hehehehe.. baca nih cerita di forum aslinya sempet ngedumel..
mana yg bikin cerita konsepnya bersambung-sambung.
giliran pas klimaks kudu nunggu sambungannya..
tapi.. gw baca kok merinding ya... bbrrrr...


[Andi] [Betedz] [Ochep]
http://andipramantyo.wordpress.com
Sent from Anywhere
Powered by Free WiFi


  ----- Original Message ----- 
  From: fajar fajar 
  To: bekakak 
  Sent: Monday, November 23, 2009 10:22 AM
  Subject: [BekaKak] Ada yg masih sering lewat Bukit Pelangi/Rainbow hills ga 
yah..?




  ni jalan yg pernah dilewatin kita waktu turing ke arah sukabumi..
  jalan belak-belok dengan danau kecil dan pemandangan indahnya..
  pernah juga gw nekat gowes nyepeda dari bekasi sampai gadog lewat sini...
  ternyata menyisakan cerita yg cukup merinding..

  Kisah Nyata Untuk +18

  Semula hanya jenuh kerja dan ingin istirahat di rumah, tapi karena adik saya 
kebelet pengen nyobain frame yang baru dia beli di Semeru Bike 3 hari 
sebelumnya, kejadian deh bolos kantor kolektif - saya, adik saya, kakak ipar, 
dan seorang sepupu sepakat cabut ke Gunung Mas, Puncak.

  Ide dadakan tanpa rencana ... ! Berangkat bertiga dengan satu kendaraan dari 
Jakarta jam 11 siang, terus mampir dulu jemput sepupu yang tinggal di Sentul. 
Cuaca cerah, jadi diputuskan untuk makan siang dan ngaso sejenak sambil 
menikmati keasrian lingkungan Sentul yang hijau sebelum lanjut ke Puncak.

  Seporsi makan siang, segelas kopi panas, dan diselingi obrolan tentang sepeda 
akhirnya mengundang rasa kantuk luar biasa. Ahh ... ayo berangkat nanti 
kesiangan, salah satu dari kami mengingatkan yang lain. Sontak yang lain sadar 
bahwa waktu sudah 15 menit melewati pukul 2 petang. Untungnya semua sepeda 
sudah loading di atas pick-up biru sebelum makan siang tadi.


  Saya, kakak ipar, dan sepupu kebagian open air di belakang, karena kami 
bertiga sengaja memberikan satu-satunya kursi penumpang kepada adik saya yang 
insomnia kronis, kasihan kalo kena terpaan angin selama perjalanan menuju 
Puncak ... bisa batal rencana touring!

  Jalanan lengang, Gadog sudah tertinggal beberapa menit di belakang kami. 
Pertigaan Taman Safari yang biasanya macet di hari libur juga dengan mudah 
dilalui. Kendaraan melambat memberi tanda untuk berbelok ke kanan memasuki 
pintu gerbang Gunung Mas. Permukaan jalan berbatu memaksa kami bertiga di 
belakang berpegang kuat sambil mempertahankan posisi 4 sepeda ... takut lecet 
bergesekan antar sepeda ... !!!

  Saya yang kebetulan bersandar ke dinding batas kabin pick-up sempat mendengar 
pembicaraan singkat adik dan sopir. "Mas disini kan banyak kuntilanak ... ". 
Sepi ... rupanya adik saya tidak langsung menanggapi. "Kuntilanak apa ...", 
akhirnya terdengar adik saya balik bertanya, tapi si sopir hanya tertawa tanpa 
penjelasan.


  Kedai bambu berderet panjang di depan sebuah area parkir yang cukup luas. 
Kami berhenti tepat di muka kedai terujung. Satu persatu sepeda diturunkan, 
penjaga kedai menawarkan minuman hangat tapi terpaksa kami tolak karena 3 digit 
angka sudah tersusun urut dan rapi di arloji ... 3:45.

  Setelah berpisah dengan sang sopir dan mengucapkan terima kasih sambil 
berpesan agar hati-hati di jalan, kami berempat segera mengenakan helm dan 
gloves, bersiap gowes turun ke arah Taman Safari sebagai check point pertama.

  Ouw ... kok bolak-balik ketemu jalan yang sama di sekitar rumah pekerja 
perkebunan. Jalan berbatu yang licin tertutup lapisan lumut cukup merepotkan 
juga. Tidak satu pun dari kami yang menguasai jalur sepeda menuju Taman Safari 
... karena memang belum pernah sama sekali bersepeda di Puncak. Saya yang 
kebetulan berjanji membawa potongan peta dari majalah Cycling (yang baru terbit 
beberapa edisi saat itu), betul-betul lupa ... jangan-jangan tertinggal dalam 
tas pakaian di Sentul. Ah ... siapa yang mau pusing urusan jalan, mental sedang 
tinggi ... yang penting lanjut gowes aja ... toh banyak "GPS warung" di 
sepanjang jalan ... begitu pikir kami ... bersepeda memang menyenangkan dan 
bisa bikin irasional ... !!! Coba pikir aja, bolos kerja hari Kamis ... kan 
tinggal tunggu satu dua hari udah ketemu Sabtu .... !


  Beberapa cluster vila mewah dan menengah kami lewati ... wah kok gak beda 
dengan bersepeda di kompleks pemukiman ... ada rasa kecewa karena gak berhasil 
menemukan track bersepeda di Puncak yang katanya sangat menantang menyusuri 
hutan skunder. "GPS Warung" bolak balik justru mengarahkan kami ke Jalan Raya 
Puncak ... ada apa ... pikir kami saat itu.

  Akhirnya persis di suatu pertigaan kecil, yang ke arah kirinya menuju Taman 
Safari, dan ke kanannya menuju Jalan Raya Puncak, kami terpaksa berhenti di 
sebuah bangunan semi permanen bekas bengkel kendaraan bermotor. Rantai sepeda 
adik saya mengalami gangguan teknis, sehingga tidak bisa pindah ke gear yang 
lebih tinggi maupun lebih rendah. Setelah diperiksa, ternyata ada salah satu 
pin mata rantai yang patah. Empat sekawan gak kehabisan akal, walaupun gak bawa 
potongan rantai serep. Dua mata rantai terpaksa dikorbankan, yang punya sepeda 
hayu aja ... dan gak ikut kerja! Pemalas ... manja ... diam-diam semua 
menggerutu ... ! Dia memang rada ebleng, ada gangguan di jalan ya tinggal 
telpon sopir atau panggil taksi ... ! Dasar pria sederhana miskin petualangan 
... !


  eres urusan teknis, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Jalan Raya 
Puncak. Berbaur dengan kendaraan umum, motor, dan mobil pribadi ... kami turun 
menyusuri Jalan raya Puncak. Sekitar 50 meter setelah jalan yang terpisah dua 
arah, dua ruas, tiba-tiba ada yang punya ide gila. Kakak ipar memutuskan untuk 
membeli beberapa buah tangan untuk istrinya ... butuh pembuktian bahwa dia 
pernah bersepeda di Puncak ... !

  Selesai belanja, semua kaget lalu bingung ... terkesima dengan adzan Maghrib 
yang tiba-tiba terdengar lantang memenuhi langit merah. Si pria sederhana alias 
manusia simple tanpa pikir panjang langsung mengajukan ide untuk telpon sopir, 
tapi sepupu saya bersikeras melanjutkan perjalanan dengan sepeda melalui jalan 
pintas di sekitar Gadog yang bisa tembus ke Sentul. Hm ... menarik juga 
tawarannya.


  Negosiasi singkat memutuskan untuk melanjutkan bersepeda menempuh jalur Gadok 
- Sentul. Sebagian kendaraan sudah menyalakan lampu kecil ketika kami 
bergiliran menyeberangi Jalan Raya Puncak ke arah kanan. Tiba di seberang, "GPS 
warung" membenarkan bahwa Jalan Puncak Cipayung tersebut bisa tembus sampai ke 
Sentul. Mungkin ini petualangan sesungguhnya ... dengan semangat semua bersiap 
melanjutkan perjalanan.

  Tak berapa lama kami tiba di sebuah pertigaan, ke kiri atau lurus ... ? 
"Lanjut ke kiri" teriak sepupu saya. Tapi 5 menit kemudian, dia sendiri yang 
minta berhenti dan kembali bertanya ke "GPS warung". Ternyata salah jalan ... 
kami berada di ruas Jalan pasir Angin 3. Berbalik arah melanjutkan perjalanan 
pulang ke Sentul. Melewati pertigaan tadi, kami berbelok ke kiri menelusuri 
Jalan Puncak Cipayung yang mulai berkelok dan menanjak.


  Birama nafas perut dan paru bergantian semakin kerap terdengar dan meninggi 
setiap kali melewati tanjakan tajam. Adik saya tertinggal cukup jauh di 
belakang, fisiknya memang paling lemah diantara kami berempat ... karena jarang 
tidur. saya sengaja berhenti untuk menunggunya di titik tertinggi sebuah 
tanjakan. Hitam aspal jalanan semakin sulit terlihat, ketika saya melihat dia 
mulai turun dan menuntun sepeda ke arah saya.

  Keluhannya panjang lebar silih berganti dengan nafas terbatas ... Senin ... 
Kamis ... Senin lagi. Dia minta berhenti ... menyerah total ... tapi berhasil 
saya ajak melanjutkan perjalanan. Permintaannya untuk berhenti sebetulnya 
sangat logis karena dia myopia, minus 3.5 ... dan ... tidak satu pun dari kami 
berempat yang membawa lampu sepeda ... ! Bulan tak berfungsi penuh malam itu, 
hanya terlihat dua warna ... bayangan hitam dan abu-abu tua yang mendominasi 
semua objek di kanan kiri jalan.


  Beberapa menit memaksakan diri bersepeda di kegelapan tersebut, akhirnya kami 
menyerah juga ketika terlihat samar-samar lampu templok di sebuah bangunan 
sederhana, sama sekali tidak terlihat detail bangunan. Bangunan tersebut 
rupanya terletak di sebuah pertigaan antara "Jalan Golf Raya-Gunung Geulis 
Resort" dan "Jalan Puncak Cipayung". Cahaya samar yang kami lihat ternyata 
berasal dari seorang penjual gorengan yang berdagang di emperan sebuah toko 
kelontong, menunggu pembeli di awal malam panjang.

  Empat Pocari Sweat mengalir lancar ... terasa hangat ... tanpa es batu. Rasa 
lapar tidak dapat diajak kompromi lagi. Bakwan goreng habis tanpa sisa dengan 
kombinasi singkong goreng yang mulai terasa dingin berminyak.


  ambil menyantap makanan yang ada, kami bertanya kepada pemilik toko kelontong 
dan penjual gorengan ... tapi tidak satu pun dari mereka yang bisa memberi 
gambaran berapa lama jarak tempuh ke Sentul. Yang pasti mereka mengatakan ... 
"sebaiknya jangan dilanjutkan kalau tidak membawa lampu ... !"

  Hahh ... semua terdiam ... dan ... inikan malam Jum'at ... tiba-tiba adik 
saya mengingatkan. Sial ... gak ada pilihan, balik ke Jalan raya Puncak juga 
sudah gak mungkin. Malam semakin pekat ... !


  Beruntung sepupu saya punya jalan keluar ... dia kontak teman satu 
kompleksnya di Sentul, dan ternyata temannya masih dalam perjalanan pulang di 
Tol Jagorawi karena harus mengantar seseorang ke Ciawi. Setelah dijelaskan 
dimana lokasi kami berada, akhirnya dia berjanji untuk menyusul dan mendampingi 
kami pulang ke Sentul ... Dialah malaikat penolong malam itu.

  Waktu sholat kelima sudah jauh tertinggal ... sang pedagang gorengan pun 
berpamitan. "Den ... saya duluan, sudah terlalu malam, dagangan saya sudah 
habis" ... Oh ... rupanya si Bapak mengingatkan kami untuk segera membayar. 
Setelah dilunasi, lancar meluncur semua nasehat tentang perjalanan malam ... 
hati-hati aden semua ... jangan ngomong sembarang di perjalanan nanti. Waduh 
bikin tegang aja ... sosok rentanya meninggalkan kami, bayangannya terasa aneh 
dibalik temaram cahaya lampu minyak di pikulan tua yang bergerak kian kemari 
mengikuti langkah kakinya.

  Pemilik toko kelontong sudah ditinggal tidur sedari tadi oleh istrinya. Kami 
pun mempersilahkannya untuk segera menutup toko dan beristirahat malam, sambil 
minta izin untuk tetap menunggu jemputan teman dari Jakarta di emperan tokonya. 
Tiba-tiba muncul cahaya terang ... semakin mendekat ... sebuah Avanza silver 
nampak ragu mendekati kami. Syukurlah, mudah-mudahan itu emergency car yang 
sudah kami tunggu-tunggu ... penuh harap. Tak lama turun seorang pria berdasi 
lepas, setengah baya, wahhhh ... lega ternyata kami semua mengenalnya ... 
tetangga sepupu di Sentul. Lepas sudah semua ketegangan yang menekan satu jam 
terakhir.

  Setelah menceritakan perjalanan sejak siang tadi dan menyampaikan 
ketidak-siapan kami melanjutkan perjalanan malam ... tanpa lampu sama sekali 
... akhirnya dia menyarankan untuk memasukkan semua sepeda ke dalam mobil.

  Muat kok ... gak muat ... bisa kok ... gak bisa ...semua sibuk berargumen. 
Tapi nyatanya keempat sepeda kami menggunakan frame light FR dan fork dual 
crowns semua. Lagian itu mobil aset kantor, kalau dipaksakan bisa merusak 
interior dan tumpukan dokumen di bagasi. Melihat kondisinya mana mungkin bisa 
selesai dengan cara adhock ... akhirnya saya beri pilihan terbaik ... tetap 
bersepeda dengan dibantu penerangan dari mobil.

  Awalnya mereka ragu, tapi akhirnya setuju. Disepakati mobil akan selalu 
berada di belakang menyesuaikan kecepatan sepeda. Dan yang gowes akan mengikuti 
span of light kendaraan. Semua beban yang memberatkan, termasuk botol minum 
dititipkan ke mobil. Tanpa sadar semua berniat bakal FSA ... Full Speed 
Abisssss ...

  Kurang dari 100 meter dari titik start, kami berbelok ke kiri memasuki Jalan 
Cipayung - Gunung Geulis. Sekitar 200 meter selepas tikungan tadi, adik saya 
mendekat ke sebelah kanan, setengah berbisik ia meminta saya untuk melihat 
sebuah papan hitam dengan tulisan besar berwarna putih ... yang tertangkap 
cahaya mobil ... disana tertulis kata-kata yang gak mungkin saya tulis lengkap 
disini ... "150 meter Pemakaman K ...." ... Oh rupanya rambu penunjuk ke suatu 
pemakaman. Tiba- tiba ...


  Tiba-tiba ... grrreeeettttaaaakkkksss ... terdengar suara rantai mendadak 
berpindah dari sprocket adik saya. Dia langsung cepat meninggalkan saya, entah 
apa yang dilihatnya barusan hingga melakukan manuver seperti itu.

  Apa pun yang baru dia liat pastinya lumayan serrrreeeemmmm. Berbeda dengan 
dia yang nocturnal ... semakin malam semakin tajam mata ketiganya, saya yang 
gak sensi masalah gituan tiba-tiba merinding juga. Tanpa pikir panjang ... 
ikutan ngeblast ... mobil di belakang udah berkali-kali kasih peringatan ... 
gak peduli ... saya sekarang di urutan terbelakang soalnya!

  Selepas melewati sebuah tikungan menuju Jalan Bojong Koneng-Gunung Geulis 
(kami tetap ambil lurus) yang berada di sebelah kanan saya, tiba-tiba terdengar 
decitan rotor Hayes 8" dipaksa mendadak kerja di jalanan menurun tajam ... 
menyusul suara permukaan Maxxis High Roller 235 bergesek keras dengan aspal 
kasar berpasir ... zzzrrrroooooogggghhhhh ... berkali-kali ... !!!

  "Apaaa ituuu ... " teriak pengendara emergency car di belakang saya, rupanya 
dia sengaja tidak menggunakan AC selama mengikuti kami, kaca yang terbuka 
memungkinkan dia ikut mendengar suara keras dari depan. Dan hanya kami yang ada 
di sepanjang ruas jalan tersebut ... tak satu pun ada sosok manusia lain yang 
terlihat malam itu. Bulan dan bintang malam masih tetap absen sejak tadi. 
Begitu cahaya lampu mobil membentuk garis lurus dengan jalan di depan ... 
wawwwwwhhhhhh ...


  Begitu cahaya lampu mobil membentuk garis lurus dengan ruas jalan di depan 
... wawwwwwhhhhhh ... terlihat adik saya masih berusaha menghentikan sepedanya 
setengah meter dari dinding cadas, di sebuah tikungan tajam ke arah kiri ... hm 
... bisa drifting juga dia kalo lagi kepepet ... !!!

  Saya berusaha menyusul, tapi dia langsung kembali mempercepat laju sepedanya. 
seingat saya ada 2 tikungan tapal kuda yang saling berhubungan setelah itu, 
sehingga membentuk huruf "S" besar. Kemudian beberapa tikungan tajam 
berkali-kali kami lewati, sampai akhirnya kami masuk ke Jalan Pelangi Raya. 
Jalan cukup mendatar ... tapi saya masih tertinggal dengan mereka bertiga. 
Sampai akhirnya mendekati suatu tanjakan panjang di Jalan Pelangi Raya, mereka 
semua berhenti kehabisan nafas.

  Agak jauh di kanan depan dari tempat mereka berhenti terlihat sebuah bangunan 
besar berlantai banyak dalam kondisi terhenti proses pembangunannya. Saya 
segera mendekati mereka.

  Dari raut muka sepupu dan kakak ipar saya, nampaknya mereka sama sekali tidak 
tau apa yang terjadi pada adik saya. Karena mereka memang berniat balapan sejak 
awal. Perlahan saya dekati adik, dan menanyakan apa sebetulnya yang dia liat 
tadi sampe ngebut gila-gilaan. Nafasnya masih tersengal, hanya memberi tanda 
gelengan bahwa dia belum bisa menjawab pertanyaan saya. Well, saya pahami dia 
pasti lelah luar biasa. Tapi tiba-tiba seluruh bulu kuduk saya berdiri ... tak 
saya acuhkan. Ah ... peduli setan ... yang penting sebentar lagi bisa sampe 
Sentul, lagi pula sudah ada lampu merkuri di beberapa titik jalan pemukiman 
ini. Sebelum saya sempat melepaskan pertanyaan yang sama ke adik saya, 
tiba-tiba air mukanya berubah ... suaranya sedikit bergetar mengajak kami semua 
untuk segera melanjutkan perjalanan.


  Aneh ... saya tahu persis, dia pasti belum kuat untuk melanjutkan perjalanan. 
Benar saja ... ketika semua bersiap untuk berangkat, tiba-tiba dia minta untuk 
ditarik dengan mobil sambil berpegang ke pilar B mobil. Dia berada di sebelah 
kanan kendaraan, mobil berjalan pelan menariknya ke arah tanjakan tajam, 
beberapa kali pegangannya terlepas. Sedangkan kami masih mencoba gowes, 
berhenti, tuntun sepeda, gowes lagi, begitu bolak balik mencoba sekuatnya. 
Lelah luar biasa ... ! semua otot motorik dan persendian udah gak sinkron.


  Kira-kira 20an meter lagi mendekati puncak tanjakan, dimana terletak taman 
bundar yang menyatukan Jalan Pelangi Raya, Jalan Pelangi Golf, dan Jalan 
Pelangi Bulevar ... tiba-tiba saya melihat sekelebat cahaya merah mendahului 
kami ke arah bundaran tadi. Saya berusaha membuang pandangan ke tempat lain, 
tapi seperti terhipnotis saya pun terpaku melihat ke arah cahaya merah tersebut.

  Seperti proses metamorfosis ... perlahan cahaya merah tadi berubah ... 
mewujud jadi sesosok wanita berpakaian panjang merah. Pakaiannya berkelebat 
diterpa angin. Saya berada di belakangnya, rambut hitamnya kadang terkembang ke 
segala arah. Baru kali ini saya bisa melihat dengan jelas sesuatu yang gaib di 
luar mimpi ... !


  saya kembali bisa mengendalikan diri, berbalik ke arah adik saya yang masih 
ditarik dengan mobil beberapa meter di belakang saya. Ketika kami berdekatan 
dia langsung balik bertanya, liat apa barusan ... ? Nah lho ... dasar indigo!

  Gak lama ... dia minta saya liat ke depan lagi ... ke arah bundaran ... Look 
man ... no wires ... !!! Gila si wanita masih ada ... melayang ... berputar 
sekitar tiga kali di bundaran itu. Setiap kali ujung pakaiannya berkelebat ... 
selalu menyisakan lidah-lidah cahaya merah! Tapi muka adik saya mulai terlihat 
tenang.

  Dia lepaskan pegangannya ke mobil dan minta mobil menyusul sepupu dan kakak 
ipar yang sudah lebih dulu tiba di bundaran. Setelah itu dia berbisik, melarang 
saya agar jangan sampai menoleh atau melihat ke arah kiri jalan ... bulu kuduk 
semakin meremang ... !!! Wanita merah yang terbang di bundaran perlahan 
menghilang ke arah Jalan Pelangi Golf. Mungkinkah ia berbalik dan muncul 
tiba-tiba di belakang kami ... suasana makin mencekat ... kerongkongan terasa 
kering ... minuman tertinggal di mobil ... !

  Adik saya berjalan lebih santai, dengan tenang dia bilang ... wanita merah 
tadi bukan mahluk karbon seperti kita (bodo amat ... rese bener nih anak!) ... 
energinya sangat besar (sinar photon kalee ... neg juga lama-lama kayak 
paranormal kelakuannya!) ... tapi dia muncul untuk tujuan baik, mengingatkan 
kita untuk segera meninggalkan lokasi tersebut! Jika masih berada disitu saat 
hujan deras akan turun beberapa waktu lagi ... semua hal bisa terjadi ... !!! 
Ini dia nih yang gw gak demen ... kalo baik kok ujungnya ada intimidasi ... 
(ngedumel dalam hati) ... ! Tiba-tiba ...
  glleeggggggaaaarrrrrr ... cahaya kilat benderang di kiri langit! Adik saya 
berteriak ... "Jangan liat ke kiri ...!!!"

  Sial ... hampir saja ... ! Nahan nafas sebentar ... pencet F9, eh salah itu 
mah buat recalc ... maksudnya mau refresh (F5) ... gebleg gugup banget. Merasa 
gak suka dibawah kendali rasa takut, saya bilang ke adik saya gini ... loe 
ceritaan aja deh apa yang ada di sebelah kiri ... bodo amat!

  Okey dia bilang ... ! Nyesel juga jadinya! Tapi gengsi dong, kan gw duluan 
yang kenal planet bumi, gw duluan yang tau bima sakti, dan gw juga yang duluan 
bisa naek sepeda! Tapi dia duluan sih yang tau anti-gravitasi ... kalo 
anti-aging tanya ama om deh ...

  Gw mau nulis dengan tenang nih ... tanpa emosi lagi ... capek juga ternyata 
merecall memory. Lanjut ya ...

  Jadi menurut adik saya, di rumah kosong sebelah kiri yang baru kami lewati di 
tanjakan tadi tinggal sekelompok atau sekeluarga mahluk yang punya struktur 
keluarga seperti kita manusia ... ada orang tua ... ada anak-anak juga. 
Rupa-rupanya mereka sangat terganggu dengan kedatangan kami. Untungnya mereka 
mendapatkan penjelasan dari si wanita merah, bahwa kami hanya bermaksud lewat 
saja bukan menetap disana.

  Lho kenapa si wanita merah bisa paham bahwa kita dalam perjalanan ... tanya 
saya. Jawaban adik saya sungguh bikin sesak nafas ... ! Kan dia udah bareng 
sejak masuk Jalan Pelangi Raya. Sekarang dia warning lagi tuh untuk segera 
meninggalkan area bundaran ini.

  Sok tenang ... bukannya ngasih tau dari tadi! Setelah denger informasi 
tersebut saya langsung ajak mereka segera cabut menuruni Jalan Pelangi Bulevar. 
Kecepatan kami pasti menembus angka sekitar 50 atau 60 kilometer per jam 
melewati jalan menurun tajam, kemudian berbelok ke kanan dipenghujung turunan. 
Tiba di ujung jalan, terlihat pos satpam ... oh ini gerbang utama pemukiman 
tersebut pikir saya.

  Dua satpam terlihat bingung melihat kami muncul tiba-tiba ... gak sempet 
berhenti ... hanya sekedar nyampein "malem pak" ...sambil tetap gowes ke 
pertigaan Jalan Cijayanti Raya yang berjarak sekitar 100 meteran dari post 
satpam. Di situ baru saya putuskan untuk berhenti ... yang penting kan udah 
keluar kompleks!

  Hampir bersamaan kami berlima masuk melalui dua pintu ke sebuah kedai kecil 
di pertigaan itu. Baru saja duduk di bangku panjang ... belum lagi sempat pesan 
minuman ... tiba-tiba ... hujan turun seperti tumpah dari langit. Entah naluri 
atau rasa takut, saya berusaha duduk merapat ke adik saya! Penerangan kedai 
yang seadanya membuat bayang wajah manusia gak seperti biasanya ... glegar 
kilat terus bersautan.

  Hujan ini yang dimaksud wanita merah tadi ... ? Tanya saya ke adik yang duduk 
bersebelahan. Sambil mengangguk meng-iyakan, dia langsung minta saya kontak 
sopir yang membawa mobil pick-up dari Sentul. Sambil menunggu tambahan 
kendaraan kami berlima hanya diam, tak banyak bicara menikmati teh panas. 
Setengah jam kemudian mobil pick-up tiba di lokasi. Sang sopir menolak ketika 
kami tawarkan untuk minum ... wajahnya terlihat bicara ... ingin segera pergi 
dari situ.

  Semua sepeda sudah dinaikkan ke pick-up biru. Adik saya naik ke Avanza, 
sedangkan saya dan yang lain tetap naik pick-up menembus malam dan hujan deras 
ke Sentul.

  Hah ... hanya beberapa ratus meter dari kedai tadi, tiba-tiba hujan berhenti 
mendadak. Setibanya di Sentul, semua langsung mandi lalu bersiap pulang ke 
Jakarta.

  Malam terasa panjang ... banyak pengalaman baru yang diperoleh. Intinya, 
jangan pernah melakukan perjalanan jauh dengan sepeda tanpa persiapan yang 
matang, lampu adalah perlengkapan vital untuk perjalanan malam, dan alat 
komunikasi wajib dibawa.

  Dimensi gaib itu memang ada ... tapi yang terpenting jangan meninggalkan 
kewajiban kantor hanya karena kebelet pengen nyobain frame atau sepeda baru. 
Orang sabar pasti disayang Tuhan.

  Ketika dalam kendaraan menuju Jakarta, adik saya berpesan ... kapan dan 
dimanapun kita melakukan perjalanan sering-seringlah membaca surat Al-Ikhlas, 
selain membaca ayat Kursi.

  Asyik juga punya adik kayak dia ... meskipun sedikit autis ... [Cheesy] 
[Cheesy] [Cheesy]

  S E K I A N



  source : http://www.sepedaku.com/forum/showthread.php?t=23866&page=4



















  

Kirim email ke