Jejak Perburuan di Padang Ilalang Mobil hitam itu menembus keriuhan Pekanbaru, Riau, pada sebuah siang yang terik. Drs Djuharman Arifin Apt MP, wakil ketua DPRD Provinsi Riau, duduk di sisi kiri sopir. Trubus duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Muhamad Syifried Wahab, konsultan pertanian PT Arara Abadi, produsen akasia. Djuharman kebetulan tengah reses dan Muhamad Syifried Wahab bermurah hati menemani perjalanan Trubus di Bumi Lancang Kuning.
Tujuan perjalanan kami hari ini memburu nepenthes di habitat aslinya. Menurut Djuharman Arifi n di kebunnya seluas 50 ha banyak ditumbuhi tanaman hias berkantong itu. Perjalanan bermula dari kota Pekanbaru menuju arah barat. Di sepanjang perjalanan, terlihat kebun karet dan kelapa sawit menghampar di kiri dan kanan jalan. Beberapa truk tua mengangkut tandan buah kelapa sawit berjalan terengah-engah menapaki jalan. Setelah melewati jembatan Sungai Kampar, kami memasuki kawasan hutan lindung seluas 250 ha. Di situlah masyarakat Suku Melayu Datuk Mudo bermukim. Hutan lindung itu termasuk wilayah Kelurahan Pasirsialang, Kecamatan Bangkinang Seberang, Kampar. Kami telah menempuh jarak 60 km. Mobil hitam itu lazim merayapi jalan beraspal mulus, tetapi kini dihadapkan pada situasi yang tak ramah. Jalan tanah merah yang becek kira-kira sepanjang 1 km. Tak ada pilihan lain. Oleh karena itu mobil hitam itu tetap dipaksakan melewati jalan itu. Lokasi kebun milik Djuharman persis bersebelahan dengan hutan lindung. Kebun sedang dibuka untuk kawasan agrowisata. Mobil diparkir di punggung bukit lantaran jalan dalam kebun berupa tanah. Kami menuruni bukit, melewati danau buatan seluas 2 kali lapangan sepakbola. Dijaga Di bukit yang didominasi tanah berpasir itu banyak tumbuh karamunting dan nasi-nasi. Sedangkan di lembah perbukitan menghampar tanah gambut berketebalan 20-40 cm. Wajar jika tanahnya agak becek. Di lahan berketinggian 400 m dpl itu terlihat beberapa kubangan bekas babi. Sekitar 60-an kerbau leluasa merumput. Tiba-tiba suara Djuharman memecah keheningan di pinggiran semak-semak, Ini nepenthesnya, katanya sambil menunjuk kantong seukuran ibu jari orang dewasa berwarna hijau. Itulah Nepenthes gracilis yang merambat di padang ilalang. Tanaman itu merambat hingga beberapa meter panjangnya. Sepuluh meter di sampingnya terdapat Nepenthes ampullaria. Dalam bahasa Latin, ampulla berarti kandung kemih. Daun dan pucuk kantong teko-nama lainnya-berbulu cokelat muda. Terdapat bercak-bercak tak beraturan berwarna merah atau ungu di permukaan luar kantong. Dua spesies nepenthes itu tumbuh menghampar di lahan seluas lapangan sepakbola. Hampir setiap 5 meter, tumbuh nepenthes. Semula Djuharman berencana membongkar areal itu untuk dimanfaatkan menjadi lokasi agrowisata. Namun, melalui Trubus ia tahu betapa berharganya anggota famili Nepentheceae itu. Makanya alumnus Farmasi Universitas Sumatera Utara itu mengurungkan niatnya. Ia menjadikan areal yang ditumbuhi piwuok-piwuok-sebutan nepenthes di Riau, artinya periuk-periuk-sebagai lahan konservasi. Setelah memotret dan mengamati kedua jenis nepenthes itu, kami pun kembali ke Pekanbaru menjelang senja. Perburuan nepenthes di Kampar pun berakhir. Pada bulan lain, Trubus menorehkan jejak perburuan nepenthes di Habema, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Pertama, karena hambatan psikologis seperti dirasakan wartawan Trubus. Maklum di kalangan militer, Habema tergolong daerah merah alias basis Organisasi Papua Merdeka. Apalagi ketika ke sana, situasai Papua memanas akibat demonstrasi yang menginginkan penambangan emas di Timika ditutup. Oleh karena itu kami perlu menyampaikan permohonan izin peliputan kepada kepala satuan intelejen Polres Jayawijaya. Polisi melarang liputan ke Habema lantaran khawatir jatuh korban. Hasrat dan dorongan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu menyebabkan kami bertekad bulat ke Habema. Ternyata tak mudah membuang rasa waswas meski 2 penduduk Wamena, Pindias Kagoya dan Komoro Wakerkwa, menemani perjalanan ini. Hendro Saputro, pengusaha kopi di Wamena, berbaik hati mengantarkan kami dengan hardtop tua yang tetap tangguh. Kobe-kobe Perburuan ini bermula dari Jalan Patimura di Lembah Baliem. Jika dilihat dari atas, Baliem mirip sebuah dasar mangkuk yang dikelilingi pegunungan. Suhu di daerah berketinggian 1.700 m dpl itu pada siang hari berkisar 20oC. Hendro Saputro memacu mobil bermesin 2.500 cc itu ke arah Sinakma. Mobil 2 gardan itu merayapi jalan berbatu hingga sejam. Setelah itu jalan rusak parah: berlumpur. Separuh roda hampir tenggelam dalam genangan lumpur. Begitu pedal gas ditekan, roda berputar cepat, tetapi mobil bergeming. Kami turun, mencari bebatuan untuk menguruk sebagian jalan lumpur itu. Setelah itu mobil mampu beranjak meninggalkan kubangan. Setelah hampir 2 jam berjalan, akhirnya mobil tiba di tepi Habema. Jalan setapak selebar 2 jengkal yang kanan dan kirinya ditumbuhi ilalang, kami lalui untuk menembus Habema. Jalan licin menyebabkan Trubus kerap terpeleset dan jatuh. Semalam Wamena diguyur hujan amat deras. Sepatu putih yang dikenakan bersalin rupa kecokelatan akibat seringnya terjerembap ke kubangan berlumpur. Sekitar 30 menit berjalan kaki, kami tiba di dalam Habema. Pohon-pohon tinggi menjulang. Di bawahnya terhampar padang ilalang. Nah, di sekitar ilalang itulah Trubus melihat puluhan Nepenthes maxima nan elok. Sosoknya yang indah bagai menghapus rasa letih saat menerobos Habema. Masyarakat setempat menyebutnya kobe-kobe. Terdapat 2 jenis maxima di sana: merah dan hijau. Yang berwarna merah, kantong tampak mencolok. Di sekujur kantong terdapat bercak kehijauan. Sosok itu amat kontras dengan daun yang juga berwarna merah, terutama daun-daun muda. Tulang daun dan sulur juga merah merona. Sedangkan Nepenthes maxima yang hijau berukuran sama, panjang kantong sekitar 20 cm. Kecantikan si periuk monyet itu memang aduhai. Namun, kemolekan itu kerap kali bagai bumerang yang mengancam hidupnya. Perburuan liar dan pembakaran hutan mengancam keselamatan 58 spesies dari ratusan jenis yang telah teridentifikasi. Itulah sebabnya surga-surga nepenthes seperti Kampar di Riau dan Habema di Puncakjaya, Papua, layak dilindungi. Maksudnya agar anak cucu kita tak hanya pernah mendengar namanya, tetapi juga dapat melihat kecantikan nepenthes. (Sardi Duryatmo/Peliput: Destika Cahyana) Selasa, 25 Juli 2006 12:15:18 © 2006 Trubus REKOMENDASI MILIS: http://groups.yahoo.com/group/hatihatilah http://groups.yahoo.com/group/relasimania http://groups.yahoo.com/group/ebookmaniak http://groups.yahoo.com/group/agromania http://groups.yahoo.com/group/katasibijak http://groups.yahoo.com/group/mobilemaniak http://groups.yahoo.com/group/indogitar http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu http://groups.yahoo.com/group/satuXsatu TIPS PENCARIAN DI GOOGLE: daftar alamat pembeli agrobisnis / agribisnis, daftar alamat penjual dan pembeli Indonesia dan mancanegara, diskusi dan teori agribisnis, cara melakukan ekspor, buah-buahan, sayur-sayuran, ternak, kebun, taman, tanaman, tanaman obat (herbal), mesin pengolahan, mesin pertanian, makanan, minuman, ikan hias, hutan, pupuk, ikan, ikan laut, benih, biji, kacang-kacangan, daging, rempah-rempah, budidaya, hidroponik, hortikultura, sapi, ayam, burung, kambing, sawit, minyak sawit, bonsai, walet, anggrek, minyak atsiri, udang, kayu, lada, vanili, kopi, coklat, kacang, nilam, markisa, durian, lebah madu, pisang, bekicot, salak, ubi kayu, jagung, karet, eksportir / importir, penjual / pembeli, waralabais (pengusaha waralaba), produsen, wiraswasta, petani, informasi jasa, iklan produk agribisnis, informasi lowongan bidang agrobisnis, forum diskusi, konsultasi, daftar alamat, informasi harga, pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, agroindustri, agro indonesia. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/agromania/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/