--- Pada Sel, 19/10/10, Rakyat Harus Sehat <[email protected]> menulis:

Dari: Rakyat Harus Sehat <[email protected]>
Judul: Rapor Itu Merah, Jenderal!
Kepada: "AIPI Politik" <[email protected]>, 
[email protected], "artculture-indonesia" 
<[email protected]>, "AyahBunda" 
<[email protected]>, "Bisnis-Lokal" 
<[email protected]>, "bpshulu" <[email protected]>, "Cikeas" 
<[email protected]>, "communicationsindonesia" 
<[email protected]>, "CWGI Indonesia" 
<[email protected]>, "DikBud" <[email protected]>, 
"Dokter" <[email protected]>, "DPR-RI" <[email protected]>, "Femina" 
<[email protected]>, "femina" 
<[email protected]>, "femina" 
<[email protected]>, "Forum Kesra" <[email protected]>, 
"Forum Sosial Indonesia" <[email protected]>, "Forwara" 
<[email protected]>, "group anti imf" <[email protected]>, 
"group bisnis center" <[email protected]>, "group ekonomi nasional"
 <[email protected]>, "group elshinta" 
<[email protected]>, "group jala prt" <[email protected]>, 
"group komunitas musik" <[email protected]>, "group media jabar" 
<[email protected]>, "group media jakarta" 
<[email protected]>, "group media jateng" 
<[email protected]>, "group musik indonesia" 
<[email protected]>, "Group Pantau Kom" 
<[email protected]>, "Group Parlemenwatch" 
<[email protected]>, "Group Perempuan" <[email protected]>, 
"group politikmahasiswa" <[email protected]>, "group ppdi" 
<[email protected]>, "Group Stikom" <[email protected]>, "Group 
UGM" <[email protected]>, "Group Zaman" <[email protected]>, 
"group--pembebasan" <[email protected]>, 
"group-Forum-Pembaca-Kompas" <[email protected]>, 
"group-GELORA45" <[email protected]>,
 "group-mimbar-bebas" <[email protected]>, "group-Pembebasan_Papua" 
<[email protected]>, "group-persindonesia" 
<[email protected]>, "group-RumahKitaBersama" 
<[email protected]>, "group-santrikiri" 
<[email protected]>, "group-wahana-news" 
<[email protected]>, "group-wartawanindonesia" 
<[email protected]>, "Groupacehkita" 
<[email protected]>, "Groupastaga" <[email protected]>, 
"GroupBeritaKorupsi" <[email protected]>, "Groupdokter indonesia" 
<[email protected]>, "Groupdokterumum" 
<[email protected]>, "groupecosisters" <[email protected]>, 
"groupelshinta" <[email protected]>, "groupindoprogres" 
<[email protected]>, "Groupindorising" 
<[email protected]>, "Groupiue2002" <[email protected]>, 
"groupjurnalperempuan" <[email protected]>, "groupkasm-ui"
 <[email protected]>, "groupkasoem" <[email protected]>, "grouppsik" 
<[email protected]>, "groupsnasional-list" 
<[email protected]>, "Groupwordsmartcenter" 
<[email protected]>, "hsebpindonesia_forum" 
<[email protected]>, "humancapital" 
<[email protected]>, "Indo-Job" <[email protected]>, 
"Indoleft" <[email protected]>, "indonesia-plc" 
<[email protected]>, "Instrumentation_Control" 
<[email protected]>, "Inti-Net" <[email protected]>, 
"IreYogya" <[email protected]>, "Ismes" <[email protected]>, 
"jakarta" <[email protected]>, "Job-Vacancy" 
<[email protected]>, "Jurnalisme" <[email protected]>, 
"Kahmi" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 19 Oktober, 2010, 6:51 AM

Senin, 18 Oktober 2010 13:01 
                                                                        Rapor 
Itu Merah, Jenderal! 
                                                                        OLEH: 
WEB WAROUW
                                                                        

                                                                        Jakarta 
- Demi pencitraan, pemerintah boleh saja
 membeberkan setiap hari semua data angka indikator kemajuan ekonomi 
selama satu tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 
                                                                        
                                                                                
                                                                                
        
                                                                                
                                                                        
                                                                        Namun, 
rakyat yang berhak menilai karena mereka yang 
merasakan langsung. Tentu rakyat yang tahu apakah data itu sesuai 
kenyataan atau justru hanya kebohongan publik.
Sehari-hari rakyat 
merasakan merosotnya pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, seperti bahan 
makanan, kesehatan, dan pendidikan, oleh menteri-menteri pilihan 
Yudhoyono. “Dulu kita bisa makan daging seminggu sekali. Sekarang, 
syukur-syukur kalau kita bisa makan. Hidup semakin berat karena 
harga-harga pada naik. Presiden seharusnya ganti Menteri Pertanian, 
Menteri Perdagangan, Menteri Perekonomian, dan Menko Kesra,“ ujar 
Sanusi, buruh perkebunan sawit beranak tiga di salah satu desa 
transmigrasi Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. 
Memang kasus 
kelaparan yang sudah meluas dilaporkan oleh FAO bahwa hingga 2010, 
wilayah rawan dan sangat rawan pangan terbentang di 100 kabupaten, 
terbanyak di Indonesia Timur, seperti Papua, Papua Barat, NTT, dan 
sebagian Pulau Sulawesi. 
Data ini tidak pernah berubah sejak tahun 
2004. Hingga saat ini, tidak ada kejelasan program Kementerian Pertanian
 dan Kementerian Koordinator Kesra selain kebijakan impor beras dari 
Vietnam untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Fakta kelaparan justru 
dipakai oleh pemerintah untuk menjalankan program food estate yang 
kepemilikan dan penggunaan lahan dise­rahkan pada asing 

Bodoh 
Permanen
Data ini diperkuat dengan meningkatnya temuan Balita yang 
mengalami gizi buruk. Pemimpin Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr 
Rachmat Sentika, Sp (A) menjelaskan bahwa setidaknya ada 5,3 persen 
balita dari 28 juta anak di bawah usia 5 tahun yang meng­alami gizi 
buruk. Artinya se­kitar 1,5 juta balita mengalami gizi buruk, sedangkan 
balita yang mengalami kurang gizi sekitar 15 persen. Mereka berpotensi 
meng­alami kebodohan per­manen. 
Anehnya, bukannya menangani 
persoalan kesehatan rakyat yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan, justru
 kebijakan terbarunya adalah mengizinkan kepemilikan industri farmasi 
100 persen pada pemilik asing walaupun Perpres 36/2010 telah menetapkan 
ambang batas kepemilikan asing hanya 70 persen. Dampaknya, harga obat 
segera akan meroket. 
“Menkesnya gimana sih? Sekarang harga semua 
obat kembali mahal. Walau punya Jaminan Kesehatan Masyarakat 
(Jamkesmas), pasien sekarang disuruh beli obat sendiri. Menkes mesti 
cepat diganti, pasien bisa pada mati,” jelas Arif Witanto, relawan 
kesehatan di Kediri, Jawa Timur. 
Bukan hanya itu, Menteri Pendidikan
 Nasional Mohammad Nuh saja meng­akui bahwa angka putus sekolah dari SD 
ke SMP karena mahalnya biaya pendidikan mencapai 920.000 anak, 
sedang­kan putus dari SMP ke SMA lebih besar lagi, yaitu 1,26 juta anak.
 Putus sekolah tersebar di 19 provinsi, termasuk Jawa Barat, Papua 
Barat, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
 
“Anak-anak ingin sekolah, tetapi saya nggak sanggup lagi karena 
suami cuma tukang ojek dan saya jualan di pasar. Padahal katanya 
anggaran pendidikan sudah pada naik,” ujar Hartini, ibu beranak tiga, 
pedagang warung tegal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 
Konflik 
buruh dan perusahaan pun meningkat dalam satu tahun Kabinet Indonesia 
Bersatu II. Apalagi menjelang Lebaran beberapa waktu lalu. Siswati, 
buruh garmen PT SAI Apparel Semarang, me­ng­eluhkan THR yang belum 
terbayarkan hingga saat ini. 
“Bukannya terima THR, kami semua malah 
dirumahkan dengan alasan pabrik tidak punya uang. Kami sudah demo dan 
lapor ke Menteri Tenaga Kerja, tapi nggak ada hasil sampai sekarang. 
Kita butuh menteri yang membela buruh,”  jelas perempuan yang akhirnya 
harus menganggur ketika dihubungi. 
Sebagian besar masyarakat menilai
 bahwa pemerintah memang dengan sengaja tidak akan menuntaskan kasus 
Century bahkan berhasil melemahkan KPK. “Itu uang rakyat Rp 6,7 triliun 
yang hilang siapa yang tanggung jawab? Sri Mulyani sudah berhasil kabur 
ke luar negeri. Boediono jadi wakil Presiden. Pemimpin KPK yang 
seharusnya memeriksa kasus Century sekarang jadi tersangka suap. Ini 
semua terang-terangan,” jelas Yanto, tukang ojek di Kampung Melayu, 
Jakarta Timur. 

Kekerasan
Selain itu, pemerintahan 
Yudhoyono-Boediono terus membiarkan kekerasan pada agama-agama tertentu 
terus berlanjut dan pembelaan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri 
terhadap penutupan rumah-rumah ibadah 
“Sepertinya pemerintah sengaja
 membiarkan ke­kerasan pada kami terus terjadi agar kami tidak perlu 
ber­ibadah lagi karena Menteri Agama membenarkan penutup­an gereja kami.
 ” ujar Ibu Hamonangan dari salah satu gereja yang ditutup di Bogor, 
Jawa Barat. 
Selain itu, rakyat juga menyesali sikap Menteri Luar 
Negeri, Menteri Pertahanan, dan Kepala BNP2TKI yang membiarkan Malaysia 
menginjak-injak kedaulatan Republik Indonesia. “TKI kita sudah disiksa 
dan dihukum mati. Wilayah kita diserobot. Pejabat kita dipenjara, tapi 
masih saja Yudhoyono senang menerima laporan ‘asal bapak senang’ dari 
menteri-menterinya yang sudah menjual TKI dan kedaulatan bangsa,” ujar 
mantan TKI di Malaysia, Syarifah, dari Magelang ketika di­hubungi. 
Retno
 Yulianti, mahasiswa ekonomi UGM, menegaskan bahwa tidak ada capaian 
strategis dalam setahun pemerintahan Yudhoyono-Boediono. Para menteri 
sedang mengumpulkan modal untuk 2014, menyebabkan runtuhnya aspek 
pelayanan kebutuhan dasar masyarakat. Bahkan alokasi dana APBN 2011 akan
 datang, sebagian besar akan dihabiskan untuk reformasi birokrasi. 
“Semua
 menteri rapornya merah, tidak punya prestasi dan malah bikin rakyat 
semakin menderita. Ini kan cermin kegagalan Presiden. Tanya saja sama 
orang desa. Kalau Yudhoyono mau selamat, semua anggota kabinet harus 
dirombak,”  tegasnya. n
                                                                        Kembali 
ke : Cetak Sinar Harapan





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

1.      Moderator tidak bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas 
asli pengirim berita.
2.       ATTACHMENT akan dibanned, krmkan ke pelaut-owner atau upload ke FILE.
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke