Bisakah kita mengatakan sekarang bahwa USD = 12000 sebagai topnya?

WARNING: Cumi-cumi mengandung 1,170mg kolesterol per 10 gr, sedangkan daging
ayam tanpa kulit hanya 50mg saja.


2009/3/23 Hanif Mantiq <hanif_man...@yahoo.com>

>
> *Rupiah seminggu terakhir ditutup menguat bahkan hari ini mencapai
> 11.500. Penguatan rupiah ini sebagian besar disebabkan dari pelemahan
> us dolar terhadap seluruh mata uang di dunia.
>
> Mengapa us dollar mengalami tekanan? gampang saja jawabannya,
> pemerintah us di sana sedang menghadapi perang melawan pengangguran,
> dan cara yang paling gampang adalah memakai ekspansionary policy yaitu
> dengan kebijakan moneter dari fed dengan menurunkan suku bunga.
>
> Rupanya cara menurunkan suku bunga tersebut masih belum dianggap cukup,
> gebrakan berikutnya yang mengejutkan adalah membeli kembali surat utang
> yang diterbitkannya. Tentu saja ini akan membanjiri pasokan dollar di
> pasar global. Kedua langkah yang cukup berani tersebut tentu saja akan
> menyebabkan inflasi yang tinggi.
>
> Kebijakan mentri keuangan ini mendapatkan tentangan di partai republik
> yang menyatakan bahwa kebijakan tersebut sama saja dengan
> membangkrutkan Amerika. Mereka yang terbiasa main di banyak instrument
> tentu akan menjual dollar mereka dan membeli mata uang lainnya dan
> untuk menghindari inflasi sebagian besar akan masuk ke pasar komoditas
> sebagai salah satu anti inflasi strategi.
>
> Makanya tidak heran selain pelemahan mata uang us dollar terhadap
> hampir sebagian besar mata uang dunia dampak lainnya adalah semakin
> naiknya harga komoditas di pasaran global.
>
> Lupakan dulu masalah global bukan itu yang ingin saya utarakan,
> pertanyaan yang paling penting adalah apa dampaknya di Indonesia?
>
> Seperti yang kita ketahui belakangan ini langkah bank Indonesia
> menurunkan BI rate sepertinya kurang disambut dengan penurunan suku
> bunga kredit bank. Alasannya para bankir adalah para deposan meminta
> suku bunga deposito yang tinggi sehingga mereka kesulitan untuk
> menurunkan suku bunga pinjaman. Benarkah demikian, menurut hemat saya
> memang ada faktor tersebut tapi bukan yang paling utama. Yan paling
> penting adalah bank sedang kesulitan likuiditas. Kesulitan likuiditas
> ini dilakukan dengan menyerap dana pihak ketiga secara agresif.
> Pertanyaannya, mangapa mereka agresif menyerap dana pihak ketiga
> sedangkan penyaluran kredit di encret encret.
>
> Pribadi merasa curiga
> penyerapan dana masyarakat tersebut sebagian besar dibelanjakan oleh
> bagian treasury utamanya untuk membeli obligasi karena yield obligasi
> kita memang sedang tinggi-tingginya atau malah dipakai memborong dollar
> pake rupiah terutama oleh bank valas. Nah bila kedua tujuan pengalihan
> tersebut sekarang sedang berbalik arah yaitu rupiah malah menguat dan
> yieild obligasi sedang bergerak turun, tentu saja mereka akan menjual
> valas dan obligasinya (harga obligasi akan meningkat bila yieldnya
> turun), akibatnya adalah mereka memiliki likuiditas baru.
>
> Pribadi menduga, likuiditas segar dari valas dan penjualan obligasi ini
> nantinya akan menyebabkan bank tidak terlalu mengejar deposan/ dana
> pihak ketiga, dan mulai menyalurkan untuk kredit pinjaman. Ketika
> menyalurkan kredit pinjaman inilah maka suku bunga kredit pinjaman
> sedikit demi sedikit akan turun.
>
> Bila BI ingin mempercepat penurunan suku bunga pinjaman, maka langkah
> yang berikutnya adalah menunggangi penguatan rupiah dengan kembali
> menurunkan suku bunga BI rate, terlebih BI sekarang fokus kepada
> inflation targetting, dimana penguatan rupiah akan menyebabkan inflasi
> turun karena banyak barang indonesia yang diimport dari pihak luar.
>
> Kesimpulannya, selamat datang rezim suku bunga murah dan good luck for all
> interest sensitive sector :)
> CMIIW*
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------------
>
> + +
> + + + + +
> Mohon saat meREPLY posting, text dari posting lama dihapus
> kecuali diperlukan agar CONTEXTnya jelas.
> + + + + +
> + +Yahoo! Groups Links
>
>
>
>

Kirim email ke