Alhamdulillah masih banyak saudara kami yang peduli atas penderitaan 
bangsanya. Saya tidak tau persis apakah organisasi SIRA yang termasuk kedua 
populer dalam membela kaum dhu'afa Acheh - Sumatra setelah GAM sendiri, ikut 
serta dalam demo menentang Konferensi BBR Kuntoro cs itu atau tidak?  Ada suara 
sumbang sebelumnya terhadap SIRA bahwa "sira" itu tidak asin lagi katanya 
setelah Bossnya meraih kekuasaan.  Andaikata dalam Demo kali ini SIRA tidak 
ikut serta, tidak ada alasan lagi bagi SIRA untuk membela dirinya atas 
penilaian yang begitu negatif buat mereka.  
   
  Sekali lagi, kami sangat bangga atas masih banyaknya orang Acheh - Sumatra 
yang peduli terhadap setiap bentuk kedhaliman terhadap kaum dhu'afa. 
Orang-orang "berdasi" di Acheh kini berkomat-kamit di mulutnya tentang 
terkutuknya perbuatan korupsi, tapi begitu berhadapan dengan realitanya, mata 
mereka lansung kabur tak memahami kalau sepak terjang Kuntoro cs itu termasuk 
juga dalam katagori korupsi. Hanya saja mendapat legitimate dari penguasa 
Jawakarta. Ironisnya Kuntoro cs itu setelah terjerumus kedalam manipulasi uang 
ta'ziah para korban Tsunami dan segala jenis korban lainnya, mereka juga 
bersenang senang di Swiss belHotel 
Banda Acheh
 dengan lavel "Konferensi".
   
  Sepertinya orang-orang "berdasi" itu hanya membenci nama saja daripada kata 
korupsi atau memang mereka itu seperti istilah "Maleng teriak maleng". Pabila 
mereka termasuk dalam katagori terakhir ini, sungguh malapetaka Acheh tak akan 
berakhir, mengingat banyaknya "manusia berdasi" ini saling bahu membahu untuk 
keberhasilan mereka dalam menipu kaum dhu'afa Acheh - Sumatra, kecuali 
orang-orang yang peduli terhadap kaum dhu'afa  benar-benar nekat hingga usaha 
mereka yang suci itu terus berlanjut tanpa mengenal putus asa.
   
  Kepada Gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, wali kota, wakil wali 
kota dan segenap pendukungnya kami mengharapkan sangat agar dapat senantiasa 
memihak kepada kaum dhu'afa. Kalau kalian melupakan mereka dan memihak atasan 
yang bathil, tunggulah azab Tuhan yang akan menimpa kalian, kalau tidak didunia 
setelah 5 tahun mendatang di Akhirat sudah barang pasti. Kalian sungguh diuji 
Allah dengan jabatan yang kalian miliki itu.
   
  Menyimak pidato Irwandi dalam menyambut konferensi BBR Kuntoro cs itu, kami 
sangat pilu kenapa beliau memihak atasan, tidak memihak kaum dhuafa. Apa 
salahnya kalau dia katakan bahwa seandainya mendapat tantangan dari pihak 
rakyat yang memihak kaum dhu'afa, sebaiknya konferensi itu dibatalkan saja. 
Soal kecewanya orang-orang luar negeri setelah mereka bersusah payah datang ke 
Acheh, perduli amat terhadap mereka kalau kita meyakini bahwa kutukan Allah 
disebabkan mengabaikan kaum dhu'afa jauh lebih penting daripada menjaga 
perasaan orang-orang yang syubhat itu.
   
  Semoga tulisan ini bermanfaat buat orang-orang yang selama ini mengabaikan 
kaum dhu'afa, hingga mereka dapat bertaubat kepada Allah dari kesalahan mereka 
itu.
   
  Billahi fi sabililhaq
  Muhammad Al Qubra
   
   
   
   
  Berita Acehkita.com
            Minggu, 25 Februari 2007, 15:49 WIB
Aktivis Sipil Demo Konferensi BRR
Reporter : AK News
  
Banda Aceh
, acehkita.com. Konferensi internasional tentang Aceh dan Samudera Hindia yang 
diselenggarakan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias di Swiss 
belHotel 
Banda Aceh
, mendapat protes dari kalangan aktivis. Tadi sekitar pukul 10.30 WIB, 
tigapuluhan aktivis sipil melancarkan aksi demonstrasi menentang konferensi 
tersebut.   
  Aksi yang dilakukan sejumlah aktivis ini terbilang unik. Mereka memakai kain 
sarung dan melakukan happening art. 
Ada
 juga yang mengecat muka mereka dengan cat putih, mirip pelakon pantomim. 
Ada
 juga yang berpeci haji berperan sebagai rektor 
Ieng Eng Angin Mamiri
. Atau seorang pria berkacamata hitam memakai peci toga, sembari membawa buku 
tebal. Dia berperan sebagai rektor 
Sekolah Dokarim
. Beberapa aktivis lain mengusung poster yang bertuliskan kata "
Cukup Sudah
".   
  Satu unit mobil 
Volk Wagen
 bercat biru mengikuti peserta aksi. Di dinding mobil tertulis UNDOC. Jangan 
salah sangka, mobil ini bukan milik United Nations yang memang banyak 
bersileweran di jalanan Kota Banda Aceh. UNDOC adalah singkatan dari United 
Nothing for Dokarim Commissions.   
  Mereka memulai aksi dengan berjalan kaki dari Simpang BPKP menuju Swiss 
belHotel, tempat konferensi digelar. Di depan Swiss bel, Reza dari Komunitas 
Tikar Pandan, membacakan puisi mengritik kebijakan BRR yang dinilai 
menghambur-hamburkan dana korban tsunami dalam menyelenggarakan konferensi itu. 
  
  Pada sesi selanjutnya, Wiratmadinata, Sekretaris Jenderal Forum LSM Aceh, 
membacakan komunike bersama 25 LSM yang menolak penyelenggaraan konferensi yang 
menelan dana Rp1,7 miliar itu.   
  Koordinator Gerakan Anti-Korupsi Akhiruddin Mahjuddin --dalam orasinya-- 
mengatakan, penggunaan dana Rp1,7 miliar bagaikan puncak gunung es 
ketidakkonsistenan BRR dakam menggunakan dana milik korban tsunami tersebut. 
"Puluhan ribu pengungsi masih berada di barak-barak. Dan ribuan korban menerima 
rumah dengan kualitas buruk, tapi mereka malah berpoya-poya di tempat yang 
sangat mewah ini," kata dia.   
  
Para
 aktivis ini juga menolak dikatakan mereka sebagai antiasing, antikosmopolitan. 
"Kami tidak antikosmopolit, tidak antipengaruh barat," kata Fauzan Santa, 
rektor 
Sekolah Menulis Dokarim
. Dia mengenakan topi toga, yang di talinya bergelantungan seekor "tikus".   
  "Kami menolak konferensi ini bukan karena antiasing, tapi kami menolak 
penggunaan dana BRR yang saat sekarang ini belum layak digunakan," kata Reza, 
"rektor 
Ing Eng Angin Mamiri
".   
  Aksi ini mendapat perhatian luas dari penguna jalan. Pengamanan dari 
kepolisian tidak terlalu ketat, kendati banyak personel yang dikerahkan. 
Kapoltabes Banda Aceh
, 
Kombes Zulkarnaen
, terlihat mondar-mandir di lokasi aksi.   
  
Ada
 beberapa peserta konferensi yang membolos ingin melihat dari dekat protes ini. 
  
  Direktur Tikar Pandan, Azhari, mengatakan, aksi protes ini akan berlangsung 
hingga malam ini. Mereka sudah mendirikan "tenda" di trotoar jalan persis di 
depan Swiss belHotel.   
  Sementara itu, Konferensi Internasional ini sudah memasuki hari kedua. Pada 
hari ini, materi yang dibahas adalah seputar "Sejarah Aceh dan Kawasan Samudera 
HIndia", yang menampilkan pembicara: Daniel Perret (peneliti di Ecole francaise 
d'Extreme-Orient), Teuku Iskandar (Leiden, The Netherlands), Annabel Teh Gallop 
(British Library, London, UK), Jean Gelman Taylor (University of New South 
Wales, Sydney, Australia), Ismail Hakko Goksoy (Turki), dan sejumlah pembicara 
lain.   
  Pada sesi selepas salat duhur, tampil pembicara untuk materi "Islam, Hukum, 
dan Masyarakat". Sesi ini akan membahas mengenai perkembangan Islam, hukum, dan 
masyarakat di Aceh dan 
Samudera Hindia
. Pembicara di antaranya, dari Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, 
Alyasa Abubakar (Kepala Dinas Syariat Islam), Nurjannah Ismail (IAIN 
Ar-Raniry), dan Mohaghegh Damad dari Iran. [dzie]   













         [Kembali ke indeks]          Rakyat secara mayoritas sudah menolaknya, 
tapi kaum diktator dibawah Kuntoro itu lebih kuat kukunya di Acheh daripada 
rakyat secara Demokrasi. Bahkan Kuntoro cs  itu memperlihat kukunya lebih tajam 
dari pemerintah Irwandi - Nazar sekarang ini.
   
  Saya yakin kalau kekuasaan kuntoro tidak dihentikan, Penguasa Acheh yang baru 
sekarang tidak dapat berbuat apa-apa terhadap pembangunan Acheh - Sumatra.  
Sungguh sangat ironis kalau ada suara yang meminta agar Irwandi - Nazar dapat 
bekerja sama dengan pihak Kuntoro, penghisap darah para musibah stunami Acheh 
itu. Kuntoro cs itu persis bagaikan benalu yang akan mematikan pohon Irwandi - 
Nazar. Tidak sadarkah kita?
   
  Kalau sebelum terpilih gubernur baru, okelah masih punya alasan dibentuk 
lembaga lain untuk mengurus Rehabilitasi  Acheh. Tapi sekarang sudah memiliki 
gugernur yang permanen tunggu apa lagi, tidak mendepak Kuntoro cs yang 
nyata-nyata macam Murua melahab bangkai para korban Tsunami. Sudah demikian 
maksimalnya kami tegur kalian hai pelanjut penjajahan terselubung di Acheh 
masihkah kalian degil macam makhluk yang tidak punya rasa malu sedikitpun? 
Kalau orang Acheh Asli kami kutuk demikian, sudah dulu hengkang dari bumi 
Acheh. Itu berarti mereka masih tau malu. Tapi bangsa kalian?  Salahkah kalau 
kami mengutuknya?  Pantaskah kami berbahasa enggeh-enggeh?
   
  Kami akan berlemah lembut dengan kalian, kalau kalian tidak bersikap 
menjebalkan dan munafiq ter4hadap kami. Sekarang obat apalagi hendak disulut 
kemulut kalian agar menjembuhkan penyakit aneh itu?  Maasya Allaaaah.
   
  Tanggapan ini tidak kutulis ke "Acehkita.com" sebab si Fakrurradziepun saya 
lihat tidak adil dalam berdemokrasi. Nampaknya dia juga akan masuk perangkap 
"asal bapak senang", saya enggeh-enggeh saja untuk mengorbankan Demokrasinya.
   
  alqbr,-
   
   
   
  Berita
            Jumat, 23 Februari 2007, 11:35 WIB
BRR Tetap Adakan Konferensi Aceh
Reporter : AK News
  
Banda Aceh
, acehkita.com. Kendati menuai penolakan dari puluhan lembaga sipil di Aceh, 
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias yang bekerjasama dengan Asia 
Research Institute – National University of Singapore, tetap akan menggelar 
konferensi internasional tentang Kajian Aceh dan Samudra Hindia, pada 24-26 
Februari.
    Menurut Ketua Panitia Konferensi, Fuad Mardhatillah, dalam memenuhi 
kebutuhan dasar rakyat tidak saja menyangkut pembangunan rumah dan 
infrastruktur, tetapi juga kebutuhan dasar non-fisik yang berupaya upaya 
pencerdasan dan peningkatan kapasitas intelektual sumberdaya manusia Aceh. 
    Hal ini, tambah Fuad, sesuai amanah blue print yang menyebutkan tugas BRR 
tidak hanya membangun sarana fisik, tetapi juga membangun kembali kehidupan 
masyarakat Aceh dalam makna yang lebih luas, khususnya kapasitas sumberdaya 
manusia Aceh untuk membangun masa depannya. 
    “Jadi, pada gilirannya hasil dari konferensi ini akan bermanfaat bagi 
seluruh masyarakat Aceh. Lagi pula, Pembangunan sarana fisik dan peningkatan 
sumberdaya manusia tidak bisa dipisahkan. Dia berjalan seiring,” tegas Fuad.
    Sebelumnya, masyarakat sipil Aceh menyatakan penolakannya terhadap 
penyelenggaraan konferensi internasional tentang 
Studi Aceh
 dan Samudera 
India
 pada 24-26 Februari mendatang. Apalagi, konferensi yang menelan dana Rp1,7 
miliar itu tidak menjamin bermanfaat bagi korban.
    Koalisi masyarakat sipil yang menolak konferensi itu terdiri atas 25 
organisasi, di antaranya: Forum LSM, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Koalisi 
NGO HAM, Gerakan Anti-Korupsi, Flower, Lembaga Bantuan Hukum, Sentral Informasi 
Referendum Aceh, Greenomics Jakarta, Partai Rakyat Aceh, Komite Pemantau 
Perdamaian dan Demokrasi, dan SAKSI Simeulue. Sementara dari kalangan 
intelektual ada nama Agus Nur Ama (yang lebih dikenal dengan sebutan 
Agus PMTOH
), Mukhlis A. Hamid, dan 
Fikar W. Eda
 (seniman 
Aceh di Jakarta
).
    Menurut mereka, ada tiga alasan mendasar menolak penyelenggaraan konferensi 
yang diikuti sejumlah perwakilan dari negara-negara yang terkena bencana 
tsunami 26 Desember 2004 lalu. "Dari segi etik, pelaksanaan konferensi tidak 
menunjukkan sama sekali sikap dan tanggung jawab intelektual yang berpihak pada 
amanat penderitaan rakyat," sebut petisi tersebut. "Ini adalah sebuah wujud 
konferensi yang satir dan memalukan."
    Fuad menjelaskan, konferensi itu sangat penting untuk menggali kembali 
potensi Aceh secara lintas sektoral dari sudut pandang pakar internasional. 
Apalagi, menurut Fuad, Aceh baru saja dilanda bencana tsunami dan konflik yang 
berkepanjangan. 
    “Dari konferensi ini diharapkan akan lahir lembaga riset bertaraf 
internasional mengenai Aceh yang nantinya akan memberi kontribusi bagi kemajuan 
intelektual daerah ini,” kata Fuad dalam siaran persnya.
    
Para
 pembicara dan pengamat yang bersedia hadir dalam konferensi ini adalah mereka 
yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat Aceh baik secara akademis, maupun 
karena kedekatan mereka dengan penyusunan qanun/hukum di Aceh, kelompok LSM 
Aceh maupun karena kedekatan personal dan institusional dengan masyarakat Aceh. 
    Masih menurut Fuad, konferensi internasional ini akan membahas enam subyek 
yaitu Aceh dari sisi sejarah Aceh dan kawasan Samudra Hindia; bahasa, budaya 
dan masyarakat Aceh; resolusi konflik, perdamaian dan isu demokrasi; 
seismologi, geologi dan lingkungan serta rekonstruksi Aceh pasca tsunami dan 
mitigasi bencana. Akan dibahas juga mengenai Islam, hukum dan kaitannya dengan 
masyarakat Aceh dan program-program yang relevan bagi masyarakat. 
    Selain konferensi dan diskusi kelompok akan diselenggarakan pula pameran 
yang berhubungan dengan artefak (benda bersejarah), manuskrip (dokumen kuno) 
mengenai sejarah Aceh di Museum Negeri Aceh pada 26 Pebruari – 4 Maret 2007. 
Manuskrip yang dipamerkan diantaranya koleksi Negara Turki (periode tahun 1566 
s/d 1897) sebanyak 28 naskah, koleksi Portugis (periode tahun 1522/1820) 
sebanyak  6 naskah dan 10 gambar ilustrasi, koleksi Perancis (periode tahun 
1602 s/d 1578) berupa 3 gambar ilustrasi, koleksi Inggris (periode tahun 1602 
s/d 1811) 5 naskah dan koleksi Denmark (periode tahun 1703 s/d 1743) sebanyak 3 
naskah. [dzie]
    Baca juga:
Sipil Aceh Tolak Konferensi Internasional BRR
  












         [Kembali ke indeks]
                                
---------------------------------

Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass 
http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke