Salam kompak agromania.

Mau sharing sedikit tentang artikel ini.
Saya tertarik. tetapi sy tdk memiliki sdm dan lokasi. Saya memiliki
anti flu burung dan juga nutrisi utk pakan. Supply pakan bisa
terjamin, asli dari ampas kelapa. yg membuat daging ayam menjadi
gurih.

Ada yg mau mencoba? Kita bisa kerja sama.

Terima kasih.
HH

-----------------------------------------------------
AGROMANIA BUSINESS CLUB (ABC)
INFORMASI: http://www.agromania.co.cc
FORMULIR: http://www.formulirabc.co.cc
DIREKTORI: http://www.direktoriabc.co.cc
MAILING LIST: http://www.milisabc.co.cc
PUSAT DATA: http://www.agrodata.co.cc
-----------------------------------------------------





Bisnis
/ Home / Bisnis /
Rabu, 3 Desember 2008 | 8:26
Ayamnya Dari Kampung, Tapi Primadona Masyarakat Kota
http://www.kontan.co.id/index.php/Bisnis/news/4737/Ayamnya_Dari_Kampu
ng__Tapi_Primadona_Masyarakat_Kota

JAKARTA. Peternakan ayam memang cenderung dimusuhi di kota-kota
besar. Pasalnya, peternakan ayam biasanya menimbulkan bau tak sedap
yang mengganggu aktivitas warga. Tapi jangan salah, walaupun
peternakannya digeser sampai jauh ke pelosok daerah, toh, daging
ayam terutama daging ayam kampung tetap jadi primadona bagi sebagian
besar warga kota. Terutama menjelang hari-hari besar keagamaan.

Menjelang hari raya Idul Adha, kandang ayam kampung ukuran 1,8 kilo
sampai ukuran 2 kilo sudah naik menjadi Rp 26 ribuan per ekor.
Sedang di pasar-pasar Jakarta, harganya mencapai Rp 45 ribuan per
ekor. Bahkan beberapa pihak memprediksi, harga kandang tersebut
bakalan naik lagi menjadi Rp 80 ribuan per ekor sampai awal tahun
baru nanti. Tak heran jika harga ayam kampung per ekornya bisa
mencapai Rp 150 ribu per ekor di pasar-pasar Jakarta.

Potensi ekonomi ayam kampung yang tinggi tersebut disadari betul
oleh  Haji Ade M. Zulkarnaen, peternak ayam kampung dari Cicurug,
Sukabumi. Haji Ade sendiri mulai bergelut dengan dunia ayam kampung
semenjak akhir tahun 2003. Sebelumnya, ia merupakan salah satu
wartawan senior di sebuah media nasional.

Sebelum memutuskan menjadi peternak ayam kampung, Haji Ade sudah
melirik potensi ayam kampung terlebih dahulu. "Harga ayam kampung
itu tidak akan pernah turun dan cenderung stabil. Karena, segmen
pembeli ayam kampung itu segmen menengah ke atas dan yang menentukan
harga jual ayam kampung adalah peternak sendiri bukan kartel. Kalau
untuk profit marginnya, beternak 1000 ayam kampung itu setara dengan
beternak 30 ribu ayam ras," ujarnya.

Selain itu, menurut Haji Ade, selalu terjadi ketimpangan yang sangat
besar antara suplai ayam kampung dengan tingkat permintaan ayam
kampung. Untuk kebutuhan kota Jakarta dan sekitarnya saja, suplai
ayam kampung yang ada baru memenuhi sekitar 12 ribu atau sekitar 9%
dari total permintaan sebesar 150 ribu ekor per bulan.

 "Rendahnya suplai ayam kampung dikarenakan suplai DOC (bibit ayam
kampung usia sehari) juga rendah. Contohnya, dari permintaan DOC
sebanyak 18 ribu DOC per bulan di Kalimantan Timur, baru bisa
dipenuhi sebesar 8 ribu DOC saja," lanjut Haji Ade.

Jika dilakukan perhitungan kasar, secara makro satu ekor ayam
kampung butuh biaya Rp 16.500 sampai Rp 18.500 untuk sekali periode
pemeliharaan (70 hari). "Kalau di  kandang kita jual Rp 26 ribu
saja, kita sudah dapat untung antara 40% sampai 34% per ekor ayam,"
lanjut Haji Ade.

Bandingkan saja harga ayam kampung tersebut dengan harga ayam ras.
Saat ini harga kandang ayam ras mencapai Rp 8.100. Sementara biaya
operasionalnya mencapai Rp 11.700. "Kalau menurut saya, harga ayam
ras terus turun lantaran harganya ditentukan kartel," imbuh Haji Ade.

Walaupun begitu, tetap saja masih rentan terhadap potensi kerugian.
Yaitu ketika si ayam kampung terkena virus flu burung. "Tahun 2005
saya pernah merugi gara-gara 2200 ayam kampung saya harus
dimusnahkan karena kena virus flu burung," cerita Haji Ade.

Namun hal tersebut malah memberinya ide untuk memberantas virus
mematikan tersebut. Dengan serta merta Haji Ade dan kelompok
peternaknya di Cicurug bekerjasama dengan Center for Indonesia
Veterinary Analitical Studies (CIVAS) untuk menguji vaksin anti flu
burung pertama buatan Belanda. Hasilnya, daerah peternakan Haji Ade
dan kelompoknya di Cicurug merupakan peternakan pertama di Indonesia
yang bebas flu burung.

Haji Ade juga bilang, peluang bisnis di peternakan ayam kampung
masih terbuka lebar bagi perseorangan. Namun, akan lebih baik jika
peternak ayam kampung bergabung dalam suatu wadah peternakan rakyat.
Pasalnya, jalur distribusi dan pemasaran produk sudah tertata dengan
rapi. Nah, siapa berminat sama ayam kampung?
Aprillia Ika


Kirim email ke