Tanggal: Wed, 25 Apr 2007 03:00:53 +0700 (ICT) Dari: "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>
Salam kenal dari Kami petani dan peternak Domba Garut di kabupaten Bandung. Saya sangat tertarik dengan Email yang dikirimkan oleh pak Hery dari Bandung, karena tampaknya nasib kita sama di mana perkebunan dan peternakan Kami dulunya juga adalah lahan yang tandus dan berbukit. Tim Agromania bahkan sempat Kami tunjukkan foto rona awal perkebunan ketika Kami mulai menggarap. Ketinggian di atas permukaan laut juga kurang lebih sama yaitu 700 – 800 dpl. Tidak pernah berhenti memupuk. Dengan kondisi alam yang kurang begitu menguntungkan, pupuk yang dihasilkan dari kotoran ternak domba sangat membantu Kami dalam menyuburkan kondisi tanah di lokasi perkebunan dan peternakan. Pekerjaan yang berat namun membuahkan hasil yang manis saat sekarang ini. Atas pertanyaan pak Herry tentang jenis tanaman apa yang cocok untuk ditanam pada ketinggian yang dimiliki saat ini yaitu kurang lebih 700 dpl, Saya mendapatkan beberapa artikel menarik yang didapat dari situs www.iptek.net.id berikut cuplikannya: Tanaman sawo mudah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan baru, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Namun, daerah yang disenangi adalah dataran rendah hingga ketinggian 700 m dpl. Tipe tanah yang dikehendaki adalah lempung berpasir yang mengandung banyak bahan organik dengan pH antara 5,5-7. Curah hujan yang sesuai 1.500-2.500 mm per tahun (beriklim basah). Tanaman sawo tahan terhadap kekeringan dengan lima bulan musim kemarau. Perakarannya cukup kuat sehingga tanaman sawo baik untuk daerah yang rawan erosi. Tanaman ini mampu tumbuh di tempat yang ternaungi maupun terbuka sehingga sering ditanam di lahan rumah. Kemudian situs www.ntt.litbang.deptan.go.id berikut cuplikannya: Berdasarkan hasil analisis AEZ diketahui bahwa daerah sentra produksi jeruk terletak pada zona agro-ekosistem II by. Wilayah berada pada ketinggian 700 - 1200 m dpl, topografi bergelombang - berbukit, drainase sedang, jenis tanah Typic Haplustals, dan kemiringan lahan umumnya di atas 15 %. Jeruk merupakan salah satu komoditas anjuran dengan pola pengelolaan memperhatikan aspek konservasi (Hosang et al, 2000). Secara existing tanaman jeruk tidak dikelola secara khusus/intensif tetapi merupakan salah satu komponen pembentuk sistem usahatani yang ada. Pengelolaan tanaman jeruk tidak terlepas dari ternak, tanaman pangan dan hortikultura musiman. Untuk itu diperlukan suatu pola sistem usahatani yang saling mendukung dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia disamping perbaikan komponen teknologi budidaya JKS sebagai tanaman pokok untuk menunjang usaha agribisnis. Dan kembali dari situs www.iptek.net.id berikut cuplikannya: Tanaman labu siam tergolong mudah ditanam. Tak heran bila wilayah tanamnya menyebar di berbagai belahan dunia, dari daerah beriklim tropis sampai subtropis. Dataran tinggi berhawa dingin maupun dataran rendah berhawa panas cocok ditanami labu. Labu siam tumbuh dengan baik pada ketinggian 200-1.000 m dpl. Adaptasi labu terhadap perilaku cuaca juga sangat baik. Labu tak hanya mampu berantisipasi terhadap kurangnya air di musim kemarau, melainkan juga terhadap kelebihan air di musim hujan. Labu akan tumbuh optimal pada tanah yang kering, berdrainase dan aerasi baik, gembur, serta kaya bahan organik. Tanah yang cenderung asam dengan pH 5-6,5 justru disukainya. Untuk rata-rata lahan di Indonesia yang berkecenderungan asam, proses pengapuran untuk menaikkan pH bisa diabaikan. Kemudian untuk investasi Jangka Panjang dapat ditanam dengan Pohon Jati: Artikel Pikiran Rakyat. KEBUTUHAN bahan baku kayu baik untuk konsumsi domestik maupun ekspor semakin lama semakin meningkat. Sementara pasokan dari jenis kayu tropis untuk kebutuhan industri dalam negeri saja tidak terpenuhi, mengingat produksi kayu saat ini hanya 30% dari kapasitas terpasang. Di samping itu, saat ini ekspor produk-produk kayu utamanya mebel dan suvenir sedang mengalami booming sehingga akan berdampak pada peningkatan kebutuhan kayu. Tanaman jati (tectona grandis) merupakan jenis tanaman kayu-kayuan yang banyak dibudidayakan orang sejak zaman dahulu kala karena punya nilai ekonomis tinggi. Nilai tersebut antara lain karena kayu jati punya sifat-sifat yang baik, yakni mudah dalam pengerjaannya, punya kelas keawetan dan kekuatan yang tinggi, serta punya nilai dekoratif. Sejalan dengan perkembangan teknologi rekayasa genetika tanaman, kini telah hadir varietas jati unggul yang dikenal dengan nama jati emas tectogrand. Varietas ini punya beberapa nilai lebih, seperti bentuk batang silindris, sedikit percabangan, serta cepat tumbuh besar. Dengan sifat-sifat plus tadi, pohon jati yang biasanya dipanen dengan jangka waktu sangat lama (sekira 30-80 tahun), untuk tectogrand dapat dipanen dalam waktu relatif pendek, yaitu antara 5 sampai 15 tahun dengan produksi kayu tetap berkualitas tinggi. Kecepatan tumbuh jati tectogrand antara lain disebabkan tidak banyak cabang pada waktu masih muda sehingga produksi kayu sangat efisien, tidak banyak organ batang yang terbuang akibat pruning. Untuk mencapai hasil yang menguntungkan, tentunya diperlukan beberapa perlakuan berdasarkan prinsip, bibit yang baik akan tumbuh baik pada tempat tumbuh yang sesuai. Tempat tumbuh yang baik, yaitu areal yang memenuhi syarat supaya tanaman bisa tumbuh baik. Untuk itu, membutuhkan intervensi manusia. Pada umur 6 bulan, jati tectogrand bisa tumbuh dengan diameter 3 centimeter, tinggi 2,5 meter, volume teoritis 0,0017 meter kubik, dan volume realitasnya 0,0012 meter kubik. Pada umur 20 bulan, diameternya sudah mencapai 10 centimeter, tinggi 9 meter, volume teoritis 0,0706 meter kubik, dan volume realitasnya 0,0494 meter kubik. Sementara pada usia 108 bulan, diameternya diperkirakan mencapai 30 centimeter dengan tinggi 16 meter, volume teoritis 1,1304 meter kubik, dan volume realitasnya 0,7913 meter kubik, dan seterusnya. Pada usia 5 tahun dengan tinggi 14 meter, pohon jati tectogrand akan memiliki diameter 20 centimeter dengan volume kayu 0,3 meter kubik per batang. Kemudian pada usia 10 tahun, pohon jati emas ini tingginya 16 meter dengan diameter 30 centimeter dan volume kayu mencapai 0,79 meter kubik per batang. Sedangkan pada usia 15 tahun, tingginya mencapai 19 meter dengan diameter 40 centimeter, volume kayu 1,58 mete kubik per batang. Lebih cocok di tanah berkapur Bagaimana mengembangkan budi daya jati emas tectogrand agar hasilnya memuaskan, seperti yang diharapkan? Pada dasarnya bibit jati emas siap tanam dari hasil pembibitan dengan spesifikasi umur 2-3 bulan di persemaian, setinggi 25-40 centimeter. Media tanam yang dibutuhkan yakni campuran tanah dan sekam dengan kemasan plastik atau polybag. Di Indonesia, sebaran utama tanaman jati terdapat di seluruh Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (Sumbawa), Bali, dan sebagian Sumatra. Tanaman jati khususnya jati emas tectogrand dapat tumbuh subur pada lahan bercurah hujan 1.500-2.000 milimeter per tahun dengan ketinggian 50-800 meter dari permukaan air laut. Lebih bagus jika musimnya bulan kering 2-3 bulan per tahun. Sementara jenis tanah yang cocok yaitu lempung berpasir, mengandung kapur lebih baik, dan bukan tanah yang becek maupun cadas. Untuk melakukan penanaman, dapat diawali dengan membuat lubang tanam dan dibiarkan selama lebih kurang dua minggu terlebih dahulu. Apabila kondisi iklim telah memungkinkan, bibit dari persemaian dapat ditanam. Antara lubang tanam satu dan lainnya juga harus diberi jarak tertentu. Untuk pemeliharaannya, pada umur 1-2 tahun yang perlu dilakukan adalah penyiangan, pendangiran, penyulaman, dan pemupukan. Penjarangan dapat dilaksanakan dua kali yaitu pada umur 5 tahun sebanyak 25%, pada umur 7 tahun 25%, dan pada umur 15 tahun dapat dilakukan tebang habis. (Ir. Kusumajati)*** Seandainya permasalahan lokasi lahan yang jauh dari pemukiman penduduk masih dapat memberikan jaminan keamanan, tidak perlu khawatir pak, masih banyak jenis tanaman lainnya sangat mungkin untuk ditanam dan dikembangkan. Terlebih bila pak Herry akan intensif mengelolanya. Kemudian dengan permasalahan sumber air yang tentunya terkait dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh pak Herry, kondisi ini harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam dan perhitungan analisis biayanya (Tenaga Kerja khususnya) Mungkin suatu saat pak Herry berkenan berkunjung ke lokasi perkebunan dan peternakan Eka Agro Rama di kabupaten Bandung. Lahan Kami saat ini ditanami antara lain: Kopi, Vanilla, Jati, Sayuran dan Buah-Buahan serta Ternak Domba Garut. Salam Bertani Sehat. Agus Ramada Setiadi Eka Agro Rama Phone : +62.22.522.1630 Fax : +62.22.522.1630 Mobile Phone : +62.815.941.3826 Email : [EMAIL PROTECTED] See Our Video at, www.video.google.com Keyword, “eka agro rama” --------------------------------- Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed]

