Ikan sidat (Anguilla sp) mungkin tidak dikenal oleh banyak orang di sini. Tapi, 
di berbagai negara ikan sidat jadi makanan primadona yang harganya sangat mahal.

Ikan sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada 
yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen 
asing menganggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang 
tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi.

Kandungan vitamin A mencapai 4.700 IU/100 gram, sedangkan hati ikan sidat lebih 
tinggi lagi, yaitu15.000 IU/100 gram. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A 
mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram.

STOP PRESS!!
===============================================
*PELATIHAN LENGKAP BUDIDAYA DAN BISNIS SIDAT!*
*******BAWA 3 ORANG, GRATIS 1 ORANG*******
===============================================
Agromania bekerja sama dengan Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya, tanggal 28-29 Maret 2010 akan
mengadakan pelatihan lengkap Budidaya dan Bisnis
Ikan Sidat. Pelatihan juga akan diisi dengan praktek
di pusat budidaya ikan sidat. Pelatihan diisi para
ahli serta pelaku langsung budidaya dan bisnis sidat
paling bonafide. Untuk menjamin kesediaan tempat,
segera daftar dari sekarang di http://tiny.cc/sidat
Dapatkan CD dan 2 DVD Budidaya Ikan Sidat.
INFO: 0217199660 / 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS)
===============================================

Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang 
hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sementara 
kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon 
yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram.

Teknologi budi daya masih baru di Indonesia. Budi daya ikan sidat di Indonesia 
baru ditemukan sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang 
merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. 
Padahal ikan sidat sudah cukup lama dibudidayakan di Jepang dan Thailand. Asal 
tahu saja, pengembangan budi daya kedua negara menggunakan benih dari 
Indonesia. "Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami 
untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat," kata Kepala Satuan Kerja 
Tambak Pandu Karawang Made Suitha.

Sidat kini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat besar. Ekspor ikan 
sidat terutama ke Macau, Taiwan, Jepang, China dan Hongkong. Potensi pasar 
negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda 
dan Amerika Serikat.
Peluang ekspor dari Indonesia kian terbuka lebar. Produksi ikan sidat dari 
Jepang dan Taiwan mulai terbatas karena kekurangan bahan. Kedua negara otomatis 
mengurangi ekspor, sedangkan produksi ikan sidat dari China diketahui 
menggunakan zat kimia.
Negara produsen ikan sidat akhirnya mencari alternatif pasar benih, termasuk 
dari Indonesia. "Tapi Indonesia tidak akan menjual benih, lebih baik 
dikembangkan di sini sehingga investor dari luar juga datang," tegas Made.

Harga ikan memang sangat menggiurkan. Harga di tingkat petani ikan sidat untuk 
elver dengan harga jual antara Rp. 250.000/kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar 
antara Rp 20.000-Rp 40.000/kg, sedangkan ukuran konsumsi >500 gram untuk jenis 
Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp 75.000/kg; jenis Anguilla 
marmorata Rp 125.000-Rp 175.000/kg.

Bantuan Teknologi
Pengembangan budi daya ikan sidat di Pandu Karawang sangat berhasil. Made 
mengungkapkan bahwa harga ikan yang cukup tinggi menarik masyarakat untuk 
membudidayakan ikan sidat. Bahkan Pandu Karawang siap memberikan bantuan dalam 
bentuk teknologi budi daya bagi masyarakat yang ingin berwirausaha. Saat ini, 
beberapa kelompok masyarakat melakukan pembudidayaan ikan sidat di tambak Pandu 
Karawang, namun juga ada yang perorangan. "Kami menyediakan lahan yang bisa 
disewa maksimal dua tahun. Setelah itu mereka harus mandiri, untuk memberi 
kesempatan pada masyarakat lain yang ingin belajar budi daya ikan sidat," jelas 
Made.

Budi daya ikan sidat relatif tidak sulit. Apalagi rasio hidup sangat tinggi, 
sekitar 90 persen, karena punya data tahan kuat terhadap penyakit. Made 
mengemukakan, lamanya budi daya ikan sidat tergantung ukuran benih. Dia 
mengatakan, paling banyak yang dibudidayakan adalah ukuran 200 gram untuk 
menghasilkan panen ukuran > 500 gram. Lama budi daya maksimal lima bulan.

Tingkat produktivitasnya juga cukup bagus. Untuk satu ton benih, diperkirakan 
bisa menghasilkan 5 ton ikan sidat. Sekarang, semakin banyak investor yang 
berkeinginan membudidayakan ikan sidat, sebab, budi daya ikan sidat dipastikan 
menguntungkan. Tertarik? (Naomi Siagian)

SUMBER: Sinar Harapan

===============================================
*PELATIHAN LENGKAP BUDIDAYA DAN BISNIS SIDAT!*
SEGERA DAFTAR SEKARANG DI http://tiny.cc/sidat
===============================================


Kirim email ke