APLIKASIKANLAH ISLAM ITU SECARA KAFFAH KALAU TIDAK, TINGGALKAN SAMA SEKALI
   
   
  Judul ini berasal dari sub judul salah satu buku yang ditulis oleh saudaraku 
dari Sunni, Asy-Syahid Sayyid Qutub. Beliau menjelaskan bahwa Islam itu harus 
dipahami dan diaplikasikan secara “Kaffah” sesuai ayat Allah: “Ya ayyuhal 
lazina amanud khulu fissilmi kaffah, wala tattabiu khutuwatisy syaithan. Innahu 
lokum ‘aduwwum mubin”(Q.S. 2: 2008)  Andaikata kita  tidak memahami Islam 
secara kaffah, kita akan mengalami pertentangan-pertentangan sebagaimana yang 
terjadi dalam system Indonesia dan juga system-system lainnya yang tidak redha 
Allah. Sebagaimana yang kita lihat bahwa sebahagian orang mencela polygami 
dengan argumentasi yang mantap sementara yang lainpun membela mati-matian 
dengan menggunakan ayat-aytat Allah untuk menguatkan argumentasinya. Yang jelas 
persoalan tersebut tidak akan pernah selesai sebelum kita memahami dan 
mengaplikasikan Islam itu secara kaffah.
   
  Sejak dulu hingga sekarang ini, kita disibuki dengan kasus-kasus seperti itu. 
Persoalan piligami sudah jelas tidak dilarang dalam Al Qur-an dan Hadist. Namun 
sayang sekali kebanyakan orang-orang yang mengku diri beragama Islam, hanya 
mengambil sebahagian saja ayat Al Qur-an, lalu mencampakkan sebahagian yang 
lainnya. Mereka menggunakan Al Qur-an hanya untuk persoalan kawin, sementara 
persoalan yang paling prinsipil dan signifikan mereka tinggalkan samasekali. 
Kalau kita hanya berbicara Al Qur-an ketika kita ingin menambah isteri yang 
lebih muda atau yang lebih cantik, wajar kalau bukan saja orang orang non 
Muslim yang menghujatnya tapi juga orang Islam sendiri. 
   
  Katakanlah Aa Gym itu pendakwah yang dikagumi banyak orang di Indonesia, tapi 
kenapa kita tidak mempersoalkan pendakwah tipe yang bagaimana dia itu. Bukankah 
dia itu berdakwah dalam system Indonesia yang Pancasilais sebagaimana Zainuddin 
MZ yang kerapkali menghujat "Firaun-firaun moderen", sebaliknya dia sendiri 
justru berjingkrak-jingkrak dalam ketiak "Firaun-firaun moderen" tersebut? 
(penguasa dhalim). Pendakwah yang mendapat redha Allah adalah pendakwah yang 
berdaya upaya untuk membebaskan kaum dhuafa dari belenggu yang menimpa 
kuduk-kuduk mereka (QS,7:157 & QS,90:12-18) , yaitu pendakwah yang berjuang 
sekuat tenaga untuk mengeluarkan kaum dhuafa dari bingkai system yang dhalim. 
   
  Di Eropa pada umumnya tidak dibenarkan kawin lebih daripada seorang isteri. 
Hal itu dikuatkan dengan undang-undang negaranya, namun realitanya kebanyakan 
mereka yang keluar dari negerinya mengawini perempuan lain, termasuk dengan 
perempuan Indonesia, Bali. Hal ini menunjukkan pada hakikatnya setiap lelaki 
yang sehat romani dan jasmaninya menginginkan untuk memiliki lebih dari seorang 
isteri sejauh dibenarkan menurut pemilik Dunia ini, yaitu Allah subhanahu 
wata’ala. Tinggallagi hal ini takdapat dijangkau oleh kebanyakan manusia 
disebabkan system yang berlaku bertentangan dengan petunjuk Allah itu sendiri. 
Justru system yang diredhai Allahlah yang dapat memenuhi segala kebutuhan 
manusia di permukaan planet Bumi ini. 
   
  Salah satu contoh system yang tidak diredhai Allah adalah Indonesia. Di 
Indonesia setiap orang yang menduduki jabatan “basah” bukan saja dapat 
memperkaya diri tapi juga dapat menambah isterinya sesuai dengan keinginan 
mereka, demikian juga para Kiyai yang kaya serta pendakwah seperti Aa Gym yang 
sedang disorot berbagai media massa sekarang ini. Untuk menaggapi setiap 
kritikan yang ditujukan kepada mereka, dengan mudahnya mereka menggunakan ayat 
Allah untuk menguatkan argumentasinya. Dalam system seperti ini, yang sudah 
terlanjur membuat undang-undang dilarang kawin lebih dari satu kecuali mendapat 
izin dari isteri yang pertama, pejabat negara melakukan perselingkuhan secara 
sembunyi-sembunyi demi menampakkan pada khalayak ramai bahwa mereka mematuhi 
atau ta’at kepada undang-undang Negara. Hal ini dapat kita saksikan seperti 
kasus video mesum anggota DPR Yahya Zaini dengan penyanyi dangdut Maria Eva, 
kasus Suharto yang membuat Ibu Tin terpaksa bersandiwara memesan satuan
 pemadam kebakaran untuk menghentikannya, kasus Gusdur dan lain-lainnya. 
  Selanjutnya lihatlah apa yang di ungkapkan olen Radio IRIB dibawah ini 
sehubungan kasus anggota DPR Yahya Zaini:
   
  ”Masalah lainnya terkait dengan terkuaknya tabir praktek serupa yang 
dilakukan politisi-politisi di Senayan. Yahya Zaini dissebut-sebut bukan 
satu-satunya. Praktek semacam ini jamak dilakukan. Seorang staf di Senayan juga 
membenarkan praktek semacam itu di DPR. Staf yang tak ingin disebut namanya ini 
menceritakan dirinya berkali-kali mengikuti kunjungan anggota DPR yang selalu 
dibumbui dengan perempuan-perempuan penghibur. Menurutnya, praktek semacam ini 
bukan hanya dalam hitungan jari. Dengan kata lain, banyak anggota dewan yang 
terhormat yang melakukan praktek asusila ini. Hampir semua melakukan ini, 
kecuali dari kalangan kiai, ustad, atau dari partai penggiat moral. 
Kasus-kasusnya banyak. Biasanya juga dilakukan anggota DPR yang backgroundnya 
entertainment. Anggota DPR dari PDIP Permadi juga membenarkan isu ini. Kepada 
Detikcom ia mengatakan, "Yahya Zaini hanya ketiban sial. Ini sudah biasa, 
kamar-kamar anggota dewan jadi saksi bisu." Permadi tidak membantah adanya
 praktek main perempuan di gedung dewan. Dan menurut dia, sebenarnya tidak 
hanya di gedung DPR saja praktek ini berlangsung. Di gedung-gedung 
pemerintahan, praktek haram ini juga tumbuh subur.”
   
  Yang jelas system seperti itu menguntungkan para pejabat, pegawai-pegawai 
yang menduduki tempat "basah" dan orang-orang kaya termasuk Kiyai atau mereka 
yang menggeluti "Ilmu Agama", baik kekayaannya mereka peroleh secara legal 
maupun illegal. Sementara rakyat jelata yang mayoritasnya memiliki low level 
ekonomic tidak mampu menambah isterinya dan malah kalau kita buat penelitian 
tidak sedikit daripada mereka yang tidah beristeri disebabkan tidak mampu 
membiayai perkawinan termasuk maharnya. 
   
  Dalam suatu System yang mendapat redha Allah, sesungguhnya harta negara 
adalah harta rakyat. Justru itu Presiden dan orang-orang "besar" lainnya tidak 
berhak mengambil gaji yang demikian tinggi sebagaimana kita lihat di Indonesia, 
termasuk Kuntoro cs yang paling menyebalkan di Acheh - Sumatra sekarang ini.   
Andaikata presiden, wakil presiden, para Mentri dan gubernur-gubernurnya tidak 
korupsi sekalipun, mereka mampu menyimpan modalnya setelah lengser dari jabatan 
yang minimal 5 tahun untuk memperkaya diri dengan mendirikan 
perusahaan-perusahaan. Konon pula kalau mereka melakukan manipulasi dan korupsi 
secara sembunyi sembunyi bersama kroni-kroninya sekalian.  Sementara rakyat 
jelata kebutuhan makan saja tak dapat mencukupi. 
   
  Disebabkan  Kekayaan Negara sama dengan  harta rakyat dalam system yang redha 
Allah, negara-negara yang memiliki inkamperkapita tinggi, bukan saja presiden 
dan pejabat-pejabat lainnya dapat menambahkan isterinya sesuai keinginan 
mereka, minimal 4 orang sebagai batas yang ditentukan Allah swt sebagai Pembuat 
dan Pemilik Dunia ini. Dengan demikian mayoritas lelaki yang sehat jasmani dan 
romaninya akan memiliki lebih dari seorang isteri tanpa hambatan apapun kecuali 
suami-suami yang memiliki Isteri yang Ideal, mencukupkan hanya satu Isteri 
saja. Contoh orang yang memiliki Isteri yang ideal adalah Rasulullah, Muhammad 
saww dan Imam Ali as. 
   
  Khadijah Isteri Rasulullah adalah satu-satunya wanita yang sepadan dengan 
Rasulullah. Hal ini dapat kita saksikan ketika Rasulullah pulang dari gua Hirak 
dimana beliau sampai menggigil ketakuta superti ”Anak-anak”. Namun dalam 
kondisi seperti itu Khadijah mampu berperan seperti “orang dewasa” hingga 
Rasulullah dapat tertidur pulas dibawah selimut yang di hamparkan sang Isteri. 
Justru itulah dalam sejarah Rasulullah tidak pernah kawin lebih dari seorang 
Isteri kecuali setelah wafat Sity Khadijah as. Demikianjugalah keberadaannya 
Sity Fatimah Az Zahara as yang sangat ideal dengang Imam Ali as. Yang juga 
tidak pernah dimadu oleh Imam Ali as. 
   
  Ketika Fatimah dikawinkan ayahnya dengan Imam Ali, para tetangga 
mengganggunya dengang ucapan: “Fatimah kamu dikawinkan dengan orang miskin”. 
Disebabkan demikian banyaknya orang yang mengganggu Fatimah, beliau mengadu 
kepada ayahnya. Rasulullah berkata: “Fatimah yang paling kusayangi. Sebelum 
kunikahkan kamu dengan Ali, lebih duluan Allah menikahkannya. Percayalah 
patimah bahwa tidak ada lelaki yang sepadan dengang kamu secuali Ali bin Abi 
Thalib dan tidak ada orang yang lebih baik daripadanya walau mereka memiliki 
harta sepenuh Bumi ini sekalipun.
   
  Ketka Imam Ali pulang dari suatu peperangan, beliau meminta Fatimah untuk 
mencucikan pedangnya dengan ucapan: “Fatimah. Aku tidak membawa apa-apa untukmu 
kecuali pedang yang berdarah ini. Cucilah pedang ini bersama pedang Rasulullah, 
besok insya Allah kami akan pergi lagi”. Fatimah menjawah “Alhamdulillah” 
ketika menerima pedangnya. Bayangkan kebanyakan isteri orang lain, mungkin akan 
mengatakan: “Njan njeng na neuteupeue puwoe, neutjok neurhom u putjok trieng 
lumiek keudeh”. Artinya: “ Ini yang dapat kamu bawa pulang, kau lemparkan saja 
ke rumpun bambu itu“. 
   
  Pembaca yang mulia. Rasulullah berkata: "Tidak pernah beriman kepadaku orang 
yang tidur kenyang sedangkan tetangganya kelaparan, dan jika penduduk sebuah 
desa tidur nyenyak sedangkan ada salah seorang dari mereka yang kelaparan, maka 
Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat". 
   
  Berdasarkan hadist diatas dapatkah orang-orang yang bersenang senang dalam 
system Indonesia itu, termasuk orang yang kawin lebih dari seorang Isteri 
digolongkan kedalam golongan orang-orang yang beriman? Masihkah kita menganggap 
diri berakhlak mulia sementara kita asik menambahkan Isteri dimana orang lain 
jangankan menambah kan Isterinya, satupun belum merata, akibat mereka dijauhkan 
dari perbendaharaan dunia olen system yang dhalim itu? Mana hasil bumi yang 
melimpah ruah sementara kaum du’afa merintih digubuk-gubuk reot, ditanah kumuh 
dan dibawah titi kota metropolitan? Bukankah mereka punya hak untuk menikmati 
hasil dari bumi tempat tumpah darahnya? Masihkah orang-orang alim palsu itu 
menganggap dirinya berakhlak mulia sementara mereka hanya diam saja ketika 
pemerintah menggusur tempat tinggal kaum dhuafa? Masihkan mereka menganggap 
diri berakhlak mulia sementara pencuri berdasi, pembunuhan terselubung, 
pembantaian terang-terangan, perselingkuhan dan berbagai kedhaliman
 lainnya mereka biarkan dengang amannya? Cukupkah bagi mereka untuk hanya 
meratakan dahinya dihari-hari jumat disuatu tempat dimana kaum hipokrit 
berkhutbah dengan garangnya untuk meninabobokkan kaum dhuafa dan rakyat pada 
umumnya agar tidak melawan ”pemimpin yang sah. Lalu memintakan kepada segenap 
jamaah untuk menelungkupkan saja tangannya kebawah sebagai do’a ”Tolak Bala”?
   
  Tidakkah mereka mempelajari sejarah? Adakah Rasulullah dan sahabat-sahabat 
setianya bekerja sama dalam system Thangut macam Indonesia? Tidakkah mereka 
renungkan kenapa Imam Hussein bin Ali as meninggalkan aktivitas Haji demi 
melawan kaum yang dhalim hingga Syahid di Karbala? Bukankah aplikasi yang 
ditunjukkan Imam Hussein merupakan sebagai indikasi yang jelas bahwa kita 
dilarang membaiat pemimpin dhalim serta dilarang bekerja sama dalam system 
thaghutnya? Tidak jelaskah bagi kita untuk mengenali ”Yazid-yazid moderen” 
dijaman kita ini? Tidakkah mereka yang asik berdakwah dalam system dhalim itu 
serta asik menambah isterinya dengan dalih dibenarkan Al Qur-an, atau dengan 
alasan daripada kita berselingkuh, sementara penguasa yang dhalim merasa 
tentram dalam kedhaliamannya tanpa gangguan dari pada kita para da’i?    Da’i 
tipe bagaimanakah kita?
   
  Jelaslah disini pembaca yang muli bahwa kita bersatupadu dengan ”Yazid-yazid” 
demi ketenangan dan ketentraman hidup kita di dunia ini. Lalu kita menggunakan 
Al Qur-an hanya untuk meraih keinginan kita saja, bukan untuk mencari keredhaan 
Allah swt. Kita memang tidak dilarang kawin lebih dari satu sebagaimana kita 
jura tidak dilarang makan yang enak-enak dan bersenang-senang, tapi dalam 
situasi dan kondisi yang bagaimana? Afala ta’qilun, afala yatazakkarun?  
Pantaskah kita kawin lebih dari seorang isteri sementara saudara kita seiman 
maupun saudara kita atas nama kemanusiaan, masih banyak yang tidak mampu kawin 
dan menderita hidupnya? Mengapa mereka tidak mampu kawin dan mengapa mereka 
tidak cukup makan dan malah tinggal di gubuk lusuh lagi? Kemanakah hasil bumi 
yang melimpah ruah itu?
   
  Justru itulah Allah memberikan tugas utama kepada Rasul-rasulNya agar 
membebaskan kaum du’afa dari belenggu yang menimpa kudu-kuduk mereka. (QS,7:157 
& QS, 90:12-18).  Itulah nilai Syurga dan itulah anak kuncinya. Tidak semudah 
itu bukan?  Untuk memperoleh Syurga tidak cukup berkomat-kamit dengan "Lailaha 
illallah" sementara tugas utama yang diperintahkan Allah kita abaikan sama 
sekali. Adakah Lailahaillallah yang kita ucapkan itu masuk ke relung hati kita 
sementara orang-orang yang memperjuangkan hak asasinya kita bantai berdasarkan 
fatwa-fatwa ulama palsu, macam Gusdur cs? 
   
  Setelah kita bebaskan kaum dhuafa sehingga sama-sama mulia seperti kita,  
barulah kita dibenarkan menambah isterinya bersama-sama saudara kita yang lain 
sebagai ni’mat dari Allah yang dikurniakan buat kita hambaNya. Tidak jelaskah 
kepada kita bagaimana caranya membebaskan kaum dhuafa? Lihatlah Rasulullah 
berjuang, adakah kehawatiran beliau terhadap banyaknya pengikut yang mati 
syahid akibat perlawanannya terhadap penguasa Mekkah dan segenap pembelanya?  
Lihatlah bagaimana pengorbanan Imam Hussein di Karbala, adakah beliau 
khawatirkan keluarganya akan dibunuh atau di tawan penguasa dhalim?  Lihatlah 
perjuangan Imam Khomeini yang pegang "remot kontrol" untuk mengontrol 
perjuangannya dari jarak-jauh, adakah kekhawatiran beliau daripada kebanyakan 
pengikutnya yang disiksa oleh rejim Shah Reza Palevi? 
   
  Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan. Kalau kita khawatir akan banyaknya 
pengikut kita yang mati dibantai kaum dhalim, bersatupadulah saja dengan kaum 
dhalim itu dengan mempelintirkan ayat-agat Al Qur-an. (Mengambil ayat Allah 
sebahagian saja dan mencampakkan sebahagian yang lainnya) sebagaimana yang 
diaplikasikan oleh orang-orang yang kawin lebih dari seorang Isteri sementara 
kaum dhuafa dibiarkan merintih digubuk-gubuk derita. Apabila demikian 
keberadaan kita, bersiap-siaplah untuk bersama-sama orang dhalim itu menjadi 
penghuni neraka. (na’uzubillahi min zalik) kendatipun kita menganggap diri 
sebagai orang-orang ’alim atau ulama sekalipun.  Inilah pemahaman daripada 
Islam sejati atau Islam kaffah, bukan seperti yang dipahami oleh orang-orang 
'alim yang bersatupadu dalam system Thaghut yang dhalim itu.
   
  Perlu kita ketahui sebagai penutup bahwa perjuangan itu tidak musti difulkan 
kemedan tempur semua tapi jura sebagiannya perlu mencari dana untuk membiayai 
perjuangan. Pemimpin tidak musti berada dilapangan tempur apalagi kalau 
pemimpin itu sudah tua, seperti Khomaini. Pemimpin seperti itu perlu 
diselamatkan agar perjuangan tetap berlanjut. Dari pemimpin semacam itu hanya 
dibutuhkan bimbingannya agar perjuangan itu dapat berhasil dan sukses. Demikian 
juga penulis akan menggunakan penanya untuk melawan kedhaliman sebagaimana 
tinta Ulama akan ditimbang Allah kelak seperti darah para syuhada.
   
  Terakhiur sekali saya mohon maaf sebesar-besarnya bahwa saya tidak bertujuan 
untuk membenci orang-orang Indonesia tapi terpaksa mengatakan yang sebenarnya 
sebagaimana kata Rasulullah: ”Kullihaq walaukana murra”. Ketika Imam Ali as 
dihujjah sebelum perang Jamal, Syffain dan Khawarij bahwa beliau telah membunuh 
banyak orang -orang ”mulia” mereka di dalam perang-perang sebelumnya, Imam ’Ali 
mengatakan bahwa kebenaranlah yang membuat mereka terbunuh, bukan saya. Ketika 
kebenaran datang, mereka menentangnya lalu berhadapanlah dengan pedang Zulfikar 
saya. Justru itu kalau ada orang yang sakit hati kepada saya, saya juga 
mengatakan bahwa sesungguhnya kebenaranlah yang membuat mereka sakit hati. 
Kebenaran sudah lama datang tapi mereka terpedaya dengan keindahan dunia untuk 
hidup senang ketika orang lain menderita dan bekerja sama dalam system yang 
membuat kaum du’afa merintih di gubuk-gubuk derita.
   
  Marilah kita sama-sama menunggu keputusan Allah sampai kita menghadapi 
sakratul maut. Semoga tulisan ini mendapat redha Allah dan menjadi bahan 
renungan bagi orang-orang yang mau berfikir, hingga tidak menyesal nanti di 
hari kekuasaan apapun lenyap kecuali kekuasaan Allah subhanahu wata’ala. Aamin 
yaa Rabbal ’aalamin.
   
  Billahi fisabililhaq
  Muhammad Al Qubra
  [EMAIL PROTECTED]
  Sandnes, Norwegia.

                                
---------------------------------

Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass 
http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke