banyak pundi2 uang di negara ini yang kalau penerapannya baik dan benar 
dapat mengatasi masalah kemiskinan.
yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana pemerintah menjalankan tugas 
mulia ini....
apakah mereka sudah amanah...? apakah ada yang diselewengkan...?
bukankah masalah ini yang menjadi keberatan banyak pihak ? 
kasus korupsi tidak pernah dituntaskan sementara subsidi semakin 
diperkecil.
dan di lain pihak,,,banyak orang2 yang mengambil keuntungan dari keadaan 
ini.
  




[EMAIL PROTECTED]
10/05/2005 12:15 PM
Please respond to balita-anda

 
        To:     [email protected]
        cc: 
        Subject:        RE: [balita-anda]  Opini: 100ribu dapat apa?


Mungkin itu gunanya zakat, kalau diterapkan dengan baik Insya Allah kita 
bisa mengurangi jumlah saudara2 kita yang kekurangan



[EMAIL PROTECTED] 
10/05/2005 12:11 PM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
RE: [balita-anda]  Opini: 100ribu dapat apa?







untuk kita2 yang masih lebih beruntung mungkin solusinya adalah dengan

berhemat.
tapi untuk saudara2 kita di luar sana yg kurang dari kita...apanya lagi

yang mau dihemat pak....


salam







[EMAIL PROTECTED]
10/05/2005 11:56 AM
Please respond to balita-anda



        To:     [email protected]
        cc:

        Subject:        RE: [balita-anda]  Opini: 100ribu dapat apa?


Dear Bapak Sudiyono,


Kalau menurut saya sabar itu milik semua, bukan cuma yang miskin tapi juga


yang menengah dan kaya, dengan sabar hati menjadi lebih tentram dan sejuk

untuk menyikapi keadaan. Saya cuma mau komentar, kalau nggak bisa berbuat

banyak dengan keadaan sekarang, yah sabar itu kuncinya dan mulai melihat

ke diri sendiri adakah yang bisa diperbuat oleh diri sendiri untuk

memperbaiki keadaan sekarang dengan penghematan contohnya.

Regards



Sudiyono <[EMAIL PROTECTED]>

10/05/2005 11:44 AM
Please respond to
[email protected]


To
[email protected]
cc

Subject
RE: [balita-anda]  Opini: 100ribu dapat apa?






 Memang buat Bapak dan Kita yang lumayan beruntung memang bisa
Hemat Pak,tapi buat saudara kita yang memang sebelumnya ga' punya
Trusssssssssssss di tambah kenaikan harga baru karena dampak BBM apanya
Yang mau dihemat,atau mungkin klu sebelumnya sebungkus nasi buat makan 1
hari,dihemat sebungkus nasi buat makan 3 hari.

 Jangan bandingkan keadaan orang susah dengan keadaan kita Pak,karena

sangat
Jauh berbeda,mungkin Bapak bisa sedikit merasakan apa yang dirasakan

mereka
Saat puasa ini,tapi itu belum apa apa Pak,karena Pas bedug Magrib Bapak
masih bisa menyantap Manakanan ENaaaaaaaaak, tapi buat Mereka,........

 Pemerintah seharusnya bukan memberikan Ikan pada rakyat miskin,karena

Akan lebih bagus kalau diberikan Kail nya.

Dion's

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]

Sent: Wednesday, October 05, 2005 10:06 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [balita-anda] Opini: 100ribu dapat apa?

Dear moms and dads,


100 ribu itu bukannya pengganti atas selisih kenaikan tersebut, dan

bukannya sebagai tanggungan pemerintah terhadap semua kebutuhan si

penerima, kita harus fair donk melihatnya.... (cmiiw) , sepertinya,

sekarang semua kemiskinan ditumpahkan atas kenaikan harga BBM. Di bulan

puasa ini saya sekeluarga kembali mau melihat berapa sih "kebutuhan hidup

yang sebenarnya". terus terang kemarin saya terlalu banyak makan subsidi,

seperti bensin dan minyak tanah, hampir tiap minggu makan diluar, lampu

luar yang hidup terus, pokoknya nggak bisa berkata apa2 lagi selain mulai

hemat dari diri sendiri.



"Melda" <[EMAIL PROTECTED]>

10/05/2005 09:44 AM
Please respond to
[email protected]


To
<[email protected]>
cc

Subject
[balita-anda]  Opini: 100ribu dapat apa?






Sarkah, 37 tahun, tergopoh-gopoh menggendong anak balitanya sambil

menuntun anaknya yang lain memasuki kantor Pos untuk mengambil dana

kompensasi kenaikan BBM (KKB). "Kirain nggak antri, mana anak nangis

ginih?E#34; keluhnya begitu melihat antrian panjang "orang miskin" yang

hendak mengambil uang sejumlah tiga ratus ribu rupiah sebagai

kompensasi kenaikan BBM selama tiga bulan.


Ya, Sarkah, ibu dua anak itu memang tak sendirian. Hari itu,

setidaknya puluhan orang yang dikategorikan miskin dan berhak

mendapatkan dana KKB sibuk mengantri di berbagai loket tempat

penukaran kartu dana KKB. Selain Sarkah, yang anaknya tak berhenti

menangis meski tiga lembar mata uang seratus ribuan sudah

digenggamnya, ada wanita jompo yang butuh waktu tidak kurang dari

setengah jam berjalan kaki sejak ia turun dari angkot untuk mencapai

loket antrian. Ada yang rela beradu mulut karena merasa didahului

antriannya. Di tempat lain, saling pukul pun terjadi dalam antrian

para penerima dana KKB itu.


Luar biasa. Ini pemandangan yang baru di negara Indonesia. Satu lagi

parade kemiskinan terpampang jelas di mata kita. Wapres Jusuf Kalla

yang menyempatkan diri melakukan inspeksi mendadak di daerah Jakarta

Utara, seharusnya tak sekadar melihat proses kelancaran distribusi

dan pembagian dana KKB itu. Semestinya, ia lebih melihat dari yang

tak banyak dipandang kebanyakan pada hari itu. Antrian itu semestinya

membuatnya mengurut dada, bahwa pada kenyataannya, jumlah orang

miskin di negara ini jauh lebih banyak dari data yang diberikan

pejabat lokal. Adakah pejabat negeri ini melihatnya?


Konon, di negara kita ini, setiap masalah yang dihadapi rakyat

terbiasa diselesaikan oleh rakyat sendiri. Seberat apa pun beban yang

menimpanya, rakyat sendiri yang menanggungnya. Salah seorang teman

dari NGO asal AS, sempat terheran-heran melihat daya tahan masyarakat

Aceh yang tertimpa bencana tsunami Desember 2004. "Gila, mereka bisa

tahan hidup meski pemerintah teramat lamban memberikan bantuan. Kalau

di AS, mereka sudah berteriak agar Pemerintah bertindak cepat."

Komentar singkat saya, "Mereka sudah terlalu lelah berteriak, entah

yang diteriaki mendengar atau tidak."


Kenaikan BBM, selogis apa pun maksud dan tujuan pemerintah, yang itu

bisa dimengerti oleh orang-orang berpendidikan dan berpenghasilan

tinggi, tetap merupakan bencana bagi orang miskin. Belum usai negeri

ini dilanda berbagai bencana, baik bencana alam maupun bencana

sosial, tambah satu lagi bencana kenaikan BBM. Setidaknya ini diambil

dari sudut pandang mereka, para penerima dana KKB.


100 ribu rupiah sebulan dapat apa? Pertanyaan itu bukan saja milik

Sarkah. Senyum dan air muka cerianya saat menggenggam tiga lembar

ratusan ribu, diyakini hanya akan berlangsung sesaat. Bisa jadi uang

itu akan habis dalam beberapa jam saja, entah untuk bayar hutang,

beli beras yang harganya tak ingin kalah bersaing dengan harga BBM,

beli susu anaknya yang selama ini tak pernah terbeli, atau beli baju

baru, bukankah sebentar lagi lebaran?


Dengan segenap keyakinan, uang sejumlah itu akan habis dalam waktu

yang tidak berapa lama. Padahal seharusnya itu untuk satu bulan.

Seperti kebanyakan orang berduit, uang seratus ribu akan habis untuk

mentraktir makan siang teman-teman di RM. Sederhana, seratus ribu

juga biasa dihabiskan untuk duduk-duduk di Food Centre sambil

menikmati lima paket Combo 1 KFC, uang senilai itu juga habis dalam

sekejap untuk memesan dua porsi besar Pizza. Tak lebih dua puluh tiga

liter yang bisa didapat dari uang itu untuk mengisi tangki mobil,

bisa juga dihabiskan dalam waktu kurang dari dua jam oleh anak-anak

di arena Time Zone. Seringan kapas uang seratus ribu kita gelontorkan

untuk membeli tiga atau empat tiket twentyone. Hampir lupa, seratus

ribu juga biasa kita belikan pulsa handphone, yang terkadang sudah

harus diisi ulang kembali tiga-empat hari kemudian.


Bagaimana dengan Sarkah? Sarkah tak pernah makan di food centre, tak

punya handphone yang harus diisi pulsanya, tak tahu rasanya Pizza,

tak punya kendaraan, anak-anaknya pun tak pernah main di Time Zone,

dan jangankan untuk mentraktir teman-temannya, untuk makan ia dan

keluarganya sehari-hari pun masih gali lobang tutup lobang. Sarkah

memang senang hari itu mendapatkan tiga ratus ribu, barangkali itu

uang terbesar yang pernah digenggamnya selama ini. Tapi akankah

Sarkah tetap tersenyum tatkala menyadari kebutuhannya takkan pernah

tercukupi dengan uang seratus ribu perbulan?


Kemarin sore, saya melewati sebuah sebuah restoran cepat saji di

Tangerang. Ternyata, kenaikan BBM memang tidak berdampak besar bagi

masyarakat kita. Kecuali Sarkah, dan teman-temannya para penerima

dana KKB. Ups, jangan-jangan yang saya lihat sedang makan itu justru

mereka yang baru saja menerima uang tiga ratus ribu?


Bayu Gawtama












================
Kirim bunga, http://www.indokado.com
Info balita: http://www.balita-anda.com
Stop berlangganan/unsubscribe dari milis ini, e-mail ke:

[EMAIL PROTECTED]
Peraturan milis, email ke: [EMAIL PROTECTED]




================
Kirim bunga, http://www.indokado.com
Info balita: http://www.balita-anda.com
Stop berlangganan/unsubscribe dari milis ini, e-mail ke:

[EMAIL PROTECTED]
Peraturan milis, email ke: [EMAIL PROTECTED]






 

----------------------------------------------------
EMAIL DISCLAIMER
 

This email and any files transmitted with it is

confidential and intended solely for the use of
the individual or entity to whom it is addressed.
Any personal views or opinions stated are solely

those of the author and do not necessarily

represent those of the company.
 

If you have received this email in error

please notify the sender immediately.

Please also delete this message and

attachments if any from your computer.




    
----------------------------------------------------
EMAIL DISCLAIMER
    
This email and any files transmitted with it is 
confidential and intended solely for the use of
the individual or entity to whom it is addressed.
Any personal views or opinions stated are solely 
those of the author and do not necessarily 
represent those of the company.
   
If you have received this email in error 
please notify the sender immediately. 
Please also delete this message and 
attachments if any from your computer.

Kirim email ke