Setuju, tapi sebenarnya kita orang Indonesia, juga punya satu falsafah
yang tidak kalah dahsyatnya apabila benar-benar diterapkan...Ing Ngarso
Sun Tulodho, Ing Madyo mbangun Karso, Tut wuri Handayani.....sukses
--- In [email protected], "Stepanus Kawihardja" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Sebuah review buku dari milist sebelah.
>
> --
> Regards,
> -=S.K=-
>
> "Dream as if you'll live forever, live as if you'll die today." -
James Dean
> (1931-1955)
>
> *TOYOTA** NO KUCHI GUSE (TNKG)*
>
> Beberapa hari yang lalu saya mampir ke sebuah toko buku Seibunkan
(toko buku
> yg hampir ada disetiap kota-kota di jepang). Dalam satu barisan
buku-buku
> yang saya scaning secara sekilas, ada satu buku yang menarik perhatian
saya.
> "Toyota no kuchi guse" (TNKG). Toyota = perusahaan mobil terkenal
toyota,
> Kuchi = mulut dan Guse = kebiasan. Artinya dalam bahasa kita "kebiasan
> bicara di toyota".
>
> TNKG ini yang menjadi salah satu faktor kemajuan dari perusahaan mobil
> toyota. Kebiasaan bicara yang selalu diucapkan oleh para pimpinan atau
> penanggung jawab (kepala pabrik, leader, manager dst. yang memiliki
posisi
> atasan dan tanggung jawab).
>
> Buku itu menjelaskan beberapa kuchi guse yang sering dipakai oleh
> mereka-mereka yang memiliki tanggung jawab di toyota. Salah satu yang
ingin
> saya sharing di sini adalah sebuah kuchi guse "ore ga itte kita, omae
wa
> itta ka?", yang dalam bahasa gaul kita sehari-hari "gua udah turun ke
> lapangan, elo udah turun belon?". Ini yang selalu diucapkan
atasan-atasan di
> toyota ketika mendapat laporan trouble dari bawahannya. Satu kebiasaan
di
> toyota, ketika ada masalah langsung keluar laporan dari bawahan. Tapi
oleh
> atasan atau si penanggung jawab laporan tersebut tidak dibaca dulu.
>
> Diletakkan di atas mejanya lalu si atasan langsung turun ke lapangan
melihat
> dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang terjadi di pabrik itu.
Setelah
> si atasan tadi selesai melihat-lihat, baru kemudian dibacanya laporan
dari
> bawahannya. Beberapa saat kemudian diadakan rapat terkait masalah
tadi.
> Sebelum rapat atasan tadi mengeluarkan kuchi guse, "gua udah turun ke
> lapangan, elo udah turun belon?". Kalau ada peserta rapat yang belum
turun
> ke lapangan dan lihat sendiri apa yang sedang terjadi, maka rapat
ditunda...
>
>
> Seorang atasan yang sebelumnya menjadi bawahan merasakan betul
ungkapan yang
> begitu dahsyat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang muncul saat
itu.
> Dengan turun langsung ke lapangan kita akan dapat mengetahui secara
langsung
> apa yang sebenarnya terjadi. Tidak terpaku pada laporan bawahan yang
kadang
> dan kemungkinan disamarkan kondisi yang sebenarnya karena khawatir
> disalahkan oleh atasannya. Sehingga ada kemungkinan laporannya dibuat
tadi
> menjadi tidak valid. Maka sebelum membaca laporan tadi, para atasan di
> toyota langsung turun dahulu ke "gemba" (pabrik).
>
> Dan memang, kebiasan para atasan di jepang kerjanya tidak duduk-duduk
di
> meja kantor saja utk acc atau terima laporan jadi dari bawahannya.
Tapi
> selalu mondar-mandir kantor, pabrik, kantor, pabrik dan seterusnya..
Dan ini
> saya lihat sendiri ketika saya menemani vice presiden perusahaan
Indonesia
> yang terkait dengan Toyota datang ke pabrik Toyota langsung. Para
atasan
> turun ke pabrik untuk ngecek kondisi lapangan, diskusi dengan
buruh-buruh
> yang bekerja menanyakan apakah ada masalah dsb.
>
> Tidak heran kalau perusahaan jepang berhasil dan berada di papan atas
> perusahaan-perusahaan internasional...
>
> Bisakah kita mencontohnya?
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>