Semoga bermanfaat

--- Salahuddin Husein <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Potensi Ekonomi Kelautan
(Menyambut Hari Nusantara 13 Desember)

Republika, Selasa, 13 Desember 2005
http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16


Rokhmin Dahuri
Guru Besar Manajemen Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB; Ketua Umum 
Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia

Selain beban utang dan penurunan daya saing ekonomi, masalah ekonomi 
paling krusial Indonesia adalah kemiskinan (60 juta jiwa) dan 
pengangguran (40 juta orang). Karena itu, setiap sektor pembangunan 
harus berkinerja maksimal dan bersinergi untuk mengatasinya.

Di era globalisasi yang bercirikan liberalisasi perdagangan dan 
persaingan antarbangsa yang makin sengit, segenap sektor ekonomi 
harus 
mampu menghasilkan barang dan jasa (goods and services) berdaya 
saing 
tinggi. Mengingat potensinya sangat besar, sementara permintaannya 
terus 
meningkat --seiring dengan bertambahnya penduduk dunia-- ekonomi 
kelautan diyakini dapat menjadi keunggulan kompetitif dan memecahkan 
persoalan bangsa.

Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, Indonesia 
memiliki potensi pembangunan (ekonomi) kelautan yang besar dan 
beragam. 
Sedikitnya terdapat 10 sektor yang dapat dikembangkan untuk 
memajukan 
dan memakmurkan Indonesia, yaitu: (1) perikanan tangkap; (2) 
perikanan 
budidaya; (3) industri pengolahan hasil perikanan; (4) industri 
bioteknologi kelautan; (5) pertambangan dan energi; (6) pariwisata 
bahari; (7) transportasi laut; (8) industri dan jasa maritim; (9) 
pulau-pulau kecil; dan (10) sumberdaya non-konvensional.

Potensi lestari sumberdaya ikan (SDI) laut Indonesia sekitar 6,4 
juta 
ton per tahun atau 7,5 persen dari total potensi lestari ikan laut 
dunia. Saat ini, tingkat pemanfaatannya baru 4,4 juta ton. Masih ada 
peluang mengembangkan usaha perikanan tangkap di daerah-daerah 
seperti 
pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT sampai 
ke 
ZEEI di Samudra Hindia; Teluk Tomini; Laut Sulawesi; Laut Banda; dan 
ZEEI di Samudra Pasifik. Potensi produksi SDI usaha perikanan 
budidaya 
jauh lebih besar ketimbang perikanan tangkap, sekitar 58 juta ton 
per 
tahun, dan baru diproduksi sebesar 1,6 juta ton (0,3 persen).

Urutan keenam
Saat ini Indonesia merupakan produsen ikan terbesar keenam di dunia 
dengan volume produksi enam juta ton (FAO, 2003). Bila Indonesia 
mampu 
meningkatkan produksi perikanannya, terutama yang berasal dari usaha 
perikanan budidaya, menjadi 50 juta ton per tahun (75 persen dari 
total 
potensi), maka Indonesia bakal menjadi produsen perikanan terbesar 
di dunia.

Hingga kini RRC merupakan produsen ikan nomor wahid dengan total 
produksi 41 juta ton per tahun. Padahal luas laut dan panjang garis 
pantainya hanya setengah dari yang kita miliki. Sekadar contoh, 
usaha 
budidaya tambak udang. Indonesia memiliki lahan potensial untuk 
tambak 
udang sekitar 1,2 juta hektare, dan baru diusahakan 350 ribu hektare 
dengan produktivitas rata-rata 0,6 ton per hektare per tahun.

Jika kita dapat mengembangkan usaha tambak udang seluas 500 ribu 
hektare 
dengan produktivitas rata-rata dua ton per hektare per tahun, akan 
menghasilkan satu juta ton udang dan devisa 6 miliar dolar AS per 
tahun 
--setara dengan total devisa dari seluruh ekspor tekstil kita. 
Tenaga 
kerja yang terserap sekitar tiga juta orang.

Rumput laut dengan segenap produk hilirnya bahkan dapat menghasilkan 
devisa 8 miliar dolar AS per tahun. Lainnya adalah mutiara, kerapu, 
kakap, baronang, bandeng, nila, lobster, kepiting, rajungan, 
teripang, 
abalone, dan ikan hias. Lebih dari itu, Indonesia memiliki 
keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Karena itu, potensi 
ekonomi industri bioteknologi kelautan sangat besar berupa industri 
farmasi (seperti Omega-3, squalence, viagra, dan sun-chlorela); 
industri 
kosmetika; bioenergi; dan industri lainnya.

Secara potensial, nilai ekonomi total dari produk perikanan dan 
bioteknologi kelautan Indonesia diperkirakan sebesar 82 miliar dolar 
AS 
per tahun. Untuk pariwisata bahari, Negara Bagian Queensland, 
Australia, 
dengan panjang garis pantai 2.100 kilometer, mampu menghasilkan 
devisa 2 
miliar dolar AS pada 2002. Maka sebenarnya potensi ekonomi 
pariwisata 
bahari Indonesia sangatlah besar. Hampir 70 persen produksi minyak 
dan 
gas bumi kita berasal dari kawasan pesisir dan laut. Potensi ekonomi 
perhubungan laut, juga diperkirakan sekitar 14 miliar dolar AS per 
tahun.

Di sektor jasa penyediaan tenaga kerja pelaut, potensinya pun luar 
biasa 
besarnya. Kebutuhan pelaut dunia pada 2000 sebanyak 1,32 juta orang 
dengan gaji mencapai 18 miliar dolar AS per tahun. Indonesia baru 
memasok 34 ribu orang (3 persen). Sedangkan Filipina 191 ribu pelaut 
(25 
persen) dan RRC 104 ribu pelaut (10 persen). Belum lagi potensi 
ekonomi 
dari sektor industri dan jasa maritim.

Ekonomi kelautan makin strategis seiring pergesaran pusat kegiatan 
ekonomi dunia dari Poros Atlantik ke Poros Pasifik. Hampir 70 persen 
dari total perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia-Pasifik, 
dan 75 
persen dari barang-barang yang diperdagangkannya ditransportasikan 
melalui laut Indonesia (Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makassar, 
dan 
laut-laut lainnya). Seharusnya Indonesia mendapat keuntungan paling 
besar dari posisi kelautan global tersebut. ''Geographical position 
is 
the destiny for a nation-state'', begitu kata Captain AT Mahan of 
The US 
Navy.

Empat tujuan
Pembangunan kelautan hendaknya diarahkan untuk meraih empat tujuan 
secara seimbang, yakni: (1) pertumbuhan ekonomi tinggi secara 
berkelanjutan; (2) peningkatan kesejahteraan seluruh pelaku usaha, 
khususnya para nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat kelautan 
lainnya yang berskala kecil; (3) terpeliharanya kelestarian 
lingkungan 
dan sumberdaya kelautan; dan (4) menjadikan laut sebagai pemersatu 
dan 
tegaknya kedaulatan bangsa.

Untuk merealisasikannya, perlu dilaksanakan empat agenda pembangunan 
kelautan secara terpadu, yaitu penegakkan kedaulatan di laut; 
menyusun 
dan mengimplementasikan tata ruang kelautan nasional guna menjamin 
kepastian dan efisiensi investasi di bidang kelautan, serta 
kelestarian 
ekosistem pesisir dan laut; peningkatan produktivitas dan efisiensi 
usaha ekonomi kesepuluh sektor kelautan tersebut. Selanjutnya, 
sebagian 
hasil (economic rent)-nya digunakan membiayai agenda pertama dan 
kedua.

Dalam jangka pendek, sektor-sektor ekonomi kelautan yang layak 
(feasible) dan mampu memecahkan permasalahan ekonomi adalah 
perikanan 
budidaya, perikanan tangkap, industri pengolahan hasil perikanan, 
industri bioteknologi kelautan, pariwisata bahari, industri 
pelayaran 
(perhubungan laut), industri maritim, dan pembangunan pulau-pulau 
kecil.

Pembangunan perikanan budidaya dan perikanan tangkap hendaknya 
dilaksanakan dengan menerapkan sistem bisnis perikanan secara 
terpadu 
yang mencakup aspek produksi, penanganan dan pengolahan, dan 
pemasaran 
hasil perikanan. Selain itu, prioritas pembangunan seyogianya fokus 
pada 
komoditas unggulan, yakni udang, kerapu, kakap, bandeng, nila, 
patin, 
kepiting, rumput laut, dan kerang mutiara untuk perikanan budidaya. 
Udang, tuna, cakalang, ikan demersal dan pelagis kecil yang bernilai 
ekonomis tinggi untuk perikanan tangkap.

Sehubungan dengan pasar produk hilir rumput laut yang sangat besar 
atau 
tak terbatas dengan harga ekspor tinggi (4-70 dolar AS per kg) dan 
Indonesia memiliki potensi produksi rumput laut terbesar di dunia 
(18 
juta ton rumput laut kering per tahun), maka fokus industri 
bioteknologi 
kelautan seyogianya untuk menghasilkan produk semi-refined dan 
refined 
(produk akhir) rumput laut jenis karaginan, alginat, dan agarosa 
untuk 
industri farmasi, kosmetik, diary products, tekstil, cat, dan 
industri 
lainnya.

Untuk perhubungan laut, tinggal mengimplementasikan Inpres No 5/2005 
secara serius dengan memberlakukan azas cabotage; meningkatkan 
produktivitas dan efisiensi pelayanan pelabuhan laut; mengembangkan 
Pelabuhan Sabang, Batam, Tanjung Priok, dan Bitung sebagai 
International 
Hub Port; penguatan dan pengembangan industri galangan kapal 
nasional 
(PT PAL, PT IKI, PT Koja Bahari, dan lain-lain); dan peningkatan 
produktivitas dan efisiensi manajemen pelayarannya itu sendiri.

Keempat agenda tersebut sesungguhnya sudah dilaksanakan oleh Dewan 
Maritim Indonesia (DMI), DKP, eserta departemen/instansi dan 
stakeholders terkait lainnya sejak awal 2000. Dan secara faktual, 
geliat 
pembangunan kelautan mulai menunjukkan hasilnya.

Dari perspektif geopolitik, hukum dan perundangan di bidang kelautan 
telah disusun dan disempurnakan. Seperti penyempurnaan UU No 9/1985 
tentang Perikanan yang telah diundangkan sejak 6 Oktober 2004 
menjadi UU 
No 31/2004 tentang Perikanan. Juga Inpres No 5/2005 tentang 
Pelayaran 
Nasional, RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir, RUU Kelautan, PP No 
38/2002 
tentang Garis Pangkal Indonesia, dan rencana Keppres tentang 
Pengelolaan 
Pulau-Pulau Terluar dan Wilayah Perbatasan.

Inventarisasi jumlah, penamaan, penyusunan basis data, dan 
pembangunan 
pulau-pulau kecil pun mulai digiatkan sejak awal tahun 2000. Berkat 
kerja sama sinergis antarinstansi terkait, utamanya DKP, 
Bakosurtanal, 
Dishidros TNI-AL, Depdagri, dan Deplu, kita pun telah berhasil 
mempublikasikan ''Peta NKRI'' sejak 2 Mei 2003.

Dari perspektif geoekonomi, pembangunan ekonomi kelautan di sektor 
perikanan, perhubungan laut, pariwisata bahari, pertambangan dan 
energi, 
dan industri maritim pun terus mengalami perbaikan. Namun demikian, 
perbaikan pembangunan ekonomi di berbagai sektor kelautan tersebut 
masih 
jauh dibanding potensinya.

Sekiranya kita mampu meningkatkan intensitas pembangunan ekonomi 
kelautan secara profesional, bidang kelautan tidak hanya mampu 
mengeluarkan kita dari persoalan kemiskinan dan pengangguran, tapi 
juga 
dapat menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang maju, adil-makmur, 
dan 
bermartabat. Untuk mewujudkan ini, maka kebijakan politik-ekonomi 
(seperti fiskal-moneter, hukum, keamanan, otda, infrastruktur, dan 
ketenagakerjaan) harus kondusif bagi tumbuh-kembangnya ekonomi 
kelautan.

Sinergi revitalisasi
Dalam konteks inilah, seharusnya gerakan nasional Revitalisasi 
Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan yang kental dengan orientasi 
daratan 
disinergikan dengan revitalisasi pembangunan kelautan. 
Infratsructure 
Summit mestinya disinergikan dengan Agricultural Summit dan Maritime 
Summit, sehingga kita mampu mendayagunakan seluruh potensi SDA dan 
SDM.

--- End forwarded message ---









JALESVEVA YAYAMAHE 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/pelaut/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke