu dengan muka tidak bersahabat. “(Pulau) ini bukan pulau turis, tidak sembarang orang boleh masuk,” lanjutnya sembari minta kami meninggalkan pulau. Nampaknya, yang paling menyakitkan hati adalah ketika saya ‘nekat’ mencoba surfing di Pantai Nihiwatu, kurang lebih lima ratus meter dari sebuah resor terkenal yang menurut Lonely Planet telah mengklaim Pantai Nihiwatu sebagai pantai pribadi mereka. Malang tak dapat diduga, arah angin tak dapat ditebak. Akhirnya papan surfing membawa saya cukup dekat – kurang lebih dua ratus meter – dari pantai sebelum akhirnya petugas resor itu mengusir bahkan hendak menahan papan surfing saya. “Dilarang surfing di Pantai Nihiwatu kecuali tamu di resor kami,” ujar mereka galak. Uniknya, resor ini baru saja dapat penghargaan tertinggi Responsible Tourism Award 2010 dari Responsible Travel, sebuah organisasi penilai institusi pariwisata yang mendukung praktik wisata bertanggungjawab di seluruh dunia. Resor ini berjaya karena program-program pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar melalui yayasan bentukan mereka. Beberapa angka statistik yang menggiurkan terdengar sangat meyakinkan dan rasanya memang cocok untuk mengganjar resor ultra-eksklusif ini dengan penghargaan bergengsi tersebut. Mereka – pengelola tempat wisata – berperilaku seperti itu pasti bukan tanpa alasan. Bagaimana pun, bisnis adalah bisnis. Dan bisnis ada hitung-hitungannya. Tapi, kadang emosi saya sedemikian membuncah hingga cepat menilai ini praktik yang tidak benar. Ah, saya bosan mengeluh sebenarnya. Apalagi sampai harus teriak-teriak di depan pagar resor-resor itu seperti aktivis kesiangan. Padahal, kalau dipikir-pikir, jangan-jangan jawabannya bisa jadi sesederhana ‘alah bisa karena biasa’? Witing tresno jalaran soko kulino? Mungkinkah karena kita – traveller domestik – sebegitu jarang pergi ke tempat-tempat tadi hingga saudara-saudara kita disorientasi dan berkesimpulan kalau yang ‘memberi makan’ mereka adalah, ya … turis-turis asing itu. Tiap masalah pasti ada penyelesaiannya. Buat saya, lebih baik saya sering-sering mengunjungi saudara-saudara sebangsa – terutama di Indonesia Timur – agar mereka perlahan tersadar kalau kita adalah saudara mereka yang sama berhaknya untuk mengunjungi – dan mencintai – tanah air sendiri. Terima kasih telah membaca cerita dari Kawan Kita My Best Regards, Herwia ARISE TRANSPORT LOMBOKOffice Address:Jl. Jangkok No.1B BTN Kekalik MataramLombok 83122 - IndonesiaE-mail: [email protected], [email protected]http://www.carshirelombok.comhttp://www.lombokfantasytransport.com http://www.sewaavanzalombok.com [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ 1. Moderator tidak bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas asli pengirim berita. 2. ATTACHMENT akan dibanned, krmkan ke pelaut-owner atau upload ke FILE. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pelaut/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
