Dear all,

----- Original Message -----
From: "My Diary" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 17, 2005 9:46 AM
Subject: [FM] Fw: CINTA YANG TAK RUMIT DARI FAIZ


> >>Masih ingat Muhammad Faiz si penulis  surat kepada Presiden itu?
> >
> >CINTA YANG TAK RUMIT  DARI FAIZ
> >
> >Apa yang menyebabkan kita menyapa atau  tidak menyapa, saat bertemu
> >seseorang? Kebanyakan kita menyapa karena kita  mengenal atau minimal
> >mengetahui seseorang itu. Bisa juga karena kita  menyukai atau
menghormati
> >orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau  punya keperluan. Mungkin
> >juga
> >sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar  banyak soal ini dari
seorang
> >anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari  saya.
> >
> >Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu  jauh
> >dari
> >rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar
kami.
> >Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan
> >bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau
> >ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum
> >lebar Faiz.
> >
> >"Selamat pagi, Pak, selamat pagi,  Bu...."
> >
> >"Assalaamu'alaikum...."
> >
> >"Mari Oma, mari  Opa..."
> >
> >"Dari mana, Tante?"
> >
> >"Wah hari ini Kakak berseri  sekali!"
> >
> >"Mau kuliah, Bang?"
> >
> >"Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana  pagi-pagi sudah rapi?"
> >
> >Dan seterusnya....
> >
> >Saat ia duduk di  kelas II SD, saya pernah bertanya pada Faiz," Mas Faiz,
> >apa kamu tak lelah  menyapa begitu banyak orang setiap pagi?"
> >
> >Faiz tertawa. "Tidaklah,  Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku
> >mungkin
> >bukan mengawali pagiku  saja. Tapi mengawali pagi orang lain. Lagipula
> >senyum itu kan sedekah,  Bunda."
> >
> >Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu  belum
berumur
> >delapan tahun. "Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang,  sedekahmu
> >mungkin
> >sudah milyaran," ujar saya sambil mencium pipi Faiz  yang memerah.
> >
> >Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan  ibu-ibu sekitar rumah,
mereka
> >kerap membicarakan Faiz.
> >
> >"Waduh, Faiz  itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu menegur
> >lebih dulu,  senyumnya manis sekali."
> >
> >"Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana  mendidiknya?"
> >
> >Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya?  Sesungguhnya saya tak pernah
> >mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan  tersenyum. Sayalah yang
> >banyak belajar dari Faiz!
> >
> >Terbayang lagi  berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk di
> >bangku  SD.
> >
> >Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu
> >dipanggilnya, diajak makan dan minum. "Hari ini di rumah masak sop dan
> >perkedel." Atau "Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk?
> >Mau teh manis dingin?" Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan
> >mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada  mereka.
> >
> >Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat  pun
> >disuruh
> >mampir. Ada saja yang ditawarkannya. "Istirahat dulu di sini,  Pak. Kan
> >capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau  mau makan
> >nasi?" Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota  keluarga lainnya
> >untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami  tak terlalu
> >membutuhkannya. "Apa salahnya sih menolong orang?"  ujarnya.
> >
> >Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari  di mana kami
> >memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu  istimewa yang
> >entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak  terduga.
> >
> >"Ikhlas yaaa, Bunda...," katanya sambil tersenyum  manis.
> >
> >Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan  terbata? Saya
> >hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.
> >
> >(Helvy Tiana  Rosa)
> >
> >
> >
> >
> >
>


AYO GALANG SOLIDARITAS UNTUK MEMBANTU KORBAN MUSIBAH DI ACEH & DAN SUMATERA 
UTARA !!!
================
Kirim bunga, http://www.indokado.com
Info balita: http://www.balita-anda.com
Stop berlangganan/unsubscribe dari milis ini, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
Peraturan milis, email ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke