Dear parents
Di tengah cuaca yang kita hadapi seperti ini, hampir
dipastikan untuk balita kita, bahkan sampai dibawah 12
tahun , anak anak sangat rentan terserang penyakit
terutama batuk pilek dan flu, kalo menurut saya
sebagai orang AWAM, yang bisa kita lakukan adalah
1, Perhatikan Pola Makan anak, jangan terlalu banyak
makan makanan yang berminyak, berperasa, dan pengawet,
juga harus diperhatikan asupan gizi anak kita, supaya
dapat menciptakan kekebalan tubuhnya sendiri,
2,Saya sendiri sebenernya kurang cocok dengan
suplemen, tetapi untuk saat saat seperti ini, boleh
lah kita memberikan suplemen tambahan, kalo saya biasa
pilih yang alami, kebetuklan anak anak, rutin saya
kasi madu,selain alami, kebetulan madu yang saya
minumkan ke anak anak juga ada tambahan kencur dan
temulawaknya supaya gak gampang terserang batuk pilek
dan flu, kebetulan juga ada rasa jeruknya.
3.Kebersihan, lah ini juga penting, apalgi kalo anak
anak kita sudah sekolah, lingkungan sekolah tentu kita
tidak tahu, bagaimana tempat maupun temen temen anak
kita, biasanya saya disaat saat seperti ini mau gak
mau, setiap pulang sekolah anak anak harus mandi lagi
( tidak hanya cuci kaki dan tangan ) berganti baju,
minum air putih makan dan istirahat sebentar
4, P 3 K, saya selalu sediakan, Obat penurun panas,
Triaminic utuk batuk pilek ( maaf sebut merk )
Termometer, Minyak Telon ( yang saya selalu oleskan
baik sebelum dan seduadh mandi ) (PS, oh ya untuk
minyak telon, kebetulan saya pakai tresnojoyo, karena
aromanya paling ccock buat anak saya, Apakah benar dia
ganti kemasan ya bu,? karena kemarin saya beli di C4
lebak bulus, ternyata dia ganti kemasan, lebih menarik
sih ). Balsem Telon, lah ini senjata ampuh saya
apabila hidung mulai merah dan bersin bersin, saya
oles ini balsem ke dada leher dan punggunnya, FYI, nih
balsem bisa dipakai sejak anak 6 bulan.
5. Apabila anak kita terserang gejala btpil, jangn
panik dulu bu, kita coba berikan penurun panas dan
balsem dulu, sambil kita selalu siaga ukur panasnya,
kalo sampai 3 hari tidak kunjung turun, itulah saat
yang tepat untuk kedokter,
demikian sharing saya, moga moga membantu
regard PapaRico
--- herny melfix <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> iya mbak..aq kan cuma kasih opsi aja..klo mo coba
> silaken klo gak ya gpp juga...nebulizer/inhaler
> bukan satu2nya cara yg terbaik juga..aq pun guna in
> nebu klo lihat kondisi batpil nya berat ataw semakin
> hari semakin jadi..dan sudah sangat mengganggu si
> anaknya (bobonya ga bener,minum susu n makannya
> susah karena penuh lendir)..ga nunggu lama2 lagi..ga
> tega aja liatnya..pernah juga make yg tradisional 2
> hari berturut2..anak q (2 th 8 bln) malah
> komplen..katanya "capek..perutnya sakit batuk
> terus..ga bisa bobok..mampet idungnya..susah
> napasnya". pernah aq pake in yg tradisional gitu..eh
> ga kuat..matanya perih katanya..pokoknya cerewet
> dey...(dipikir2 bener juga..aq aja paling ga kuat
> klo batpil berat).
> yang penting komposisi, frekwensi dan durasinya
> benar dan sesuai anjuran dokter / fisiotherapyst...
> tapi sebagai tambahan info..aq donlod dari
> buletinnya idai, semoga bermanfaat.
> *maafklokurangmembantu*
> thx
> ibu rafi
> Terapi Inhalasi pada Anak
>
> Terapi inhalasi adalah pemberian obat yang dilakukan
> secara inhalasi (hirupan) ke dalam saluran
> respiratorik. Penggunaan terapi inhalasi sangat luas
> di bidang respirologi atau respiratory medicine.
> Terapi inhalasi sebenarnya sudah dikenal dan
> dilakukan oleh manusia sejak lama, persisnya kapan
> datanya tidak jelas. Secara farmakologis, teknis
> pemberian obat perlu disesuaikan dengan organ
> sasaran yang dituju. Berdasarkan luas sebarannya,
> pemberian obat dapat dibagi dua yaitu sistemik dan
> topikal. Inhalasi merupakan pemberian obat secara
> topikal seperti halnya salep kulit atau tetes mata.
>
> Sesuai dengan prinsip terapi topikal, maka
> terapi inhalasi mempunyai beberapa kelebihan yaitu:
>
> Awitan efek segera, karena obat langsung bekerja
> di sasaran tanpa perlu menjalani proses yang panjang
> seperti pemberian secara sistemik.
> Dosis obat sangat kecil dibanding pemberian
> secara sistemik
> Efek samping obat minimal, karena dosis totalnya
> yang kecil
> Prinsip
>
> Prinsip dasar terapi inhalasi adalah menciptakan
> partikel kecil aerosol (respirable aerosol) yang
> dapat mencapai sasarannya tergantung tujuan terapi
> melalui proses hirupan (inhalasi). Sasarannya
> meliputi seluruh bagian dari sistem respiratorik
> mulai dari hidung, trakea, bronkus, hingga saluran
> respiratorik terkecil (bronkiolus), bahkan bisa
> mencapai alveolus. Aerosol adalah dispersi dari
> partikel kecil cair atau padat dalam bentuk
> uap/kabut yang dihasilkan melalui tekanan, atau
> tenaga dari hirupan napas. Oleh karena itu besar
> partikel hirupan yang kita hasilkan harus berukuran
> <5 mm agar dapat menghasilkan efek klinis. Terapi
> inhalasi dapat digunakan untuk memberikan pengobatan
> terhadap berbagai kasus respiratorik, baik kasus
> infeksi maupun noninfeksi, dalam keadaan akut maupun
> terapi jangka panjang.
>
> Jenis terapi inhalasi
>
> Saat ini dikenal tiga jenis alat inhalasi dalam
> praktek klinis sehari-hari yaitu:
> 1. Nebulizer
> 2. Dry powder inhaler (DPI)
> 3. Metered dose inhaler (MDI)
> Nebulizer
>
> Dari aspek teknis ada dua jenis nebulizer, jet dan
> ultranonik. Nebulizer jet adalah alat yang
> menghasilkan aerosol dengan aliran gas kuat yang
> dihasilkan oleh kompresor listrik atau gas (udara
> atau oksigen) yang dimampatkan. Nebulizer ultrasonik
> menggunakan tenaga listrik untuk menggetarkan
> lempengan yang kemudian menggetarkan cairan di
> atasnya kemudian mengubahnya menjadi aerosol.
>
> Karena berbagai faktor, nebulizer jet merupakan
> nebulizer yang paling banyak digunakan, jet
> nebulizer dapat diandalkan dan dapat menebulisasi
> semua jenis. Alat ini dapat digunakan pada semua
> kasus respiratorik. Pemakaiannya hanya memerlukan
> sedikit upaya dan koordinasi. Selanjutnya yang
> dimaksudkan nebulizer adalah nebulizer jet kecuali
> jika disebutkan lain.
>
> Volume isi adalah jumlah total cairan obat yang
> diisikan ke dalam labu nebulizer pada tiap kali
> nebulisasi. Volume residual adalah sisa cairan dalam
> labu nebulizer saat nebulisasi telah dihentikan.
> Sebagai patokan jika volume residual sekitar 1 ml,
> maka diperlukan volume isi sekitar 5 ml. Waktu
> nebulisasi adalah waktu sejak nebulizer dinyalakan
> dan aerosolnya dihirup sehingga nebulizer
> dihentikan. Untuk bronkodilator waktu nebulisasi
> tidak lebih dari 10 menit.
>
> Sebelum penggunaan nebulizer pasien diberitahu
> bagaimana caranya. Sejauh memungkinkan pasien
> diminta untuk duduk tegak di kursi, bernapas dengan
> wajar yaitu dengan frekuensi dan kedalaman seperti
> bernapas biasa. Diminta juga untuk tidak bicara
> selama dalam nebulisasi, dan menjaga agar labu
> nebulizer tetap dalam posisi tegak. Jika cairan obat
> dalam labu tinggal sedikit, pasien dianjurkan agar
> menepuk-nepuk labu untuk meningkatkan volume output
> aerosol.
>
> Dry Powder Inhaler (DPI)
>
> Turbuhaler mempunyai penampung bubuk obat murni
> tanpa bahan tambahan. Dosis terukur oleh piring ukur
> sesaat sebelum dihirup. Selama dihirup, obat akan
> melalui saluran berbentuk spiral dalam mouthpiece
> Turbuhaler. Turbulensi dalam saluran spiral ini akan
> mengendapkan partikel besar. Deposisi di bronkus
> dengan alat ini berkisar 17-32%, 20-25% tertinggal
> di inhaler, dan sekitar 50% terdeposisi di
> orofaring.
>
> Langkah penggunaan Turbuhaler:
>
> Tutup Turbuhaler dibuka
> Pegang turbuhaler dalam posisi tegak, putar
> bagian bawahnya searah jarum jam hingga mentok
> kemudian putar balik berlawanan jarum jam hingga
> terdengar bunyi klik
> Untuk pemakaian pertama lakukan langkah ini dua
> kali, untuk pemakaian selanjutnya cukup satu kali
> Masukkan mouthpiece ke dalam mulut, katupkan
> kedua bibir
> Setelah ekspirasi maksimal, lakukan inspirasi
> dengan cepat dan dalam hingga maksimal
> Tahan napas selama 10 detik, kemudian hembuskan
> napas keluar
> Selesai melakukan hirupan, pasien berkumur dan
> airnya dibuang untuk menghilangkan sisa obat yang
> tertinggal di mulut, sehingga mengurangi absorpsi
> sistemik.
> Inhaler jenis ini bersifat effort dependent
> karena sumber tenaga penggerak alat ini sepenuhnya
> adalah upaya inspirasi maksimal dari pasien sehingga
> juga disebut breath-actuated inhaler. Pada anak
> kecil (balita) hal ini sulit dilakukan mengingat
> kemampuannya melakukan inspirasi kuat belum optimal.
> Pada anak yang lebih besar (di atas 5 tahun),
> penggunaan alat ini relatif mudah karena tidak
> memerlukan manuver yang kompleks seperti pada MDI.
> DPI ini tidak memerlukan alat tambahan seperti
> spacer sehingga lebih praktis dan mudah untuk
> dibawa.
>
> Metered Dose Inhaler (MDI)
>
> Seperti halnya DPI, maka alat ini bersifat effort
> dependent, karena memerlukan manuver tertentu yang
> cukup sulit agar sejumlah dosis obat mencapai
> sasarannya. Pemakaiannya secara langsung tanpa
> spacer bahkan lebih sulit daripada DPI. Sumber
> tenaga penggeraknya adalah propelan (zat pembawa)
> yang dibuat bertekanan tinggi dalam suatu tabung
> aluminium yang disebut kanister.
>
> Langkah penggunaan MDI:
>
> Kanister dalam aktuator dikocok dengan arah atas
> bawah beberapa kali, lalu tutup aktuator dibuka
> MDI disiapkan dalam posisi tegak, pasien
> melakukan ekspirasi maksimal
> Orifisium aktuator dimasukkan dalam mulut pasien
> di antara dua baris gigi, bibir dikatupkan rapat
> Pasien melakukan inspirasi pelan, sesaat setelah
> itu kanister ditekan ke bawah agar obat keluar
> terdispersi, inspirasi diteruskan pelan dan dalam
> sehingga maksimal
> Dalam posisi inspirasi maksimal, napas ditahan
> selama 10 detik, baru lakukan ekspirasi
> Bila diperlukan dosis kedua dan seterusnya,
> lakukan langkah yang sama setelah 30-60 detik.
> Selesai melakukan hirupan, pasien berkumur dan
> airnya dibuang untuk menghilangkan sisa obat yang
> tertinggal di mulut, sehingga mengurangi absorpsi
> sistemik
> Metered Dose Inhaler (MDI) dengan spacer
>
> Penggunaan MDI secara langsung mempunyai dua
> kekurangan utama. Pertama, MDI memerlukan manuver
> yang cukup sulit bahkan bagi orang dewasa sekalipun.
> Di samping itu percikan partikel dari MDI langsung
> ke mulut memiliki kecepatan tinggi dan ukuran
> partikel yang besar menyebabkan deposisi obat di
> orofaring tinggi. Untuk mengurangi hal tersebut ada
> yang menyarankan agar MDI jangan langsung dipasang
> di
=== message truncated ===
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
--------------------------------------------------------------
Beli tanaman hias, http://www.toekangkeboen.com
Info balita: http://www.balita-anda.com
Peraturan milis, email ke: [EMAIL PROTECTED]
menghubungi admin, email ke: [EMAIL PROTECTED]