*dari milis sebelah, semoga bermanfaat.* ** *-----------------------------------------------* *Jika menyerang saraf dapat menyebabkan pingsan, bahkan kematian. Jika mengganggu sistem pencernaan, dapat memicu munculnya sel kanker.*
Tahukah Anda bahwa bakso ataupun kerupuk yang sangat digemari anak-anak banyak yang mengandung bahan tambahan berbahaya, seperti boraks dan formalin. Sayangnya, seringkali orang tua tidak tahu bahwa kedua bahan ini sebetulnya dilarang digunakan pada makanan. Lantas, mengapa masih banyak industri makanan yang menggunakannya? Tak lain karena bakso yang renyah sangat disukai, dan makanan yang tahan lama jadi lebih menguntungkan. Selain itu, boraks membuat tekstur makanan jadi lebih bagus, selain juga dipakai untuk pengempuk, pengembang, dan menahan pengendapan. Padahal tambahan bahan-bahan kimia ini pada makanan jumlahnya banyak sekali, demikian diungkapkan *DR. Ir. Faisal Anwar, MS*, dosen Gizi dan Ilmu Pangan dari Jurusan GMSK- Faperta, Institut Pertanian Bogor. Hanya saja, diakuinya agak sulit untuk tahu mana makanan yang bebas dari boraks ataupun formalin. Meskipun demikian, sebetulnya kandungan bahan tersebut bisa dirasakan oleh lidah kita. "Ada *after taste* atau rasa tak enak yang tertinggal di mulut setelah mengonsumsi beberapa kali makanan tersebut." *SEJENIS MINERAL DAN ZAT ORGANIK* Boraks sebetulnya merupakan mineral boron, sejenis senyawa kimia yang kompleks. Senyawa ini bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso dan ketupat yang jika digigit akan terasa lebih kenyal, atau kerupuk yang bila digigit terasa lebih renyah. Boraks yang biasa dijual di toko kimia dan toko kue berbetuk kristal putih seperti gula pasir impor atau penyedap rasa. Di Jawa Barat, larutan boraks dikenal dengan sebutan *bleng* . Hanya saja orang mendapatkannya dari sejenis tanah liat yang mengandung mineral boron yang kemudian disaring. Sedangkan formalin, dijelaskan Faisal, merupakan zat organik mirip larutan cuka, baunya pun asam. Hanya saja secara kimia, susunan karbonnya lebih rendah dari cuka. Sebetulnya formalin digunakan untuk membunuh bakteri pembusuk atau untuk mengawetkan jasad makhluk hidup. Misalnya, mengawetkan serangga untuk disimpan di museum biologi, dan lainnya. Namun kemudian, bahan ini disalahgunakan untuk mengawetkan makanan. Contohnya pada pembuatan tahu. Mengapa pada pembuatan tahu? Karena makanan bergizi tinggi dan makanan basah cepat sekali membusuk. Bagaimanapun, bakteri pembusuk memerlukan zat gizi yang bagus sebagai makanannya. Contoh lain, tepung terigu atau sagu lebih awet dibandingkan daging, karena daging lebih bergizi daripada tepung terigu. Begitu pun beras dan tahu. Beras akan lebih awet dibanding tahu yang bergizi tinggi. Nah, dengan diberi formalin, bakteri pembusuk pada makanan bergizi dan juga basah itu akan mati sehingga jadi tahan lebih lama. *MEMBAHAYAKAN SARAF DAN PENCERNAAN* Tentu saja kedua bahan tambahan tersebut sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi yang tinggi, racunnya dapat mempengaruhi kerja saraf. Yang bersangkutan akan merasa melayang dan kemudian pingsan atau bahkan nyawanya bisa tak tertolong. "Tak harus menunggu bahan tersebut terakumulasi dalam tubuh, karena kejadiannya bisa dalam waktu sesaat," kata Faisal. Sayangnya, kita secara awam tidak tahu seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang dianggap membahayakan. Oleh karena itu, lebih baik hindari sama sekali. Menurutnya, pada konsentrasi yang rendah saja formalin dan boraks sudah dapat mematikan mikroflora baik maupun jahat dalam usus sehingga mengganggu pencernaan. Jika jumlah bakteri dalam usus sangat sedikit, proses pembusukan sisa makanan pun jadi melambat. Kemungkinan yang terjadi adalah anak yang mengonsumsi boraks atau formalin akan mengalami kesulitan buang air besar. Gangguan di pencernaan ini, bahkan bisa berkembang menjadi kanker usus besar atau kanker kolon. Selain itu, daya tahan tubuh pun jadi menurun, sehingga anak mudah sakit. Penting diperhatikan, dalam sistem pencernaan manusia hadir pula enzim yang membantu proses penyerapan sari makanan. Bila enzim ini bersentuhan dengan formalin, maka fungsinya tak berjalan lagi. Akibatnya, anak akan kekurangan gizi karena zat-zat dari makanannya tidak dapat diserap dengan baik. Jadi, memang kedua bahan tambahan makanan ini berbahaya sekali. Jauhkan anak-anak kita dari makanan yang mengandung boraks dan formalin sekarang juga. *MAKANAN YANG SERING MENGANDUNG BORAKS DAN FORMALIN* Berikut, *Faisal* memberikan beberapa contoh makanan yang dapat dikenali mengandung boraks atau formalin. Bahan makanan yang mungkin mengandung boraks: ** kerupuk* Terkadang masih ada yang menggunakan boraks atau larutan *bleng* dalam pembuatan berbagai aneka kerupuk, seperti kerupuk pecel, kerupuk bulat, dan lainnya. Pemakaian boraks akan menambah kerenyahannya. Kalau tak pakai boraks, kerupuk menjadi bantat dan tidak mekar. Memang agak sulit untuk membedakan mana kerupuk yang memakai boraks dan tidak. Namun biasanya, jika teksturnya bagus dan renyah berarti kerupuk itu mengandung boraks. Sebetulnya bisa saja boraks diganti dengan soda kue, tapi hasilnya memang tak sebagus jika memakai boraks. ** bakso* Umumnya, jika bakso menggunakan sedikit daging, maka diperlukan bahan lainnya agar tekstur bakso jadi lebih lekat, yaitu tepung sagu ditambah boraks. Kalau tidak, maka kelekatan atau kekenyalannya berkurang. Jelas, bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan banyak daging. Jika kita membuat bakso sendiri dengan menggunakan banyak daging yang dibentuk menjadi bulatan-bulatan, maka sifat kenyal atau elastisitasnya berasal dari daging itu sendiri. "Memang bahan kimia pengganti yang mirip boraks belum ada. Sebetulnya bisa saja menggunakan karbonat atau soda kue, meski hasilnya tak sebagus jika menggunakan boraks, tapi cukup aman," saran Faisal. Umumnya, bakso-bakso dari hasil industri makanan dengan merek-merek tertentu sudah tidak menggunakan boraks lagi, tapi menggunakan bahan tambahan makanan dari kombinasi tepung-tepungan semisal tepung kedelai. Ada juga yang menggunakan sendawa seperti nitrat nitrit yang bisa dijumpai pada produk daging sosis atau burger. Sendawa bisa memperbaiki tekstur dan warna makanan. Bahan tambahan makanan seperti nitrat nitrit ini pun sudah umum digunakan, tapi tetap harus dengan batasan. ** ketupat atau lontong* Untuk menghasilkan ketupat yang bagus, tentunya harus digunakan beras yang berkualitas bagus. Setelah direbus beberapa jam, tampak tekstur yang padat beraroma daun pembungkusnya. Jika berasnya berkualitas rendah, untuk bisa menghasilkan ketupat yang padat dan kenyal maka diperlukan tambahan boraks atau *bleng* selain agar tahan lama. Cirinya, ketupat atau lontong yang mengandung boraks terasa sangat kenyal dan warnanya tampak lebih gelap kecokelatan. ** mi* Mi yang menggunakan boraks akan terasa lebih elastis, tak mudah putus, dan lebih kenyal. Jadi, teksturnya memang lebih baik meski sebetulnya bahan boraks bisa saja diganti dengan bahan sederhana, yaitu soda kue. Bahan makanan yang mungkin mengandung formalin: ** ikan basah atau ikan laut * Bagi awam, kecuali orang-orang dari dinas kesehatan atau pengawas makanan, akan sulit mengenali apakah ikan yang dijual sudah direndam dalam larutan formalin atau belum. Umumnya, ikan laut tak bisa tahan lama sampai sore. Tapi bila direndam dengan formalin, ikan akan awet dan tahan sampai esok harinya. Cirinya, bagian atas permukaan ikan yang direndam dengan larutan formalin akan tampak keras dan kering. ** tahu* Formalin digunakan untuk pembuatan tahu agar bahan makanan ini jadi lebih awet. Sebetulnya tanpa formalin pun bisa saja awet. Caranya dengan direndam dalam air garam atau airnya sering diganti berulang. Tahu pun akan awet sampai esok harinya meski disimpan di ruang terbuka. Bila disimpan dalam kulkas, daya tahannya bisa mencapai 2-3 hari. Umumnya, tahu yang ada di swalayan bisa tahan lama karena ditaruh di rak pendingin yang terkontrol, sehingga pertumbuhan bakteri di situ lebih lambat. Tahu yang menggunakan formalin bisa awet lebih lama, sekitar 3-4 hari atau bahkan seminggu tanpa busuk, baik itu dalam ruang terbuka, *freezer* atau kulkas. Ciri tahu berformalin adalah baunya yang apak atau tak enak meski belum membusuk. Bagian permukaannya pun akan tampak agak keras dan kering karena formalin bersenyawa dengan proteinnya. ** ayam potong * Ayam yang sudah direndam dalam formalin akan tampak keras dan kering permukaan kulitnya. Ini terjadi karena formalin tersebut bersenyawa dengan protein (denaturasi) dan membentuk lapisan di permukaannya. Sebetulnya agar ayam mentah lebih awet tak harus pakai formalin. Asalkan cara menyembelihnya benar, lalu dicuci bersih, dan disimpan dalam lemari pendingin, maka daging ayam mentah bisa bertahan lama. "Menghilangkan formalin dari daging ayam dengan cara dicuci mungkin bisa saja dilakukan. Namun, itu bila hanya bagian permukaannya saja yang terkena. Kalau formalin sudah sampai meresap ke dalam daging, mungkin perlu proses pencucian dan perendaman yang berulang dan makan waktu lama. Hanya saja penghilangan formalin dengan cara ini belum bisa dibuktikan efektivitasnya," demikian kata Faisal. -- Have you visited my blog today? http://andriesalima.multiply.com

