INI akibatnya jika mental inlander tidak hilang-hilang dari jiwa para pengambil keputusan.
sumber : http://www.iwork- id.org/index. php?action= news.detail& id_news=63 Artikel Pemimpin yang tak paham rakyatnya Bias penandatanganan ASEAN Charter Kabar buruk tentang nasib buruh migran Indonesisa ternyata tidak hanya berupa tindak kekerasan dan perlakukan sewenang-wenang dari para majikan. Namun bisa juga berasal dari sang pemimpin negara. Penandatangan ASEAN Charter oleh 10 pemimpin negara ASEAN, pada 20 November 2007 lalu menjadi kado akhir tahun yang buruk bagi para buruh migran Indonesia. ASEAN Charter dimata 10 pemimpin negara di kawasan Asia Tenggara ini pengaturan ekonomi yang berorientasi pada investasi menjadi lebih penting dari pada mengurusi rakyatnya yang menjadi buruh migran. Para pemimpin ini menjadi tidak paham apa yang seharusnya diberikan untuk kepentingan rakyatnya. Kuman di seberang lautan nampak, tapi gajah di pelupuk mata tidak kelihatanEmerupakan gambaran yang pas untuk ASEAN Charter. Buruh migran yang merupakan persoalan serius dan strategis di kawasan Asia Tenggara lenyap dari pasal dan ayat deklarasi ini. Para buruh migran hanya menjadi seonggok manusia yang tidak penting untuk dibicarakan apa lagi diperjuangkan nasibnya oleh para pemimpin ini. Para pemimpin ini melupakan fakta bahwa ada 15 juta buruh migran asal Asia Tenggara yang bekerja di seluruh dunia. Dari 15 juta buruh migran ini, 40 % terkonsentrasi di kawasan Asia Tengggara. Jumlah yang sangat signifikan untuk seharusnyaEdibicarakan dan menjadi sebuah kesepakatan bersama para pemimpin ASEAN. Indonesia sebagai negara dengan pengirim jumlah buruh migran terbesar ternyata tidak mampu atau memang tidak mau memperjuangkan nasib rakyatnya yang menjadi buruh migran. Tindak kekerasan dan perlakukan tidak manusiawi dari majikan di negara bersangkutan seharusnya bisa ditindaklanjuti dengan membuat kesepakatan bersama di dalam ASEAN Charter ini. Namun apa lacur, tidak dilakukan sama sekali! Momentum untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia teurtama yang menjadi buruh migran telah disia-siakan begitu saja oleh pemimpin kita. Senyuman sang pemimpin pada saat penandatangan deklarasi menjadi paradoks atas keterpurukan nasib jutaaan buruh migran Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Kekerasan dan perlakuan sewenang-wenang yang dialami para buruh migran Indonesia setiap harinya, tak mampu menggugah mata hati sang pemimpin. Sang pemimpin merasa lebih baik mengurusi para investor yang dijamin lebih mampu menaikan citra, dari pada mengurusi buruh migran yang hanya membuat kecut muka perdana menteri Malaysia dan Singapura. ASEAN Charter merupakan penada bagaimana Indonesia bukan negara penting di kawasan Asia Tenggara. Letaknya memang strategis secara ekonomi, namun pemerintah dan rakyatnya bukanlah orang pentingEdi kawasan ini yang harus didengar apa keinginan dan kebutuhannya. Indonesia. Jadi walaupun jumlah rakyat Indonesia di atas 200 juta, bukan menjadi ancaman serius palagi menjadi mitra. Rakyat Indonesia hanya layak menjadi pangsa pasar beragam produk negara-negara tetangga, atau hanya menjadi buruh migran dengan jenis pekerjaan pembantu rumah tangga. (btl) --------------------------------- Support the World Aids Awareness campaign this month with Yahoo! for Good
