berhubung gw blom punya anak, tar sore mandi bareng ibunya aja ahh.... 2010/1/5 TiVo <[email protected]>
> Semoga bs jadi pencerahan... > > ------Original Message------ > From: resonansi_2002 > Sender: [email protected] > To: [email protected] > ReplyTo: [email protected] > Subject: [resonansi] Mandikan Aku Bunda > Sent: Jan 5, 2010 11:03 > > Mandikan Aku Bunda Sudahkan Kita Memenuhi Tanggung Jawab Kita sebagai > Seorang Ibu yang Baik bagi Anak-Anak Tercinta Kita Dirumah? oleh: Ayah Edy, > penulis buku 'Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur, 37 Kebiasaan > Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak' Dewi adalah sahabat > saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki > idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah > jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan > digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali > terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika. > Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di > Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya. Setelah > menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; > sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah > Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat > manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka > lengkaplah sudah kebahagiaan mereka. Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan > Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang > dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai > seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu > masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap > Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan > sempurna". "Everything is OK !, Don't worry Everything is under control kok > !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri. Ucapannya itu memang > betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional > oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat > telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas > mandiri dan mudah mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan > kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang > gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang > berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah > seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng > menjelang tidurnya. Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan > kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman > bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian. Terkejut dengan permintaan > tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. > Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat > Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya. Dengan > Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, > kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya > yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang > larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu > menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya > malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua > orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari > orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini. Suatu hari, > menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan > oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda > aku ingin mandi sama bunda...please. ..please bunda", pinta Bayu dengan > mengiba-iba penuh harap. Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya > sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan > tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan > mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau > mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau > menurutinya, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini terus berulang sampai > hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali > ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan > suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, > jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu > bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya. Sampai suatu sore, Dewi > dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas > tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency". > Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di > Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... > terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, > keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. > Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan > putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk > memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat > memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. > Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si > kecil terbujur kaku. Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar > suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini > Bunda mandikan Bayu ya...sayang. ...! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda > ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan > berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, > sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka. Ketika tanah merah telah > mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di > sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar > itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya > kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah > saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat > berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan > kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang > lain. Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak > bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air > mata yang mulai meleleh membasahi pipinya. Sambil menatap pusara anaknya, > terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" > lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat. Angin senja meniupkan aroma > bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah > itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu > membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil > berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni > bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya > ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai > air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi > untuk selama-lamanya. Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini > saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini. Lalu terdengar > lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku.. ..Bangun > Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau > mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... > Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali > membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara > anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin > deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu. Senja semakin senyap, > aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu > kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa > hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu > tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya > karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada > hanya sekedar memandikan seorang anak. Semoga kisah ini bisa menjadi > pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat > dan penting dengan segala kesibukannya. > > Macan ber Karisma > > Powered by TiVoBerry® > > ------------------------------------ > > see more information about us in www.bekakak.or.idYahoo! Groups Links > > > > -- Powered by Oseng-Oseng Tempe Gembus
