http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]

Stockholm, 18 Agustus 2006

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


PERMAS = PDI-P = PKB MENENTANG DAN MENOLAK MOU HELSINKI 15 AGUSTUS 2005.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


ADA KESAMAAN ANTARA PERMAS DAN PDI-P DAN JUGA PKB YAITU SAMA-SAMA MENENTANG 
DAN MENOLAK MOU HELSINKI 15 AGUSTUS 2005.

”Sebelum dan sesudah MoU ditandatangani, Persatuan Masyarakat Aceh 
Skandinavia (PERMAS) telah mengeluarkan sejumlah pernyataan tentang 
keberatannya terhadap perjanjian Helsinki tersebut. Adapun alasan alasan 
Permas sebagai berikut: MoU tidak dijalankan dengan demokratik, transparan 
dan penuh dengan penipuan serta trik trik politik. MoU telah menggugurkan 
hak bangsa Aceh untuk merdeka yang telah diperjuangkan selama tiga dekade 
ini dengan harta, tenaga dan darahnya. MoU telah menghilangkan hak penentuan 
nasib diri sendiri bangsa Aceh secara demokratik melalui sebuah referendum. 
MoU telah menghalalkan pembunuhan besar besaran terhadap rakyat sipil Aceh 
oleh TNI selama konflik, dengan cara mengabaikan begitu saja pengusutan HAM 
berat paska MoU. Atas berbagai alasan di atas, maka jelas PERMAS menolak 
keberadaan MoU. Dengan demikian, maka secara otomatis PERMAS tidak ada 
urusan apapun dengan UUPA yang dilahirkan dari induk MoU yang telah 
dijadikan sebagai alat untuk mengekalkan penjajahan RI terhadap bangsa 
Aceh.” (Abunizar Mohd Ali, Ketua II, [EMAIL PROTECTED] , 
[EMAIL PROTECTED] , [EMAIL PROTECTED] , Skandinavia, 16 Agustus 
2006)

Tanggapan yang disampaikan oleh saudara Abunizar Mohd Ali, Ketua II 
Persatuan masyarakat Aceh di Skandinavia (PERMAS) atas pernyataan yang 
disampaikan oleh saudara Zulfikar Ben dari Amerika mengenai ”pernyataan 
masyarakat Acheh diseluruh dunia tentang setahun perdamaian di Acheh”, 
ternyata menggambarkan pandangan dan pikiran pihak PERMAS-nya saudara 
Abunizar Mohd Ali yang sempit dan sekaligus menunjukkan adanya kesamaan 
antara PERMAS dengan PDI-P-nya Megawati dan PKB-nya Abdurrahman Wahid. 
Mengapa ?

Karena PDI-P, PKB dan PERMAS adalah sama-sama menentang dan menolak pakta 
perjanjian damai antara Gerakan Acheh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik 
Indonesia yang dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki 
yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Filandia, walaupun 
diantara mereka bertiga memiliki alasan penolakan yang berbeda.

Dimana alasan PDI-P-nya Megawati menolak MoU Helsinki adalah karena masalah 
Acheh merupakan masalah dalam negeri sehingga perundingan antara GAM dan RI 
tidak perlu diselenggarakan diluar negeri dan tidak perlu melibatkan dunia 
internasional. Sedangkan alasan PKB-nya Abdurrahman Wahid menganggap masalah 
Acheh adalah masalah dalam negeri Indonesia. Adapun alasan pihak PERMAS-nya 
Abunizar Mohd Ali adalah karena ”MoU telah menggugurkan hak bangsa Aceh 
untuk merdeka yang telah diperjuangkan selama tiga dekade ini dengan harta, 
tenaga dan darahnya. MoU telah menghilangkan hak penentuan nasib diri 
sendiri bangsa Aceh secara demokratik melalui sebuah referendum. MoU telah 
menghalalkan pembunuhan besar besaran terhadap rakyat sipil Aceh oleh TNI 
selama konflik, dengan cara mengabaikan begitu saja pengusutan HAM berat 
paska MoU.”

Nah, kalau kita teliti secara seksama alasan yang disampaikan oleh saudara 
Abunizar Mohd Ali dari PERMAS tentang penolakan MoU Helsinki, maka akan 
terbukti bahwa pihak PERMAS adalah pertama, pihak yang memang tidak mengerti 
dan tidak memahami apa yang dinamakan pakta perjanjian damai antara GAM dan 
RI yang tertuang dalam MoU Helsinki. Kedua, pihak PERMAS tidak mengerti dan 
tidak memahami status dan kedudukan PERMAS dihubungkan dengan status dan 
kedudukan GAM. Ketiga, pihak PERMAS tidak mengerti dan tidak menyadari bahwa 
PERMAS di Skandinavia adalah hanya sekedar organisasi sosial dan budaya 
saja, yang tidak memiliki kekuatan politik dan hukum. Keempat, pihak PERMAS 
tidak mengerti dan tidak menyadari bahwa PERMAS secara politik tidak diakui 
oleh Pemerintah Swedia, Norwegia dan Danmark.

Sekarang, kita meneliti dan menguliti mengapa pihak PERMAS tidak mengerti 
dan tidak memahami apa yang dinamakan pakta perjanjian damai antara GAM dan 
RI yang tertuang dalam MoU Helsinki?

Karena, yang namanya pakta perjanjian damai antara GAM dan RI yang tertuang 
dalam MoU Helsinki adalah bukan merupakan penyerahan diri dari pihak GAM 
kepada pihak RI; bukan merupakan penyerahan kedaulatan Acheh kepada RI; 
bukan merupakan pengakuan kedaulatan RI atas Acheh; bukan merupakan alat 
untuk mengekalkan penjajahan RI terhadap bangsa Acheh; tidak menggugurkan 
hak bangsa Acheh untuk merdeka yang telah diperjuangkan selama tiga dekade 
ini dengan harta, tenaga dan darahnya; tidak menghilangkan hak penentuan 
nasib diri sendiri bangsa Acheh; tidak menghalalkan pembunuhan besar besaran 
terhadap rakyat sipil Acheh oleh TNI selama konflik. Melainkan MoU Helsinki 
adalah pakta perjanjian damai atau kesepakatan damai antara GAM dan RI yang 
menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak. Dimana tidak ada 
pihak yang menang atau pihak yang kalah, melainkan kedua belah pihak 
mendapatkan tingkat martabat yang sama.

Nah, alasan-alasan tersebut diatas yang tidak dimengerti dan tidak dipahami 
oleh pihak saudara Abunizar Mohd Ali bersama PERMAS-nya.

Kemudian, mengenai tanggapan saudara Abunizar Mohd Ali bersama PERMAS-nya 
bahwa MoU tidak dijalankan dengan demokratik, transparan dan penuh dengan 
penipuan serta trik trik politik menggambarkan bagaimana pandangan pihak 
PERMAS yang sempit dan dangkal. Mengapa ?

Karena, yang berunding dengan pihak RI adalah GAM, bukan PERMAS. GAM tidak 
memiliki hubungan langsung, baik secara politik, hukum maupun secara 
organisasi dengan pihak PERMAS. Karena itu tidak ada tanggung jawab politik, 
hukum dan organisasi bagi GAM atas PERMAS. Atau dengan kata lain PERMAS 
adalah organisasi sosial dan budaya yang ada di Swedia, Norwegia dan Danmark 
yang tidak memiliki jalur hubungan politik, hukum dan organisasi dengan GAM, 
sehingga secara hukum PERMAS tidak mempunyai hak apapun atas apa yang 
diputuskan oleh pihak GAM dibawah pimpinan tertinggi Teungku Hasan Muhammad 
di Tiro.

Jadi, kalau pihak PERMAS menyatakan bahwa ”MoU tidak dijalankan dengan 
demokratik, transparan dan penuh dengan penipuan serta trik trik politik” 
adalah tidak memiliki kekuatan politik dan hukum yang kuat. Sama saja dengan 
pernyataan dan sikap yang dinyatakan oleh Megawati dengan PDI-P-nya atau 
pernyataan Abdurrahman Wahid dengan PKB-nya yang menolak MoU Helsinki dengan 
alasan masalah Acheh adalah masalah dalam negeri yang tidak perlu melibatkan 
dunia internasional.

Nah sekarang, konsekuensi logisnya adalah karena PERMAS bukan merupakan 
bagian dari GAM baik dilihat secara hukum atau politik atau organisasi, maka 
GAM ketika berunding dengan pihak RI di Helsinki tidak perlu sebelumnya 
mendiskusikan dengan PERMAS atau melibatkan PERMAS didalamnya.

Nah inilah yang tidak dimengerti dan tidak dipahami oleh pihak PERMAS.

Selanjutnya, tanggapan saudara Abunizar Mohd Ali bersama PERMAS-nya: ”Kami 
masyarakat Aceh di Skandinavia (Sweden, Norway dan Denmark) yang tergabung 
dalam PERMAS, dengan ini menyatakan bahwa kami tidak ada hubungan sama 
sekali dengan ”Pernyataan Masyarakat Acheh di Seluruh Dunia” tentang setahun 
damai di Acheh”, yang dikeluarkan di Amerika tanggal 14 Agustus 2006 dan 
disiarkan oleh seseorang bernama Zulfikar Ben. Tindakan yang tidak 
profesional dari sdr. Zulfikar Ben, dengan meng-atas-namakan seluruh rakyat 
Aceh di luar negeri, sungguh tidak bermoral dan tidak bisa 
dipertanggungjawabkan, disebabkan tidak adanya komunikasi dan persetujuan 
terlebih dahulu dengan para pihak yang direpresentasikannya, lebih lebih 
masyarakat Aceh di Sweden yang mayoritasnya anggota PERMAS.”

Nah, dari apa yang dinyatakan oleh pihak PERMAS diatas membuktikan pihak 
PERMAS yang diwakili oleh saudara Abunizar Mohd Ali yang tidak mengerti dan 
tidak memahami pengertian istilah ”Perwakilan - perwakilan  Masyarakat Acheh 
di seluruh dunia”. Mengapa ?

Karena yang dinamakan perwakilan masyarakat Acheh di seluruh dunia adalah 
bukan berarti didalamnya wakil-wakil yang ada dari PERMAS, melainkan 
wakil-wakil masyarakat Acheh lainnya yang ada di seluruh dunia yang bukan 
anggota PERMAS.

Karena memang PERMAS tidak memiliki hubungan dengan GAM baik secara politik 
atau hukum atau organisasi, maka logis apabila memang dari pihak PERMAS 
tidak ada wakilnya yang ikut menyatakan penolakan ”Undang-Undang 
Pemerintahan Acheh yang tidak sesuai dengan Memorandum of Understanding 
(MOU) Helsinki, kecuali Pemerintah Indonesia segera merevisi pasal-pasal 
dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Acheh yang 
bertentangan dengan semua butir-butir dan pasal-pasal Memorandum of 
Understanding (MOU) Helsinki.”

Jadi, dengan adanya pernyataan dari pihak PERMAS yang menyatakan bahwa 
saudara Zulfikar Ben melakukan ”tindakan yang tidak profesional, dengan 
meng-atas-namakan seluruh rakyat Aceh di luar negeri, sungguh tidak bermoral 
dan tidak bisa dipertanggungjawabkan” menunjukkan pernyataan yang tidak 
tidak ada dasar kekuatan hukumnya. Saudara Zulfikar Ben telah melakukan 
tindakan yang profesional dengan cara tidak melibatkan wakil dari PERMAS, 
karena memang PERMAS adalah diluar GAM dan yang menentang sejak dari awal 
terhadap MoU Helsinki.

Terakhir, disarankan kepada saudara Abunizar Mohd Ali bersama PERMAS-nya 
untuk lebih banyak belajar dan menggali masalah politik, hukum dan 
organisasi, khususnya mengenai status dan kedudukan PERMAS dihubungkan 
dengan GAM agar supaya kalau menanggapi tentang MoU Helsinki tidak 
terjerumus kejurang kesempitan dan kejumudan.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu 
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang 
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel 
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita 
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------

PERSATUAN MASYARAKAT ACEH DI SKANDINAVIA (PERMAS)
P.O.Box: 1548, Kjelvene 4093, Stavanger, Norway

Tanggapan PERMAS terhadap ”pernyataan masyarakat Aceh di seluruh dunia”

Kami masyarakat Aceh di Skandinavia (Sweden, Norway dan Denmark) yang 
tergabung dalam PERMAS, dengan ini menyatakan bahwa kami tidak ada hubungan 
sama sekali dengan ”Pernyataan Masyarakat Acheh di Seluruh Dunia” tentang 
setahun damai di Acheh”, yang dikeluarkan di Amerika tanggal 14 Agustus 2006 
dan disiarkan oleh seseorang bernama Zulfikar Ben.

Tindakan yang tidak profesional dari sdr. Zulfikar Ben, dengan 
meng-atas-namakan seluruh rakyat Aceh di luar negeri, sungguh tidak bermoral 
dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, disebabkan tidak adanya komunikasi dan 
persetujuan terlebih dahulu dengan para pihak yang direpresentasikannya, 
lebih lebih masyarakat Aceh di Sweden yang mayoritasnya anggota PERMAS.

Sebelum dan sesudah MoU ditandatangani, Persatuan Masyarakat Aceh 
Skandinavia (PERMAS) telah mengeluarkan sejumlah pernyataan tentang 
keberatannya terhadap perjanjian Helsinki tersebut. Adapun alasan alasan 
Permas sebagai berikut:

MoU tidak dijalankan dengan demokratik, transparan dan penuh dengan penipuan 
serta trik trik politik.
MoU telah menggugurkan hak bangsa Aceh untuk merdeka yang telah 
diperjuangkan selama tiga dekade ini dengan harta, tenaga dan darahnya.
MoU telah menghilangkan hak penentuan nasib diri sendiri bangsa Aceh secara 
demokratik melalui sebuah referendum.
MoU telah menghalalkan pembunuhan besar besaran terhadap rakyat sipil Aceh 
oleh TNI selama konflik, dengan cara mengabaikan begitu saja pengusutan HAM 
berat paska MoU.

Atas berbagai alasan di atas, maka jelas PERMAS menolak keberadaan MoU. 
Dengan demikian, maka secara otomatis PERMAS tidak ada urusan apapun dengan 
UUPA yang dilahirkan dari induk MoU yang telah dijadikan sebagai alat untuk 
mengekalkan penjajahan RI terhadap bangsa Aceh.

Demikian pernyataan PERMAS, mudah2an tidak disalah mengertikan.

Skandinavia, 16 Agustus 2006
Abunizar Mohd Ali
Ketua II
Email:
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]

PERMAS adalah sebuah organisasi yang di bentuk pada musim panas 2004 oleh 
masyarakat Aceh di Skandinavia. Tujuan pokok dari organisasi tersebut adalah 
menyatupadukan warga Aceh yang tersebar di luar negeri, khususnya di 
negara-negara Skandinavia dan bekerja sama untuk mencapai sebuah solusi yang 
demokratis, adil, damai terhadap konflik Aceh
----------

PERNYATAAN MASYARAKAT ACHEH DI SELURUH DUNIA TENTANG SETAHUN PERDAMAIAN DI 
ACHEH.

Hanya dengan berlandaskan pada Memorandum of Understanding (MOU) atau Nota 
Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Acheh Merdeka 
yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia dan 
adanya komitment dari kedua pihak untuk menyelesaikan konflik Acheh serta 
adanya kesungguhan untuk menghormati seluruh isi MOU, maka perdamaian yang 
menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak di Acheh dapat 
diwujudkan, dijalankan dan dipelihara.

Setahun telah berjalan perdamaian di Acheh, Pemerintah Republik Indonesia 
dengan sengaja tidak menghormati seluruh isi kesepakatan damai yang tertuang 
dalam MOU melalui cara penghilangan dan perobahan isi MOU seperti yang 
dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan 
Acheh. Usaha penghilangan dan perobahan isi MOU yang dilakukan oleh pihak 
Pemerintah Republik Indonesia adalah suatu pelanggaran kesepakatan damai 
yang bisa membahayakan perdamaian di Acheh. Konsekuensi dengan adanya 
penyimpangan isi UU PA dengan butir-butir MOU tersebut, pihak Gerakan Acheh 
Merdeka dan sebagian besar masyarakat sipil di Acheh menyatakan sikap tidak 
setuju dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Acheh 
sebelum UU tersebut direvisi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Apabila 
Pemerintah Indonesia tidak menjadikan MoU sebagai pedoman dalam penyusunan 
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Acheh, maka 
perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua pihak 
di Acheh sulit untuk diwujudkan.

Berdasarkan pada pertimbangan diatas, kami masyarakat Acheh di seluruh dunia 
menyatakan:

1. Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Acheh Merdeka harus tetap 
konsisten dengan butir-butir  Memorandum of Understanding (MoU) yang di 
tandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

2. Kami seluruh masyarakat Acheh di luar negeri menolak Undang-Undang 
Pemerintahan Acheh yang tidak sesuai dengan Memorandum of Understanding 
(MOU) Helsinki, kecuali Pemerintah Indonesia segera merevisi pasal-pasal 
dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Acheh yang 
bertentangan dengan semua butir-butir dan pasal-pasal Memorandum of 
Understanding (MOU) Helsinki.

4. Seluruh masyarakat Acheh yang ada di Acheh dan di luar Acheh untuk tetap 
mendukung penuh perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat 
bagi semua pihak.

United State of America, 14 Agustus 2006
Contact Person
Zulfikar Ben
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Telp: +1 443 7221646

Perwakilan - perwakilan  Masyarakat Acheh di seluruh dunia
1. Perwakilan Masyarakat Acheh di USA).
2. Perwakilan Masyarakat Acheh di Canada.
3. Perwakilan Masyarakat Acheh di Australia.
4. Perwakilan Masyarakat Acheh di New Zealand.
5. Perwakilan Masyarakat Acheh di Sweden.
6. Perwakilan Masyarakat Acheh di Norway.
7. Perwakilan Masyarakat Acheh di Denmark.
8. Perwakilan Masyarakat Acheh di Finland.
9. Perwakilan Masyarakat Acheh di Jerman.
10. Perwakilan Masyarakat Acheh di Belanda.
11. Perwakilan Masyarakat Acheh di Malaysia.
12. Perwakilan Masyarakat Acheh di Mesir.
----------



>From: Aceh Watch <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [email protected]
>To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],  
>[EMAIL PROTECTED]
>Subject: «PPDi» Fw: Tanggapan PERMAS terhadap ”pernyataan masyarakat Aceh 
>di seluruh dunia” + Hana sapeue njang djeuet gantoe MERDÉKA!
>Date: Fri, 18 Aug 2006 07:58:41 -0700 (PDT)
>MIME-Version: 1.0
>X-Originating-IP: 209.73.179.30
>X-Sender: [EMAIL PROTECTED]
>Received: from n23.bullet.scd.yahoo.com ([66.94.237.52]) by 
>bay0-mc3-f19.bay0.hotmail.com with Microsoft SMTPSVC(6.0.3790.2444); Fri, 
>18 Aug 2006 08:04:02 -0700
>Received: from [66.218.69.6] by n23.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 18 Aug 
>2006 15:02:22 -0000
>Received: from [66.218.66.34] by t6.bullet.scd.yahoo.com with NNFMP; 18 Aug 
>2006 15:02:22 -0000
>Received: (qmail 1902 invoked from network); 18 Aug 2006 15:01:46 -0000
>Received: from unknown (66.218.67.33)  by m28.grp.scd.yahoo.com with QMQP; 
>18 Aug 2006 15:01:46 -0000
>Received: from unknown (HELO web61116.mail.yahoo.com) (209.73.179.30)  by 
>mta7.grp.scd.yahoo.com with SMTP; 18 Aug 2006 15:01:46 -0000
>Received: (qmail 81856 invoked by uid 60001); 18 Aug 2006 14:58:41 -0000
>Received: from [83.251.3.96] by web61116.mail.yahoo.com via HTTP; Fri, 18 
>Aug 2006 07:58:41 PDT
>X-Message-Info: LsUYwwHHNt2wNW8KAHKJWfN2PT4fqi7a5xjoppNt/qw=
>Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
>DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; 
>d=yahoogroups.com;b=FBZF8YzqL4ECKBCd5JN8Y3AWBWAijk9J8+MOnVu9HCzZ/d48ybaTMB2fwHZRs+UkdCV4oTYVU6eqOW2PIfEk8RzdDFWa+5Hzh0ew0gmTEd7wl62XsrgbiAQUMzy1zclE;
>X-Yahoo-Newman-Property: groups-email
>X-Yahoo-Newman-Id: 2530892-m14350
>X-Apparently-To: [email protected]
>Mailing-List: list [email protected]; contact [EMAIL PROTECTED]
>Delivered-To: mailing list [email protected]
>List-Id: <PPDi.yahoogroups.com>
>Precedence: bulk
>List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>Return-Path: 
>[EMAIL PROTECTED]
>X-OriginalArrivalTime: 18 Aug 2006 15:04:02.0508 (UTC) 
>FILETIME=[8A8FE0C0:01C6C2D7]
>
>                 Tanggapan PERMAS terhadap ”pernyataan masyarakat Aceh di 
>seluruh dunia”
>______________________
>
>
>Persatuan Masjarakat Atjèh di Skandinavia (PERMAS)
>
>Box: 1548, Kjelvene 4093 Stavanger, Norway
>Tel: + 47-95247970 / Fax: + 47-41558513
>E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
>[EMAIL PROTECTED]
>
>Kami masyarakat Aceh di Skandinavia (Sweden, Norway dan Denmark) yang 
>tergabung dalam PERMAS, dengan ini menyatakan bahwa kami tidak ada hubungan 
>sama sekali dengan ”Pernyataan Masyarakat Acheh di Seluruh Dunia” tentang 
>setahun damai di Acheh”, yang dikeluarkan di Amerika tanggal 14 Agustus 
>2006 dan disiarkan oleh seseorang bernama Zulfikar Ben.
>
>Tindakan yang tidak profesional dari sdr. Zulfikar Ben, dengan 
>meng-atas-namakan seluruh rakyat Aceh di luar negeri, sungguh tidak 
>bermoral dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, disebabkan tidak adanya 
>komunikasi dan persetujuan terlebih dahulu dengan para pihak yang 
>direpresentasikannya, lebih lebih masyarakat Aceh di Sweden yang 
>mayoritasnya anggota PERMAS.
>
>Sebelum dan sesudah MoU ditandatangani, Persatuan Masyarakat Aceh 
>Skandinavia (PERMAS) telah mengeluarkan sejumlah pernyataan tentang 
>keberatannya terhadap perjanjian Helsinki tersebut. Adapun alasan alasan 
>Permas sebagai berikut:
>
>1. MoU tidak dijalankan dengan demokratik, transparan dan penuh dengan 
>penipuan serta trik trik politik.
>2. MoU telah menggugurkan hak bangsa Aceh untuk merdeka yang telah 
>diperjuangkan selama tiga dekade ini dengan harta, tenaga dan darahnya
>3. MoU telah menghilangkan hak penentuan nasib diri sendiri bangsa Aceh 
>secara demokratik melalui sebuah referendum
>4. MoU telah menghalalkan pembunuhan besar besaran terhadap rakyat sipil 
>Aceh oleh TNI selama konflik, dengan cara mengabaikan begitu saja 
>pengusutan HAM berat paska MoU.
>
>Atas berbagai alasan di atas, maka jelas PERMAS menolak keberadaan MoU. 
>Dengan demikian, maka secara otomatis PERMAS tidak ada urusan apapun dengan 
>UUPA yang dilahirkan dari induk MoU yang telah dijadikan sebagai alat untuk 
>mengekalkan penjajahan RI terhadap bangsa Aceh.
>
>Demikian pernyataan PERMAS, mudah2an tidak disalah mengertikan.
>
>Skandinavia, 16 Agustus 2006
>
>
>Abunizar Mohd Ali
>Ketua II
>
>Email:
>[EMAIL PROTECTED]
>[EMAIL PROTECTED]
>[EMAIL PROTECTED]
>
>PERMAS adalah sebuah organisasi yang di bentuk pada musim panas 2004 oleh 
>masyarakat Aceh di Skandinavia. Tujuan pokok dari organisasi tersebut 
>adalah menyatupadukan warga Aceh yang tersebar di luar negeri, khususnya di 
>negara-negara Skandinavia dan bekerja sama untuk mencapai sebuah solusi 
>yang demokratis, adil, damai terhadap konflik Aceh.
>+++++++++++++++++++++++++++++++++++++
>
>
>
>
>
>
>
>Association of Achehnese Community
>in Scandinavia (AACS)
>
>Box: 1548, Kjelvene 4093 Stavanger, Norway, Tel: + 47-95247970 / Fax: + 
>47-41558513
>E-mail: [EMAIL PROTECTED]; permas:[EMAIL PROTECTED]; 
>[EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>     THERE IS NO SUBSTITUTE FOR A GENUINE
>FREEDOM AND INDEPENDENCE
>
>
>   After a mere five meetings, The Free Acheh Movement (GAM) and the 
>Indonesian government is scheduled to sign a historic agreement on August 
>15 in Helsinki, the capital city of Finland. Though the full details of the 
>agreement have yet to be disclosed, the substantial points of the draft 
>have been widely analysed and published in the media. The five rounds of 
>talks seemed to have gone smoothly and in a very benign atmosphere, largely 
>due to GAM’s formal recognition of Acheh being an integral part of 
>Indonesia.
>
>
>   This bold decision taken by the so called GAM leadership in Sweden to 
>drop the long sworn demand for an independent Acheh, has taken the 
>international community as well as Jakarta a back. Knowing GAM had fallen 
>into its own pitfall, the whole world came in unison to support the process 
>and tighten the grip on the already weakening position of GAM Sweden-based 
>Olof Palme Centre in collaboration with Crisis Management Initiatives (CMI) 
>invited to Stockholm a handful, embedded representatives of Achehnese civil 
>society, mostly handpicked GAM members from Malaysia, for consultation with 
>GAM leaders to speedy up the process.
>
>
>   We, PERMAS, support wholeheartedly the peace efforts, but we 
>categorically reject “self-government” or any other falshood as a final 
>solution to the conflict. Our sworn goal to restore our ancient, historic 
>independent Acheh remains. Achehnese have dearly paid with their blood for 
>this holy cause and that cannot be merely replaced by “self-government”, 
>under the unitary state of Indonesia and its 1945 constitution. For there 
>is no subtitute for a genuine freedom and independence.
>
>
>   PERMAS does not believe that a political party strived by GAM will be 
>able to fully adress the aspirations of the Achehnese. Nor does it believe 
>that this political party under the yokes of TNI can guarantee Achehnese to 
>move and express themselves without fear. To achieve a permanent and 
>eternal peace in Acheh, TNI as well as TNA must be temporarily disarmed and 
>dissolved. In return, the international community along with the UN should 
>tranform Acheh into a free zone and let the people of Acheh freely 
>excercise their political rights and the right to self-determination under 
>UN supervision. Otherwise, the would be pompous agreement will be proven 
>short-lived.
>
>
>   We regret to have taken this unbending stance in this regard, because we 
>can never trust Indonesia and its TNI with its lucrative business interests 
>in the area to safeguard the interrsts of the Achehnese.We are neither war 
>monggers nor peace diturbers, but, if TNI, after the signing of the peace 
>agreement remain unchanged in its deplorable behaviour, PERMAS together 
>with its partners, the other half Achehnese, around the globe are ready to 
>take on the Achehnese struggle for independence in a peaceful way.
>
>
>   Norway, 11 Augus 2005
>
>
>   Asnawi Ali
>Secretary-general
>Email:[EMAIL PROTECTED], permas:[EMAIL PROTECTED], 
>[EMAIL PROTECTED]
>
>
>PERMAS is an independent association set up in summer 2004 by Achehnese 
>community in Scandinavia. The objective of the organisation is to unite 
>Achehnese abroad, especially, in the Scandinavian countries, and to work 
>together towards a peaceful, democratic solution to Acheh conflict.
>
>
>
>
>
>
>   Persatuan Masjarakat Atjèh di Skandinavia (PERMAS)
>
>Box: 1548, Kjelvene 4093 Stavanger, Norway
>Tel: + 47-95247970 / Fax: + 47-41558513
>E-mail: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
>[EMAIL PROTECTED]
>
>
>HANA SAPEUË PIH NJANG KEUMAH GANTOË
>DEUNGON MEURDÉHKA
>
>
>
>   ’Ohlheuëh limong go sagai meurumpok muka, Geurakan Atjèh Meurdéhka (GAM) 
>dan peurmeurintah Indonesia akan geutèkèn saboh peurdjandjian meuseudjarah 
>bak uroë 15 Agustus di Helsinki, ma kuta Finland. Bahthatpih asoë leungkap 
>nibak peurdjandjiannjan gohlom geupeulahé, tapi asoë2 peunténg nibak 
>arakatanjan ka le that gob kupaih dan tuléh dalam surat-surat haba. Dalam 
>limong boh ronde meusapatnjan deuh ta kalon lantja that djidjak dan dalam 
>suasana njang hana teugang Njoë bandum diseubabkan GAM ka geu ubah 
>posisi-geuh deungon hana geupurôh piléhan meurdéhka dalam agenda 
>peurundéngannjan.
>
>Peunutôh njang beuhe thatnjan njang ka geutjok uléh njang peugah2 droë 
>pimpinan GAM di Sweden, njakni geutiëk tuntutan meurdéhka dan geu angkèë 
>deungon rasmi bahwa Atjèh njan bagian nibak Indonesia, ka peugot masjarakat 
>dônja teumasôk Indonesia keudroë teutahe-tahe. Watèë gob teupeuë bahwa GAM 
>ka rôh dalam peurangakap droë, ban saboh dônja djibeudoh meusigo djidjak 
>peukong prosesnjan dan djipagap ladju ramè2 supaja GAM bèk lheuëh lé dalam 
>peurangkapnjan. Olov Palme Center di Sweden njang djikeuridjasama deungon 
>Crisis Management Initiatives (CMI) ka djiundang u Stockhlom padum2 droë 
>waki rakjat sipil Atjèh untôk djak musjawarah deungon pimpinan GAM disinoë. 
>Bak hakikat, njang djipeunan waki-waki rakjat sipil Atjèh njoë hana laén 
>nibak padum2 droë peunjokong GAM dari Malaya njang ka got that djisaréng 
>jôh gohlom beurangkat.
>
>Kamoë Masjarakat Atjèh di Skandinavia (PERMAS) deungon sipunoh haté 
>meusokong ôsaha-ôsaha peugot damènjan dan kamoë meuheut tjit supaja 
>ikhtijeuë2 njan beu meuhasé. Tapi kamoë hana meupeu-idin sagai-sagai, dalam 
>keuadaan peuë mantong, tjara-tjara diktatur bak djipeudjak buëtnjan, njang 
>deungon meusadja that djipeusè komponen2 masyarakat sipil bèk rôh tjôk 
>peunutôh dalam peukaranjan. Peurdjandjian Helsinki njang akan djitèkèn bak 
>uroë neuhaih 15 Agustus njoë, geungiëng lé ureuëng ramè sibagoë saboh 
>peukara hudép maté bansa Atjèh. Dan GAM sipatôtdjih geumusjawarah dilèë 
>deungon bandum komponen rakjat jôh gohlom geutjok peunutôh njang akan 
>djeuët keu malapeutaka ukeuë. Pimpinan GAM di Sweden njang kajém peugah 
>droë waki bansa Atjèh di nanggroë dan luwa nanggroë, djinoë teungoh tanggôh 
>that djak peulagôt ”pemerintah sendiri” bak bansa Atjèh.
>
>Kamoë bansa Atjèh kalheuëh meubajeuë deungon darah meuh bak meupeudjuang 
>Atjéh Meurdéhka dan han meuteurimong deungon meunan-meunan mantong djidjak 
>tuka deungon sistém ”pemerintah sendiri”, njang hakikatdjih otonomi tjit, 
>dimijub NKRI dan UUD 45. Kamoë deungon teugaih that meutulak istilahnjan 
>atawa istilah-istilah palsu laén njang teungoh djisuleuëng ladju dalam 
>babah kamoë. Tudjuan kamoë bak peugisa keulai kemerdekaan Atjèh njang 
>kalheuëh kamoë meusumpahnjan teutap kamoë peutheun. Sabab, meurdéhka njang 
>hakiki hana keumah tuka deungon peuë mantong.
>
>Kamoë PERMAS hana alasan djeuët meupeutjaya bahwa peureuté politék lokal 
>njang djipeudjuang lé GAM djinoë akan keumah tampông/peutrôk peuë njang 
>geutjita-tjita lé bansa Atjèh. Dan kamoë hana meupatéh tjit bahwa peureuté 
>lokal pura-puranjan akan kemah peudjak dimijub peurintah militè njang 
>teutap berperan bahthatpih kalheuëh meutèkèn peurdjandjian euntreuk.
>
>Untôk meuteumeung saboh damè njang keukai di bumoë Atjèh, TNI dan TNA untôk 
>sementara dilèë pajah kubah beudé dalam gudang maséng-maséng. Lheuëhnjan 
>teuma, masjarakat antara bansa dan PBB geupeunjata Atjèhnjan sibagoë 
>”daerah aman”, dan bri keubèbasan keu bansa Atjèh bak geupraktèk hak-hak 
>politék geuh dan hak peuteuntèë nasib droë meulalui saboh plebisit atawa 
>referendum. Meunjo kon meunan, peurdjandjian Helsinki njang rajek haba ngon 
>buëtnjan akan teubukti paneuk umu sigo treuk.
>
>Bansa Atjèh nakeuh saboh bansa njang galak damè; ureuëng kamoë meuhadjat 
>that peuseulusoë karu-karu di Atjéh deungon adé dan mulia, kon deungon 
>paksaan atawa deungon matjam-matjam keudjutan. Kamoë peutjaja bahwa 
>keumeurdéhkaannjan nakeuh hak saboh-saboh bansa, hana teukeutjuali deungon 
>bansa Atjèh. Kamoë njoë kon ureuëng galak muprang; kontjit kamoë njoë 
>tôkkang peukaru damè. Teutapi meunjo TNI, lheuëh meutèkèn damè euntreuk, 
>mantong djimeupeurangui lagèë kaplat, maka kamoë PERMAS, meusigo deungon 
>rakan-rakan njang meuseutia ban saboh dônja,akan meudong dikeuë dalam 
>peurdjuangan keumeurdéhkaan bansa Atjèh deungon tjara damè, njang kamoë 
>leubèh nibak sanggôp.
>
>Sweden, 11 Agustus 2005
>
>Asnawi Ali
>Sekdjen
>
>Email:
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>---------------------------------
>Do you Yahoo!?
>  Next-gen email? Have it all with the  all-new Yahoo! Mail Beta.




 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mimbarbebas/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke