Keladi Tengah Kejar Popularitas

Suatu hari di awal Maret 2005. Sebuah anjungan di Bandung Orchid Show terlihat 
begitu ramai. Ratusan pot berisi keladi berwarna merah menyala, merah bertepi 
hijau, merah berbercak hijau, dan hijau berpadu putih menyedot perhatian 
pengunjung. Dengan harga Rp50-ribuRp200-ribu, 100 pot keladi asal Thailand itu 
laris manis. Dari sana, selama 9 hari pameran, Ino Tomasouw sang pemilik 
anjungan Tanire’s Flora menuai omzet minimal Rp5- juta. Itu belum termasuk 
pendapatan dari ratusan pot keladi lokal.
Nominal yang didapat saat itu tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dua-tiga 
tahun silam memboyong caladium ke arena pameran dipandang sebelah mata. “Masa 
tanaman kampung diandalkan di pameran,” tutur Ino menirukan ucapan beberapa 
sahabat yang memandang remeh. Toh, Ino tetap nekat. Dengan modal keladi-keladi 
hias asal Thailand beragam warna, perempuan yang meninggalkan kerja kantoran 
untuk terjun total ke tanaman hias itu jalan terus.

Pada Trubus Agro Expo Desember 2005 keyakinannya pun berbuah manis. Sebanyak 50 
pot keladi asal Thailand seharga Rp50-ribuRp200-ribu terjual. Tiga bulan 
kemudian di ajang sama angka itu terlewati meski pameran belum usai.

Manisnya penjualan keladi di arena pameran juga dirasakan oleh Very A Sulaeman, 
pemilik Vertin Flora. Sebanyak 500 keladi yang dipajang di pameran Bandung 
Orchid Show ludes berpindah ke tangan hobiis. Pada waktu hampir bersamaan, 
anggota famili Araceae yang dijajakan di Trubus Agro Expo 2006 pun laris. 
“Dalam 3 hari pertama, 500 pot sudah habis,” kata Endang Hermawan, bagian 
pemasaran Vertin Flora. Pada pameran di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta 
Timur, itu keladi terlihat mulai menyeruak pasar. Minimal 10 stan memamerkan 
kerabat aglaonema itu.

Fenomenal
Tak hanya di ajang pameran, penjualan kaladium di beberapa nurseri pun mulai 
menanjak. Sebut saja Abdul Kadir. Dalam 4 bulan terakhir 100 pot keladi terjual 
di nurserinya di Yogyakarta. Padahal 4 tahun lalu kala Abdul Kadir mendatangkan 
jenis baru dari Forida, keladi dilirik pun tidak.

Nun di Semarang 10.000 caladium dalam bentuk tanaman dan umbi di kebun Flora 
Kita ludes dalam 6 bulan. Kini 5.000 tanaman tengah dipersiapkan untuk memenuhi 
permintaan konsumen.

Para pemain menduga, ramainya perniagaan caladium dipicu oleh tren aglaonema 
sejak 2 tahun terakhir. “Corak dan warna keladi tak kalah menarik dibanding 
aglaonema. Harganya pun relatif terjangkau,” kata Abdul Kadir, pemilik Pesona 
Nurseri di Yogyakarta.

Kehadiran kerabat alokasia asal Thailand, Amerika Serikat, dan Malaysia pun 
turut andil. Keladi-keladi impor itu memperkaya corak dan warna keladi yang 
ada. Tak hanya bermotif hijau dengan bintik merah dan putih seperti jenis 
lokal, tapi ada yang merah pekat, merah kecokelatan, hijau berpadu merah muda, 
dan banyak lagi. Pantas konsumen pun kepincut. “Ternyata keladi bagus-bagus 
ya,” tutur H Asman Yunus SH yang hobi mengumpulkan keladi sejak setahun silam.

Tak heran para importir kian getol mendatangkan caladium asal mancanegara. 
Sebut saja Lanny Lingga, pemilik nurseri Seederama, di Cisarua, Bogor. Setahun 
silam ia mendatangkan 200 jenis caladium dalam bentuk umbi dari Thailand. 
Setelah dirawat, tanaman beranak pinak. Dalam 6 bulan semua ludes dibeli. 
Konsumen datang dari Yogjakarta, Semarang, Medan, dan beberapa daerah di Jawa 
Timur.

“Caladium itu unik. Satu jenis yang ditanam, anakan yang muncul bervariasi 
corak warnanya,” kata Lanny. Di Sentul, Bogor, Gunawan Widjaja, juga 
mendatangkan 1.0001.500 tanaman dari Thailand setiap 3 bulan sekali. Dari 
nurserinya setiap bulan keluar 200 300 pot caladium sejak 4 bulan terakhir.

Apalagi menurut Chandra Gunawan, pemilik Godongijo Nurseryimportir tanaman 
hiaskeladi sempat ngetren di Negeri Siam. Th ailand selama ini jadi barometer 
bisnis tanaman hias di tanahair. Biasanya tanaman hias yang pernah tren di sana 
akan menular ke tanahair. “Makanya peluang keladi ngetren di Indonesia besar 
sekali,” kata Chandra.

Selain Thailand, caladium juga didatangkan dari Malaysia dan Amerika Serikat. 
Dua ratus pot yang didatangkan Hermanto, di Jakarta, dari Malaysia langsung 
habis dalam 2 bulan. Kini 1.000 pot yang didatangkan belakangan, sudah terjual 
70%.

Hobiis bermunculan
Hobiis keladi pun bermunculan di berbagai daerah. Di Pekanbaru, Drs Wan 
Abubakar, Msi, wakil Gubernur Provinsi Riau keranjingan keladi sejak setahun 
silam. Di kediamannya Wan Abubakar mengoleksi beberapa pot sebagai penghias 
halaman. “Rasa penat selepas bertugas seperti hilang ketika memandang keladi,” 
kata mantan ketua umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Provinsi Riau itu.

Di Bumi Lancang Kuning itu juga ada H Asman Yunus SH. Pengacara terkenal dan 
budayawan di Riau itu sejak setahun silam kerap berburu kerabat alokasia itu ke 
Sumatera Utara dan Sumatera Barat. “Yang lokal dan impor saya suka. Ternyata 
warna keduanya sama-sama beragam,” katanya.

Di Kalimantan, hobiis keladi pun mulai bermunculan. Sebut saja Lily Salman di 
Pontianak, Kalimantan Barat. “Tadinya saya tak suka, tapi melihat warnanya baru 
dan berbeda dengan lokal, maka saya beli,” katanya. Trubus melihat lebih dari 
10 pot keladi asal Thailand dengan beragam ukuran menghias kediamannya. 
Bergeser ke Utara ada Adi Surya di Singkawang, Kalimantan Barat. Adi tidak 
mengoleksi keladi impor, tapi jenis lokal. “Ternyata yang lokal juga beragam 
warna, saya jadi kepincut,” ujar Adi.

Siapa mengira tanaman yang semula diabaikan kini tengah menapak jalan menuju 
popularitas. Keladi impor atau lokal kini sama-sama tengah menjadi incaran. 
(Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa, Laksita Wijayanti, Lastioro Anmi 
Tambunan, Rosy Nur Apriyanti, dan Syalita Fauwnia)

Rabu, 05-April-2006, 04:46:32
TRUBUS ONLINE






REKOMENDASI MILIS:
http://groups.yahoo.com/group/hatihatilah
http://groups.yahoo.com/group/relasimania
http://groups.yahoo.com/group/ebookmaniak
http://groups.yahoo.com/group/agromania
http://groups.yahoo.com/group/katasibijak
http://groups.yahoo.com/group/mobilemaniak
http://groups.yahoo.com/group/indogitar
http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu
http://groups.yahoo.com/group/satuXsatu

TIPS PENCARIAN DI GOOGLE:  daftar alamat pembeli agrobisnis / agribisnis, 
daftar alamat penjual dan pembeli Indonesia dan mancanegara, diskusi dan teori 
agribisnis, cara melakukan ekspor, buah-buahan, sayur-sayuran, ternak, kebun, 
taman, tanaman, tanaman obat (herbal), mesin pengolahan, mesin pertanian, 
makanan, minuman, ikan hias, hutan, pupuk, ikan, ikan laut, benih, biji, 
kacang-kacangan, daging, rempah-rempah, budidaya, hidroponik, hortikultura, 
sapi, ayam, burung, kambing, sawit, minyak sawit, bonsai, walet, anggrek, 
minyak atsiri, udang, kayu, lada, vanili, kopi, coklat, kacang, nilam, markisa, 
durian, lebah madu, pisang, bekicot, salak, ubi kayu, jagung, karet, eksportir 
/ importir, penjual / pembeli, waralabais (pengusaha waralaba), produsen, 
wiraswasta, petani, informasi jasa, iklan produk agribisnis, informasi lowongan 
bidang agrobisnis, forum diskusi, konsultasi, daftar alamat, informasi harga, 
pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, agroindustri, agro 
indonesia. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke