T.I. Thamrin
Nyang mat taloe, nyang peh bajoe, nyang duek keudroe banduem padra
(Yang pegang tali, yang pasang pasak, yang duduk sendiri sama saja)
ITULAH yang terjadi di Indonesia sekarang, Cut Lem. Karena Aceh masih bagian Indonesia, tentu tanah kelahiran kita termasuk di dalamnya. Apa itu, Ampon meutuah? Korupsi berjamaah. Dilakukan oleh pejabat tinggi sampai ketua Rukun Tetangga/Rukun Warga. Dari petinggi militer dan polisi sampai hansip dan satpam. Tapi yang cuma melihat dengan ngiler, rho ie babah meutep-tep, tak bisa disalahkan kan? Nyang duek keudro, kata hadih maja itu, yakni yang hanya duduk saja tetap ikut disalahkan. Apalagi kalau kamu ingin, sampai air liurmu mengucur, ikut bersalah. Niat kelimpahan rezeki korupsi saja sudah berdosa. Bahkan menonton tanpa berbuat apa-apa, melaporkan ke pihak berwajib, misalnya, rumah masa depanmu adalah neraka. Masak? Melawan kebatilan itu bersifat wajib. Pertama
dengan bertindak atau mencegah. Kalau ini tak sanggup kamu lakukan, kamu bisa cegah dengan lisanmu, misalnya dengan menasehati. Jika yang ini juga tak mampu kamu lakukan, doakan agar si pelaku insyaf. Meunan, Cut Lem. Soal melaporkan ke pelaku korupsi, aku sebenarnya ingin sekali, Ampon. Tapi percuma. Aparat hukum yang dilapori tidak akan memedulikannya. Kita bisa dituduh memfitnah. Banyak polisi, jaksa, hakim, bahkan wakil kita juga tergolong
Pancuri tujoh, pencuri tujuh, koruptor berjamaah, Cut Lem. Termasuk yang duduk menonton saja dari gedung DPR/DPRD. Bahkan mereka ikut jadi calo proyek-proyek pembangunan. Au zubillah min zalik. Mereka abai dengan peringatan Allah lewat gempa dan tsunami di Aceh maupun luar Aceh. Di Jawa bahkan ada banjir lumpur panas. Ini peringatan Tuhan! Tapi sadarkah mereka? Tidak, Ampon. Di Aceh, ada indikasi penyimpangan Rp 23,96 miliar di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias (Kompas, 26/8). Ka kupeugah!
Badan pengawas korupsi Indonesia, Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan indikasi korupsi dan penyimpangan di lima bidang pekerjaan. Yaitu di bidang-bidang pencetakan buku, penyusunan pembangunan wilayah, pemusnahan obat kadaluwarsa, pengadaan inventaris kantor, dan penunjukan konsultan media. BRR, Betul-betul Rusak dan Runyam. Itu terjadi karena konflik kepentingan. Karena para rekanan terkait dengan para petinggi BRR.Bahkan ketua BRR sendiri, Kuntoro Mangkusubroto masih menjadi komisaris di Holcim Group (pemilik saham Semen Cibinong) sejak 11 Desember 2001. Han pueh-pueh di gob nyan, Ampon. Tak puas-puas dia. Penunjukan PT Wastuwidyawan dipertanyakan karena pemiliknya Adi Siswanto adalah Deputi Perumahan BRR. Dan ada beberapa indikasi lain. Peugah bak abeh, Ampon, bak diteupeu lee oreung Aceh. Ungkap semua biar rakyat Aceh tahu. Dalam pencetakan buku, ada indikasi perusahaan bodong yang ditunjuk jadi rekanan, yang cuma perusahaan air minum.
Nyan kadang baroe ek meuk. Kata kemenakan saya, Ampon, itu baru puncak gunung es. Dan karena dilakukan oleh pancuri tujoh dalam budaya korupsi berjamaah, rakyat Aceh harus terus memantaunya. Kalau perlu meminta Pak Kuntoro angkat koper dari Aceh. Jak peutak keudeh! Monggo
Bek peukaco ie lam neuheun ureung laen.[]
|