fyi pak admin kali2 OOT boleh ya ? thanks abdillah -----Original Message----- Sent: Monday, March 15, 2004 5:49 PM
Subject: [] Kliping Kisah (150304) Langka Tapi Nyata Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Ke'adilan Sejahtera (PIPPKS) ANZ (Australia dan New Zealand) _____ Kisah 1: Antara Uang dan Amanah Pada saat pemilihan ketua di salah satu DPRD Tk. II NAD, saya banyak didekati oleh dua kubu yaitu kubu A dan kubu B. Kubu A menawarkan hadiah berupa uang jika calon mereka terpilih menjadi ketua DPRD Tk. II. Namun, kita tidak pernah menginginkan itu, kita mendukung orang yang mengikuti aturan yang berlaku dan nilai-nilai Islam. Itulah yang selalu saya katakan kepada mereka. Sampai sekarang kubu A cukup segan dengan Partai Keadilan yang tidak mau dijanjikan dan diberi uang. Pada waktu yang sama dari kubu B menyuruh tim suksesnya untuk mendekati saya. Secara tak sengaja mereka bertemu saya. Mereka mengajak saya untuk memilih calon mereka dengan "hadiah" uang kontan 7 juta. Saya tolak tawaran mereka karena uang itu tiada artinya dibanding amanah yang Allah berikan kepada kita. Kita harus menunjukkan bahwa Partai Keadilan adalah Partai dakwah yang harus menjadi contoh. Oleh sebab itu, sampai saat ini kader Partai Keadilan tetap disegani dan dihormati oleh partai-partai lainnya. Dikisahkan kembali oleh Anggota Legislatif Partai Keadilan Di salah satu DPRD Kab/Kota NAD. _____ Kisah 2: Tegar Berbuah Simpati Adapun peristiwa yang cukup menarik yang kami alami adalah saat pemilihan walikota Jambi masa bakti 2000-2003. Jumlah calon pada saat itu sebanyak 5 orang. Beberapa hari sebelum pemilihan peta kekuatan mengkristal, yakni 2 calon kuat yang akan bertarung dari Partai A dan Partai B. Sementara itu, calon yang lain hanya penggembira saja. Beberapa saat sebelum pemilihan dapat dipastikan bahwa yang akan menang mutlak adalah calon dari Partai A dan calon dari Partai B diperkirakan memperoleh tidak lebih dari 25%. Pada saat itulah, Partai Keadilan sebagai Partai dakwah, tidak terpengaruh oleh arus yang berkembang. Partai Keadilan mengutamakan dedikasi moral dan kemampuan seseorang untuk dipilih. Setelah pemungutan suara, calon dari Partai A mendapat 28 suara, calon Partai B mendapat 10 suara, dan calon yang lain mendapat 2 suara, yakni calon dari Partai Keadilan. Pada saat itu, pujian mengalir pada Partai Keadilan atas ketegaran prinsip yang dimilikinya. Partai Keadilan tidak terpengaruh dengan arus kekuatan belaka. Dan, prinsip Partai Keadilan tidak dapat dibeli dengan uang. Dikisahkan kembali oleh ND, Anggota Legislatif Partai Keadilan DPRD Kab/kota provinsi Jambi. _____ Kisah 3: Amplop Putih Pada kesempatan pandangan umum, saya sering mengutip ayat Al-Qur'an/hadits dan mendapat cemoohan dari Partai B, Partai A, Partai D dan Partai E bahwa paripurna bukanlah majelis taklim. Setelah beberapa waktu barulah mereka mengakui kesejukkan Partai Keadilan bahkan diikuti oleh fraksi tersebut. Fraksi Partai Keadilan dikenal partai yang berani meminta janji Bupati untuk memberantas KKN. Saat akan memutuskan kata akhir dan setelah mendapat jawaban singkat, maka Fraksi Partai Keadilan memahami perubahan APBD Th. 99/2000 dengan melakukan pemangkasan anggaran. Berikutnya bersama Fraksi Partai E memelopori pengajuan hak interpelasi masalah KKN Pemda tingkat II di Jawa Barat dan berhasil mempengaruhi sejumlah 17 orang. Lalu terbentuklah pansus Pemberantasan KKN sehingga suasana agak memanas. Bupati beberapa kali minta bertemu dan suatu waktu dipenuhi yang isinya hanya mengklarifikasi KKN-nya dan saat pulang menitipkan amplop sebesar 500 ribu, meski sudah berusaha menolak ia tetap memaksa dengan alasan untuk si 'eneng'. Kemudian saya konfirmasi DPD Partai Keadilan dan diputuskan untuk mengembalikan atas nama DPD menolak pemberian itu. Akhir dari upaya meluruskan pemerintahan dan pembangunan maka pada LPJ 2000 fraksi Partai Keadilan belum dapat menerima dan satu-satunya fraksi yang secara tegas menolak. Namun setelah divoting tetap kalah dengan 19 orang menolak dan 25 menerima serta 1 abstain. Dikisahkan kembali oleh DSP, Anggota Legislatif Partai Keadilan DPRD Kabupaten di Jawa Barat. _____ Kisah 4: Ujung-ujungnya Duit !!! Setelah ditetapkan oleh Partai Keadilan bahwa saya yang harus mengisi jatah kursi DPRD maka dengan berat hati (karena tidak pernah terlintas dalam fikiran saya untuk menjadi anggota legislatif) dan dengan Bismillah, dan tawakal kepada Allah saya melangkah. Sehari sebelum pelantikan, anak saya yang keempat lahir, yaitu tanggal 18 Agustus 1999. Pada masa pembentukan fraksi, berbagai lobby tentang 10% akhirnya bisa menggolkan teman-teman dari Partai E yang hanya 4 orang. Dengan berbagai keterbatasan karena tidak dibekali sama sekali tentang peran, tugas, hak, dan kewajiban sebagai anggota legislatif saya melangkah. Saya dapat membuka mata lebar-lebar setelah masuk lingkungan DPRD. Ternyata, mayoritas anggota legislatif tidak jelas visi-misinya, sangat terbatas kualitas intelektualnya, dan mental serta moral mereka, tidak jauh berbeda dengan anggota-anggota DPRD ORBA, semua "ujung-ujungnya duit." Dari sinilah kebersihan dan keteguhan hati saya diuji untuk melanjutkan agenda reformasi yang salah satunya pemberantasan KKN. Contoh, ketika Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA), "tawaran-tawaran" dari calon memang sangat menggiurkan. Ada yang menwarkan tanah, mobil, kebutuhan rumah, uang dan lainnya. Semua mengalir di depan mata saya dari tim sukses para calon yang sudah tidak punya rasa malu. Namun, saya masih diberi kekuatan oleh Allah sehingga tidak tergoyahkan untuk menerimanya. Bahkan, pemberian melalui fraksi pun saya kembalikan. Fenomena lain terjadi saat penyusunan APBD. Prinsip "bagi-bagi" anggaran masih sangat kental. Asal kita (anggota legislatif) mau meloloskan proyek eksekutif, maka permintaan dewan akan mudah terealisasi. Ini yang kadang bertolak-belakang dengan nurani saya. Saya berusaha menentangnya hal-hal semacam ini. Pengalaman menolak tawaran-tawaran tersebut akhirnya membuahkan hal yang positif, seperti simpati yang disampaikan kepada kita dari kalangan eksekutif yang tahu permasalahan internal pemerintahan. Banyak yang simpati kepada kita, bahkan sering-secara langsung maupun tidak langsung-saya mendengar ucapan bahwa yang masih memegang prinsip dan bersih, hanya Anggota Legislatif dari Partai Keadilan. Alhamdulillah, meskipun saya merasa masih sangat jauh dari harapan. Posisi saya di fraksi maupun komisi sebenarnya sangat baik. Saya di fraksi yang semua anggotanya dari Partai Islam yaitu Partai D dan Partai F. Namun Hal itu tidak dibarengi dengan dukungan SDM yang memadai. Anggota fraksi yang ada, tidak jauh berbeda dengan yang lain, terutama yang menyangkut uang, meskipun mereka dari partai Islam. Sementara itu, saya ditempatkan di komisi E yang mengurusi bidang Kesra, kepemudaan dan olahraga. Namun, anggota rata-rata adalah anggota sisa dan tidak diminati sehingga kondisi komisi sangat memprihatinkan. Disinilah saya benar-benar diuji untuk membawa misi yang berat ini. Saya harus terpaksa sering berseberangan dengan fraksi maupun komisi yang ada. Inilah sekelumit pengalaman saya selama kurang lebih 2,5 tahun menjadi Anggota Legislatif. Saya berharap agar selalu mendapat dukungan dan motivasi dari umat Islam-karena, kadang terpikir untuk mengundurkan diri, tetapi ada masukan, jika saya mundur berarti semakin membiarkan mereka berbuat lebih jauh. Wallahu a'lam bishawab Dikisahkan kembali oleh SAS, Anggota Legislatif Partai Keadilan, DPRD Kabupaten Di Jawa Tengah

