http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 22 Oktober 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


ALLAMAH SYARAFUDDIN AL-MUSAWI SENGAJA DAN PENUH KESADARAN MEMPERGUNAKAN 
FAKTA DAN BUKTI YANG SALAH DAN LEMAH.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


KELIHATAN DENGAN TERANG BAHWA ALLAMAH SYARAFUDDIN AL-MUSAWI SENGAJA DAN 
PENUH KESADARAN MEMPERGUNAKAN FAKTA DAN BUKTI YANG SALAH DAN LEMAH.

Ketika kita membahas secara bersama-sama tentang tulisan “Sejarah Hidupku, 
Hari-Hari Masa Kecilku“ ( 
http://www.al-shia.com/html/id/books/Kebenaran-Hilang/index.htm ) yang 
dikarang oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi dari Sudan dan disebarluaskan 
melalui situs Syiah oleh http://www.al-shia.com ternyata diketemukan didalam 
tulisan pendahuluannya berjudul “Sejarah Hidupku, Hari-Hari Masa Kecilku“ 
berisikan hal-hal yang tidak logis, kontradiksi dan tidak masuk akal yang 
disimpulkan dalam uraian:

“Jadi disini kelihatan dengan jelas dan nyata bahwa Allamah Syarafuddin 
Al-Musawi ketika menuliskan hubungan antara kejadian di Ghadir khum setelah 
Haji Wada dan turunnya ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij ini tidak bisa 
diterima oleh akal yang sehat atau tidak logis atau kontradiksi. Atau dengan 
kata lain Allamah Syarafuddin Al-Musawi menuliskan cerita sejarah hidupnya 
itu penuh dengan  kebohongan dan memanipulasi fakta dan bukti.“ (Ahmad 
Sudirman, 20 Oktober 2006, http://www.dataphone.se/~ahmad/061020a.htm  )

Nah, rupanya kesimpulan yang diambil berdasarkan fakta, bukti hukum yang 
kuat itu dibantah oleh salah seorang pengikut Ali atau Syiah Ali dengan 
menuliskan bahwa:

“Tulisan Allamah Syarafuddin Al-Musawi tentu sebagaimana buku yang ditulis 
penulis penulis lainnya, dimana pastinya ada titik kelemahannya. Yang tidak 
memiliki titik kelemahan tentunya Al Qur-anul Karim. Saya memforward bagian 
yang penting, yaitu tentang Konspirasi jahat yang dilakukan terhadap Imam 
'Ali as dan Mazhab Ahlulbaytnya atau Syi'ah Imamiah 12. Sebaliknya orang itu 
hanya mengambil sisi yang masih perlu diperdebatkan tentang keabsahannya.“ 
(Husaini Daud, 21 Oct 2006 18:16:10 -0000)

Nah sekarang, terbukti dengan terang bahwa ternyata setelah dibongkar inti 
yang tertuang dalam Bab pendahuluannya yang merupakan bagian awal dan 
penting dalam buku tersebut untuk menarik para pembaca, ternyata isinya 
penuh kebohongan akibat mempergunakan fakta dan bukti hukum yang tidak benar 
dan tidak masuk akal serta kontradiksi.

Kemudian yang paling melemahkan lagi yaitu dengan mengajukan argumentasi 
bahwa kebohongan yang dilambungkan oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi dalam 
bukunya itu adalah “sebagaimana buku yang ditulis penulis penulis lainnya, 
dimana pastinya ada titik kelemahannya”.

Nah disinilah akhirnya pengikut Ali atau Syiah Ali yang hanya bisa 
menjadikan dasar argumentasi untuk mempertahankan ketidak logisan dan 
kontradiksi serta kebohongan itu dengan cukup memakai untaian kata “dimana 
pastinya ada titik kelemahannya”.

Justru, sebenarnya itu bukan suatu titik kelemahan. Mengapa ?

Karena kalau memang Bab pendahuluan itu adalah berisikan poin-poin yang 
lemah, maka tidak mungkin dijadikan sebagai bagian yang paling utama untuk 
memikat para pembaca agar mau mengikuti dan mau tertarik dengan isi buku 
tersebut. Dengan menjadikan ayat 1 dan ayat 2 surat Al-Ma'aarij sebagai 
dasar argumentasi pengangkatan dan pelantikan Ali bin Abi Thalib ra di 
Ghadir khum (satu tempat antara Mekkah dan Madinah) setelah Haji Wada dan 
ditempatkan di Bab pendahuluan dan menjadi Bab utama dari buku itu, maka 
sudah pasti Allamah Syarafuddin Al-Musawi dengan penuh kesadaran dan penuh 
pengertian bahwa apa yang ditulisnya itu adalah fakta dan bukti hukum yang 
benar dan kuat.

Jadi, kalau kata pengikut Ali atau Syiah Ali bahwa tulisan  Allamah 
Syarafuddin Al-Musawi adalah “sebagaimana buku yang ditulis penulis penulis 
lainnya, dimana pastinya ada titik kelemahannya. Yang tidak memiliki titik 
kelemahan tentunya Al Qur-anul Karim.” Maka argumentasi yang disodorkannya 
itu adalah tidak lebih dan tidak kurang hanyalah merupakan makin terbukanya 
kelemahan dan kesengajaan dalam hal menjadikan fakta dan bukti hukum lemah 
untuk dijadikan penguat dalam hal cerita pengangkatan dan pelantikan Ali bin 
Abi Thalib ra sebagai Khalifah langsung penerus Rasulullah saw apabila 
Rasulullah saw telah menghadap Allah SWT.

Nah dengan ketidak mampuan memberikan argumentasi yang kuat atas apa yang 
ditulis oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi, maka jalan pendek yang ditempuh 
oleh pengikut Ali atau Syiah Ali itu cukup dengan menulis “Jadi sebetulnya 
bagi saya sudah sa'atnya mengucapkan selamat tinggal kepada orang itu dan 
"Lakum dinukum waliadin"”.

Selanjutnya dalam kesempatan ini juga kita akan membahas mengenai salah satu 
dasar kekuatan hukum dalam membangun pemerintahan dan negara yang 
dicontohkan Rasullah saw di Yatsrib. Dimana dasar kekuatan hukum dalam 
membangun pemerintahan dan negara itu dituangkan dalam ayat 59 surat 
An-Nisaa’yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan 
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang 
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul 
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. 
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS 
An-Nisaa', 4: 59)

Nah, dasar hukum Negara Islam pertama yang dibangun Rasulullah saw ini 
adalah diturunkan sebelum Rasulullah saw melaksanakan Haji Wada. Kalau kita 
menggali dan menganalisa apa yang tertuang dalam dasar hukum ayat 59 surat 
An-Nisaa’ itu, maka ditemukan butiran-butiran fakta dan bukti hukum yang 
akan membuat argumentasi pihak para pengikut Ali atau Syiah Ali masuk dalam 
perangkap jaringa buatannya sendiri. Mengapa ?

Karena, apa yang tertuang dalam kata-kata “athi'u Allah wa athi'ur Rasul wa 
uli amri minkum“ (taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di 
antara kamu) ditemukan satu dasar perbedaan yang sangat prinsipil dan paling 
mendasar, yaitu masalah “athi'u Allah wa athi'ur Rasul“ (taatilah Allah dan 
taatilah Rasul (Nya)). Nah didepan kata Allah dan Rasul ditempatkan kata 
perintah  “athi'u“ (taatilah). Jadi dalam waktu bersamaan kaum muslimin dan 
muslimat harus taat dan patuh kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Taat 
kepada Allah SWT dan taat kepada Rasulullah saw, keduanya tidak bisa 
dipisahkan. Tetapi, kepada ”uli amri minkum” itu tidak ada perintah “athi'u“ 
(taatilah) sebagaimana kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Mengapa ?

Karena ayat ini diturunkan menurut Muslim dalam sahih-nya : 3416 ketika 
Rasulullah saw mengutus Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi As-Sahmi 
dalam suatu pasukan perang.

Jadi Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi As-Sahmi adalah salah satu 
contoh uli amri minkum yang diutus oleh Rasulullah saw dalam suatu pasukan 
perang.

Nah pengertian ketaatan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah saw 
tidak diartikan sama dengan ketaatan kepada Abdullah bin Hudzafah bin Qais 
bin Adi As-Sahmi sebagai salah seorang yang diutus dalam pasukan perang. 
Jadi, dalam hal pengangkatan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi As-Sahmi 
bagi pasukan perang dibawah komando Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi 
As-Sahmi harus patuh kepadanya. Tetapi tidak berarti kepatuhan kepada  
Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi As-Sahmi disamakan dengan ketaatan 
kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah saw dalam hal kepercayaan 
atau keyakinan.

Nah, kalau sepeninggal Rasulullah saw mengangkat uli amri diantara kaum 
muslimin dan muslimat adalah bukan Allah SWT, melainkan kaum muslimin dan 
muslimat itu sendiri. Jadi, ketaatan kepada Allah SWT dan ketaatan kepada 
Rasulullah saw tidak bisa dilakukan dan diterapkan sama dengan kepada uli 
amri diantara kaum muslimin dan muslimat. Sebagai alat pembanding adalah 
dengan pengangkatan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adi As-Sahmi oleh 
Rasulullah saw sebagai salah seorang yang diutus dalam pasukan perang.

Nah sekarang, berdasarkan ayat 59 surat An-Nisaa’ ini sudah bisa dibuktikan 
bahwa kalau ada orang sepeninggal Rasulullah saw yang menjadikan ketaatan 
kepada Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah saw diterapkan kepada uli 
amri, maka orang itu telah melakukan pelanggaran hukum dan penyelewengan 
hukum yang telah digariskan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw.

Contohnya Allamah Syarafuddin Al-Musawi telah menuliskan bahwa Ali bin Abi 
Thalib ra telah diangkat dan dilatik menjadi Khalifah langsung sepeninggal 
Rasulullah saw. Dimana ketaatan kepada Ali bin Abi Thalib ra adalah sama 
dengan ketaatan kepada Rasulullah saw, sehingga Ali bin Abi Thalib ra 
dipanggil dengan panggilan Ali as setaraf dengan tingkat Nabi dan Rasul, 
padahal tidak ada dalam Al Quran pengangkatan Ali bin Abi Thalib ra sebagai 
Nabi atau sebagai Rasul atau sebagai Khalifah. Yang ada diturunkan Allah SWT 
adalah ayat 59 surat An-Nissa’ tersebut diatas. Jadi dengan ayat 59 surat 
An-Nisaa’ tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum untuk menjadikan Ali bin 
Abi Thalib ra sebagai penggati Rasulullah saw sehingga diberi gelar as atau 
alaihi salam sebagaimana gelar yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul.

Kemudian ayat 59 surat An-Nisaa’ ini juga adalah dasar hukum yang diterapkan 
dalam negara Islam pertama di Yatsrib, yaitu ”Kemudian jika kamu berlainan 
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan 
Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari 
kemudian.”

Nah, dasar hukum inilah yang menjadi kekuatan dalam penentuan hukum di 
Negara Islam pertama yang dibangun Rasulullah saw, yaitu apapun persoalan 
dan pendapat yang timbul dalam pemerintah di Negara Islam pertama, maka 
jalan penyelesaiannya adalah diacukan kepada Allah SWT yaitu kepada Al Quran 
dan Rasul yaitu kepada Sunnahnya. Inilah dua pegangan yang harus tetap 
ditaati dan dijalankan oleh kaum muslimin dan muslimat sampai hari yaumiddin 
atau hari pembalasan atau hari akherat.

Jadi dengan memegang kepada Al Quran dan As-Sunnah Rasulullah saw, maka akan 
selamat kaum muslimin dan muslimat yang hidup dalam naungan Negara Islam 
pertama Rasulullah saw. Begitu juga bagi kaum muslimin dan muslimat akan 
selamat apabila dalam hal penyelesaian masalah apapun yang timbul dalam 
pemerintah dan negara jalan penyelesaiannya diacukan kepada Al Quran dan 
As-Sunnah Rasulullah saw.

Apa yang ditulis oleh Allamah Syarafuddin Al-Musawi tentang apa yang terjadi 
di Ghadir khum bahwa Rasulullah saw mengangkat dan melantik Ali bin Abi 
Thalib ra sebagai Khalifah langsung sepeninggal Rasulullah saw dengan 
diperkuat dalam pidato pengangkatan tersebut bahwa Rasulullah saw akan 
meninggalkan dua hal yang berat, yaitu: Al-Qur'an yang berisi petunjuk dan 
cahaya dan Keluarga Rasulullah saw atau dikalangan pengikut Ali bin Abi 
Thalib ra kedua hal itu dinamakan tsaqalain (Al-Quran dan Keluarga 
Rasulullah saw). Ternyata kalau digali lebih dalam tentang cerita tsaqalain 
yang kata mereka dinyatakan di Ghadir khum selepas Rasulullah saw 
melaksanakan Haji Wada pada tahun kesepuluh Hijrah dan dihubungkan dengan 
ayat 59 surat An-Nisaa’, maka ditemukan ketaatan kepada Allah SWT dan 
ketaatan kepada Rasulullah saw sebagaimana yang tertuang dalam ayat 59 surat 
An-Nisaa’ telah diganti dengan tsaqalain, yaitu memegang Al-Quran dan 
keluarga Rasulullah saw. Jadi bukan Rasulullah saw sendiri maksudnya Sunnah 
Rasulullah saw, tetapi keluarga Rasulullah saw. Artinya disini, apabila 
Rasulullah saw telah menghadap Allah SW, maka menurut pengikut Ali atau 
Syiah Ali seluruh kaum muslimin dan muslimat hanya wajib taat kepada Allah 
SWT artinya memegang Al Quran dan taat kepada keluarga Rasulullah saw yaitu  
kepada Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan bin Ali bin Abi Thalib 
ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra.

Terakhir, setelah digali, dibaca, diteliti, dipahami dan dianalisa 
sebagaimana yang ditulis diatas, maka ditemukan bahwa apa yang ditulis oleh 
Allamah Syarafuddin Al-Musawi tentang Ali bin Abi Thalib ra telah diangkat 
dan dilatik menjadi Khalifah langsung sepeninggal Rasulullah saw adalah 
tidak ada dasar nash-nya yang kuat dan sahih. Begitu juga tentang tsaqalain 
ternyata bertentangan dengan dasar hukum ayat 59 surat An-Nisaa’. Seluruh 
kaum muslimin dan muslimat harus taat kepada Allah SWT dan taat kepada 
Rasulullah saw. Bukan taat kepada Allah SWT dan taat kepada keluarga 
Rasulullah saw yaitu kepada Ali bin Abi Thalib ra, Fatimah Zahra ra, Hasan 
bin Ali bin Abi Thalib ra, Husen bin Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana yang 
diimani dan diyakini oleh para pengikut Ali atau Syiah Ali.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------



From: Muhammad al qubra <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [email protected]
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Lantak] Nampaknya bagi sebahagian manusia benar-benar tidah mampu 
mengambil pelajaran dari Al Qur-an. Hal itu disebabkan 'Aqidah mereka yang 
masih keliru (QS.56:79)
Date: Sat, 21 Oct 2006 17:05:26 +0200 (CEST)
MIME-Version: 1.0
X-Originating-IP: 217.12.13.53
X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
Received: from n22a.bullet.scd.yahoo.com ([66.94.237.51]) by 
bay0-mc2-f3.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Sat, 21 
Oct 2006 15:15:36 -0700
Received: from [66.218.69.5] by n22.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 21 Oct 
2006 15:10:50 -0000
Received: from [66.218.67.97] by t5.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 21 Oct 
2006 15:10:50 -0000
Received: (qmail 4730 invoked from network); 21 Oct 2006 15:05:39 -0000
Received: from unknown (66.218.66.166)  by m40.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 
21 Oct 2006 15:05:39 -0000
Received: from unknown (HELO web86901.mail.ukl.yahoo.com) (217.12.13.53)  by 
mta5.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 21 Oct 2006 15:05:38 -0000
Received: (qmail 61812 invoked by uid 60001); 21 Oct 2006 15:05:26 -0000
Received: from [83.108.191.62] by web86901.mail.ukl.yahoo.com via HTTP; Sat, 
21 Oct 2006 17:05:26 CEST
X-Message-Info: LsUYwwHHNt2JABeMnJjB3BRNYV3K6oSJQmAO4uxkB+M=
Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; 
d=yahoogroups.com;b=d7knv93xlgyHxds68+K5FeDOF4MmUI4/woLBTE8p/T0gH+G0waMUvbJWlXijwNaOiESRGS6/pQ8CUvouSBgIyWXZ2g/xJ3x4FfQt9acGw+1icwelv5zhvIbq4DnmEfWI;
X-Yahoo-Newman-Id: 3332471-m9411
X-Apparently-To: [email protected]
X-eGroups-Msg-Info: 1:0:0:0
X-Yahoo-Profile: acheh_karbala
Mailing-List: list [email protected]; contact 
[EMAIL PROTECTED]
Delivered-To: mailing list [email protected]
List-Id: <Lantak.yahoogroups.com>
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
X-Yahoo-Newman-Property:groups-email-trad
Return-Path: 
[EMAIL PROTECTED]
X-OriginalArrivalTime: 21 Oct 2006 22:15:36.0810 (UTC) 
FILETIME=[6F34CCA0:01C6F55E]


   Ternyata  orang itu tidak mampu memahami apa yang saya maksudkan. 
Kemungkinan besar tertutup mata hatinya dengan buruk sangkanya terhadap 
ahlulbayt Rasulullah yang sebenarnya. Padahal sudah diperjelaskan dengan 
Hadist Al Kisa ketika hanya Imam Ali as, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan 
Imam Hussein as saja yang ditutup Rasulullah dengan kain Kisa Yaman. Hal itu 
diperjelas lagi dengan surah Ali Imran 3:61 (ayat Mubahalah) dan juga Hadist 
penutupan semua pintu - pintu yang menghala ke Mesjid kecuali pintu rumah 
Imam 'Ali as. Nampaknya bagi sebahagian manusia benar-benar tidah mampu 
mengambil pelajaran. Hal itu disebabkan 'Aqidah mereka yang masih keliru 
(QS.56:79)

   Bagi orang-orang yang jernih pikirannya mampu menarik kesimpulan bahwa 
ketika Rasulullah mengatakan: “ Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku . . 
. .” setelah menutupi Imam Ali as, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam 
Hussein as dengan kain Kisa Yaman, berarti Rasulullah mengumumkan kepada 
manusia bahwa hanya Imam Ali as, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan dan Imam 
Hussein as saja yang termasuk ahlulbaytnya. Pastinya Allah sudah duluan 
mengetahui apa yang dinyatakan Rasullnya, pastinya apasaja yang dating dari 
Rasulullah berasal dari Allah sendiri. Demikianjugalah andaikata sebahagian 
manusia masih saja mengira bahwa para Isteri Rasulullah juga termasuk 
ahlulbayt yang hendak disucikan, dapat melihat dengan fakta dari doa 
Rasulullah ini bahwa setelah rasulullah menutub mereka berempat, lalu 
berkata: “Ya Allah ! mereka adalah Ahl al-Bait aku maka hilangkanlah dosa 
dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya”. Hal ini 
njuga dibuktikan dengan penolakan
  Rasulullah terhadap permohonan Ummu Shalamah ketika minta bergabung 
dengannya, mengatakan: “ tetaplah engkau pada tempatnya . . . . . .”

   Selanjutnya kepastian hanya Imam Ali as, Fatimah Az Zahara, Imam Hassan 
dan Imam Hussein as saja sebagai Ahlulbayt Rasulullah dibuktikan dengan ayat 
Mubahalah  (Ali Imran 3:61). Disini kita dapat melihat kenapa Rasulullah 
tidak mengikut sertakan para Isterinya (Aisyah, Shalamah dan lain-lain) 
dalam bermubahalah itu. Pastinya dalam peristiwa itu bukan saja untuk 
membuktikan benarnya Agama Muhammad tapi juga sebagai “Pengumuman” kepada 
manusia bahwa hanya pribadi berempat sajalah yang merupakan sebagai 
Representant buat manusia.  Merekalah manusia teladan yang dijadikan Allah 
sebagai Hujjahnya terhadap manusia, kendatipun ditolah oleh orang-orang yang 
masih berpenyakit dalam kepalanya. Pastinya Allahlah yang menyuruh 
Rasululnya untuk menampilkan hanya Imam Ali as, Fatimah Az Zahara, Imam 
Hassan dan Imam Hussein as saja dalam peristiwa tersebut agar manusia dapat 
berfikir tentang keberadaan pribadi suci itu.

   Ketika Rasulullah menginstruksikan agar semua pintu-pintu yang menghala 
ke Mesjid ditutup semua kecuali pintu rumah Imam ‘Ali as, orang-orang yang 
benar-benar beriman juga dapat memahami dengan jelas bahwa justru pribadi 
berempat itu juga yang dibenarkan bebas masuk kedalam Mesjid kendatipun 
dalam keadaan berjunub. Hal ini membuktikan bahwa mereka itu suci lahir 
bathin. Merekalah yang diusucikan Allah sesuci-sucinya. Keterangan yang 
membuktikan keberadaan mereka para Ahlulbayt Rasulullah bukanlah hanya pada 
tiga tempat yang telah saya kemukakan itu tapi masih banya lagi, misalnya 
pada hadist Bahtera: "Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di sisi kalian 
bagaikan bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang ikut selamat dan yang 
tertinggal akan tenggelam." (Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 151; Yanabi' 
al-Mawaddah hal. 30,370; as-Shawa’iq al-Muhriqah hal. 184,234.). Kemudian 
juga Hadist Pintu Pengampunan: "Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di 
sisi kalian bagaikan
  Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan 
diampuni." (Lihat Is'afar-Raghibin danJami' as-Shagir)

   Betapa lugunya orang itu ketika mengatakan bahwa ahlulbayt Rasulullah 
termasuk seluruh orang-orang yang beriman. Ternyata mereka itu tidak mampu 
memahami maksud saya yang begitu jelas ketika saya katakana secara Idiolgy 
atau ‘Aqidah yang berakibat sangkaannya merembes kepada orang-orang diluar 
jalur Ahlulbayt.  Hal ini sesuai dengan sangkaan mereka yang selalu mereka 
lakukan selawat bukan saja kepada Ahlulbayt Rasulullah tetapi juga kepada 
para sahabat. Rupanya mereka terkecoh dengan hadist palsu bahwa para sahabat 
itu umpama bintang-bintang. Mereka tidak mengetahui kalau hanya sebahagian 
kecil saja para sahabat yang merupakan sebagai bintang-bintang, dimana 
sebahagian lainnya senantiasa menentang Rasulullah sendiri sebagimana yang 
diperlihatkan oleh Umar dan Abubakar cs.

   Orang itu juga tidak memahami kalau kukatakan Aqidah itu sama dengan 
Idiologi. Mungki disebabkan Idiology itu berasal dari bahasa Ingeris, orang 
itu mengira Idiologi itu buatan manusia yang berkenotasi negatif. Politik 
itu juga berasal dari Barat atau Yunani. Tapi ketika kita katakan politik 
Islam, itu berarti Siasah Fatanah, yaitu Politik Rasulullah. Ketika orang 
itu mengira saya menjerat leher sendiri, terbukti betapa fanatik butanya 
orang itu sehingga membuat matanya kabur tak dapat memahami apa yang 
kumaksudkan, Ya allah betapa lugunya hambamu yang satu ini.

   Untuk itu telusurilah sekali lagi tulisanku itu:

   Aqidah adalah bahasa Arab sedangkan Idiology adalah bahasa Inggeris, 
keduanya merupakan flatform atau asas tempat seseorang bergantung atau 
berpijak dalam Hidupnya didunia ini. Andaikata seseorang berpegang teguh 
benar-benar pada Al Qur-an, berarti flatformnya atau dasar tempat 
berpijaknya adalah Al Qur-an. Dengan kata lain berarti orang tersebut 
menggunakan Al Qur-an sebagai Idiologynya atau berIdiology Al Qur-an. 
Realitanya banyak orang yang beridiology Pancasila, tapi menggunakan Al 
Qur-an hanya sebagai bahan bacaan untuk orang mati, untuk memperoleh pahala, 
bahan Musabaqah dan  seni Kaligrafi. Yang jelas orang tersebut tidak 
menggunakan Al Qur-an sebagai Idiology atau ‘Aqidah.  Selanjutnya dapat 
dipahami bahwa Idiology Syi’ah atau ‘Aqidah Syiah tentu berbeda dengan 
‘Aqidah atau Idiology Sunni. Idiology Syiah menggunakan Al Qur-an dan 
Ahlulbayt sebagai platformnya sementara Idiology Sunni menggunakan Al Qur-an 
dan Hadist Nabi sebagai platformnya. Ahlulbayt Rasulullah
  bagi Syi’ah selain berfungsi untuk mendampingi Al Qur-an agar tidak salah 
tafsir, juga merupakan filter untuk menjaga agar hadist Nabi tidak 
dipalsukan.  Sedangkan bagi Sunni tidak memiliki filter untuk menjaga 
kemurnian Sunnah Rasulullah kecuali dengan menggunakan istilah sahehnya 
Kitab Bukhari - Muslim, hingga siapapun yang merasa dirinya berkemampuan 
boleh saja menafsirkan Al Qur-an sebagimana yang dilakukan oleh orang itu.

   Orang itu keliru 180 derajat ketika mengatakan bahwa ahlulbayt Rasulullah 
itu termasuk seluruh orang yang beriman. Untuk memudahkan pemahaman saya 
umapamakan seperti berikut:  Secara loghat ahlulbayt itu terdiri dari  
seorang Suami dan beberapa orang Isteri serta beberapa orang anaknya. Jadi 
hanya terbatas kepada Suami –Isteri plus anak-anaknya saja, tidak termasuk 
orang lain. Secara Idiology atau ’Aqidah tentunya ada diantara anak-anak itu 
atau Isteri-isteri itu yang tidak dapat dianggap sebagai anggota ahlulbayt 
atau keluarga, disebabkan tidak tundukpatuh kepada Allah dan Rasulnya 
(keliru’Aqidahnya). Contohnya Kan’an anak Nabi Nuh yang dinyatakan Allah 
bukan anaknya. Pastinya dalam keluarga Rasulullah juga ada orang yang 
karakternya relatif sama dengan anak Nabi Nuh tersebut  Jelasnya diantara 
Isteri-isteri Nabi Muhammad itu ada yang bukan Isterinya menurut kaca mata 
AlQur-an atau menurut Allah sendiri. Jangankan orang yang relatif sama 
dengan Kan’an, Ummu Shalamah saja
  yang pasti termasuk orang yang beriman atau benar Aqidahnya sesuai 
ketearangan Rasulullah sendiri, tidak termasuk dalam golongan Ahlulbayt. 
Justru itulah ketika Rasulullah memasukkan Imam ’Ali as, Fatimah Az Zahara, 
Imam Hassan dan Imam Hussein as kebawah kain kisa tidak membenarkan Ummu 
Shalamah bersama mereka dengan sabdanya kamu tetap ditempatmu dalam 
kebaikan.  Bagi orang yang ’arif tentu dengan mudah dapat mengambil 
kesimpulan yang benar kenapa dalam ayat Mubahalah Rasulullah tidak membawa 
Isteri-isterinya untuk ikut serta, kecuali pribadi yang berempat itu saja. 
Hal ini diperjelas lagi ketika Rasulullah mengintruksikan agar semua 
pintu-pintu yang menghala keMesjid ditutup semua kecuali pintu Imam ’Ali as 
dimana didalamnya hanya pribadi yang berempat tadi juga.

   Kalau orang itu masih tidak mapu memahami bahwa justru pribadi berempat 
saja yang telah disucikan Allah sesuci-sucinya, melalui tulisan ini saya 
minta kepada orang itu agar:
   1.      Sila kemukakan mana dosa  Imam Ali as, Fatimah Az Zahara, Imam 
Hassan dan Imam Hussein as, baik yang besar maupun yang kecil.
   2.      Silakan kemukakan mana pribadi yang lain yang patut diikuti dan 
diteladani setelah Rasulullah.
   3.      Silakan sebutkan nama-nama Imam anda  yang anda imani dan ikuti  
setelah Rasulullah mulai dari pertama sampai zaman sekarang ini
   Kalau ini tidak dapat anda jawab, tak usahlah membantah kalau hanya 
pribadi berempat saja sebagai Ahlulbayit Rasulullah yang di sucikan Allah 
sesuci-sucinya.

   Demikianlah para pembaca sekalian semoga Allah memberi hidayah kepada 
kita sekalian sehingga tidak mengalami nasib yang sial ketika menghadapi 
sakratul maut sebagaimana dialami Abubakar dan Umar cs. Aamin ya Rabbal 
‘alamain,-

   Billahi fi sabililhaq
   Muhammad Al Qubra
   [EMAIL PROTECTED]
   Sandnes, Norwegia

_________________________________________________________________
Satsa på kärleken i höst! http://www.msn.se/dejting/



Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? 
Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan 
ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung 
bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan. 
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke