Mbak yang manis,
Saya salah satu istri pelaut yang mungkin dalam milis ini bukan
memberi saran tapi cuma berbagi pengalaman bagaimana menjalani hidup
dengan seorang pelaut. Apalagi saya termasuk salah satu dari yang
namanya istri yang jarang ditunggui suami karena melaut.
Mbak, dari kacamata orang awan mungkin akan terasa sangat berat
menjalani rumah tangga tanpa kehadiran suami yang notabene udah kita
miliki tapi jarang mendampingi kita karena menjalankan tugas. Mari
kita lihat dari kacamata seorang istri, yang benar2 tulus mencintai
suami dan mampu memahami profesi suami apalagi yang dilakukan suami
adalah untuk kebahagian keluarga.
Awal perkenalan saya dengan suami menurut beberapa teman yang tau
benar cerita saya mungkin akan bilang sangat unik. Bagaimana tidak,
hanya berawal dari telepon salah sambung, kemudian hanya kontak
telepon selama 1 tahun tanpa benar2 mengetahui bagaimana orangnya,
wajahnya, statusnya, latar belakang keluarganya. hanya bermodal suara.
setahun setelah kontak telepon dan menyelesaikan kontrak kerja, kami
bertemu. dalam waktu 1 minggu keluarganya dan keluarga saya saling
bertemu untuk membicarakan HARI BAIK dan dalam waktu kurang dari 1
bulan kami naik pelaminan. kini kami sudah berumah tangga selama 8
tahun dengan seorang anak laki2 usia 7 tahun dan alhamdulillah saya
benar2 merasakan kebahagian yang paling indah seumur hidup saya. Suami
yang sangat mencintai saya dan anak yang selalu menghibur saya
khususnya saat saya merasakan kesepian mulai datang.
Kepercayaan yang benar2 saling dipertahankan antara suami istri (dalam
hal ini rumah tangga pelaut) mutlak diperlukan untuk kebahagian rumah
tangga. Nggak ngecap lho, jeng. meskipun saya jarang ditunggui namun
sama sekali terbesit dalam benak saya untuk menanam onak dalam rumah
tangga yang nantinya akan berbuntut kehancuran. dan meskipun kata
orang pelaut banyak duit dan berarti banyak godaan (kata orang lho),
saya yakin dan percaya, suami sayapun akan akan berpikir yang sama
dengan saya. menjaga diri, menjaga kepercayaan satu sama lain,
komunikasi (meskipun gak terlalu intens). mempergunakan kesempatan
sebaik-baiknya saat sedang berkumpul dengan membuat moment2 spesial
yang akan jadi sangu suami saat melaut dan jadi pengobat rindu saat
ditinggal suami. saya juga punya beberapa kawan istri2 pelaut yang
kebetulan bernasib sama dan juga pelaut2 senior kenalan suami saya
yang udah gaek tapi rumah tangganya terjaga harmonis sampai punya cucu.
yah, mungkin sedikit pengalaman ini bisa jadi masukan buat mbak.
keteguhan hati akan membuat kita berpaling dari kebimbangan. asal ya
itu ... Kepercayaan yang benar2 harus saling dijaga. tidak saling
melukai perasaan satu dengan yang lain.
Sukses ya mbak
>From Surabaya with love,
Venus
------------------------------------
Moderator tdk bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas asli
pengirim berita. Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/