http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 15 Agustus 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


MEREKA HANYA MENAFSIRKAN TULISAN-TULISAN AHMAD SUDIRMAN DITINGKAT KULITNYA 
SAJA.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


CONTOH ORANG YANG HANYA MENAFSIRKAN TULISAN-TULISAN AHMAD SUDIRMAN DITINGKAT 
KULITNYA SAJA.

“Untuk membuktikan secara hukum dan fakta bahwa Ahmad Sudirman seorang 
munafik anda tidak perlu pusing pusing untuk memaparkan buktinya. Kalau saja 
anda membaca sebagian tulisan2nya yg disimpan dalam homepage: 
http://www.dataphone.se/~ahmad , anda akan mengetahui langsung bahwa 
mulutnya Ahmad Sudirman sangat berlawanan dengan hati nuraninya – alias 
munafik.” ( Mirah Pati, [EMAIL PROTECTED] ,4 augusti 2006 17:41:18)

Terimakasih saudara Usman Harun di Jorpeland, Rogaland, Norway.

Setelah membaca tanggapan yang disampaikan oleh saudara Usman Harun atas 
tulisan ”Mengupas dan menguliti Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik” ( 
http://www.dataphone.se/~ahmad/060809a.htm ), makin kelihatan dengan jelas 
dan gamlang bahwa saudara Usman Harun yang kelihatannya menampilkan dirinya 
sebagai pembela organisasi atau perkumpulan sosial dan budaya yang 
mengadopsi nama  Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik yang ilegal 
karena tidak dibenarkan dan tidak diakui secara politik baik oleh Pemerintah 
di Amerika ataupun di Australia, Swedia, Norwegia, Malaysia dan Afrika 
Selatan ketika membaca tulisan-tulisan Ahmad Sudirman yang ditulis tahun 
80-an dan 90-an tingkatan pengertian dan pemahamannya belum sampai ketingkat 
yang memadai, sehingga akhirnya ketika saudara Usman mengambil kesimpulan 
terjerumus kejurang kesempitan dan keterbatasan.

Mari kita bersama teliti secara seksama, bagaimana saudara Usman Harun 
ketika mencoba mengupas isi tulisan-tulisan Ahmad Sudirman tersebut hanya 
sampai ketingkat kulitnya saja.

Nah, ketika dalam tulisan ”ABRI hanya penjaga keamanan dan ketertiban” ( 
http://www.dataphone.se/~ahmad/980524.htm ), Ahmad Sudirman menyinggung 
penghapusan atau penghilangan dwi fungsi ABRI, maka itu artinya adalah ABRI 
atau yang sekarang disebut dengan TNI plus Polri harus kembali ke fungsi 
utamanya yaitu hanya bekerja dan bertugas dalam bidang pertahanan dan 
keamanan saja, tidak melibatkan kedalam dunia politik, seperti ikut dalam 
lembaga legislatif, seperti MPR dan DPR.

Jadi, dengan dituliskannya penghapusan dwi fungsi ABRI tersebut adalah bukan 
berarti Ahmad Sudirman ”mengakui tidak memusuhi ABRI” sebagaimana yang 
dianggap oleh saudara Usman, melainkan ABRI akan menjadi musuh utama rakyat 
di RI termasuk di Acheh, selama dwi fungsi ABRI tidak dihapus dan dibuang. 
Nah, itulah inti yang utama mengapa Ahmad Sudirman menentang dwi fungsi ABRI 
dalam tulisan tersebut.

Selanjutnya, kalau Ahmad Sudirman membahas tentang Daulah Islam Rasulullah 
(DIR) dengan UUMadinah-nya (UUM), itu berarti seratus persen apabila ingin 
mendirikan dan menjalankan negara yang mengacu pada DIR dengan UUM-nya, maka 
tidak ada tertuang apa yang dinamakan negara-negara yang berbentuk kesukuan 
atau kekabilahan. Dan bentuk DIR dari sejak pertama kali didirikan dan 
dijalankan oleh Rasulullah saw pada tahun 1 H atau tahun 622 M sampai abad 
ke 19, yaitu ketika Dinasti Utsmaniyah di Turki diruntuhkan, ternyata tidak 
ada dibenarkan adanya dua kepala negara atau khalifah dalam bangunan DIR 
tersebut.

Nah, kalau Ahmad Sudirman mengupas bentuk dan struktur kenegaran yang 
mengacu kepada DIR dengan UUM-nya, maka memang benar dasar ikatan negara dan 
rakyatnya adalah aqidah dan ukhuwah islamiyah, bukan dasar-dasar lainnya. 
Karena itu memang tidak ada contohnya kalau dalam DIR dengan UUM-nya ada 
berbagai negara bagian yang memiliki dasar dan asas yang berbeda selain 
aqidah Islam dan ukhuwah islamiyah.

Nah, karena itulah ketika Ahmad Sudirman menyatakan dalam tulisan 
”Penyelesaian Aceh ditinjau dari UUM” ( 
http://www.dataphone.se/~ahmad/990728.htm ) bahwa kalau dibawah DIR dengan 
UUM-nya, bukan NKRI dengan pancasila-nya, maka tidak ada istilah dua 
kepemimpinan. Artinya, hanya ada satu kepala negara atau satu khalifah. 
Jadi, poin-poin yang dimajukan oleh Ahmad Sudirman dalam tulisan tersebut 
adalah mengacu kepada DIR dengan UUM-nya.

Juga ketika diterangkan dalam tulisan ”Membangun kembali satu Daulah Islam 
Rasulullah yang berpusat apakah di Sunda, di Makasar, di Riau, di Lampung, 
di Padang atau di Aceh, jadi bukan membangun Daulah Kesukuan yang 
bercerai-berai”
( http://www.dataphone.se/~ahmad/990408.htm ), itu semuanya didasarkan 
kepada DIR dengan UUM-nya, bukan didasarkan pada NKRI dengan UUD 1945 dan 
pancasila-nya. Karena itu mengapa dalam tulisan tersebut menekankan kepada 
aqidah dan ukhuwah islam, bukan kepada kesukuan yang diwujudkan dalam bentuk 
negara-negara. Jadi, karena negara yang akan didirikan dan dijalankan 
diacukan pada DIR dengan UUM-nya, maka lahirlah pernyataan  ”Membangun 
kembali satu Daulah Islam Rasulullah yang berpusat apakah di Sunda, di 
Makasar, di Riau, di Lampung, di Padang atau di Aceh, jadi bukan membangun 
Daulah Kesukuan yang bercerai-berai”. Itulah konsepi kenegaraan dan struktur 
pemerintahan yang ada dalam DIR dengan UUM-nya.

Nah, dengan lahirnya konsepsi DIR dengan UUM-nya, itu bukan berarti ”kodok 
Ahmad Sudirman yang anti perjuangan kemerdekaan di Aceh, Papua Barat, Maluku 
dll” sebagaimana yang dianggap oleh saudara Usman, melainkan bahwa DIR 
dengan UUM-nya tidak mengenal adanya perbedaan asas, sifat dan tujuan  
negara.

Begitu juga ketika Ahmad Sudirman menulis ”Menuju kesatuan ummat dengan misi 
menegakkan amar ma'ruf nahi munkar guna memelihara kesatuan dan keutuhan 
bangsa”
( http://www.dataphone.se/~ahmad/990525.htm ) adalah isinya mengacu kepada 
DIR dengan UUM-nya, bukan mengacu pada NKRI dengan UUD 1945-nya dan 
pancasila-nya. Dimana dalam tulisan tersebut dinyatakan bahwa ”menerapkan 
visi persatuan, keadilan, amanah dan perdamaian, dengan misi membangun 
kembali satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan 
pemerintahan Islam dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah 
dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam 
Rasulullah dengan Undang Undang Madinah-nya, yang berdasarkan akidah Islam 
yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras dengan tujuan 
untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT.”

Nah, dengan mengacu kepada DIR dengan UUM-nya yang sebagiannya menekankan 
pada ”akidah Islam yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan 
dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT”, itu 
artinya bukan ”Ahmad Sudirman merupakan musuhnya bangsa2 diluar Jawa yang 
ingin memperjuangkan kemerdekaannya”, tetapi dalam DIR dengan UUM-nya tidak 
dikenal istilah nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras, yang ada adalah 
adanya kesaman aqidah Islam. Jadi, adanya kesamaan aqidah itu bukan berarti 
bahwa ”Ahmad Sudirman merupakan musuhnya bangsa2 diluar Jawa yang ingin 
memperjuangkan kemerdekaannya” sebagaimana yang ditafsirkan oleh saudara 
Usman.

Begitu juga selanjutnya apa yang ditulis dalam tulisan ”Aceh dilema besar 
bagi rezim Gus Dur-Mega“ ( http://www.dataphone.se/~ahmad/991111a.htm )

Jelas, terbaca dengan terang dalam tulisan tersebut bahwa ”Langkah 
referendum yang dikehendaki oleh rakyat Aceh adalah sebagai salah satu jalan 
keluar untuk menentukan sikap apakah ingin tetap bergabung dengan Daulah 
Pancasila atau memilih berdiri sendiri sebagai suatu Daulah yang merdeka. 
Nah disini, Gus Dur menurut pandangan saya adalah belum memahami benar 
keinginan rakyat Aceh, dengan mengatakan bahwa, "Saya sendiri mengatakan 
proreferendum. Dua juta itu belum separo (yang ikut pawai referendum), jika 
sudah referendum apakah Aceh lalu lepas dari Indonesia. Saya tahu rakyat 
Aceh". Saya melihat justru, baik dari pihak ulama, pelajar, mahasiswa, 
rakyat biasa, GAM/AGAM, mereka semua walaupun ada perbedaan konsepsi 
kenegaraan (misalnya GAM/AGAM tidak ingin menjadikan Aceh sebagai negara 
Islam, sedang dari pihak Ulama menghendaki negara yang berdasarkan dan 
menerapkan syariah), tetapi sebenarnya mereka adalah satu yaitu ingin 
melakukan referendum.”

Dengan menampilkan pernyataan diatas, Ahmad Sudirman melihat dan memahami 
bahwa karena dalam NKRI yang berasas pancasila dan ber-UUD 1945 dan tidak 
sesuai dengan rakyat Acheh yang  ingin menentukan nasibnya sendiri melalui 
cara referendum, maka Ahmad Sudirman mendukungnya. Apalagi setelah digali 
secara lebih mendalam dimana menurut fakta, bukti, sejarah dan hukum 
menunjukkan bahwa memang benar Acheh adalah hasil penganeksasian Soekarno 
kedalam tubuh NKRI-nya melalui Sumatera Utara.

Jadi, kalau Ahmad Sudirman menyatakan hal tersebut diatas bukan berarti 
”bahwa ”kepedulian” Ahmad Sudirman terhadap Aceh bukan atas dasar keikhlasan 
atau simpati karena bangsa Aceh Islam yg dizalimi, tetapi lebih cenderung 
kepada ketakutannya yg luar bisa terhadap lepasnya Aceh dari Indonesia” 
seperti yang dinyatakan oleh saudara Usman Harun, melainkan memang secara 
fakta, bukti, sejarah dan hukumnya pihak NKRI tidak dibenarkan untuk tetap 
menguasai Acheh, karena dimasukannya Acheh kedalam NKRI adalah secara ilegal 
atau tidak sah, artinya tidak melalui jalur hukum seperti penentuan pendapat 
seluruh rakyat yang ada di Acheh.

Nah sekarang, setelah meneliti secara seksama apa yang dilambungkan oleh 
saudara Usman Harun atas tulisan-tulisan Ahmad Sudirman, ternyata apa yang 
ditafsirkan dan dikupasnya itu adalah hanya sebatas tingkat kulitnya saja. 
Karena itu, sekarang sudah bisa diambil garis lurus-nya yaitu saudara Usman 
Harun masih harus banyak belajar dan mendalami apa yang ditulis Ahmad 
Sudirman, terutama yang menyangkut masalah kenegaraan dan pemerintahan yang 
ada kaitannya dengan Negara Islam pertama yang didirikan dan dijalankan oleh 
Rasulullah saw dengan Undang-Undang Madinah-nya.

Terakhir, inilah tanggapan dari Ahmad Sudirman atas semua tanggapan yang 
disampaikan oleh saudara Usman Harun. Semoga saudara Usman bekerja keras 
untuk kembali mendalami masalah-masalah yang ada kaitannya dengan sejarah 
Acheh dan hubungannya dengan jalur proses pertumbuhan dan pekembangan RI, 
juga masalah-masalah yang menyangkut negara Islam pertama yang dibangun oleh 
Rasulullah saw dengan UUM-nya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------

From:  mirah pati [EMAIL PROTECTED]
Date:  4 augusti 2006 17:41:18
To:  [email protected], [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Subject:  «PPDi» Kekuatan hukum, fakta dan bukti Ahmad Sudirman seorang 
munafik


Kekuatan hukum, fakta dan bukti Ahmad Sudirman seorang munafik


Pembaca yg budiman,

Assalamualaikum wr.wb,

Untuk membuktikan secara hukum dan fakta bahwa Ahmad Sudirman seorang 
munafik anda tidak perlu pusing pusing untuk memaparkan buktinya. Kalau saja 
anda membaca sebagian tulisan2nya yg disimpan dalam homepage: 
http://www.dataphone.se/~ahmad, anda akan mengetahui langsung bahwa mulutnya 
Ahmad Sudirman sangat berlawanan dengan hati nuraninya – alias munafik.

AHMAD SUDIRMAN DAN INDONESIANYA

Kalau dilihat sepintas lalu Ahmad Sudirman adalah seorang yg anti Indonesia 
yang selalu menyerang dan memaki maki pemerintah Indonesia dalam hal apa 
saja. Tetapi kalau mandalami tulisan2nya dengan cermat, akan jelas ia 
seorang yg paling nasionalis atau lebih tepat lagi “indonesialist” yg 
mati2an mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia melebihi daripada 
perjuangannya terhadap Islam yg ditonjol-tonjolkan selama ini.

Sebelum Ahmad Sudirman melanglangbuana ke Aceh, ia telah banyak menulis 
tentang Indonesia yg disimpan rapi dalam homepagenya 
http://www.dataphone.se/~ahmad,  dimana tulisan awal awalnya selalu dimulai 
dengan judul: INDONESIA TANAH AIRKU, yg ditulis tgl 15, 17, 19, 20 Mei 1998 
dll, menjelang jatuhnya Suharto. Ahmad Sudirman mengkritisi dwifungsi ABRI 
tetapi tetap mempertahankan keutuhan ABRI yg menurutnya sebagai tulang 
pungungnya Indonesia yang telah memerdekakan Indonesia, menumpas komunis dan 
mempertahankan negara dari musuh (baca: gerakan2 pemisah). Ahmad Sudirman 
juga mengakui tidak memusuhi ABRI selama tugas Abri terbatas menjaga 
ketertiban dan keamanan negara Indonesia yg ia cintainya. Dibawah ini 
cuplikan kata2 Ahmad Sudirman sendiri yang ditulis tgl. 24 Mei, 1998, dengan 
rubriknya:

ABRI HANYA PENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN


”Saya akui, bahwa ABRI tulang punggung Indonesia, tanpa ABRI tidak mungkin 
Indonesia lepas dari penjajahan Belanda, tanpa ABRI tidak mungkin gerakan 
komunis Indonesia dapat dihancurkan, namun, hal ini tidak menjadi suatu 
alasan untuk menjadikan ABRI sebagai faktor yang menentukan dalam 
pemerintahan.

”Saudara-saudaraku di tanah air. Saya tidak menentang ABRI, tetapi saya mau 
melihatABRI bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga keamanan dan 
ketertiban serta membela dan mempertahankan negara dari ancaman musuh *.*”

Dalam tulisan awal2 yang dikutip diatas, Ahmad Sudirman tidak begitu 
spesifik dengan ” mempertahankan negara dari ancaman musuh”, tapi kala kita 
berjingkrak jauh kedepan, yang dimaksud dengan ”musuh” tersebut adalah 
gerakan2 pejuang kemerdekaan diluar pulau Jawa.

Setelah Suharto jatuh, Sudirman mulai menulis tentang negeri kayangannya 
Daulah Islamiyah Rasulullah (DIR) dengan Undang Undang Madinahnya (UUM). 
Dalam kampanye DIRnya, nasionalisme Indonesia Ahmad Sudirman semakin 
bertambah kental. Tanpa spesifik referensi untuk Aceh, Timtim dan Papua 
Merdeka yg sedang berusaha melepaskan diri dari penjajah Indonesia kala itu, 
Ahmad Sudirman dengan terang terangan menulis bahwa persoalan yang dihadapi 
Indonesia sekarang tidak dapat diselesaikan atas dasar “sukuisme“, dengan 
membiarkan lahirnya Daulah2 seperti Daulah Aceh, Daulah Jawa, Daulah 
Pasundan, Daulah Bugis dls. Dengan kata lain, kodok Ahmad Sudirman yang anti 
perjuangan kemerdekaan di Aceh, Papua Barat, Maluku dll sudah mulai terbuka 
dan ciri ciri kemunafikinnya dalam membela Aceh terlihat sejak dari sini. 
Dalam tulisannya tgl 8 April, 1999 untuk ummat Islam di Indonesia, Ahmad 
Sudirman menghimbau, dengan judulnya:

MEMBANGUN KEMBALI SATU DAULAH ISLAM RASULULLAH YANG BERPUSAT APAKAH DI 
SUNDA, DI MAKASAR, DI RIAU, DI LAMPUNG, DI PADANG ATAU DI ACEH, JADI BUKAN 
MEMBANGUN DAULAH KESUKUAN YANG BERCERAI-BERAI.

“Untuk kaum Muslimin dan Muslimat yang tinggal di Indonesia.

“Suatu kerugian yang besar apabila kaum Muslimin yang tinggal dan hidup di 
Indonesia dipecah belah menjadi beberapa kelompok Daulah Kesukuan, seperti 
Daulah Sunda, Daulah Riau, Daulah Padang, Daulah Lampung, Daulah Sulawesi, 
Daulah Kalimantan, Daulah Aceh, Daulah Ambon, Daulah Bali, Daulah Irian 
Jaya, Daulah Jawa dsb.

„Bagi seorang Muslim menegakkan suatu Daulah adalah diatas dasar akidah 
Islam dan ukhuwah Islam, bukan kesukuan, kebangsaan, nasionalitas atau ras. 
Dengan akidah Islam dan ukhuwah Islam inilah yang akan menjadi tali pengikat 
kesatuan ummat yang tergabung dalam satu naungan Daulah Islam Rasulullah 
dengan Undang Undang Madinahnya. Dalam Islam tidak memandang nasionalitas, 
kesukuan, kebangsaan, warna kulit, ras, melainkan yang dipandang adalah 
akidah Islam dan ukhuwah Islam.

„Suatu kebodohan apabila kaum muslimin membangun Daulah Islamnya berdasarkan 
kepada kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas-nya. yang berdasarkan 
akidah Islam yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras 
dengan tujuan untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT. „

Nah, dari petikan diatas tadi kelihatan dengan jelas sekali  bahwa Ahamad 
Sudirman merupakan musuhnya bangsa2 diluar Jawa yang ingin memperjuangkan 
kemerdekaannya. Bukan itu saja, double standard atau kemunafikin Ahmad 
Sudirman lebih terang disini: ia paling anti kebangsaan, kesukuan, dan 
nasionalitas tetapi selalu mengagung-agungkan dan mempertahannkan 
nasionalitas Indonesianya. Dalam sekian banyak tulisannya Ahmad Sudirman 
hampir tidak pernah lupa mengingati pembacanya tentang “ kesatuan ummat dan 
keutuhan bangsa Indonesia“ , seperti dalam judul tulisan dibawah ini.

MENUJU KESATUAN UMMAT DENGAN MISI MENEGAKKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR GUNA 
MEMELIHARA KESATUAN UMMAT DAN KEUTUHAN BANGSA, Stockholm, 25 Mei 1999, dan 
banyak yang lain lagi.

AHMAD SUDIRMAN VERSUS ACEH

Pertama sekali Ahmad Sudirman tergerak untuk mencampuri urusan perjuangan 
bangsa Aceh yaitu setelah pembantaian oleh TNI di Beutong Ateuëh terhadap 
Tengku Bantaqiah dan sekitar 60 pengikutnya pada bulan Juli 1999. 
Ketergerakan hati Ahmad Sudirman, menurut pengakuannya, karena yang dibantai 
itu seorang ulama dan “ummat Islam Aceh“, tetapi dalam sebuah tulisan lain, 
tanpa disadari Ahmad Sudirman yang munafik itu telah membongkar kedoknya 
sendiri. Ahmad Sudirman membeberkan dengan nuraninya bahwa Aceh akan lepas 
seperti Timtim kalau telalu banyak rakyak Aceh yang dikorbankan oleh TNI, 
masyarakat Internasional tidak akan tinggal diam dan daerah daerah lain pun 
akan menyusul sehingga terjadi disintegrasi di Indonesia. Selanjutnya Ahmad 
Sudirman mengatakan bahwa Indonesia harus segera berunding dengan rakyat 
Aceh selama belum ada satu negara yang mengakui GAM, kalau tidak Aceh akan 
terjadi seperti di Timtim (merdeka). Dalam diskusi panjang dengan kawan2 
Indonesianya di Banda Aceh dan Saudi Arabia dengan tajuk:

ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS DUR-MEGA , Stockholm, 11 Nopember 1999,

Ahmad Sudirman sempat lupa memakai topengnya dan untuk sekali ini membiarkan 
nuraninya berbicara sbb:

”SELAMA TIDAK ADA NEGARA LAIN YANG TERLIBAT DALAM MASALAH ACEH, SELAMA ITU 
BISA DISELESAIKAN DENGAN JALAN PERUNDINGAN

”Sejauh yang saya lihat dalam krisis Aceh sekarang adalah belum adanya 
keterlibatan langsung negara lain. Nah disini saya beranggapan, bahwa 
apabila telah ada satu atau lebih negara lain ikut melibatkan diri langsung 
dalam penyelesaian krisi Aceh, maka saat itulah akan timbul api pergolakan 
yang hebat di bumi Daulah Pancasila. Sebagaimana terjadi di Timor Timur.

”Apabila ada dari pihak-pihak rakyat Aceh melibatkan PBB untuk membantu 
penyelesaian krisi Aceh, maka kemungkinan besar menurut pemikiran saya, yang 
akan ditangggapi oleh PBB adalah masalah-masalah pelanggaran hak asasi 
manusia, seperti pembunuhan masal rakyat Aceh oleh TNI, baik selama Rezim 
militer diktator Soeharto dan Rezim Habibie.

”Nah, kalau pihak Gus Dur tidak jeli dalam mengamati masalah pelanggaran hak 
asasi manusia, maka pelanggaran hak asasi manusia akan dijadikan senjata 
tajam oleh rakyat Aceh untuk memukul pemerintah Gus Dur. Apalagi nantinya 
melibatkan badan PBB dan badan Hak asasi manusia-nya.
Karena menurut pemikiran saya, lewat jalan pelanggaran hak asasi manusia 
yang telah dilakukan oleh rezim Daulah Pancasila inilah yang akan dijadikan 
landasan perjuangan Rakyat Aceh di dunia Internasional.”

Dari tulisan diatas pembaca bisa melihat sendiri bahwa ”kepedulian” Ahmad 
Sudirman terhadap Aceh bukan atas dasar keikhlasan atau simpati karena 
bangsa Aceh Islam yg dizalimi, tetapi lebih cenderung kepada ketakutannya yg 
luar bisa terhadap lepasnya Aceh dari Indonesia.

Sehubungan dengan pembantaian Beutong Ateuëh, Ahmad Sudirman dalam sebuah 
tulisannya tanpa segan2 langsung mengusulkan kepada GAM dan rakyat Aceh 
supaya berdialog dengan pemerintahan Habibie dengan solusinya OTONOMI  yg 
berbasis kepada Undang Undang Madinahya Ahmad Sudirman (UUM):

PENYELESAIAN ACEH DITINJAU DARI UUM, Stockholm, 28 Juli 1999

”Untuk rakyat Aceh dengan National Liberation Front of Acheh Sumatra dan 
Penguasa
Sekarang, setelah melihat dan membaca dasar-dasar yang akan dijadikan 
penyelesaian rakyat Aceh dengan pihak Penguasa Indonesia, saya mengajukan 
jalan pemecahannya yaitu,

Pertama, rakyat Aceh disatukan dengan dasar aqidah Islam, bukan berdasarkan 
kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas. Menerapkan hukum Islam secara 
menyeluruh dengan mencontoh Rasulullah saw dengan Daulah Islam 
Rasulullah-nya.

Kedua, dalam dialog terbuka tersebut dibicarakan masa depan rakyat Aceh 
dengan diberikan hak menentukan nasibnya sendiri dengan pemerintahan sendiri 
dalam bentuk daerah otonomi.

Ketiga, kekayaan bumi yang ada di daerah otonomi Aceh dikelola, diatur dan 
diolah oleh rakyat Aceh dibawah pengawasan pemerintahan otonomi Aceh.

Keempat, daerah otonomi Aceh adalah daerah bebas tempat hijrah untuk setiap 
muslim.

Inilah untuk sementara hasil pemikiran saya untuk rakyat Aceh dengan 
National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Penguasa Indonesia di bawah 
Presiden Habibie.”

Ketika perjuangan SIRA sudah mencapai klimaksnya dan HUDA mengeluarkan fatwa 
menyokong referendum, dengan tangan dan lututnya yg bergementar Ahmad 
Sudirman terus beraksi, tak kenal lelah mempromosikan usul2 OTONOMI diatas 
tadi sebagai satu2nya jalan keluar untuk  membendung gerakan sipil yg 
menuntut referendum. Ahmad Sudirman tahu betul bahwa Aceh akan merdeka kalau 
referendum dilakukan dan dia tahu juga kemerdekaan Aceh kala itu sudah 
diambang pintu, mengingat HUDA, SIRA, NGO dan golongan intelektual plus 
sebagian birokrat sudah bersatu dalam satu kata: REFERENDUM – yg 
dikumandangkan oleh penyanyi tenar Aceh Yacob Tailah dan Syech Yuldi. 
Kekecewaan Ahmad Sudirman waktu itu sempat dituangkan dalam nada yg sinis:

ACEH AKAN MENJADI PUSAT DIR
Stockholm, 17 September 1999

”….Setelah saya membaca hasil keputusan para ulama Dayah se-Aceh diatas yang 
menjadi suatu fatwa dan rekomendasi, maka timbul pertanyaan dalam pemikiran 
saya yaitu, apakah Aceh akan menjadi pusat Daulah Islam Rasulullah yang 
mempunyai konstitusi yang mengacu kepada Undang Undang Madinah?”

Tetapi yg lebih memberangkan Ahmad Sudirman lagi adalah sikapnya presiden 
Gusdur yang berpura pura menyokong referendum. Dalam banyak tulisannya, 
Ahmad Sudirman bertubi tubi menghantam Gusdur yang katanya Gusdur belum 
mengerti aspirasi rakyat Aceh dan Gusdur tidak mengerti sama sekali Aceh 
akan merdeka lewat referendum. Dalam diskusi

ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS DUR-MEGA, Stockholm, 11 Nopember 1999,

Ahmad Sudirman meratapi kekecewaannya sbb:


”Apabila referendum ditetapkan, maka saya menggambarkan bahwa mayoritas 
rakyat Aceh memilih keluar dari kesatuan Daulah Pancasila. Dan ini yang 
menurut saya Gus Dur masih belum memahami benar keinginan rakyat Aceh. Gus 
Dur masih yakin kepada orang-orang yang duduk dibelakang meja pemerintah, 
yang masih dianggap loyal kepada pemerintah.
Dan saya yakin, bahwa Daulah Pancasila apabila tidak berhasil penguasanya, 
yaitu Gus Dur dan kabinetnya, ditambah MPR/DPR-nya, maka falsafah pancasila 
yang dijadikan alat pemersatu bangsa ternyata tidak mampu dijadikan sebagai 
alat pemersatu, yang akhirnya mengalami kehancuran total bersamaan dengan 
pecah-belahnya Daulah Pancasila menjadi kepingan-kepingan kecil yang satu 
sama lain saling menganggap bahwa kesukuan dan kebangsaan merupakan 
identitas negara.”

AHMAD SUDIRMAN MEMUSUHI FREE ACHEH DEMOCRATIC

Setelah membidik,mempelajari, mengkaji, menelaah, menguliti dan menelanjangi 
sosok Ahmad Sudirman dengan materi dari pikiran dan perbuatannya sendiri, 
maka sudah terjawab semua teka teki mengapa Ahmad Sudirman sangat memusuhi 
Free Acheh Demokratik dan Persatuan Masyarakat Aceh di Skandinavia 
sebelumnya. Sebab, Ahmad Sudirman maha tahu bahwa hanya kedua dua organisasi 
tersebut yg masih berjalan diatas relnya –menuju merdeka. Dan sudah terjawab 
juga semua teka teki mengapa Ahmad Sudirman sangat menyokong, memuja-muja 
dan mengagung-agungkan MoU Helsinki. Sebab, Ahmad Sudirman maha tahu bahwa 
hanya dengan jalan inilah Aceh dapat diabadikan kedalam NKRI dan NKRI 
sendiri selamat dari disintegrasi.

Ahmad Sudirman, dengan keahliannya mempermainkan  kata kata, telah berhasil 
menipu sebagian pembacanya, khususnya masyarakat Aceh. Dengan terbuka kedok 
khianatnya, maka diharapkan supaya pembaca yg budiman, khususnya masyarakat 
Aceh yg telah terlanjur mempercayai Ahmad Sudirman, supaya menarik diri dan 
dengan demikian polimik dengan Ahmad Sudirman berakhirlah sudah.

Wabillahittaufik walhidayah wassalamualaikum wr.wb.

Wassalam


Usman Harun

PS: Artikel lengakap dari semua kutipan diatas, sila baca di  
http://www.dataphone.se/~ahmad, milik Ahmad Sudirman. Dan Saya tutup tulisan 
ini dengan  sebuah tulisan Ahmad Sudirman, untuk hiburan pembaca.



PEMERINTAH ACHEH BERDIRI DENGAN WALI NEGARA, KANUN, BENDERA, LAMBANG & LAGU 
KEBANGSAAN ACHE, Stockholm, 15 Agustus 2005

BANGSA ACHEH MENUJU KEBEBASAN DAN KEDAMAIAN DIBAWAH PEMERINTAH SENDIRI ACHEH 
DALAM NAUNGAN WALI NEGARA ACHEH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO

Hari ini, Senin, 15 Agustus 2005 bangsa Acheh memasuki wilayah yang aman dan 
damai di Acheh yang nantinya akan berada dibawah lindungan Wali Negara dan 
Pemerintah Sendiri Acheh dengan diiringi lagu kebangsaan Negeri Acheh, 
dengan kibaran bendera Negara Acheh beserta lambang identitas bangsa Acheh.
Bangsa Acheh mendapat kebebasan untuk melakukan hubungan dagang dengan pihak 
dalam negeri dan luar negeri. Sumber kehidupan yang ada di Acheh akan diatur 
dan dinikmati oleh bangsa Acheh. Sumber alam gas dan minyak bumi 70% adalah 
untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Acheh.
Keamanan dalam negeri Acheh akan diatur dan diawasi oleh Polisi Acheh yang 
Kepala Polisinya diangkat oleh Kepala Pemerintah Sendiri Acheh. Penerimaan 
anggota Kepolisian Acheh dilakukan setelah konsultasi dengan Kepala 
Pemerintah Sendiri Acheh.
Selamat bagi Bangsa Acheh dan Negara Acheh. Semoga Allah SWT meridhai 
perjuangan bangsa Acheh. Amin.
----------


From: abu meulaboh <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [email protected]
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[email protected], [email protected], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
[EMAIL PROTECTED]
Subject: «PPDi» Re: PPDi» Kekuatan hukum, fakta dan bukti Ahmad Sudirman 
seorang munafik
Date: Wed, 27 Sep 2006 06:44:38 -0700 (PDT)
MIME-Version: 1.0
X-Originating-IP: 216.252.111.224
X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
Received: from n15a.bullet.sc5.yahoo.com ([66.163.187.158]) by 
bay0-mc10-f6.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Wed, 27 
Sep 2006 06:47:56 -0700
Received: from [66.163.187.122] by n15.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 27 
Sep 2006 13:45:16 -0000
Received: from [66.218.69.5] by t3.bullet.sc5.yahoo.com with NNFMP; 27 Sep 
2006 13:45:16 -0000
Received: from [66.218.67.95] by t5.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 27 Sep 
2006 13:45:16 -0000
Received: (qmail 55385 invoked from network); 27 Sep 2006 13:45:14 -0000
Received: from unknown (66.218.66.218)  by m38.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 
27 Sep 2006 13:45:14 -0000
Received: from unknown (HELO web57208.mail.re3.yahoo.com) (216.252.111.224)  
by mta3.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 27 Sep 2006 13:45:14 -0000
Received: (qmail 40579 invoked by uid 60001); 27 Sep 2006 13:44:38 -0000
Received: from [213.212.1.52] by web57208.mail.re3.yahoo.com via HTTP; Wed, 
27 Sep 2006 06:44:38 PDT
X-Message-Info: LsUYwwHHNt2U53D6E3BhczWLigtEVy7tP+5auTGqJvY=
Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; 
d=yahoogroups.com;b=HVNU1ODwAZwH/67WUrB1FClyWeoVP1qo8MHR4qZ5AIHAQbW249ceJGAWuYFxheKGCzfd1KEtof33N8Wl8jw9ZHdfGESNGKCrUVbbhakWUpRFW8E+QijbW3cJ2iiFIN9k;
X-Yahoo-Newman-Property: groups-email
X-Yahoo-Newman-Id: 2530892-m15055
X-Apparently-To: [email protected]
X-eGroups-Msg-Info: 1:0:0:0
Mailing-List: list [email protected]; contact [EMAIL PROTECTED]
Delivered-To: mailing list [email protected]
List-Id: <PPDi.yahoogroups.com>
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Return-Path: 
[EMAIL PROTECTED]
X-OriginalArrivalTime: 27 Sep 2006 13:47:56.0349 (UTC) 
FILETIME=[89714ED0:01C6E23B]


             From:  mirah pati [EMAIL PROTECTED]
   Date:  4 augusti 2006 17:41:18
   To:  [email protected], [email protected], [EMAIL PROTECTED]
   Subject:  «PPDi» Kekuatan hukum, fakta dan bukti Ahmad Sudirman seorang 
munafik


   Kekuatan hukum, fakta dan bukti Ahmad Sudirman seorang munafik


   Pembaca yg budiman,

   Assalamualaikum wr.wb,

   Untuk membuktikan secara hukum dan fakta bahwa Ahmad Sudirman seorang 
munafik anda tidak perlu pusing pusing untuk memaparkan buktinya. Kalau saja 
anda membaca sebagian tulisan2nya yg disimpan dalam homepage: 
http://www.dataphone.se/~ahmad, anda akan mengetahui langsung bahwa mulutnya 
Ahmad Sudirman sangat berlawanan dengan hati nuraninya – alias munafik.

   AHMAD SUDIRMAN DAN INDONESIANYA
   Kalau dilihat sepintas lalu Ahmad Sudirman adalah seorang yg anti 
Indonesia yang selalu menyerang dan memaki maki pemerintah Indonesia dalam 
hal apa saja. Tetapi kalau mandalami tulisan2nya dengan cermat, akan jelas 
ia seorang yg paling nasionalis atau lebih tepat lagi “indonesialist” yg 
mati2an mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia melebihi daripada 
perjuangannya terhadap Islam yg ditonjol-tonjolkan selama ini.

   Sebelum Ahmad Sudirman melanglangbuana ke Aceh, ia telah banyak menulis 
tentang Indonesia yg disimpan rapi dalam homepagenya 
http://www.dataphone.se/~ahmad,  dimana tulisan awal awalnya selalu dimulai 
dengan judul: INDONESIA TANAH AIRKU, yg ditulis tgl 15, 17, 19, 20 Mei 1998 
dll, menjelang jatuhnya Suharto. Ahmad Sudirman mengkritisi dwifungsi ABRI 
tetapi tetap mempertahankan keutuhan ABRI yg menurutnya sebagai tulang 
pungungnya Indonesia yang telah memerdekakan Indonesia, menumpas komunis dan 
mempertahankan negara dari musuh (baca: gerakan2 pemisah). Ahmad Sudirman 
juga mengakui tidak memusuhi ABRI selama tugas Abri terbatas menjaga 
ketertiban dan keamanan negara Indonesia yg ia cintainya. Dibawah ini 
cuplikan kata2 Ahmad Sudirman sendiri yang ditulis tgl. 24 Mei, 1998, dengan 
rubriknya:

   ABRI HANYA PENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN



   ”Saya akui, bahwa ABRI tulang punggung Indonesia, tanpa ABRI tidak 
mungkin Indonesia lepas dari penjajahan Belanda, tanpa ABRI tidak mungkin 
gerakan komunis Indonesia dapat dihancurkan, namun, hal ini tidak menjadi 
suatu alasan untuk menjadikan ABRI sebagai faktor yang menentukan dalam 
pemerintahan.

   ”Saudara-saudaraku di tanah air. Saya tidak menentang ABRI, tetapi saya 
mau melihatABRI bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu menjaga keamanan dan 
ketertiban serta membela dan mempertahankan negara dari ancaman musuh *.*”

   Dalam tulisan awal2 yang dikutip diatas, Ahmad Sudirman tidak begitu 
spesifik dengan ” mempertahankan negara dari ancaman musuh”, tapi kala kita 
berjingkrak jauh kedepan, yang dimaksud dengan ”musuh” tersebut adalah 
gerakan2 pejuang kemerdekaan diluar pulau Jawa.

   Setelah Suharto jatuh, Sudirman mulai menulis tentang negeri kayangannya 
Daulah Islamiyah Rasulullah (DIR) dengan Undang Undang Madinahnya (UUM). 
Dalam kampanye DIRnya, nasionalisme Indonesia Ahmad Sudirman semakin 
bertambah kental. Tanpa spesifik referensi untuk Aceh, Timtim dan Papua 
Merdeka yg sedang berusaha melepaskan diri dari penjajah Indonesia kala itu, 
Ahmad Sudirman dengan terang terangan menulis bahwa persoalan yang dihadapi 
Indonesia sekarang tidak dapat diselesaikan atas dasar “sukuisme“, dengan 
membiarkan lahirnya Daulah2 seperti Daulah Aceh, Daulah Jawa, Daulah 
Pasundan, Daulah Bugis dls. Dengan kata lain, kodok Ahmad Sudirman yang anti 
perjuangan kemerdekaan di Aceh, Papua Barat, Maluku dll sudah mulai terbuka 
dan ciri ciri kemunafikinnya dalam membela Aceh terlihat sejak dari sini. 
Dalam tulisannya tgl 8 April, 1999 untuk ummat Islam di Indonesia, Ahmad 
Sudirman menghimbau, dengan judulnya:

   MEMBANGUN KEMBALI SATU DAULAH ISLAM RASULULLAH YANG BERPUSAT APAKAH DI 
SUNDA, DI MAKASAR, DI RIAU, DI LAMPUNG, DI PADANG ATAU DI ACEH, JADI BUKAN 
MEMBANGUN DAULAH KESUKUAN YANG BERCERAI-BERAI.

   “Untuk kaum Muslimin dan Muslimat yang tinggal di Indonesia.

   “Suatu kerugian yang besar apabila kaum Muslimin yang tinggal dan hidup 
di Indonesia dipecah belah menjadi beberapa kelompok Daulah Kesukuan, 
seperti Daulah Sunda, Daulah Riau, Daulah Padang, Daulah Lampung, Daulah 
Sulawesi, Daulah Kalimantan, Daulah Aceh, Daulah Ambon, Daulah Bali, Daulah 
Irian Jaya, Daulah Jawa dsb.

   „Bagi seorang Muslim menegakkan suatu Daulah adalah diatas dasar akidah 
Islam dan ukhuwah Islam, bukan kesukuan, kebangsaan, nasionalitas atau ras. 
Dengan akidah Islam dan ukhuwah Islam inilah yang akan menjadi tali pengikat 
kesatuan ummat yang tergabung dalam satu naungan Daulah Islam Rasulullah 
dengan Undang Undang Madinahnya. Dalam Islam tidak memandang nasionalitas, 
kesukuan, kebangsaan, warna kulit, ras, melainkan yang dipandang adalah 
akidah Islam dan ukhuwah Islam.

   „Suatu kebodohan apabila kaum muslimin membangun Daulah Islamnya 
berdasarkan kepada kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas-nya. yang 
berdasarkan akidah Islam yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, 
kesukuan dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah 
SWT. „

   Nah, dari petikan diatas tadi kelihatan dengan jelas sekali  bahwa Ahamad 
Sudirman merupakan musuhnya bangsa2 diluar Jawa yang ingin memperjuangkan 
kemerdekaannya. Bukan itu saja, double standard atau kemunafikin Ahmad 
Sudirman lebih terang disini: ia paling anti kebangsaan, kesukuan, dan 
nasionalitas tetapi selalu mengagung-agungkan dan mempertahannkan 
nasionalitas Indonesianya. Dalam sekian banyak tulisannya Ahmad Sudirman 
hampir tidak pernah lupa mengingati pembacanya tentang “ kesatuan ummat dan 
keutuhan bangsa Indonesia“ , seperti dalam judul tulisan dibawah ini.

   MENUJU KESATUAN UMMAT DENGAN MISI MENEGAKKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR GUNA 
MEMELIHARA KESATUAN UMMAT DAN KEUTUHAN BANGSA, Stockholm, 25 Mei 1999, dan 
banyak yang lain lagi.

   AHMAD SUDIRMAN VERSUS ACEH
   Pertama sekali Ahmad Sudirman tergerak untuk mencampuri urusan perjuangan 
bangsa Aceh yaitu setelah pembantaian oleh TNI di Beutong Ateuëh terhadap 
Tengku Bantaqiah dan sekitar 60 pengikutnya pada bulan Juli 1999. 
Ketergerakan hati Ahmad Sudirman, menurut pengakuannya, karena yang dibantai 
itu seorang ulama dan “ummat Islam Aceh“, tetapi dalam sebuah tulisan lain, 
tanpa disadari Ahmad Sudirman yang munafik itu telah membongkar kedoknya 
sendiri. Ahmad Sudirman membeberkan dengan nuraninya bahwa Aceh akan lepas 
seperti Timtim kalau telalu banyak rakyak Aceh yang dikorbankan oleh TNI, 
masyarakat Internasional tidak akan tinggal diam dan daerah daerah lain pun 
akan menyusul sehingga terjadi disintegrasi di Indonesia. Selanjutnya Ahmad 
Sudirman mengatakan bahwa Indonesia harus segera berunding dengan rakyat 
Aceh selama belum ada satu negara yang mengakui GAM, kalau tidak Aceh akan 
terjadi seperti di Timtim (merdeka). Dalam diskusi panjang dengan kawan2 
Indonesianya di Banda
  Aceh dan Saudi Arabia dengan tajuk:

   ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS DUR-MEGA , Stockholm, 11 Nopember 1999,

   Ahmad Sudirman sempat lupa memakai topengnya dan untuk sekali ini 
membiarkan nuraninya berbicara sbb:

   ”SELAMA TIDAK ADA NEGARA LAIN YANG TERLIBAT DALAM MASALAH ACEH, SELAMA 
ITU BISA DISELESAIKAN DENGAN JALAN PERUNDINGAN

   ”Sejauh yang saya lihat dalam krisis Aceh sekarang adalah belum adanya 
keterlibatan langsung negara lain. Nah disini saya beranggapan, bahwa 
apabila telah ada satu atau lebih negara lain ikut melibatkan diri langsung 
dalam penyelesaian krisi Aceh, maka saat itulah akan timbul api pergolakan 
yang hebat di bumi Daulah Pancasila. Sebagaimana terjadi di Timor Timur.

   ”Apabila ada dari pihak-pihak rakyat Aceh melibatkan PBB untuk membantu 
penyelesaian krisi Aceh, maka kemungkinan besar menurut pemikiran saya, yang 
akan ditangggapi oleh PBB adalah masalah-masalah pelanggaran hak asasi 
manusia, seperti pembunuhan masal rakyat Aceh oleh TNI, baik selama Rezim 
militer diktator Soeharto dan Rezim Habibie.

   ”Nah, kalau pihak Gus Dur tidak jeli dalam mengamati masalah pelanggaran 
hak asasi manusia, maka pelanggaran hak asasi manusia akan dijadikan senjata 
tajam oleh rakyat Aceh untuk memukul pemerintah Gus Dur. Apalagi nantinya 
melibatkan badan PBB dan badan Hak asasi manusia-nya.
   Karena menurut pemikiran saya, lewat jalan pelanggaran hak asasi manusia 
yang telah dilakukan oleh rezim Daulah Pancasila inilah yang akan dijadikan 
landasan perjuangan Rakyat Aceh di dunia Internasional.”

   Dari tulisan diatas pembaca bisa melihat sendiri bahwa ”kepedulian” Ahmad 
Sudirman terhadap Aceh bukan atas dasar keikhlasan atau simpati karena 
bangsa Aceh Islam yg dizalimi, tetapi lebih cenderung kepada ketakutannya yg 
luar bisa terhadap lepasnya Aceh dari Indonesia.

   Sehubungan dengan pembantaian Beutong Ateuëh, Ahmad Sudirman dalam sebuah 
tulisannya tanpa segan2 langsung mengusulkan kepada GAM dan rakyat Aceh 
supaya berdialog dengan pemerintahan Habibie dengan solusinya OTONOMI  yg 
berbasis kepada Undang Undang Madinahya Ahmad Sudirman (UUM):

   PENYELESAIAN ACEH DITINJAU DARI UUM, Stockholm, 28 Juli 1999

   ”Untuk rakyat Aceh dengan National Liberation Front of Acheh Sumatra dan 
Penguasa
   Sekarang, setelah melihat dan membaca dasar-dasar yang akan dijadikan 
penyelesaian rakyat Aceh dengan pihak Penguasa Indonesia, saya mengajukan 
jalan pemecahannya yaitu,

   Pertama, rakyat Aceh disatukan dengan dasar aqidah Islam, bukan 
berdasarkan kesukuan atau kebangsaan atau nasionalitas. Menerapkan hukum 
Islam secara menyeluruh dengan mencontoh Rasulullah saw dengan Daulah Islam 
Rasulullah-nya.

   Kedua, dalam dialog terbuka tersebut dibicarakan masa depan rakyat Aceh 
dengan diberikan hak menentukan nasibnya sendiri dengan pemerintahan sendiri 
dalam bentuk daerah otonomi.

   Ketiga, kekayaan bumi yang ada di daerah otonomi Aceh dikelola, diatur 
dan diolah oleh rakyat Aceh dibawah pengawasan pemerintahan otonomi Aceh.

   Keempat, daerah otonomi Aceh adalah daerah bebas tempat hijrah untuk 
setiap muslim.

   Inilah untuk sementara hasil pemikiran saya untuk rakyat Aceh dengan 
National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Penguasa Indonesia di bawah 
Presiden Habibie.”

   Ketika perjuangan SIRA sudah mencapai klimaksnya dan HUDA mengeluarkan 
fatwa menyokong referendum, dengan tangan dan lututnya yg bergementar Ahmad 
Sudirman terus beraksi, tak kenal lelah mempromosikan usul2 OTONOMI diatas 
tadi sebagai satu2nya jalan keluar untuk  membendung gerakan sipil yg 
menuntut referendum. Ahmad Sudirman tahu betul bahwa Aceh akan merdeka kalau 
referendum dilakukan dan dia tahu juga kemerdekaan Aceh kala itu sudah 
diambang pintu, mengingat HUDA, SIRA, NGO dan golongan intelektual plus 
sebagian birokrat sudah bersatu dalam satu kata: REFERENDUM – yg 
dikumandangkan oleh penyanyi tenar Aceh Yacob Tailah dan Syech Yuldi. 
Kekecewaan Ahmad Sudirman waktu itu sempat dituangkan dalam nada yg sinis:

   ACEH AKAN MENJADI PUSAT DIR
Stockholm, 17 September 1999

   ”….Setelah saya membaca hasil keputusan para ulama Dayah se-Aceh diatas 
yang menjadi suatu fatwa dan rekomendasi, maka timbul pertanyaan dalam 
pemikiran saya yaitu, apakah Aceh akan menjadi pusat Daulah Islam Rasulullah 
yang mempunyai konstitusi yang mengacu kepada Undang Undang Madinah?”

   Tetapi yg lebih memberangkan Ahmad Sudirman lagi adalah sikapnya presiden 
Gusdur yang berpura pura menyokong referendum. Dalam banyak tulisannya, 
Ahmad Sudirman bertubi tubi menghantam Gusdur yang katanya Gusdur belum 
mengerti aspirasi rakyat Aceh dan Gusdur tidak mengerti sama sekali Aceh 
akan merdeka lewat referendum. Dalam diskusi

   ACEH DILEMA BESAR BAGI REZIM GUS DUR-MEGA, Stockholm, 11 Nopember 1999,

    Ahmad Sudirman meratapi kekecewaannya sbb:


   ”Apabila referendum ditetapkan, maka saya menggambarkan bahwa mayoritas 
rakyat Aceh memilih keluar dari kesatuan Daulah Pancasila. Dan ini yang 
menurut saya Gus Dur masih belum memahami benar keinginan rakyat Aceh. Gus 
Dur masih yakin kepada orang-orang yang duduk dibelakang meja pemerintah, 
yang masih dianggap loyal kepada pemerintah.
   Dan saya yakin, bahwa Daulah Pancasila apabila tidak berhasil 
penguasanya, yaitu Gus Dur dan kabinetnya, ditambah MPR/DPR-nya, maka 
falsafah pancasila yang dijadikan alat pemersatu bangsa ternyata tidak mampu 
dijadikan sebagai alat pemersatu, yang akhirnya mengalami kehancuran total 
bersamaan dengan pecah-belahnya Daulah Pancasila menjadi kepingan-kepingan 
kecil yang satu sama lain saling menganggap bahwa kesukuan dan kebangsaan 
merupakan identitas negara.”

   AHMAD SUDIRMAN MEMUSUHI FREE ACHEH DEMOCRATIC

   Setelah membidik,mempelajari, mengkaji, menelaah, menguliti dan 
menelanjangi sosok Ahmad Sudirman dengan materi dari pikiran dan 
perbuatannya sendiri, maka sudah terjawab semua teka teki mengapa Ahmad 
Sudirman sangat memusuhi Free Acheh Demokratik dan Persatuan Masyarakat Aceh 
di Skandinavia sebelumnya. Sebab, Ahmad Sudirman maha tahu bahwa hanya kedua 
dua organisasi tersebut yg masih berjalan diatas relnya –menuju merdeka. Dan 
sudah terjawab juga semua teka teki mengapa Ahmad Sudirman sangat menyokong, 
memuja-muja dan mengagung-agungkan MoU Helsinki. Sebab, Ahmad Sudirman maha 
tahu bahwa hanya dengan jalan inilah Aceh dapat diabadikan kedalam NKRI dan 
NKRI sendiri selamat dari disintegrasi.

   Ahmad Sudirman, dengan keahliannya mempermainkan  kata kata, telah 
berhasil menipu sebagian pembacanya, khususnya masyarakat Aceh. Dengan 
terbuka kedok khianatnya, maka diharapkan supaya pembaca yg budiman, 
khususnya masyarakat Aceh yg telah terlanjur mempercayai Ahmad Sudirman, 
supaya menarik diri dan dengan demikian polimik dengan Ahmad Sudirman 
berakhirlah sudah.

   Wabillahittaufik walhidayah wassalamualaikum wr.wb.

   Wassalam


   Usman Harun

   PS: Artikel lengakap dari semua kutipan diatas, sila baca di  
http://www.dataphone.se/~ahmad, milik Ahmad Sudirman. Dan Saya tutup tulisan 
ini dengan  sebuah tulisan Ahmad Sudirman, untuk hiburan pembaca.



   PEMERINTAH ACHEH BERDIRI DENGAN WALI NEGARA, KANUN, BENDERA, LAMBANG & 
LAGU KEBANGSAAN ACHE, Stockholm, 15 Agustus 2005

   BANGSA ACHEH MENUJU KEBEBASAN DAN KEDAMAIAN DIBAWAH PEMERINTAH SENDIRI 
ACHEH DALAM NAUNGAN WALI NEGARA ACHEH TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO

   Hari ini, Senin, 15 Agustus 2005 bangsa Acheh memasuki wilayah yang aman 
dan damai di Acheh yang nantinya akan berada dibawah lindungan Wali Negara 
dan Pemerintah Sendiri Acheh dengan diiringi lagu kebangsaan Negeri Acheh, 
dengan kibaran bendera Negara Acheh beserta lambang identitas bangsa Acheh.
   Bangsa Acheh mendapat kebebasan untuk melakukan hubungan dagang dengan 
pihak dalam negeri dan luar negeri. Sumber kehidupan yang ada di Acheh akan 
diatur dan dinikmati oleh bangsa Acheh. Sumber alam gas dan minyak bumi 70% 
adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Acheh.
   Keamanan dalam negeri Acheh akan diatur dan diawasi oleh Polisi Acheh 
yang Kepala Polisinya diangkat oleh Kepala Pemerintah Sendiri Acheh. 
Penerimaan anggota Kepolisian Acheh dilakukan setelah konsultasi dengan 
Kepala Pemerintah Sendiri Acheh.
   Selamat bagi Bangsa Acheh dan Negara Acheh. Semoga Allah SWT meridhai 
perjuangan bangsa Acheh. Amin.
   ----------


---------------------------------
   Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business.


---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low  PC-to-Phone call 
rates.




Tahukah anda!!! Lantak group tidak menapis sebarang maklumat yg anda kirim??? 
Inilah yg membuat berita anda cepat dan jelas (jangan salahgunakan keistimewaan 
ini)...
beri tahu maklumat ini kepada rakan anda, ajaklah mereka untuk bergabung 
bersama dengan hanya semudah megirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Salam perjuangan. 
--------------
ACHEH - Tiada pilihan lain selain MERDEKA!!!
**UNTUK BERHENTI MELANGGAN DARI MILIS LANTAK:
kirimkan email anda kepada [EMAIL PROTECTED]
http://lantak.cjb.net
*PLEASE REPORT ANY LANTAK ABUSE TO: [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Lantak/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke