Semoga semua yang terbaik bagi para pelaut Indonesia!


On Nov 1, 2005, at 5:15 PM, Budiman wrote:

Salam Pelaut,

 

Hari Rabu 26/10 Mr Kiyoshi ISOGAI mengunjungi kantor CIMA. Beliau adalah JICA EXPERT FOR SEAFARERS EDUCATION, TRAINING. JICA=Japan International Cooperation Agency (www.jica.co.id) Maksud kunjungannya adalah antara lain:

  1. Memberitahukan keberadaan JICA khususnya yang berhubungan dengan pendidikan Pelaut di Indonesia. Antara lain proyek BPLPD (sekarang BP2IP) Barombong.
  2. Memberitahukan rencana kunjungan Kabadandiklat ke Jepang bulan Desember yad untuk memperkenalkan sistim  pendidikan Pelaut Indonesia. Khususnya untuk Pelaut Kapal Niaga. Pelaut kapal perikanan tidak disinggung disini.
  3. Menanyakan apakah masih diperlukan adanya tambahan sekolah Pelayaran.
  4. Memberitahukan kurangnya tenaga Pelaut Jepang terutama disektor perikanan.
  5. Kurangnya informasi yang masuk ke sekolah Pelayaran sehingga mengakibatkan terkonsentrasinya Pelaut di Jakarta
  6. Kurangnya penguasaan bahasa Inggris

 

Komentar/Jawaban CIMA:

  1. Sebaiknya JICA dan instansi terkait di Jepang membuat daftar apa saja yang mereka butuhkan, semua input mengenai baik/buruknya, kelebihan/kekurangannya Pelaut Indonesia. Sebaliknya CIMA juga bersama instansi/organisasi terkait akan membuat hal yang sama. Dengan bahan bahan yang ada kita baru bisa membandingkan catatan. Mengusulkan perbaikan. Apa yang bisa diperbuat oleh Jepang dan apa yg bisa diperbuat oleh Indonesia.
  2. Khusus mengenai point.2 diatas. CIMA memberitahukan juga potensi Pelaut Perikanan Indonesia. Mengapa ada ijazah yang berbeda untuk Kapal Niaga dan Kapal Perikanan. Di Jepang memang tidak mengenal sistim ini. Hanya ada satu jenis ijazah saja.
  3. Menjawab pertanyaan point.3, CIMA mengatakan dengan jumlah sekolah yg ada termasuk Rating School yg akan dibangun di Pangkalan Brandan dan Sorong sementara ini sudah cukup. Kalau sudah jadi berarti kita akan mempunyai 5 BP2IP.Yg sudah beroperasi Tangerang, Surabaya,Barombong. Dana yang ada sebaiknya dibuat untuk Short Course menambah keterampilan pelaut yang ada. Misalnya pengadaan simulator Dynamic Positioning. Juga pengadaan buku text atau pengetahuan praktis dalam bahasaIndonesia. Yang harus diperhatikan adalah kesempatan kerja untuk lulusan sekolah tersebut. Traget apa yang ingin dicapai dengan adanya sekolah tersebut. Adanya good will / political will dari pemerintahan agar Pelaut yang dihasilkan dapat segera bekerja. Perusahaan pelayaran juga bisa mendapatkan Pelaut yang proses pendidikannya benar.
  4. Cima menanyakan soal program kadet dikapal Jepang (ODA). Mengapa jumlahnya menurun. JICA mengatakan hal ini disebabkan berkurangnya perusahaan kapal Jepang yang mau menerima kadet program tersebut. Hal ini tentunya bertentangan dengan informasi JICA point 4. Program pengenalan untuk Pelaut Indonesia harus lebih digalakkan baik itu untuk Pelaut kapal Niaga maupun kapal Perikanan.
  5. Komentar CIMA mengenai point 5: Memang Jakarta pusatnya kegiatan Perkapalan. Di Indonesia belum ada Seaman’s Registration Board. Siapa yang berwenang dalam hal ini masih saling lempar.
  6. Penguasaan bahasa Inggris oleh Pelaut Indonesia terutama Perwira sekarang sudah lebih baik. Masalahnya kalau kita berhubungan dengan Perwira yang katakanlah bahasa Inggris bukan bahasa Ibunya, maka disinilah masalahnya muncul. Nakhoda Jepang yang bahasa Inggrisnya pas-pasan harus berhadapan dengan Pelaut Indonesia yang pas-pasan. Kalau bisa saling mengerti sudah baik.

 

Kesimpulan:

Kalau memang Jepang kekurangan Pelaut dan berminat untuk mempekerjakan Pelaut Indonesia, sebetulnya tidak ada masalah. Tinggal bagaimana komitment mereka. Sebaiknya jangan G to G. Pengusaha Jepang bisa langsung ketemu pengusaha Indonesia disponsori JICA. Buat MOU. Kalau perlu dirikan Balai Pelatihan Khusus Pelaut Indonesia untuk kapal Jepang. Training yang dilakukan Harini untuk tenaga deck hand perikanan bisa menjadi contoh.

 

 

Budiman

 



JALESVEVA YAYAMAHE 



YAHOO! GROUPS LINKS







JALESVEVA YAYAMAHE



YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke