Bersyukur dan Bahagia
oleh: Andrie Wongso
Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari
pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja.
Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang.
Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya.
Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya.
Begitu hari-hari berlalu.
Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari
rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. "Akh. Aku sudah menua. Setiap
hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku
tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?
"Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua
kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana. Dia berpakaian layaknya rakyat
biasa dan membaur ke tempat keramaian."Duh, hidup begitu susah, begitu tidak
adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan
kurang," terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.
Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta
berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan
garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.
Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia
berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap
gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, "Huah! Tuhan, terima kasih. Hari
ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula
makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku
dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.
"Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang
bergegas mendatangi asal suara tadi.
Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya
terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.
Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa
ramah, "Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.""Terima kasih, Anak Muda.
Boleh bapak bertanya?" tanya si pedagang.
"Silakan."
"Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?"
"Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap
hari aku bisa bekerja dengan sebaik2nya dan pastinya aku tidak harus
mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang
yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan? Dan
akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua
pemberiannya ini".
Teman-teman yang luar biasa, Kenyataan di kehidupan ini, kekayaan, ketenaran,
dan kekuasaan sebesar apapun tidak menjamin rasa bahagia. Bisa kita baca kisah
hidup seorang maha bintang Michael Jackson yang meninggal belum lama ini, yang
berhutang di antara kelimpahan kekayaannya. Dia hidup menyendiri dan kesepian
di tengah keramaian penggemarnya; tidak bahagia di tengah hiruk pikuk bumi yang
diperjuangkannya.
Entah seberapa kontroversial kehidupan Jacko. Tetapi, yah… setidaknya, dia
telah berusaha berbuat yang terbaik dari dirinya untuk umat manusia lainnya.
Mari, jangan menjadi budaknya materi. Mampu bersyukur merupakan kebutuhan
manusia. Mari kita berusaha memberikan yang terbaik bagi diri kita sendiri,
lingkungan kita, dan bagi manusia-manusia lainnya. Sehingga, kita senantiasa
bisa menikmati hidup ini penuh dengan sukacita, syukur, dan bahagia
Independent Rider
Powered by TiVoBerry®
------------------------------------
see more information about us in www.bekakak.or.idYahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bekakak/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bekakak/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/