Jumat, 23 Sept 2005, Kisah Anak-Anak yang Dicurigai Terkena Flu Burung (3-Habis)
Dicurigai Tetangga, Peternakan Nursah Dibakar Setelah Riska dan Yesica di Jakarta, bocah TK asal Bontang, Kaltim, Muhammad Rizky kemarin menyusul tewas dengan dugaan terkena flu burung. OSCAR YOGI Y., Jakarta ISAK tangis langsung menyeruak begitu jenazah Muhammad Rizky, 5, tiba di rumah duka pukul 08.30 di Jalan Diponegoro No 48, Bontang Baru, Kaltim, kemarin. Tetangga dan para pelayat yang menunggu sejak pagi tampak berusaha menghibur Ahmad Fauzy, sang ayah, yang anaknya diduga meninggal karena flu burung itu. Selain Fauzy, yang sangat terpukul adalah Adnan, 11, kakak laki-laki almarhum. Sejak jenazah Rizky tiba, Adnan terus menangis dan duduk bersimpuh di depan jenazah adiknya sambil membaca surat Yasin. Justru sang ibu, Helda, yang duduk tak jauh dari jenazah Rizky, tampak lebih tabah. Meski begitu, mata Helda sembab seperti habis menangis. "Mengapa begitu cepat pergi anakku?" ucap Fauzy saat menghampiri jenazah anaknya. Air matanya terus meneteskan. Beberapa pelayat, seperti Wakil Ketua DPRD Kota Bontang dr Hj Neni Moerniaeni, berusa menghibur. "Tabah ya, Pak. Serahkan semua kepada Allah SWT. Relakan Rizky pergi," kata Neni memberikan semangat kepada Fauzi. Meninggalnya Rizky kemarin memang mendapat perhatian besar dari Dinas Kesehatan Kaltim. Bocah yang duduk di bangku nol kecil TK Cenderawasih, Bontang, itu meninggal dunia kemarin (22 September) pukul 03.15 Wita. Dia tak tertolong setelah semalaman dalam perawatan intensif di ruang Anggrek, kamar isolasi nomor 14 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) A.W. Sjahranie. Dia dirujuk ke RSUD Sjahranie setelah beberapa lama dirawat di RSUD Bontang. "Pasien dipastikan mengidap pneumonia (radang paru-paru) akut. Saya curiga flu burung," demikian bunyi diagnosis yang dibuat Direktur RSUD Bontang dr I Gusti Swardika SpA. Di rumah sakit itu, Rizky langsung mendapat perawatan intensif di kamar isolasi oleh dr H.S. Rusdi SpA, dokter spesialis anak. Selama perawatan, dr Rusdi telah tiga kali mengecek pasien, pukul 15.00, 21.00, dan 01.00. "Dari pengecekan tersebut diketahui, kondisi pasien sudah sangat parah dengan ciri-ciri sesak napas, batuk-batuk, dan lemah. Ditambah foto paru-paru pasien, kami memastikan bahwa pasien mengidap pneumonia akut," kata Direktur RSUD Sjahranie dr H Awang Joenani. Dengan adanya dugaan flu burung, RSUD Sjahrani mengirim sampel darah Rizky untuk dites di Hongkong. "Insya Allah, dalam seminggu hasilnya sudah bisa diketahui," ungkap Awang. Sebagai antisipasi, lanjut dia, pihaknya telah menghubungi Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan Kaltim untuk mengirim tim survei ke Bontang. Tim itu akan meneliti kondisi lingkungan sekitar kediaman Rizky dan mengambil darah keluarga korban untuk dites. "Tim survey land yang akan turun bakal memperjelas duduk persoalan di Bontang ini," ujarnya. Dr Rusdi yang menangani Rizky juga menegaskan dugaan kuat kasus ini sebagai pneumonia. "Malam itu kondisi fisiknya memang lemah, panas tinggi, sesak napas, dan batuk. Tapi, bukan berarti itu akibat flu burung," kata Rusdi. Sementara itu, meski ada dugaan Rizky yang meninggal di Samarinda karena flu burung, pasien terbanyak yang dicurigai terkena virus flu burung tetap di Jakarta. Kebanyakan pasien itu dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Akibat terus mengalirnya jumlah pasien dengan dugaan flu burung, para keluarga mereka merasakan betul beratnya "tekanan" sosial. Nursah, misalnya, yang keponakannya, Rosna, 7, kini dirawat di RSPI, merasakan beratnya beban yang ditanggung keluarga. Sejak Rosna opname di RSPI, perempuan asal Bima, NTB, itu mengaku sangat sibuk. Sebab, selain pulang-pergi ke rumah sakit, dia harus menjaga rumah kontrakan kakak kandungnya, Rohana, yang tak lain ibunda si Rosna. Bukan hanya itu. Nursah juga diserahi tugas menjaga Saidin, kakak Rosna. "Kedua orang tua Rosna harus berada di rumah sakit. Karena itu, semua urusan rumah diserahkan ke saya," ujarnya saat ditemui di rumahnya di Jalan Telaga Murni, Sunter Jaya, Jakarta Utara, kemarin. Akibat merebaknya isu flu burung itu pula, usaha peternakan bebek yang dikelola Nursah akhirnya hancur. Nursah rela peternakan dan bebek-bebek miliknya dimusnahkan karena ditengarai menjadi penyebab flu burung. Nursah mengaku, unggas peliharaannya masih sehat. Tapi, dia merasa tidak enak dengan para tetangga. "Ya, nggak enak, Mas. Setiap kali ada anak yang sakit, dikira penyebabnya dari peternakan saya," katanya. Meski telah dibakar, Nursah belum yakin bahwa bebek-bebek di peternakannya ada yang terkena flu burung. "Sudahlah. Semua itu sudah terjadi. Yang penting, sekarang Rosna cepat sembuh," kata wanita yang beternak bebek sejak enam tahun lalu ini. Dia mengatakan, kejadian yang dialami keponakannya memang di luar dugaan. Sebab, sebelum Rosna masuk rumah sakit, beberapa anak yang tinggal di kampungnya menderita panas disertai campak. Namun, setelah diobati, mereka sembuh. "Tapi, yang terjadi pada Rosna berbeda. Selain panas dan disertai campak, Rosna juga diare," katanya. Perempuan berusia 25 tahun ini menambahkan, sejak Rosna dirawat di RSPI Sulianti Saroso karena diduga terkena flu burung, beberapa tetangganya mulai kasak-kusuk. "Beruntung, warga tidak sampai mengucilkan keluarga kami," ujarnya. Beberapa tetangga Nursah yang ditemui wartawan Jawa Pos mengakui memang sempat resah setelah tahu Rosna diduga terkena flu burung. Ny Siti Fathona, 29, misalnya, salah satu tetangga Nursah, mengaku sempat panik ketika Yunika, anaknya yang masih berumur 4 tahun, diserang demam hingga seminggu. "Saya takut, jangan-jangan terkena flu burung. Tapi, setelah diperiksa dokter, ternyata tidak. Sekarang kondisinya sudah agak mendingan," ujar Siti Fathona. (ak/eff/lis/jpnn) http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=5623

