Sebagai ikan air tawar, nila mengandung potensi ekonomi luar biasa. Setiap 
tahun permintaannya terus naik, baik dari pembeli luar negeri maupun lokal. Ini 
peluang sebab pasokan nila belum bisa memenuhi permintaan pasar.

Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal ikan nila. Banyak yang menggemari ikan 
ini karena rasa dagingnya yang netral (tawar) sehingga mudah diolah menjadi 
pelbagai menu masakan. Selain itu, warna dagingnya putih bersih, kenyal, dan 
tebal, tampak seperti daging ikan kakap merah.

++++++++++++++++++++++++++++++++
TEMU PELAKU BISNIS IKAN AIR TAWAR KONSUMSI!
Minggu, 31 Januari 2010 (Pkl.09.30 s/d Selesai)
Jangan sampai ketinggalan, daftar sekarang juga di:
http://tiny.cc/acaramania
++++++++++++++++++++++++++++++++

Ikan nila tidak hanya diminati penikmat kuliner lokal, tapi juga dari luar 
negeri, terutama Amerika Serikat (AS). Tak heran, peluang pasar ikan ini masih 
terbuka lebar. Apalagi sejauh ini pasokan ikan nila masih belum mampu melayani 
tingginya permintaan pasar.

AS, misalnya, membutuhkan fillet (potongan daging tanpa tulang) ikan nila 
sebanyak 90 juta ton per tahun. Belum lagi permintaan dari sejumlah negara 
lainnya yang jumlahnya juga terbilang wah. Sebaliknya, pasokan ikan nila masih 
jauh di bawah angka kebutuhan itu. Produksi ikan nila saat ini paling banter 
baru bisa memenuhi setengahnya.

Tentunya, ini menjadi peluang besar bagi pebudidaya ikan nila. "Jangankan 
ekspor, untuk pasar lokal banyak yang antre mau beli,"  ujar Sanan Aji, pebudi 
daya nila di Bogor, Jawa Barat.

Sanan sudah enam tahun menggeluti budi daya ikan nila. Selain nila, ia juga 
membudidayakan ikan mas. Menurutnya, permintaan nila di Bogor cukup tinggi, 
tapi pasokannya masih belum bisa memenuhi. Sebab, peminat budi daya nila di 
Kota Hujan itu masih sedikit. "Kebanyakan orang lebih suka membudidayakan ikan 
mas karena panennya lebih cepat," kata Sanan.

Ikan mas bisa dipanen dalam waktu tiga bulan, sementara nila baru dipanen 
setelah empat bulan. Harga jual ikan nila saat ini dari pebudi daya mencapai Rp 
13.000 per kg. Jika sudah masuk ke pasar tradisional, harganya naik menjadi Rp 
20.000 per kg. "Di restoran, harganya bisa lebih tinggi, sampai 80.000 per kg," 
lanjutnya.

Sebenarnya, budidaya ikan nila termasuk mudah. Ikan ini bisa dibudidayakan baik 
di kolam air deras, air tenang, serta tambak.

Benihnya berasal dari hasil mengawinkan nila merah. Proses pembuatan benih ini 
bisa kita lakukan di kolam pembibitan ukuran 10 meter dengan kedalaman 80 cm. 
Kolam sebesar itu dapat menampung 50 kilogram indukan nila. Setelah dua bulan, 
dihasilkan 3.000 bibit nila seukuran ibu jari.

Setelah itu, bibit nila dimasukkan ke kolam air deras. Bibit dibiarkan di kolam 
selama empat bulan dan diberi makan pelet sebanyak 1,5 ton. Setelah empat 
bulan, nila dipanen. "Omzet saya Rp 11,7 juta per empat bulan dari satu kolam," 
ujar Sanan. (Aprillia Ika/Kontan)

SUMBER: KOMPAS.com
Senin, 23 Maret 2009 | 08:24 WIB

-----------------------------------------
|a|g|r|o|m|a|n|i|a
Online & Terpercaya Sejak 1 Agustus 2000
MILIS: http://tiny.cc/milis
FORMULIR: http://tiny.cc/formulir
BURSA JUAL-BELI: http://tiny.cc/bursa
KIOS PRODUK: http://tiny.cc/kios
DIREKTORI: http://tiny.cc/direktori
-----------------------------------------


Kirim email ke